
Tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumah, Vera begitu menikmati pertemuannya dengan teman teman sosialitanya yang memang sama sama pengusaha dan juga wanita karir..
Bagi sebagian orang mungkin hidup Vera sangat sempurna, bagaimana tidak siapa yang tidak ingin sepertinya. Memiliki rumah kaya raya, usaha dimana mana suami kaya raya dan tampan, memiliki anak yang juga berparas tampan, dan tentu hidupnya tidak pernah kekurangan sama sekali..
Impian setiap wanita, selain memiliki wajah cantik dan otak cerdas, semua wanita pasti ingin banyak uang dan memiliki karir yang bagus, teman teman yang terpandang dan pergaulan dengan orang orang berkelas, seperti hidup Vera saat ini..
Dan laki laki mana yang akan menolak jika mendapat istri seperti Vera, pastilah sangat bangga untuk mengenalkan pada semua keluarga bahkan kalau bisa semua dunia tahu kalau memiliki istri seperti Vera, begitu juga dulu yang Ruslan rasakan, saat ia berniat meminang Ruslan menjadi istrinya..
Ruslan dulu sangat bangga bisa menikahi Vera, karena tidak mudah baginya untuk mendapatkan Vera, selain Vera yang bersikap cuek, juga tidak sedikit laki-laki yang juga ingin menikahi Vera, dan akhirnya Ruslan lah yang mendapatkan kemenangan itu..
Keluarga Ruslan pun sangat antusias dan bangga akan Vera yang akan menjadi menantu dan keluarga baru mereka, pujian selalu di lontarkan keluarga Ruslan kepada wanita pilihannya itu, dan tentu itu membuat Ruslan sangat bangga..
Untuk seorang Ruslan yang masih bujangan dulu, tidak munafik pastilah kriteria utama dalam mencari pasangan hidup adalah menginginkan wanita dengan paras cantik, dan juga memiliki pendidikan tinggi dan pekerjaan yang terhormat, saat itu Vera sedang bekerja di salah satu bank swasta..
Rumah tangganya sangatlah sesuai dengan harapan Ruslan, mereka sangat menikmati masa masa bulan madu dan menjadi penganti baru, mereka selalu merasakan manisnya cinta mereka berdua..
Dua tahun sudah pernikahan mereka, dan Ruslan mulai menginginkan perubahan dan sesuatu yang baru dalam hidup mereka, Ruslan mengutarakan keinginannya untuk memiliki momongan..
Disitulah awal mulai perbedaan pikiran dan pendapat di antara mereka, Vera yang ingin hidupnya selalu terjadwal dan rapi, menjawab belum siap untuk memiliki anak, karena ia masih ingin bebas pergi ke sana kemari, dan juga ia tidak ingin penampilannya jadi tidak rapi karena harus repot mengurus dan menggendong anak, Vera tidak sanggup membayangkan hal itu..
Dari situlah awal kekurangan Vera terlihat oleh Vera, sosok wanita yang di pilihnya menjadi istri dan juga ibu dari anak anaknya, ternyata tidak sesuai ekspetasi nya, malah Vera menolak terang terangnya keinginan Ruslan untuk memiliki momongan segera..
Ruslan kecewa dan berkecil hati atas sikap Vera, Ruslan mulai mengubah sikapnya, ia yang dulu sangat menyayangi Vera menjadi setengah hati, dan tidak sehangat dulu lagi. Vera menyadari perubahan sikap Ruslan, maka dengan berat hati Vera menuruti kemauan Ruslan yang ingin dirinya segera hamil..
Tapi tetap Vera tidak ingin rugi dan tertekan, ia sudah membuat perjanjian perjanjian yang harus di jalani saat dia hamil dan juga setelah anak itu lahir, dan Ruslan pun juga terpaksa menyetujui permintaan Vera..
Dan akhirnya lahirlah Fiqi putra mereka yang membuat Ruslan kembali semangat menjalani hidup dan rumah tangga nya, Ruslan begitu bahagia dan sangat menyayangi Fiqi darah dagingnya itu. Sedangkan Vera, ia menyerahkan semua tugasnya kepada pengasuh, ia rela membayar tiga pengasuh sekaligus agar semuanya tertangani dengan baik..
Saat itu Vera sudah mulai merintis usaha salonnya, dirinya yang hobi bermake up dan juga fashion, memberanikan diri membuka usaha dengan modal nekat, dan terus belajar agar dirinya semakin ahli..
