
Mawar kini terlihat bagaikan anak kecil yang sedang di ajakin pulang oleh paman nya, tangan nya di genggam erat oleh Ruslan. Ia pun mengiringi Ruslan dari belakang, wajah Mawar sedikit cemberut, namun kecemberutan nya itu malah menambahkan kesan imut pada wajah nya, Mawar sedikit kewalahan mengiringi langkah Ruslan yang begitu cepat..
"Mawar, ayo !, kenapa lama sekali.'' Ruslan menolah ke arah Mawar yang berjalan di belakang nya itu, dan wajah Mawar saat ini masih saja cemberut, Ruslan tidak bisa membohongi hati nya, kalau melihat ekspresi Mawar saat ini membuat nya jadi semakin penasaran dengan gadis ini, 'kenapa wajahnya sangat menggemaskan sekali ya,' desah Ruslan di dalam hati nya..
"Pak Ruslan jalan nya cepat sekali, saya kan pak sendal high heels, jadi saya sulit untuk mengejak langkah bapak,'' jawab Mawar begitu polos..
"Oh iya maaf, lagi lagi saya lupa kalau hari ini kamu memakai high heels, oke baiklah kalau begitu ayo kita jalan sejajar,'' Ruslan mundur ke belakang menghampiri Mawar, dan tangan nya tetap menggenggam tangan Mawar, mereka pun kini berjalan beriringan menghindari keramaian ini..
'Kenapa pak Ruslan hari ini begitu berbeda ya, kenapa dia memperlakukan ku seolah aku ini adalah tanggung jawab nya, kenapa dia begitu protektif, begitu banyak yang di larang nya untuk hari ini, lihat saja nih dia saat ini begitu erat menggenggam tangan ku, bahkan genggaman nya lebih erat dari ibu ku di kampung, yang dulu pernah memaksaku untuk pulang ke rumah karena aku terlalu lama bermain di luar,' gumam Mawar dalam hati kecil nya..
"Ayo Mawar lewat sini !, biar bisa lebih cepat, di sana terlalu ramai, saya malas kalau keadaan nya sangat ramai,'' Ruslan masih menuntun tangan Mawar dan mengajak nya ke arah yang berlawanan dengan jalan santai mereka memasuki ruangan itu..
Tentu saja Mawar hanya bisa menuruti apa yang Ruslan minta, Mawar terus berjalan berdampingan dengan Ruslan, 'terlalu ramai, apa karena dia malu menggandengku saat ini ya' tanya Mawar di dalam hati nya..
"Kamu jangan berpikiran ya kalau saya malu menggandeng kamu, justru saya itu tidak mau semuamata melihat penampilan kamu hari ini, coba lihat itu dada kamu sangat terbuka, laki laki mana yang tidak suka untuk melihat nya !" tiba tiba ucapan Ruslan membuat mata Mawar terbuka lebar..
'Hah.. kenapa pak Ruslan bisa tahu isi kata hati ku ya, apa dia punya keahlian membaca pikiran,' Mawar jadi bingung..
"Saya tidak pernah berpikir seperti itu kok pak,'' sahut Mawar membela diri nya..
"Iya Mawar, habis dari sini kamu langsung istirahat ya, oh iya vitamin yang saya belikan kemarin, apa masih ada ?, itu harus kamu konsumsi loh dua kali sehari, fungsi nya untuk meningkatkan daya tahan tubuh kamu dan juga tulang kamu agar terus ternutrisi sehingga membuat kamu tidak mudah lemah, apalagi sampai pingsan.'' Ruslan mengingatkan Mawar..
'Aduh.. jelas jelas aku sangat jarang meminum nya, aku meminum nya bila teringat saja' Mawar mulai bingung lagi hendak menjawab apa..
"Mawar ?'' panggil Ruslan..
"Iya pak, saya selalu minum nya dua kali sehari,'' Mawar terpaksa berbohong..
"Berarti sudah habis dong vitamin nya kalau kamu meminum nya dua kali sehari, karena itu saya hitung hanya untuk lima belas hari,'' Ruslan kembali bertanya kepada Mawar..
"Iya sudah mau habis kok pak,'' jawab Mawar terbata, Ruslan seolah memang sengaja memancing Mawar, karena ia tahu kalau Mawar berbohong..
"Kalau begitu saya akan belikan lagi untuk kamu, supaya kamu terus mengkonsumsi nya setiap hari''..
"Oh gak perlu pak !" suara Mawar terdengar lebih keras..
"Kenapa ?''..
"Anu.. tadi saya berbohong sama bapak, sebenarnya vitamin nya masih banyak, saya meminum nya hanya tiga hari saja, jadi mau menghabiskan yang itu dulu,'' suara Mawar sangat pelan karena takut Ruslan marah..
