
Weekend memang hari yang cukup melelahkan bagi Mawar dan kawan kawan yang harus melayani customer setia salon mereka. Yang jadi hari libur bagi sebagian besar orang yang bekerja justru menjadi hari tempur bagi pekerja salon kecantikan seperti mereka. Karena di hari libur itulah orang orang akan menyempatkan diri untuk memanjakan diri di salon..
"Ah capek juga ya,'' keluh Mawar, setelah meneguk minuman teh dingin dari botol kecil itu..
Ya, selama hampir 2 bulan ini Mawar merasa kurang bersemangat bekerja, namun karena kebutuhan dan ingat akan wajah ibunya di kampung, memaksa dia harus tetap kuat dan semangat melakukan pekerjaan ini..
Bagi Mawar sekarang hari libur adalah hari yang cukup menyebalkan baginya, bagaimana tidak ia akan merasa sepi berada di asrama sendirian. Semenjak Eca dan Riri sudah memiliki pasangan, di tambah Gina yang setiap waktu libur di wajibkan oleh kakaknya menginap di rumah nya..
Mau tidak mau Mawar harus melewati hari libur itu dengan kesepian, ya mau bagaimana lagi, Mawar memang tipe wanita yang tidak terlalu mudah dalam bergaul, harus orang lain dulu yang berbicara padanya barulah ia berani memulai obrolan dengan orang tersebut..
*Ke esokan harinya*
Sinar mentari pagi menyapa Mawar lewat belaian yang menembus celah celah kecil di atas jendela kamar Mawar. Memaksa Mawar untuk membuka mata menyambut kehangatannya..
Dengan malasnya Mawar perlahan membuka kedua matanya, dan mengusap-ngusap kecil mukanya menghalau terpaan sinar mentari yang menyilaukan itu..
Rasa enggan ia terbangkit dari tempat tidurnya, ia hanya bergeser agar wajahnya tidak tersentuh oleh cahaya pagi itu lagi. Dengan manja memeluk bantal guling kesayangannya..
"Males ah, paling yang lain juga belum pada bangun,'' gumam Mawar menatap kosong sudut kamarnya..
Mawar tidak ingin keluar kamar, selama Eca dan Riri belum pergi. Sementara Gina sudah dari pulang kerja langsung ke rumah kakaknya..
Mawar bukan tidak suka dengan teman temannya yang selalu punya acara sendiri saat hari libur, hanya saja ia tidak ingin merasa sendih saat melihat teman temannya yang bersemangat saat ingin berkencan dan yang pastinya menyisakan Mawar yang kesepian..
Termenung.. hingga tidak sadar mata Mawar kembali terpejam, pasrah memeluk bantal guling dan masih di balut selimut lembutnya..
"Mawar.. jalan dulu ya.'' teriakan Eca terdengar samar dari kamar Mawar, yang tidak mungkin membangunkan tidur Mawar..
Tok.. tok.. tok..
"Mawar.. Mawar..'' Riri memanggil-manggil sahabatnya itu, namun tidak ada jawaban dari Mawar..
"Tumben belum bangun itu anak." gumam Riri di depan kamar..
Tit.. tit.. suara klakson mobil itu memanggil Riri..
"Duh.. dia udah dateng ini, Mawar aku pergi dulu ya.'' teriak Riri yang bergegas menghampiri mobil yang menunggu nya di depan..
Tring.. tring..
Tring.. tring..
Deringan ponsel Mawar berhasil membangunkannya, Mawar pun meraih ponsel lantai samping ia tidur..
"Mama,'' ucap Mawar pelan menatap ponselnya..
"Mawar.." panggil ibu Mawar..
"Iya ma,'' suara sari sedikit serak..
"Kamu sakit ya nak, kok suaranya ga enak gitu ?"..
"Gak ma, baru bangun tidur"..
"Baru bangun !! ini sudah jam berapa loh nak,'' teriak ibu Mawar dari seberang sana..
"Kemarin tamu salon rame banget ma, jadi terasa lebih capek aja sekarang ma, makanya tiduran aja''..
"Iya.. tapi ini sudah siang loh hampir jam satu, kamu pasti belum makan kan ?" ketus ibu Mawar..
"Iya ma, habis ini Mawar makan. Nanti beli makanan matang saja.'' jawab Mawar..
"Iya.. jaga kesehatan ya nak, biar bisa kerja terus disana. Biar kita bisa beli rumah di kampung jadi ga numpang lagi sama nenek mu ini.'' sambung ibu Mawar..
"Iya ma, ya udah Mawar mau mandi dulu ya ma"..
Mawar mematikan sambungan telepon sambil menghembus nafas panjang mendengar perkataan ibunya barunya..