Sesuai harapan usahanya memang semakin maju, dan semakin berkembang, hingga semakin tidak memiliki waktu untuk bermain bersama Fiqi walaupun hanya sebentar. Bahkan pertumbuhan dan perkembangan Fiqi, Vera tidak mengetahuinya sama sekali, sungguh tidak ada di sisi ke ibuan di diri Vera..
Saat usia Fiqi akan beranjak ke empat tahun, Ruslan memiliki project bisnis ke luar negeri, berat baginya untuk meninggalkan putra kesayangannya itu, namun project ini sangatlah besar dan tidak bisa di cancel. Maka dengan berat hati ia harus berpisah dari Fiqi..
Di sisi lain ada perasaan senang di hati Ruslan, karena dengan kepergiannya siapa tahu bisa memberi pelajaran kepada Vera agar dirinya bisa intropeksi diri dan menyadari kalau sikapnya selama ini yang cuek terhadap suami dan anak bisa berubah dengan kepergian Ruslan..
Tapi sayangnya semua itu meleset, sepulangnya Ruslan dari luar negeri malah membuat hidup Vera semakin lupa kalau dirinya sudah memiliki suami dan anak, Vera memang tidak bermain belakang ataupun mencoba menghianati pernikahan mereka hanya saja Vera terlalu mengabaikan keluarga kecilnya. Seolah semua bisa di kerjakan oleh orang lain selama uang masih banyak di genggam nya..
Apalagi untuk saat ini dimana usaha nya semakin berkembang pesat, dan tentu semakin banyak orang yang mengenalnya sebagai pemilik salon kecantikan yang cukup maju di kota ini, tentulah waktunya semakin tersita untuk pekerjaannya..
semakin lama menjalani rumah tangganya bersama Vera, Ruslan semakin merasa jenuh dengan sikap Vera yang semakin acuh terhadapnya dan juga anaknya, kini Ruslan menyadari kalau ternyata bukan hanya fisik dan kekayaan yang menjamin kebahagiaan rumah tangga..
Semakin kesini Ruslan sangat paham kalau ternyata figur seorang istri yang juga seorang ibulah yang menentukan hangat atau tidaknya suatu keluarga, ibulah yang menjadi sumber penyemangat dan kekuatan bagi buah hatinya, bagi seorang anak, ia bisa kehilangan siapapun tapi tidak dengan ibu nya, namun sayang Vera tidak seperti ibu yang sangat mengutamakan kepentingan anaknya, ia malah menyerahkan sepenuhnya kepada pengasuh tentang semua keperluan Fiqi..
Mungkin kalau hanya dirinya yang di abaikan oleh Vera, Ruslan masih bisa memaklumi, tapi jika Fiqi, anak yang di kandung Vera, dilahirkannya, bahkan darah dagingnya sendiri, sanggup ia untuk tidak tahu apa saja yang di lakukan di kesehariannya, bukankah seorang ibu itu sangat tidak ingin melewatkan proses tumbuh kembang anaknya..
Ruslan sudah terlihat lebih segar, ia kembali menghampiri Fiqi yang sudah menunggunya sejak tadi..
"Hai jagoan, ayo kita sarapan," ucap Ruslan manis kepada anaknya..
"Papi mau berangkat juga ?" tanya Fiqi..
"Gak, papi kerja dari rumah saja"..
"Tapi nanti kita jadi kan makan siang bareng mami ?"..
"Iya, nanti papi hubungi mami, semoga mami tidak sibuk"..
"Kenapa mami selalu sibuk, apa mami tidak capek harus pergi terus setiap hari ?" tanya Fiqi..
"Pekerjaan mami banyak sayang, kalau sudah selesai pasti mami pulang" Ruslan menangkan putranya..
Ruslan menemani Fiqi makan, akhirnya Fiqi mau juga melahap nasi goreng yang sudah dingin itu, Ruslan bahagia melihat anaknya sedikit kembali ceia, tapi tetap kesal di hatinya belum hilang terhadap Vera, yang dari semalam hinggal pagi moodnya buruk..
Selesai sarapan Fiqi langsung berangkat les piano bersama Indah, dan Ruslan kembali ke ruang kerjanya, karena memang usahanya sudah ada yang menghandle masing masing, maka Ruslan cukup mengontrolnya dari rumah..