"Oke baiklah, saya suka kamu cepat mengakui kebohongan kamu, jangan di biasakan untuk berbohong !" Ruslan mengingatkan..
"Iya pak,'' jawab Mawar pelan..
Ruslan teringat kalau ia harus membeli sesuatu untuk Fiqi, karena tadi ia sudah berjanji akan membawakan nya donat dan es krim kesukaan nya, dan tentu saja pastinya sudah mendapatkan izin dari Vera istri nya..
"Mawar, saya mau membelikan donat untuk Fiqi dulu ya, kamu mau temenin saya dulu gak ?" tanya Ruslan kepada Mawar..
"Boleh apk,'' lagi pula tidak mungkin Mawar untuk menolak permintaan Ruslan, itu sangat mustahil, Mawar itu kan sosok yang selalu tidak enak kan dengan orang lain...
Ruslan kembali memutarkan kemudi nya, lalu ia mengambil ke arah kiri jalan menuju pusat perbelanjaan, yang memang menjual donat kesukaan putra semata wayang nya itu..
"Ayo Mawar, kenapa kamu jalannya begitu lambat sih, apa saya yang terlalu cepat, padahal saya sudah berusaha untuk mengimbangi kamu !" Ruslan berhenti melangkahkan kaki nya, mereka sudah memasuki kawasan pusat perbelanjaan..
"Kaki saya sakit pak, karena saya tidak biasa banyak berjalan mengenakan sandal high heels ini,'' keluh Mawar..
"Oh ya, coba saya lihat sini !"..
__ADS_1
Ruslan lalu menghampiri Mawar dan ia pun berjongkok untuk melihat keadaan kaki Mawar, dan benar saja ternyata jari kelingking nya Mawar lecet terkena gesekan dari sandal nyaitu, ''jari kelingking kamu luka Mawar,'' ucap Ruslan yang masih berjongkong di bawah melihat luka di jari kaki Mawar..
"Iya pak ?, pantas saja sangat terasa perih di sana,'' Mawar tidak menyangka Ruslan mau melakukan ini, di mana ia bisa menemui seorang Bos yang dengan rela membukakan sendal karyawan nya yang buka siapa siapa nya itu..
"Kalau begitukamu tunggu di sini saja, di sana ada tempat duduk kamu, duduk saja di sana dulu !, saya akan belikan sendal santai agar kamu bisa merasa lebih nyaman berjalan,'' suruh Ruslan pada Mawar, lalu ia menunjuk bangku di koridor depan pusat perbelanjaan itu..
"Tapi pak..." ucapan Mawar langsung di potong begitu saja sama Ruslan..
"Sudah, saya bilang tunggu di sini !, kaki kamu sudah lecet nanti luka nya semakin parah, jadi kamu menurut saja apa yang saya bilang ya.'' Pinta Ruslan..
"Baik pak,'' lagi lagi Mawar memaksakan diri dengan perintah Ruslan, lagi pula memang kaki nya sangat terasa perih. Sejujur nya ia pun sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan mengenakan sendal high heels ini..
Mawar menunggu Ruslan yang berjalan ke arah toko sandal, Mawar melihat pergerakan Ruslan dari jauh, ''pak Ruslan memang sangat terlihat tampan, bahkan dari jauh pun ketampanan nya masih terlihat,'' puji Mawar yang tidak bisa memalingkan mata nya untuk menatap Ruslan dari kejauhan..
Sementara Ruslan di sana terlihat sedang mengantri di meja kasir, kelihatan nya ia telah menemukan sepasang sandal yang bagus untuk di kenakan Mawar nanti nya..
'Astaga !, apa apaan aku ini!, kenapa aku lancang sekali ya membiarkan pak Ruslan membelikan sandal untukku, aku lupa kalau dia itu adalah Bos ku, dan sekarang aku merepotkan nya, ya ampun Mawar.. kamu sadar gak sih kamu itu bukan siapa siapa nya pak Ruslan, jadi jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan deh !' Mawar mengingatkan diri nya sendiri..
"Sangat perih ya Mawar ?" rupanya Ruslan sudah berada di samping Mawar..
"Tidak terlalu, hanya luka kecil saja pak, sudah biasa kok.'' Kilah Mawar, padahal baru saja ia merintih karena merasakah perih yang amat pada kaki nya..
"Kamu pakai sandal ini ya, habis dari beli donat nanti kita ke dokter, agar luka nya bisa di obati !" tawar Ruslan..
"Hah.. ke dokter pak ?" Mawar sedikit bingung apa yang membuat nya harus mengunjungi dokter, 'luka kecil ini perlu penanganan serius dari dokter kah,' desis Mawar dari dalam hati nya..
"Iya ke dokter, agar luka kamu bisa di bersihkan, dan di berikan obat yang cocok, biar cepat sembuh juga, karena kamu besok kan harus bekerja juga, gak mau kan kaki kamu berasa berih terus mengganggu keseharian kamu dalam bekerja besok ?" ujar Ruslan..