Meraih sweater pinknya yang tergantung di dinding kamar, tak lupa Mawar menyisir rambutnya yang masih basah. Dan mengenakan celana rumah di bawah lutut, tidak lupa Mawar mengenakan masker penutup setengah wajahnya agar tidak terlalu perih merasakan terik matahari yang sedang memuncak..
Berjalan menyusuri aspal panas tanpa di temani siapapun, Mawar menghentikan langkahnya di depan rumah makan padang..
"Pak.. nasi bungkusnya satu, pakai lauk ikan bakar ya.'' pinta Mawar kepada penjual itu..
"Nunggu dulu ya mbak.'' pinta sang penjual..
Karena memang penjual tengah sibuk menyelesaikan beberapa bungkusan nasi, Mawar memilih duduk di sudut warung itu, kebetulan jam makan siang sudah lewat jadi tidak terlalu padat sehingga cukup nyaman bagi Mawar duduk sendiri di sana..
Di samping Mawar terlihat dua remaja perempuan yang tengah makan dan asik mengobrol..
"Eh jadi gimana, elo udah ketemu sama cowok itu ?"..
__ADS_1
"Udah semalam, orangnya lumayanlah.''
"Oh ya, terus elo tertarik ga sama dia ?"..
"Emm.. ada sih 60 persen hehe''..
"Elo coba aja dulu mana tau cocok !"..
"Iya sih.. bosen juga gue jomblo terus''..
"Iya, siapa tau elo cocok, dan bisa sampai tunangan kayak gue''..
"Iya ya, tapi kalau seandainya gue ga cocok sama dia gimana ?"..
"Ya elo cari lagi lah, di aplikasi itu. Di sanakan masih banyak cowok cowok yang cari pacar''..
"Iya juga ya, seru juga ya nyari cowok di aplikasi ini''..
Percakapan kedua remaja itu terdengar jelas oleh Mawar yang hanya duduk tanpa melakukan apapun, karena ponsel pun tidak dibawanya..
"Ini mbak, nasinya" ucap si penjual kepada Mawar..
"Oh iya makasih.'' Mawar membayar makanannya dengan uang pas dan segera berlalu karena memang perutnya sudah menjerit jerit minta jatah makan..
"Kenyang juga akhirnya,'' ucap Mawar menatap bungkus nasinya yang sudah licin tidak menyisakan sebutir nasi pun..
Tidak ingin merasa sepi, Mawar menyalakan televisi di ruang tengah asrama sambil menggonta ganti saluran TV, tidak satupun acara TV yang menarik hatinya untuk di tonton..
"Males banget deh acaranya.'' Mawar menekan tombol merah pada remot dan menghempaskan remot di atas karpet bulu di ruangan TV itu..
Pilihan Mawar tetap merebahkan dirinya di atas kasur singlenya, dan meraih ponselnya..
"Apa tadi, aplikasi online ?" Mawar mengingat perkataan kedua remaja tadi..
Ia pun kini fokus dengan ponselnya, mencari informasi tentang aplikasi tersebut. Tanpa basa basi, Mawar segera menginstalnya ke ponsel miliknya..
"Buka ahh, penasaran juga.'' ucap Mawar..
Wajah masih terlihat kebingungan akan cara memainkan aplikasi yang baru di lihatnya ini..
"Gimana sih maksudnya ?" gerutu Mawar kesal..
Setelah mengotak atik isi dalam aplikasi tersebut, akhirnya Mawar mulai mengerti. Ia segera meletakkan foto dirinya, tapi tidak ingin terkesan terlalu mencari, Mawar meletakkan foto dirinya yang menghadap ke samping, sehingga wajahnya tidak terlihat semua dan memberikan kesan penasaran padanya. Tidak lupa ia tuliskan namanya di sana, namun bukan Mawar yang ia tuliskan melainkan Fitri..
Ponselnya kini ia biarkan saja di atas kasur, sementara Mawar masih sibuk merawat rambutnya dengan vitamin rambut. Hingga tidak sadar jika aplikasi tadi sudah menerima beberapa pesan..
"Kok banyak banget pesannya,'' Mawar kaget melihat tanda merah pada aplikasi tersebut..
Tidak ingin penasaran, Mawar membuka pesan itu satu persatu. Dan sungguh isi dari pesan rata rata membuat Mawar kesal, karena kebanyakan dari mereka mengirimkan gambar gambar yang kurang enak di lihat..
"Nyebelin banget sih nih orang orang.. gak ada yang sesuai harapan." Ia kembali menghempaskan ponsel itu di atas kasur, dan meneruskan keasyikannya yang tengah meluruskan rambutnya dengan alat pemanas yang pipih itu..
Setelah selesai menata rambutnya yang kini tampil lebih rapi dan ikal sedikit di bagian ujungnya menambahkan kesan anggun pada diri Mawar, memang ia belum ada rencana kemana mana hari ini tapi entah mengapa ia ingin tampil lebih cantik hari ini, karena sudah lama semenjak kepergian mas Yuda ia tidak mengenakan koleksi baju baju kekiniannya. Kali ini ia ingin memakai koleksi terbarunya walau hanya sekedar di rumah..