Ia meraih ponselnya untuk menghubungi istrinya yang belu juga kembali kerumah, saat hendak menekan panggilan, Ruslan melihat pembaruan foto yang baru di post oleh istrinya itu..
Istrinya berfoto dengan teman temannya, mereka semua terlihat elegan dan berkelas dengan senyum menawan masing masing. Tampilan istrinya memang sangat modis, semua orang akan memuji bila melihatnya..
"Bisa bisanya dia berkumpul ria dengan teman temannya, sedangkan anaknya di sini bersedih karena tidak bisa sarapan bersamanya." Geram Ruslan..
"Halo papi, ada apa ?" jawab Vera dari seberang sana..
"Fiqi mau makan siang bareng kamu, kamu bisa pulang ?"..
"Aduh tanggung pi, aku masih ada seminar satu lagi, aku makan siang sama teman teman saja disini"..
"Kasihan Fiqi, dia pagi tadi gak sempat bertemu kami, siang ini juga gak bisa !"..
"Nanti sore kan aku pulang pi." Jawab Vera enteng..
"Kalau kamu gak bisa pulang makan siang, biar aku dan Fiqi yang kesana"..
"Papi mau ke sini ?"..
"Iya, kasihan Fiqi, dia pengen banget ketemu dan makan siang sama kamu"..
"Oh, ok deh, nanti aku share lokasinya pi"..
"Oke"..
"Udah dulu pi, akuu masih sibuk ini"..
Demi anaknya Ruslan terpaksa menikah dan rela mendatangi Vera di acara seminarnya.. Ia sangat tidak bisa melihat putra nya terus murung dan kecewa..
Sepulang Fiqi dari les piano, Ruslan langsung mengajaknya untuk mendatangi Vera, dan tetap Indah juga ikut, karena pasti Vera sangat tidak ingin di repotkan oleh Fiqi di sana nanti..
Fiqi terlihat cerita sekali, ia sangat merindukan ibunya itu, makan sepanjang perjalanan ia selalu tersenyum dan bercerita banyak pada Ruslan, karena suasana hatinya yang memang sedang bahagia itu..
Hotel ini terlihat sangat ramai, Ruslan telah sampai di ruangan seminar tempat Vera bersama teman teman nya, namun karena belum jam makan siang, maka seminar masih berlangsung dan Vera belum tahu kalau suami dan anaknya sudah berada disini..
Pembawa acara mulai mengucapkan kalimat penutup, sebentar lagi acara akan selesai, dan makan siang akan berlangsung. Fiqi berlari menghampiri Vera yang masih mengobrol dengan teman teman nya itu..
"Mami,'' panggil Fiqi langsung memeluk tubuh Vera..
"Hai sayang, kamu sudah disini ?" tanya Vera..
"Iya mi, dari tadi"..
"Oh ya, mana papi ?"..
"Itu," Fiqi menunjuk ke arah Ruslan dan juga Indah yang akan menghampiri mereka..
"Ini anak kamu ya ?" tanya salah seorang teman Vera..
"Iya, dia mau makan siang bareng aku"..
"Sama siapa dia ke sini ?"..
"Sama papinya, itu." Vera menunjuk Ruslan yang sudah dekat denganya..
__ADS_1
"Wah sweet banget suami kamu, demi pengen makan siang bareng istri, lagi seminar aja di samperin ya." puji temen Vera..
"Iya, begitulah. Sudah biasa makan bersama jadi kalau gak bareng kayak ada yang kurang gitu," sahut Vera dengan senyum manis..
"Ruslan yang mendengar ucapan Vera merasa tidak terima, di depan temannya Vera menunjukkan kalau ia sosok ibu yang sangat mengutamakan kebersamaan keluarga, padahal sangat bertolak belakang dengan aslinya, jangankan makan bersama, untuk bertemu dengannya saja cukup sulit, hampit sama sulitnya dengan menemui presiden..
'Dasar perempuan sangat pandai bersandiwara dan berbasa basi.' desis Ruslan menatap sekilas wajah istrinya, namun Vera tidak meliriknya sama sekali..
Melihat sekitar mall yang tidak terlalu ramai, begitulah suasana di hari biasa, mall akan lebih sepi dan tentu pekerjaan Mawar dan kawan kawan juga lebih sedikit, berbeda jika sabtu dan minggu, maka tidak akan ada kesempatan bagi Mawar dan kawan kawan untuk bersantai..
