Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Tersenyum


__ADS_3

Ruslan yang melihat Mawar sedang kedinginan, langsung menurunkan suhu AC agar Mawar merasa lebih nyaman..


"Kamu kedinginan ya Mawar, maaf ya saya tadinya takut kamu panas, karena kamu mengenakan jaket." Ujar Ruslan..


"Lumayan dingin pak, soalnya AC nya keceng banget." Jawab Mawat yang tidak lupa di sertai senyum malu malu..


"Kalau begitu saya matikan saja ya ?''..


"Boleh pak, kalau bapak gak keberatan, dan gak kepanasan"..


"It's oke, biar nanti pulangnya di bawa mandi aja ya kalau keluar keringat"..


"Mandi malam malam pak ?"..


"Iya, kalau saya habis keluar dari rumah saya harus mandi ketika sudah sampai di rumah nanti, agar tidur bisa lebih nyenyak"..


"Tapi kan ini sudah malam pak, sebaiknya bapak ganti baju saja karena kurang baik untuk kesehatan kalau mandinya malam malam"..


"Tapi saya gak bisa tidur kalau gak mandi, nanti jadi gak tidur tidur"..


Kini obrolan mereka saling sahut menyahut, keheningan yang tadi berubah menjadi obrolan yang cukup hangat saat ini..


"Kalau pun bapak ingin mandi sebaiknya lewatkan jam dua belas saja, maka itu akan lebih sehat,'' Mawar memberikan saran kepada Ruslan..


"Oh ya, saya baru tahu loh, saya kalau habis mandi memang belum langsung tidur, biasanya tidur jam satu kadang lebih, oke nanti saya akan mandi di atas jam dua belas, Thanks sarannya, Mawar"..


"Iya pak, sama sama"..


Obrolan seperti inilah yang Ruslan rindukan bersama istrinya, terkesan ringan namun tetap ada perhatian di dalamnya, tidak hanya membicarakan bisnis dan bisnis, atau karir dan karir, serta usaha dan usaha saja, tidak ada kesantaian dalam hidup itulah yang membuat Ruslan jenuh akan kehidupan rumah tangganya sekarang..


Setelah AC di matikan, Mawar merasakan gerah pada badannya saat ini, karena jaket jeans yang cukup tebal di kenakannya saat ini, maka ia membuka kancing jaketnya dan melepaskan jaket jeans itu dari badannya serta di letakkannya di dekat pahanya, Mawar tidak sadar kalau ia hanya mengenakan baju crop top yang minim malam ini..


Sambil memainkan ponselnya, tampaknya Mawar sedang berbalas pesan dengan seseorang, ia fokus ke layar ponsel itu, hingga membuatnya tidak sadar sama sekali kalau baju kaosnya semakin naik ke atas, karena pergerakannya sehingga melihatkan bagian pinggang dan perut langsingnya yang tentu saja putih dan bersih itu..


Ruslan menatap Mawar sekilas, melihat Mawar yang sudah tidak mengenakan jaket lagi, Ruslan kembali menatapnya untuk lebih lama, tidak munafik melihat tubuh gadis muda ini, membuat rasa ketertarikannya muncul, apalagi gadis di sampingnya ini memang memiliki wajah yang manis dan juga tubuh yang ideal sehingga memang indah untuk di lihat oleh mata..


'Semakin lama dia semakin menarik saja, apa itu hanya perasaanku saja ya?' gumam Ruslan di dalam hati nya..


"Mawar, sudah sampai." Ruslan menghentikan mobilnya..


Mawar baru sadar kalau iya terhanyut berbalas pesan dengan Riri temannya itu, hingga tidak menyadari kalau sekarang sudah berada di depan rumahnya, ''oh sudah sampai ya pak, Mawar mematikan ponselnya dan lalu memasukkan ke dalam tas, terima kasih banyak ya pak atas tumpangannya, saya permisi dulu kalau gitu,'' ia membuka pintu itu dan berjalan menuju pintu rumahnya..


Ruslan masih melihat Mawar yang akan menghilang di balik pintu, seperti ada sesuatu yang kurang pada diri Mawar saat ini, tapi Ruslan pun tidak tahu itu apa, ia pun kembali melajukan mobilnya karena sudah hampir jam dua belas malam, maka ia harus segera sampai di rumah..

__ADS_1


Ketika sampai di rumahnya dan mematikan mesin mobilnya, barulah Ruslan melihat kalau jaket jeans Mawar tertinggal di mobil nya..


"Ini dia rupanya yang tertinggal, pantas saja seperti ada yang kurang saat aku melihatnya tadi,'' Ruslan mengambil jaket itu dan lalu membawanya ke dalam..