Mawar memandangi tubuhnya di depan cermin, baju kuning langsat yang berlengan panjang namun pendek di bagian badan sehingga memperlihat kan sedikit perut rampit Mawar. Di padukan dengan celana jeans berkancingnya, Mawar kelihatan seperti remaja ibu kota yang sangat milenial..
Ia segera meraih ponselnya untuk menangkap gambar dirinya di depan cermin ini, sungguh manis Mawar sangat terlihat menawan di dalam tangkapan gambar kamera ponselnya. Timbul keinginan dari dalam hatinya untuk memasang foto tersebut pada akun aplikasi online yang baru di mainkannya. Bukan main, hampir ratusan orang menyapa dirinya, namun hanya satu yang menarik perhatian Mawar, laki laki yang berpose di depan mobil mewah itu..
Mawar membalas pesan dari si punya foto..
"Hai cantik''..
"Hai juga''..
"Bisa kita ketemu nanti di suatu tempat kah ?"..
"Boleh aja"..
"Di mana cantik ?"..
"Hmm.. di taman hijau permai, mau ga ?"..
"Ok.. jam 2 siang nanti ya"..
"Ok, baiklah di tunggu ya"..
Kebetulan Mawar merupakan seorang Cewek yang memang tidak suka sesuat hal yang terlalu bertele tele jadi pas ada yang mengirimkan pesan seperti itu, ya Mawar langsung aja meresponnya. Ia memastikan penampilan nya sekali lagi agar terkesan rapi saat bertemu dengan kenalan barunya. Tidak lupa juga sepatu sneakernya dan tas ransel kecil yang manis untuk menemani nya nanti di taman, penampilannya terkesan lebih sporty namun tetap girly..
Taman yang di sebutkan Mawar berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya di asrama, dengan berjalan kaki lima belas menit Mawar sudah sampai di taman itu, ia mencari tempat untuk berteduh sambil menunggu lelaki yang baru di kenalnya..
Tidak lama terlihatlah motor king dengan knalpot yang cukup bising, motor itu berjalan ke arah Mawar. Dan berhenti pas di depan Mawar yang duduk manis di bangku taman itu..
__ADS_1
"Mawar melirik lelaki itu, dengan pandangan yang datar. Mawar memperhatikan penampilan lelaki itu. Rambutnya yang gondrong mengenakan baju kaos hitam dan celana jeans yang robek cukup besar di bagian lutut, serta sepatu yang cukup dekil di bawah sana..
Mawar masih diam melihat lelaki itu, seolah tidak percaya kalau ini adalah pria yang akan di temuinya. Mawar tidak menyukai penampilan pria yang urakan seperti ini, apalagi rambutnya gondrong kayak cewe aja, Mawar paling anti dengan lelaki yang berambut gondrong.
'Oh tuhan ku.. sepertinya aku salah pilih janjian deh kali ini,' gerutu Mawar dalam hatinya sambil menggigit bibir manisnya itu..
"hai.. kamu Fitri kan ?" Tanya lelaki itu dari atas motornya..
Bukan menjawab, Mawar semakin melongo melihat lelaki itu yang tidak sopan sama sekali terhadap nya, seharusnya dia bisa turun kan terlebih dahulu dan bertanya kepada Mawar..
'Menyebalkan,' gumam Mawar pelan agar tidak terdengar oleh lelaki itu..
"Heii.. elo Fitri kan ?" suaranya terdengar lebih keras..
"Eh.. iya. Gue Fitri, kenapa ?." jawab Mawar tersenyum..
"Gue Bobi, yang janjian sama elo tadi''..
"Oh iya, gue tahu"..
Mawar melihat lelaki itu yang kini tengah menghisap sebatang rokok yang asapnya terhirup oleh Mawar. Sungguh Mawar sangat tidak menyukai sosok yang ada di depannya ini, rasanya ingin ia pergi secepatnya dari tempat itu akan tetapi ia bingung harus beralasan apa kepada laki laki ini..
"Gue haus, elo bisa beliin minum ga buat gue ?" pinta lelaki itu..
'What !.'' Dia nyuruh gue beli minuman buat dia, memang ga tahu diri ini orang. Eh tapi kayaknya ini kesempatan gue deh buat kabur dari sini." Batin Mawar yang semula kesal namun kini terlihat tersenyum..
"Boleh, kamu tunggu disini ya ! gue beliin dulu di minimarket sana"..
Mawar bergegas meninggalkan lelaki dengan tampilan preman itu, lelaki itu masih sangat muda sepertinya dia baru menyelesaikan sekolah menengah ke atas. Memang wajahnya tidak jelek, namun Mawar menyukai lebih lelaki yang berpenampilan rapi dan usianya lebih dewasa dari nya..
