Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Khawatir Dan Peduli


__ADS_3

"Seandainya ada mami, jadi Fiqi gak kesepian, Fiqi bisa sama mami,'' ucap Fiqi dengan raut wajah yang sedih, membuat mbok Inem pun jadi ikut sedih..


"Iya Fiqi, mami kan lagi kerja di luar kota, Fiqi jangan merasa kesepian, ada mbok Inem jadi jangan sedih ya, nanti mbok jadi ikut ikutan sedih loh." Inem mencoba menenangkan Fiqi..


"Mbok, papi gimana, papi sudah sehat belum ?, mbok Inem sudah tanya papi kalau Fiqi boleh ke atas ?" tanya Fiqi lagi..


"Tunggu disini ya, mbok Inem ke atas dulu coba mbok lihat dulu papi gimana keadaannya"..


Mbok Inem naik ke lantai atas untuk kembali melihat majikannya itu, apakah majikan sudah ada perubahan atau belum, dan ternyata Ruslan masih terbaring di tempat tidurnya, sementara makanan yang pagi tadi di siapkan mbok Inem hanya habis setengah porsi saja, Ruslan kembali menghabiskan makanannya dari situ mbok Inem menyimpulkan kalau Ruslan belum terlalu sehat..


"Sepertinya pak Ruslan masih demam deh, kasihan.. di saat bu Vera gak ada, pak Ruslan demam eh si Indah juga pergi kasihan Fiqi juga pasti sangatlah kesepian, aku kan banyak kerjaan di dapur belum lagi bersihin rumah, gimana ini ?" mbok Inem jadi bingung..


"Inem, ada apa ?", Ruslan memanggil Inem yang masih berdiri di depan pintu kamar nya itu..


"Eh tuan, itu Fiqi suruh mbok lihat keadaan bapak gimana, katanya dia mau lihat bapak, sudah boleh belum ?, soalnya dia kesepian, Indah kan izin pulang karena orang tuanya sakit sudah seminggu." Ucap Inem kepada Ruslan..


"Indah pulang ya, sakit apa orang tuanya ?"..


"Iya pak, baru saja dia pulang sudah minta izin kepada bu Vera, kurang tahu saya pak sakit apa, tapi katanya sudah seminggu makanya Indah harus pulang." Terang Inem menjelaskan kepada Ruslan..


"Fiqi dimana sekarang mbok ?"..


"Di kamarnya tuan, Fiqi baru saja bangun dari tidur siang, katanya dia pengen ketemu tuan"..


"Oh baiklah, nanti saya yang kebawah, kepala saya masih pusing biar nanti saya pakai masker menemui Fiqi." Ujar Ruslan..


"Baik pak, kalau begitu saya ke bawah dulu, kasihan Fiqi sendiri di kamarnya, saya mau ajak dia mandi sore dulu"..


"Iya mbok," titip jaga Fiqi dulu ya..


Tubuh Ruslan masih belum membaik seutuhnya, badannya masih panas dingin dan suhu tubuhnya pun masih tinggi sekarang malah tenggorokannya yang semakin sakit, dan hidungnya terasa gatal kelihatannya flu itu memang menyerangnya membuatnya bersin bersin terus untuk saat ini..


"Aku jadi flu betulan, kenapa obat itu tidak manjur ya !, sudah dua malam kok belum juga sembuh,'' ujar Ruslan sambil menggosok-gosok hidungnya..


Meskipun tubuhnya belum fit namun Ruslan memaksakan dirinya untuk mandi, tentu saja ia mandi dengan air hangat, agar tubuhnya lebih segar..


Sebenarnya ia sangat berat untuk mendekati Fiqi, Ruslan takut Fiqi jadi tertular flu nya, karena golongan darahnya sama dengan golongan darah Fiqi, jadi saat dirinya menderita suatu penyakit maka Fiqi akan cepat terserang juga, tapi karena ia tidak tega dengan Fiqi sendiri di bawah dan pasti sangat membutuhkannya sekarang. Maka dengan berat hati Ruslan pergi menemui Fiqi di kamar, dan tidak lupa juga ia mengenakan maskernya agar tidak menebarkan gejala flu nya..


"Fiqi, sedang apa kamu jagoan papi ?" sapa Ruslan kepada Fiqi yang sedang di suapi oleh mbok Inem..


"Papi sudah sehat ?, Fiqi sedang makan nih pi, ayo papi kita makan sama sama,'' ajak Fiqi ia terlihat sangat begitu rindu dengan Ruslah ayahnya..


"Fiqi makan saja dulu ya nak, papi belum begitu sehat sayang, papi kena flu, papi gak bisa terlalu dekat dengan Fiqi, maaf ya jagoan papi." Ucap Ruslan yang duduk di ujung meja yang berjarak dua meter dari Fiqi..