Capek sudah pasti di rasakan, lelah dan terkadang jenuh juga melanda dirinya. Terkadang Mawar sangat ingin menikmati hari sabtu minggu dengan bersantai di kamar sambil menonton film film drama malaysia yang menjadi favoritnya..
Namun semua itu belum mungkin untuk saat ini, Mawar dan kawan kawan harus menerima kalau weekend bukanlah milik mereka, tapi meskipun begitu, di saat weekend tiba, mereka akan lebih banyak meraup rupiah di banding hari lainnya, dan Mawar bersyukur akan semua ini, karena baginya yang hanya gadis dari samping dan lukisan sekolah menengah atas yang biasa, tanpa keahlian sudah sangat beruntung memiliki kesempatan bisa bekerja di salon ini tanpa perlu bersusah payah untuk melamar kesana kemari..
Tidak sengaja Mawar melihat sepasang kekasih yang sedang berjalan bergandengan dengan sangat mesra, terlihat dari sorot mata si lelaki kalau dia begitu menyayangi kekasihnya itu, lihat saja kantong kantong belanjaan itu sudah memenuhi tangan lelaki itu, sementara si wanita hanya bergelendot manja di bahu lelaki itu..
Mawar tersenyum melihat keharmonisan itu, dan terus melihat ke arah sepasang kekasih itu hingga menghilang di balik tembok ujung. Mawar menghayal andai saja dia yang sedang berjalan itu bersama mas Yuda tentulah ia akan merasakan bahagia yang di rasakan oleh wanita tadi..
Tidak di sadarinya sama sekali, kalau sepasang mata ternyata sudah mengawasinya sejak tadi. Sepasang mata milik lelaki yang kini menaruh perasaan pada Mawar, ya.. siapa lagi kalau bukan Teguh..
Tidak ingin kehilangan kesempatan, Teguh yang sejak tadi hanya melihat Mawar dari kejauhan akhirnya memberanikan diri menghampiri Mawar dan memberikan sapaan ramah pada wanita yang mengusik hatinya itu..
"Hai Mawar," sapa Teguh sudah berdiri di samping Mawar..
Mawar langsung menoleh, ia tidak menyangka kalau Teguh ada di sampingnya, Mawar pun tersenyum, ''eh.. hai juga.'' Balas Mawar..
"Lagi santai ya ?'' Teguh berbasa basi..
"Iya, lagi sepi jadi bisa cuci mata,'' balas Mawar..
"Sama tempatku juga lagi sepi"..
Mawar bingung harus berkata apa menyahuti ucap Teguh, karena Mawar memang bukan tipe wanita yang pandai memulai bicara duluan, ia akan berbicara ketika lawannya yang memulai..
Sama sama terdiam beberapa saat, menciptakan keheningan dan kecanggungan diantara keduanya. Namun Teguh berusaha memecahkan keheningan itu, agar momen ini tidak jadi membosankan..
"Kalau weekend, pasti ramai ya ?" tanya Teguh..
"Iya, ramai"..
"kalau ramai gitu, senanglah ya jadi gak bosan ?"..
"Iya sih, tapi kadang capek juga"..
"Oh ya, ya begitu lah namanya kita bekerja ada kala nya capek, ada kalanya santai"..
"Iya benar, selalu bersyukur aja"..
"Ada kok, ya.. walaupun cuma sehari"..
"Oh cuma sehari, hari apa ?" tanya Teguh ingin tahu..
"Hari senin, kita tutup hari senin"..
"Oh.. panten kalau senin aku lewat sini selalu tutup"..
"Iya, setiap senin tutup"..
"Em.. kalau libur kamu kemana Mawar ?" tanya Teguh..
"Aku, oh.. gak kemana mana, di rumah aja kok"..
"Emang gak jalan jalan gitu sama teman teman kamu ?"..
"Kadang kadang sih, gak setiap libur"..
"Oh.. gitu, kalau senin depan jalan sama mereka ga ?"..
"Kalau sekarang sudah jarang, soalnya mereka sudah punya acara masing masing"..
"Acara masing masing ?" Teguh kepo..
"Iya, ada janji sama pacarnya masing masing." jelas Mawar..
"Oh.. jadi teman teman kamu udah pada punya pacar ?"..
"Gitu deh"..