Sebelum Ruslan naik ke lantai atas menuju kamarnya, ia menyempatkan untuk melihat anaknya Fiqi, dan ternyata anaknya sudah begitu terlelap, juga Mbok Inem tampak terlelap di tempat tidur Indah pengasuhnya Fiqi, Ruslan tidak berniat untuk membangunkan mbok Inem, karena di lihatnya mbok Inem terlihat sangat menikmati suasana kamar ini..


'Semoga mbok Inem juga terbiasa menggunakan AC', harap Ruslan di dalam hati nya, sambil tersenyum melihat mbok Inem yang berselimut menutup semua badannya dari sampai kaki..


Ruslan naik ke lantai atas, jaket Mawar ia letakkan di pundaknya, Ruslan mengganti bajunya, Ruslan mengingat atas ucapan Mawar tadi, kalau lebih baik mandi di atas jam dua belas malam, sembari menunggu waktu, Rulan menyempatkan dirinya memasuki ruang kerjanya, dan ia meletakkan jaket Mawar di sana, karena tentu saja ia tidak ingin ada baju wanita lain di kamarnya, yang akan menjadi pemicu salah paham nantinya..


Kenapa ada perasaan senang di hati Ruslan, saat Mawar melarangnya untuk mandi malam, ia merasa begitu di perhatikan dan merasa di khawatirkan oleh Mawar, rasanya sudah lama sekali ia tidak mendapatkan perhatian kecil ini dari istri nya sekarang..


"Kenapa aku jadi memikirkan gadis itu terus ya, apa dia benar benar sudah mengusik hatiku sekarang, atau mungkin perasaanku sudah mulai ada untuknya, apa apaan aku ini !, jelas jelas aku sudah beristri dan sudah memiliki anak, mana mungkin gadis muda seperti dia mau menjalin hubungan dengan aku, tentulah ia ingin mendapatkan laki laki yang statusnya sama sepertinya"..


Ruslan melihat jam dindingnya, jarum jam sudah beralih dari angka dua belas, ia beranjak dari ruang kerja untuk segera membersihkan dirinya, karena ia pun mulan merasa ngantuk dan ingin segera memejamkan matanya, ia teringat akan pesan Mawar tadi maka ia ingin mencoba menuruti saran yang di berikan Mawar baru tadi..


"Terkadang yang kita pilih itu belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita, seperti saat ini Ruslan yang dulu memang memilih Vera menjadi istrinya, tapi ternyata Vera bukanlah kebutuhannya, bahkan tidak bisa mengerti apa yang ia mau terkadang ada rasa penyesalan di hati Ruslan karena telah menikahi Vera, namun ia tidak akan mengungkapkan itu kepada Vera karena ia pun sadar mungkin dirinya lah yang belum bisa menjadi suami yang baik untuk istrinya itu..




Sementara di kamar kecil itu seorang gadis masih tersenyum senyum dengan sendirinya, sepertinya hal yang di pikirkannya begitu membuatnya begitu bahagia sampai ia tidak bisa berhenti untuk tersenyum, bila mengingat pertanyaan Ruslan tentang dirinya, tidak tahu kenapa ia merasa kalau Ruslan mulai ingin tahu tentangnya, 'apa perasaan pak Ruslan sama kayak gue ya ?' tanya Mawar pada dirinya sendiri..




Namun Mawar bukanlah gadis yang haus akan pujian, atau mungkin memanfaatkan kecantikannya untuk bisa dekat dengan banyak pria, Mawar mempunyai hati yang tulus, jika dia telah mencintai satu orang lelaki, maka cintanya akan kuat dan terus tertanam di hatinya dan juga Mawar adalah gadis yang sangat polos, ia tidak terlalu pandai untuk berkilah dan juga berdusat kepada orang yang sangat ia cintai..



"Perasaan aku ada yang ketinggalan barang deh, tapi apaan ya ?" gumam Mawar memikirkan sesuatu, ia mulai kembali mengingat-ngingat barangnya yang tertinggal entah apa dan di mana..



'Oh my god, jaket aku yang ketinggalan di dalam mobilnya pak Ruslan !' seru Mawar mengingat-ngingat di mana ia melepas jaketnya terakhir kali..



"Iya bener, di mobilnya pak Ruslan, tadi pas aku kedinginan terus AC nya di matikan sama pak Ruslan, terus aku merasa panas dan aku buka deh tuh jaketnya, ya ampun !.. aku lupa, aku kan pake baju crop tadi berarti ya.. " Mawar tidak melanjutkan kalimatnya sendiri, ia sudah merasa malu duluan mengingat kalau baju yang di kenakannya terlalu mini dan tidak sopan bila harus di perlihatkan di depan Ruslan Bos nya itu..