"Tapi kan, ini hanya luka kecil saja pak, masa iya harus ke dokter juga ?"..
"Luka nya memang kecil Mawar, tapi kamu merasa perih dan gak nyaman kan !, berarti itu butuh penanganan serius.'' Tukas Ruslan..
"Tidak usah pak, lebih baik di berikan betadine saja, rasanya sudah cukup, saya rasa besok sudah kering juga kok.'' Mawar menolak secara halus..
__ADS_1
"Baiklah kalau kamu nya sendiri yang tidak mau, tapi saya minta kamu harus rajin kasih betadine nya ya, ini sendal nya kamu pakai sekarang !" Ruslan memberikan paper bag itu kepada Mawar..
Mata Mawar membesar saat melihat harga yang tertera di paper bag itu, 'hah.. lima ratus ribu, sandal seperti apa yang di berikan pak Ruslan untuk ku, kenapa harga nya semahal ini !' Mawar bengong melihat paper bag itu, ia tidak percaya kalau Ruslan baru saja memberikan barang yang harga nya cukup mahal bagi Mawar..
''Kenapa kamu bengong Mawar ?, ayo di pakai dulu sandal nya, kita harus ke dalam sekarang, pasti Fiqi sudah menunggu donat nya,'' suara Ruslan menyadarkan Mawar..
"Oh iya pak, baik." Mawar mengeluarkan sepasang sandal dari paper bag itu, ternyata hanya sepasang sandal karet berwarna putih, dari bentuk nya saja sangat simpel dan biasa saja, tidak ada butiran emas atau pun taburan kristas di permukaan nya, tapi kenapa sandal ini begitu mahal ya, pertanyaan itu masih berputar di kepala Mawar..
"Saya belikan sandal itu untuk di pakai kamu Mawar, bukan nya untuk di pandangi saja,'' lagi lagi Ruslan menepis lamunan Mawar..
"Iya pak,'' Mawar segera memakai sandal mahal itu yang telah di berikan oleh Ruslan tadi, mungkin seumur hidupnya sandal biasa ini lah yang paling mahal yang pernah ia injak..
'Wah.. empuk sekali ya, mungkin di sini letak perbedaan nya, tidak seempuk sandal yang kubeli seharga seratus ribu, aku pikir sandal ku yang high heels ini sudah paling mahal,' gumam Mawar di dalam hati nya..
"Bagaimana, pas tidak di kaki kamu ?, saya tadi cuma menebak nebak saja ukuran kaki kamu,'' tanya Ruslan pada Mawar, yang saat ini sudah mengenakan sadal putih karena yang di belikan Ruslan baru saja..
"Pas banget pak, pas sekali loh, terima kasih ya pak, ternyata bapak ahli juga ya dalam menebak nebak, hehe.'' Gurau Mawar spontan begitu saja keluar dari mulut nya..
'Kenapa ya dia bisa tahu ukuran kaki ku, apa pak Ruslan memperhati kan aku sedetail itu,'' Mawar merasa cocok sekali dengan model sandal yang simpel ini..
"Jangankan ukuran kaki kamu, isi hati kamu saja pun bisa saja tebak Mawar !" sahut Ruslan..
"Hah !, pak Ruslan bilang apa barusan ?'' Mawar sengaja pura pura tidak mendengar ucapan Bos nya itu..
"Mawar tidak bilang apa apa, saya bilang ayo cepat jalan nya, karena takut kehabisan juga, donat itu sangat laris sekarang,'' kilah Ruslan, ia pun tahu Mawar sengaja berpura pura tidak mendengar ucapan nya..
Kini Mawar berjalan terasa begitu nyaman, apalagi saat ini ia sedang mengenakan sandal jepit emput karet yang harga nya cukup mahal itu bagi Mawar..
Mawar masih tidak percaya dengan harga sandal nya lima ratus ribu itu, ''kenapa ya bisa sandal jepit biasa seperti ini, di bandrol dengan harga semahal itu, dengan uang segitu aku pikir bisa mendapatkan berapa pasang sandal jepit, dasar orang kaya ya kalau beli barang tidak pernah melihat harga dulu !, berbeda denganku, yang gaji ku hanya habis untuk bulanan dan mengirim ibu di kampung, tentu saja aku pasti nya akan sangat teliti dan memperhatikan harga harga barang akan ku beli''..
Mereka terus berjalan sekarang tanpa mereka sadari tangan mereka masih bergandenganm bahkan tangan itu bergerak dengan sendiri nya bagaikan ada magnet di tangan Mawar dan juga Ruslan, hingga ia menemukan sendiri lawannya dan langsung berpegang erat..
'AKU HARAP INI BUKAN MIMPI'
__ADS_1