Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Naluri


__ADS_3

"Iya sayang, tenggorokan papi masih gatal nih, makanya papi jadi batuk kan." Kilah Ruslan, tentu saja ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya di depan Fiqi, kalau sebenarnya iya tersedak karena ucapan Fiqi yang cukup konyol di telinganya..


Mawar dengan cepat mengambil botol yang masih di tangan RUslan, kembali menutupnya serta meletakkannya di samping Fiqi..


Ruslan melajukan mobilnya lebih cepat, karena hari sudah sangat malam dan ia memiliki pekerjaan yang harus di selesaikannya karena sempat tertunda harus menemani dia nonton di bioskop. Saat di pertengahan jalan, ponsel Ruslan berdering, ia segera menjawab panggilan itu, untung saja Ruslan memang sudah menggunakan earphone bluetooth di telinganya bila sedang menyetir kendaraan..


"Ya halo, oke saya akan selesaikan malam ini. Pukul sepuluh malam nanti akan saya kirimkan, tunggu saja ya !" ucapnya pada orang di seberang sana yang menghubunginya, sepertinya itu salah satu anak buah Ruslan yang menginginkan berkas penting dari Ruslan..


Sesampainya di rumah Ruslan segera turun dari mobil, ia terlihat buru buru. Dan Mawar selalu siaga untuk menuntun Fiqi ikut turun juga, mereka pun masuk ke dalam rumah beriringan, namun Ruslan langsung naik ke lantai atas, namun tidak lupa untuk berpamitan kepada putranya Fiqi..


"Fiqi, papi harus ke atas sekarang ya, ada berkas yang harus di kerjakan dan papi harus mengirimkannya pukul sepuluh nanti, Fiqi sama Mawar dulu ya, nanti papi akan turun jika sudah selesai,'' ucap Ruslan kepada Fiqi dan langsung berlari menaiki anak tangga..


"Ayo sini Fiqi sama kakak, kita ke kamar membersihkan badan Fiqi dan ganti baju tidur ya,'' ajak Mawar kepada Fiqi..


"Eh sudah pulang ya ?, gimana tadi ujiannya, lancar kah ?" tanya mbok Inem kepada Fiqi dan juga Mawar..


"Lancar dong mbok Inem, Fiqi kan sudah latihan." Jawab Fiqi..


"Syukurlah kalau begitu, mbok ikut senang mendengarnya." Sahut mbok Inem..


"Iya mbok, aku begitu kagum sama Fiqi, dia sangat percaya diri dan hasilnya sangat memuaskan." Puji Mawar menambahkan..


"Neng Mawar kamu menginap disini lagi kan malam ini ?" tanya mbok Inem dengan sumringah dan semangat..


"Tadinya sih gak ya mbok, aku malu pulang kan tapi pak Ruslan bilang aku harus menemani Fiqi sampai dia menyelesaikan pekerjaannya di atas"..


"Oh begitu ya neng, ya udah ayo kita makan dulu yuk, mbok udah masak enak loh, dari tadi mbok nunggu kalian pulang, biar ada temen makan"..


"Ayo sayang, kita makan !, kak Mawar suka sekali sama masakan mbok Inem." Ajak Mawar kepada Fiqi..


"Ayo kak Mawar, setelah makan nanti kita makan donat ya ?" ajak Fiqi..


"Iya adik kecil." Jawab Mawar..


"Neng Mawar bisa aja deh ya muji mbok, bikin mbok jadi melayang layang nih di atas awan, emang beneran ya, masakan mbok tuh enak banget ?" mbok Inem penasaran..


"Beneran loh mbok, masakan mbok itu hampir sama dengan masakan ibuku di kampung, makanya kalau aku makan masakan mbok serasa makan masakan ibu, serius gak bohong deh." Ucap Mawar seraya menunjukkan dua jari, yaitu telunjuk dan jari tengah..

__ADS_1


Seperti biasa, Mawar menyuapi Fiqi makan malam, dan sekaligus menyuapi dirinya sendiri. Mereka makan malam bersama, Fiqi terlihat sangat menikmati makan malam bersama, dan Fiqi pun sangat senang, sepertinya dia memang menyukai suasana yang ramai seperti saat ini, yang di selingi dengan senda gurau yang melengkapi canda tawa mereka..


Sesuai yang Fiqi bilang tadi, kalau setelah makan mereka akan menyantap donat yang di beli oleh Ruslan tadi. Di usianya yang masih lima tahun, Fiqi memang sangat bijak meskipun dia tahu kalau mbok Inem hanyalah orang yang bekerja di rumahnya, namun ia menganggap mbok Inem sudah seperti keluarganya sendiri..