"Terus kamu gak ada janji gitu sama seseorang atau mungkin teman kamu senin depan nanti ?" Teguh tetap mencari celah agar bisa menyampaikan maksudnya yang ingin mengajak Mawar berkencan nanti saat libur..
Mawar tersenyum, ''kayaknya gak ada,'' jawab Mawar. Walaupun hatinya berharap kalau saat libur ia bisa mengulang kembali kisahnya bersama mas Yuda yang selalu mengajaknya keluar saat hari liburnya..
Ada persaan legah di hati Teguh, mendengar jawab Mawar, ia merasa memiliki kesempatan untuk bisa mengajak Mawar berkencan, ''kalau aku ajak kamu keluar saat libur nanti mau gak ?" tanya Teguh to the point..
Mawar langsung menoleh ke arah Teguh, di lihatnya wajah Teguh yang memang cukup tampan dan menyenangkan, "oh.. gimana ya ?" jawab Mawar sedikit ragu, ia tidak menyangka Teguh berani mengajaknya, memang ia sudah tahu kalau Teguh menyukainya, namun belum ada rasa ketertarikan Mawar untuk Teguh..
"Kalau kamu sibuk, atau gak mau, gak apa apa, bilang aja, aku oke kok,'' ujar Teguh seolah mengerti arti ekspresi dan ucapan Mawar..
"Oh.. gak, gak kok, bukan gak mau, tapi.. maksud aku, lihat nanti, kadang bos suka kasih kerjaan mendadak pas libur." Mawar merasa tidak enak hati kepada Teguh..
"Oh.. iya, iya gak apa apa, kalau kamu gak ada kerjaan dan gak keberatan aku ajak keluar, kabari aja ya,'' pinta Teguh..
__ADS_1
"iya,'' jawab Mawar singkat..
Meskipun belum mendapat jawaban pasti dari Mawar, bisa atau tidaknya Mawar berkencan dengannya, tapi setidaknya Teguh sudah cukup bahagia karena sudah bertemu dan mengobrol, dan bertanya langsung kepada wanitanya, yang memang sudah di sukainya sejak pertama melihatnya..
"Mawar, ada telepon dari customer, katanya dia mau bicara sama kamu," Gina menghampiri Mawar..
"Oh iya, aku duluan ya Gin." Ucap sama Mawar tersenyum ke pada Teguh..
"Oke, aku juga mau balik ke toko"..
"Duh, sorry ya, gue jadi ganggu nih.'' Ujar Gina bergurau..
"Apaan sih, biasa aja ah.'' Mawar menggandeng Gina kembali masuk ke dalam salon..
"Cie.. kayaknya ada yang lagi pendekatan nih, bentar lagi kita bakalan kena traktir woi,'' teriak Gina saat di dalam salon kepada Eca dan juga Riri..
"Siapa.. siapa.." seru Riri..
"Siapa lagi lah kalau bukan si Mawar,'' sahut Gina..
"Oh ya, emang habis kenapa dia ?" Eca ikut bertanya..
"Biasa, lagi di deketin sama si Teguh, kan naksir berat sama teman kita satu ini"..
"Tunggu apalagi, si Teguh ganteng kok, baik, sopan, dan kayaknya pekerja keras banget tuh !" imbuh Riri..
"Tunggu apalagi apanya sih ?" Mawar merasa malu akan gurauan teman temannya..
"Bener tuh si Riri, tunggu apalagi Mawar, kan si Teguh emang sudah naksir berat sama kamu, susah loh dapat lelaki kaya Teguh, masih bujangan tapi sudah gentleman banget..
"Hm.. terus, terus, kasihan si Teguh jadi panas telinganya gara gara kita omongin tahu !" tutur Mawar..
"Kuping panas, tapi hati adem, gimana gak adem kan habis bertemu sama pujaan hatinya si Teguh," gurau Riri lagi..
"Haha bisa aja loe Ri"..
Teman teman Mawar sangat mendukung jika Mawar ingin membuka hati untuk Teguh, karena memang Teguh lelaki yang sangat sopan kepada siapapun..
Meskipun dukungan dari teman temannya sangat terlihat, tapi tetap masalah hati hanya Mawar yang tahu kalau ternyata hatinya saat ini masih belum bisa move on dan melupakan mas Yuda..