Langkah kaki Mawar bergerak sangat cepat menyusuri jalan menuju mini market itu, namun bukannya maksud membelikan minuman, justru Mawar malah meneruskan langkahnya jalan di aspal ini. Tidak terasa hampir dua puluh menit ia telah berjalan kaki, dan keringat di dahinya mulu mengucur deras.
"Duh.. capek juga ya, panas lagi." gerutu Mawar menyapu keringat di sekitar dahinya..
Mawar memperhatikan sekitarnya, ia tidak menyangka jika ia sudah lumayan jauh dari taman tersebut. Merasa lelah Mawar mencari cari bangku yang bisa untuk di dudukinya, terlihat ada sebuah bangku di depan ruko itu. Sepertinya itu salah satu Bank Swasta yang cukup ternama..
Mawar mendaratkan bokongnya di bangku itu, dan terus mengipas-ngipas wajah dengan tangannya. Di perhatikannya orang yang keluar masuk dari Bank itu, rata rata pengunjung nya mengendarai mobil mewah dan tentu penampilan mereka sangatlah rapi dan berkelas..
'Yang keluar masuk, orang kaya semua ya kayaknya,' batin Mawar melihat orang orang yang hilir mudik turun naik mobil..
Tiba tiba Mawar melihat sosok yang tidak asing baginya yang baru saja keluar dari pintu kaca itu. Deg.. jantung Mawar berdetak kencang, ternyata itu suami dari bosnya Vera. Mawar tidak ingin bosnya itu melihat dia disini, apalagi kalau bu Vera yang melihat..
Tapi sepertinya bu Vera tidak kunjung keluar juga dari Bank ini, 'apa dia hanya sendiri ya ?' batin Mawar yang melihat suami Bosnya itu sedang berbicara di sambungan ponselnya..
Tidak lama Bosnya selesai berbicara dengan ponselnya, terlihat ia memasukkan ponsel ke sakunya, dan merogoh kantong belakang celananya yang berisi kunci mobil. Namun saat ia mengambil kunci mobil itu, tidak sengaja satu kunci kecil terjatuh juga dari sana, namun pria itu yang berbadan tegap itu tidak menyadarinya..
Mawar yang melihat itu, langsung dengan sigapnya mengambil kunci yang terjatuh itu. Ia tidak mungkin bersikap acuh, apalagi lelaki itu suami Bosnya, pasti itu kunci cukup penting baginya. Kini Mawar berlari ke arah lelaki yang sedang membuka pintu mobilnya..
"Pak.. permisi,'' Mawar mengetuk pintu kacara mobil yang sudah tertutup itu..
Lelaki itu menurunkan kaca hitam yang bersih itu di sisinya, ''iya, ada apa ?" Tanyanya..
"Ini pak, kunci ini terjatuh dari saku celan bapak.'' Mawar menunjukkan kunci kecil itu..
Mata lelaki itu berbinar melihat kunci yang ada di tangan Mawar, "oh.. iya ini milik saya, terima kasih ya." Ucapnya tersenyum..
"Iya pak Bos.'' jawab Mawar..
"Pak Bos ?" lelaki itu bingung akan ucapan Mawar..
"Iya pak, saya salah satu karyawan bu Vera yang bekerja di salon.'' jelasku..
"Oh.. kamu karyawan Vera ya, oh iya saya sepertinya pernah melihat kamu sebelumnya, kalau ga salah waktu di asrama.'' Ungkapnya..
"Iya pak, saya Mawar''..
"Oh Mawar.. btw kamu mau kemana ?"..
"Gak kemana mana pak, tadi habis ketemu temen. Ini saya sudah mau pulang, lagi pesan ojek online''..
"Sudah di pesan ? kalau belum ikut saja aja sekalian.'' Tawarnya..
"Belum pak, tapi gak apa apa, gak usah pak,'' Mawar sangat segan terhadap suami Bosnya ini..
"Udah gak usah sungkan begitu, sini saya antar pulang saja"..
"Baik pak,'' Mawar tidak mungkin untuk menolaknya, nanti suami Bosnya mengira dia seorang yang tidak sopan..
Mawar sudah duduk manis di dalam mobil mewah milik suami Bos nya ini, sangat nyaman, empuk dan sejuk. Rasa gerah yang tadi mengganggu Mawar telah lenyap terkalahkan oleh sejuknya pendingin di dalam mobil ini..
Mawar amat merasa canggung satu mobil dengan lelaki dewasa ini, ia hanya diam saja namun sesekali matanya melirik singkat ke arah suami Bosnya ini..
__ADS_1
'Suami bu Vera, ganteng banget ternyata' batin Mawar dalam hati, memuji sosok yang ada di sampingnya ini..