Fiqi selalu bersikap sopan kepada mbok Inem, seperti saat ini ia memberikan donat kepada mbok Inem dengan kata kata yang manis, sama seperti Fiqi bersikap ke Mawar. Kini mereka tengah menikmati donat yang rasanya tidak usah di ragukan lagi..


''Sebentar lagi papi pasti akan turun, ini sudah pukul setengah sepuluh,'' ujar Fiqi yang tidak sabar ingin bertemu dengan Ruslan lagi..


"Iya sayang, semoga pekerjaan papi cepat selesai ya, jadi Fiqi bisa tidur bareng Fiqi deh malam ini." Sahut mbok Inem kepada Fiqi..


"Fiqi boleh pinjam ponsel kak Mawar ga ?, Fiqi pengen lihat video siang tadi,'' pinta Fiqi kepada Mawar..


"Oh boleh dong, sebentar ya, ini." Mawar menyerahkan ponselnya yang baru saja ia ambil dari saku blazer yang ia kenakan sekarang..


"Fiqi sudah asik melihat ponsel itu, Mawar bergerak membantu mbok Inem membereskan meja makan dan membereskan dapur yang saat ini sedang menemani mbok Inem mencuci piring..


"Pak Ruslan itu gak akan cepat selesai kalau sudah bekerja di atas neng." Ujar Inem..


"Oh ya mbok ?, tapi tadi pak Ruslan bilang jam sepuluh sudah selesai"..


"Itu kan katanya dia, tapi kenyataannya kerjaan dia itu banyak, bisa bisa selesainya jam sebelas, kalau gak jam dua belas, setahu mbok ya neng"..


"Begitulah kalau orang kaya, sibuk banyak kerjaannya, beda sama kita yang biasa saja, memang pekerjaan kita pakai tenaga"..


"Iya mbok, berarti aku harus nginep lagi malam ini mbok ?" tanya Mawar bingung..


"Sepertinya.. memangnyakamu gak mau nginep disini lagi ya neng ?" tanya mbok Inem kepada Mawar..


"Bukan gak mau mbok, tapi aku kan gak bawa baju ganti,'' kilah Mawar..


"Ya sudah nanti pakai bajunya mbok saja, mbok punya baju piyama yang jarang di pakai kayaknya pas deh sama kamu neng,'' tawar mbok Inem..


"Oh oke deh mbok, nanti aku pakai kalau seandainya pak Ruslan belum turun juga saat pukul sepuluh"..


"Iya, nanti mbok antar ke kamar kamu neng dan Fiqi ya, sudah jam sepuluh lebih baik neng ajak Fiqi ke kamar, soalnya dia harus tidur tepat waktu"..


"Oh ya sudah mbok kalau begitu, aku ke kamar dulu ya mbok, maaf aku gak bisa bantuin sampai selesai." Mawar mengelap tangannya agat tidak basah lagi..

__ADS_1


"Iya tinggal sedikit lagi kok neng, ini sih gampang aja bagi mbok," mbok Inem yang sudah terbiasa dengan pekerjaan dapurnya..


Mawar pun mengajak Fiqi untuk segera ke kamarnya, sama seperti kemarin, Mawar merapikan selimut Fiqi dan kembali membacakan buku cerita untuk Fiqi, agar mata Fiqi segera terpejam. Sebenarnya Mawar sangat risih dengan dirinya saat ini, karena ia sudah memakai pakaian di badannya sejak dari pagi, dan belum juga menggantinya sama sekali, terasa lengket dan gerah di tubuhnya..


Tidak butuh waktu yang lama Fiqi pun kembali terlelap sebelum Mawar menyelesaikan buku ceritanya. Mawar pun kembali merapikan selimut Fiqi dan mengembalikan buku itu pada tempatnya..


"Neng Mawar ini bajunya, kamu ganti baju dulu ya neng, biar enak." Suruh mbok Inem sambil memberikan piyama itu kepada Mawar..


"Oh iya mbok, aku udah gerah banget nih !, udah lengket banget, gak nyaman banget." Mawar." Mawar pun mengambil piyama itu dari tangan mbok Inem..


"Melihat Fiqi yang sudah terlelap tidurnya, dan sepertinya tidak mungkin akan bangun. Maka Mawar berniat akan mengganti pakaiannya di kamar itu juga, di bawah sinar lampung remang remang, Mawar berpikir tidak akan ada yang melihatnya sedang berganti baju saat ini..