__ADS_1


'Semoga pak Ruslan gak berpikiran kalau aku mau tebar pesona sama dia ya, kan aku emang gak sadar udah buka jaket itu, duh aku bego banget sih !, kenapa sih bisa kayak gini !, terus.. jaket aku masih di sana lagi atau di buang yang sama pak Ruslan ?" Mawar langsung negatif thinking terhadap Ruslan..



'Kenapa ya aku selalu ketemu pak Ruslan tanpa di sengaja, dan yang pasti ada aja waktunya biar aku tuh bisa ngeliat mukanya si pak Ruslan, jangan salahin aku kalau aku semakin tertarik dan semakin suka sama papinya Fiqi, karena kesempatan yang berpihak sama aku sekarang, membuat aku jadi terbiasa dan ingin terus tahu tentang pak Ruslan,' lamunan Mawar di bawah selimut tebalnya, seakan ia tidak bisa berhenti memikirkan Ruslan..



Mawar tidak menampik hal itu kalau hatinya sekarang memang terusik akan sosok Ruslan, bahkan bila sedang mengingat atau di dekat Ruslan ia tidak merasakan sakit hati lagi atas perlakuan mas Yuda padanya, yang meninggalkannya begitu saja, perasaan sakit hatinya begitu terobati jika ia melihat wajah Ruslan, terlebih lagi jika di lengkapi oleh Fiqi anaknya, perasaan bahagia semakin terpancar di wajah Mawar..



Mawar merasa memiliki sebuah keluar kecil baru yang bahagia bila ia sedang berjalan dengan Ruslan dan Fiqi anaknya, meskipun perasaan itu salah, karena mereka itu miliknya Vera Bos nya sendiri bukan miliknya, namun hati Mawar memang begitu menyayangi Fiqi dengan tulus makanya Fiqi pun merasa begitu nyaman bila berada di dekat Mawar..



Mawar berusaha memejamkan matanya karena hati ini memang sudah larut malam dan besok ia harus bekerja seperti biasa.



Ting.. nada pesan dari ponselnya berbunyi, dan Mawar lupa mematikan ponselnya..



Ternyata itu pesan dari Eca untuknya, 'loe dimana Mawar, kok gue tungguin loe malah gak dateng dateng sampai sekarang,' pesan singkat dari Eca kepada Mawar..



"Bodo ah !, gak usah di bales aja, gantian sekarang loe yang nungguin gue, tadi loe kemana aja, waktu gue tungguin, bingung kan loe nyariin gue sekarang, sumpah ya.. habis ini gue gak mau lagi ikut ke acara loe, acara loe gak ada yang jelas Ca !" Mawar mengumpat temannya Eca dan mematikan ponselnya, ia mengabaikan pesan dari Eca..



Namun belum sempat Mawar menonaktifkan ponselnya, ponselnya sudah berdering dan itu panggilan dari Eca, sepertinya Eca sangat khawatir akan keberadaan Mawar di mana, yang ia tahu Mawar masih di sana, padahal Mawar saat ini sudah bergelut di dalam selimutnya, di temani bantal guling, dan juga nyamannya kasur, serta lampu remang remang yang melengkapi suasana tidurnya saat ini..



"Sorry ya Ca, gue gak ada maksud untuk ngerjain loe, tapi mata gue udah ngantuk banget dan besok harus kembali bekerja, jadi gue gak bisa jawab telpon loe sekarang, sorry banget ya,'' Mawar mengabaikan dering ponsel nya itu, untung saja ia telah menghabiskan volume hingga tidak mengganggunya walaupun terus berdering..



Mawar pun mulai memejamkan matanya menikmati sisa malam ini, ya walaupun hatinya begitu kesal karena di ajak ke acara pesta yang gak jelas oleh Eca, tapi.. untung saja ada sesuatu yang manis juga terjadi malam ini dengannya, karena pesta itu juga ia bisa dengan tidak sengaja bertemu Ruslan dan untuk pertama kalinya ia bisa satu mobil dengan Ruslan tanpa adanya orang lain, ternyata Ruslan mempunyai sikap dan cara bicara yang berbeda jika hanya berdua saja..


__ADS_1


Mawar tidak bisa membohongi hatinya, kalau ia merasa senang bisa mengobrol bersama Ruslan di mobil tadi, ia berharap bisa lebih dekat lagi dengan suami bosnya itu, ya walaupun semua itu mungkin sulit akan terjadi, mengingat Ruslan memang bukanlah laki laki single..


__ADS_2