Begitu banyak ruang yang di tempati oleh mas Yuda di hati Mawar hingga mengubahnya menjadi wanita yang sangat sulit untuk bisa membuka hati bagi lelaki lain, dan sangat sulit untuk memulai sesuatu yang baru dengan lelaki lain juga..
Namun tidak ingin terkesan sombong dan sok jual mahal, Mawar tidak ingin berteman dengan Teguh, tapi kalau untuk menjadi lebih dari teman bersama Teguh, masih sangat berat untuk Mawar melakukan itu, karena seluruh hatinya masih milik mas Yuda sepenuhnya meskipun mas Yuda bukan miliknya lagi saat ini..
"Mawar, ngapain loe ?" tanya Eca masuk ke kamar Mawar..
"Gak ngapa-ngapain Ca"..
"Loe masih mikirin si Yuda ya ?" tanya Eca tanpa basa basi..
"Gak kok, ngapain mikirin dia"..
"Gak usah bohong, gue tau isi hati loe"..
Mawar terdiam, karena ucapan Eca temannya itu memanglah benar adanya, dan hanya Eca juga yang tahu kalau dirinya pernah menjalin hubungan dengan mas Yuda..
"Loe harus lupain dia, harus move on, dia aja gak mikirin loe," terang Eca..
"Iya gue udah move on kok, gak inget dia lagi"..
"Kalau loe memang udah move on, kenapa loe gak bisa buka hati loe buat orang lain ?" tanya Eca..
"Maksud loe Ca ?" Mawar tidak mengerti..
"Sekarang jelas jelas ada Teguh yang suka sama loe, kenapa gak loe coba aja buat buka hati untuk dia"..
"Emangnya Teguh suka sama gue ?" Mawar pura pura polos..
"Lucu deh, ya iyalah. Kalau gak ngapain dia ngedeketin elo, perhatian sama loe," cercah Eca..
"Ya.. guekan belum dengar langsung dari mulut Teguh, jadi gue gak terlalu yakin." Kilah Mawar..
"Semenjak si Yuda pergi, elo tu jadi berubah, lebih pendiam, suka menyendiri, ga serame dan seseru dulu, emangnya loe cinta mati banget ya sama Yuda ?" Eca terlihat dongkol..
'Aku mungkin bisa dengan mudahnya melupakan Yuda, kalau kesalahan itu tidak pernah terjadi, tapi karena sebuah kesalahan yang dulunya suatu kesenangan, membuat hidupku tidak tenang, dan tidak bisa menghilangkan dia dari hatiku, aku masih sangat berharap suatu saat mas Yuda datang kembali padaku dan memintaku untuk menjadi miliknya selamanya.' batin Mawar terenyuh mengingat akan hal itu..
"Iya gue bakal coba buka hati buat Teguh, cuma kan gue mau kenal lebih jauh dulu sama dia, gak mau langsung terima saja." Jawab Mawar..
"Nah gitu dong, loe harus bisa move on, tunjukkin loe bisa bahagia walaupun gak lagi sama dia sekarang, lagian emang dia siapa sih, dengan mudahnya ninggalin loe pas lagi sayang sayangnya." Eca jadi kesal dengan Yuda..
"Iya.. iya.. tapi yang tahu hubungan gue sama mas Yuda cuma loe kan, loe gak bakalan bocorin ini ke siapa siapa kan ?" tanya Mawar sedikit membesarkan mata ke temannya itu..
"Udah tenang aja, aman rahasia loe. Gue gak tertarik menyebar rahasia orang. Tapi kalau ada cowok ganteng baru, baru gue tertarik haha.'' Gurau Eca tertawa lebar..
"Loe kan udah punya pacar, ngapain sih masih ngelirik cowok baru"..
"Ye.. itu mah bukan pacar gue, tapi sumber keuangan gue, kalau pacar gue juga mau yang masih muda biar sama sama kuat." Eca menaikkan satu alisnya menggoda Mawar..
"Kuat apaan ?, mau bertarung loe ?"..
"Bertarung di atas tempat tidur, hehe." Eca terkekeh mendengar ucapannya sendiri..
__ADS_1
Sementara Mawar hanya bisa geleng geleng kepala, ia tidak akan membocorkan kalau ternyata ia sudah tahu apa rasanya bertempur di atas ranjang bersama mas Yuda dulu, dan pertama kalinya ia mengenal dan merasakan betapa nikmatnya surga dunia itu bersama orang yang di cintainya tanpa ada keterpaksaan..