Mawar membuka blazer krimnya, baju kaos putihnya, dan juga roknya. Mawar membiarkan baju kotornya di atas lantai, saat ini tubuhnya hanya mengenakan pakaian dalam saja, ia berlagak cuek mengambil piyama yang di taruhnya di tempat tidur Indah..


Namun sebelum ia mngambil piyama itu, ponselnya berbunyi, ia menerima pesan dari Riri, Mawar langsung membalas pesan dari Riri yang menanyakan dimana keberadaannya saat ini..


Mawar tidak pedulu akan dirinya saat ini, yang hanya mengenakan pakaian dalam saja, sehingga bagian tubuh yang lain terlihat, ia beranggapan Fiqi sudah terlelap, maka tidak ada yang membuatnya segan berpenampilan seperti ini..


Setelah beberapa menit saling berbalasan pesan dengan Riri, dan tubuhnya mulai merasakan dingin karena hembusan angin AC yang mengenai tubuhnya. Barulah Mawar  mengambil piyama itu dan mengenakannya, kini tubuhnya merasa lebih hangat, dan Mawar pun kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur Indah yang kemarin ia tempati..


"Pak Ruslan mana sih, kok belum turun juga ya ?, sudah setengah sebelas malam, berarti aku benar benar tidur di sini malam ini." Ucap Riri, kemudian mematikan ponselnya..


Tidak ada yang tahu kalau di luar sana ada seorang laki laki yang perasaannya sedang tidak menentu saat ini. Karena tidak sengaja melihat apa yang seharusnya tidak di lihatnya malam ini..


Menyaksikan pemandangan yang mungkin bisa di katakan indah, namun cukup membuatnya menjadi bingung dan berdebar bilang mengingat semua itu. Sehingga membuatnya tidak tahu harus berbuat apa, dan ia merasakan dirinya kehilangan kendali, kini ia hanya bisa terdiam memikirkan bagaimana caranya perasaan tidak enaknya bisa hilang..


Ya.. siapa lagi kalau bukan Ruslan, yang tidak sengaja melihat Mawar di kamar Fiqi yang saat itu hanya mengenakan pakaian dalam saja. Ruslan yang sengaja turun untuk melihat keadaan anaknya itu, tiba tiba berhenti di depan pintu kamar setelah ia membuka sedikit pintu itu dengan perlahan..


Ruslan hanya bisa terpaku dan terdiam saat melihat sosok wanita yang bertubuh langsing, putih bersih, dan berambut panjang yang hanya mengenakan pakaian dalam saja di dalam sana, membuatnya tidak bisa berkata apa apa, karena semua ini di luar dugaannya..


Namun anehnya saat ia tahu kalau Mawar sedang berpakaian yang tidak sempurna, Ruslan tidak langsung menutup pintu kamar itu, malah Ruslan memandanginya dan mengamati dari atas hingga bawah tubuh mawar yang begitu indah itu..


Sebagai lelaki normal apa lagi sedang jauh dari istrinya, dan juga kebutuhan batinnya sudah lama tidak terpenuhi, maka naluri kelelakian Ruslan langsung bereaksi saat melihat pemandangan indah yang menggoda matanya saat ini..


Ruslan menelan air liurnya, ketika melihat tubuh mawar yang memang menggoda batinnya. Mawar yang sedang duduk dan fokus menatap layar ponselnya, tidak menyadari sama sekali kehadiran Ruslan..


Tidak bisa di pungkiri belahan indah pada dada Mawar sungguh memanjakan mata, paha Mawar yang begitu mulu seakan memanggil Ruslan agar segera membelainya. Ruslan mengontrol dirinya, untuk sadar kalau apa yang ia lakukan saat ini sudah tidak baik, maka ia pun kembali menutup pintu itu perlahan, meninggalkan ruangan itu untuk kembali berlari ke lantai atas..

__ADS_1


Dengan perasaan yang berdebar, dan jantungnya berdegup kencang, Ruslan tidak mengerti apa yang tengah di rasakannya saat ini. Ia bingung kenapa tiba tiba naluri kelelakiannya merasa terpanggil, dan tiba tiba hasrat itu datang dan bergejolak, saat ini ia sangat sulit untuk menghalau dan memadamkannya..


Kini Ruslan masih termenung di meja kerjanya, memikirkan kelak ia harus bersikap bagaimana, kecanggungan di hatinya tidak bisa di tutupi dan ia belum bisa melupakan pemandangan indah akan tubuh mawar yang sempat memanjakan mata nya tadi walaupun hanya sebentar..


__ADS_2