"Baiklah pi, Fiqi cuma rindu sama papi, Fiqi pengen peluk papi." Rengek Fiqi..


"Iya sayang, papi jugan pengen peluk Fiqi, tapi untuk saat ini jangan dulu ya sayang, doakan papi agar lebih cepat sembuh, supaya kita bisa saling berpelukan lagi, terus kita bisa jalan jalan ya nak." Pinta Ruslan kepada anaknya Fiqi..


"Kalau papi masih sakit berarti Fiqi malam ini belum bisa tidur sama papi ya ?" tanya Fiqi lagi..


"Belum bisa sayang, Fiqi tidur di kamar sama mbok Inem dulu ya"..


"Aduh, maaf tuan tapi mbok gak bisa tidur kalau ada AC, gak kuat nanti malah mbok Inem jadi ikutan sakit," mbok Inem dengan cepat menjawab, memang dia alergi dengan AC..


"Bagaimana ini ya, Fiqi berani gak tidur sendiri nak ?" tanya Ruslan lagi..


"Fiqi gak mau tidur sendiri papi, Fiqi mau ada teman agar Fiqi tidak kesepian"..


"Iya sayang, kalau begitu biar papi saja yang tidur di tempat Indah ya, temani Fiqi"..


"Hachim.. hachimm.. Ruslan pun kembali bersin dan sekarang bersin nya di sertai batuk terlihat kondisi Ruslan semakin memburuk..


"Fiqi sepertinya papi tidak bisa temani Fiqi malam ini, papi semakin tidak sehat, papi harus pergi berobat, papi harus menghubungi dokter luis dulu, Fiqi habiskan makanannya ya, Ruslan langsung bergegas berlari ke atas, ia akan menghubungi dokter pribadi keluarganya"..


"Gimana kalau Fiqi tidur di kamar bibi saja, mau gak ?" tanya mbok Inem..


"Tempat tidur mbok kan kecil, dan di sana pasti pana, Fiqi gak bisa tidur mbok kalau gak pakai AC"..


"Iya juga ya, bagaimana ini.. mbok ya kesana malah kedinginan, Fiqi yang kesini malah kepanasan, aduh kok jadi bingung begini ya ?" mbok Inem berpikir sendiri..


"Harusnya Fiqi tidur sama mami, di peluk sama mami, mami kenapa ya lama sekali pulangnya ?" Fiqi kembali sedih..


Mbok Inem langsung gak tega melihat wajah polos FIqi, dia sepertinya sangat merindukan sosok ibu nya Vera, "jangan sedih ya nak Fiqi, sebentar lagi mami pulang kok, sabar ya sayang." Mbok Inem mengelus lembut kepala majikan kecil nya itu..


"Kak Indah saja dia langsung pulang ketika tahu ibunya sakit, lalu kenapa mami tidak pulang ketika tahu kalau papi yang sedang sakit sekarang ?"..


"Mungkin pekerjaan mami sangat penting di luar sana, jadi tidak bisa di tinggalkan, kalau kak Indah sudah minta izin dan pekerjaannya bisa di tinggalkan, makanya dia bisa pulang menjenguk ibunya yang sakit." Terang mbok Inem..


"Kalau seandainya yang sakit itu Fiqi, apakah mami juga tidak akan pulang ya mbok ?" tanya Fiqi lagi..


"Fiqi kok ngomongnya seperti itu sih, gak boleh gitu ya nak Fiqi kan sehat, gak boleh sakit. Sabar ya, mami pasti pulang kok, kan cuma seminggu aja di sana, Fiqi gak boleh sedih dong harus kuat, papi sedang sakit sekarang, kalau Fiqi sedih nanti papi malah tambah sakit lihatnya," mbok Inem coba menasehati Fiqi..


"Iya mbok, Fiqi mau papi cepat sembuh, Fiqi gak akan sedih lagi deh"..


"Tapi bagaimana ya, siapa yang menemani Fiqi, pak Ruslan kan masih sakit tuh," mbok Inem jadi bingung lagi..


"Fiqi, mau tambah lagi gak nasinya ?"..


"Gak mbok, Fiqi udah kenyang"..

__ADS_1


"Kalau gitu Fiqi pergi nonton Tv dulu ya, mbok mau bereskan ini dulu semua di dapur, nanti baru mbok Inem temani Fiqi.. okee !"..


Sambil membereskan meja makan, lalu mencuci piring, dan membersihkan dapurnya. Inem terus berpikir, ia tidak mau Fiqi sedih dan merasa kesepian tidur sendiri di kamarnya malam ini..


Tiba tiba saja terlintas di benak Inem, 'bagaimana kalau Mawar yang kesini temani Fiqi, walah.. kenapa gak dari tadi aku ingat Mawar ya, dasar Inem !" ia menggeruti dirinya sendiri..


Inem mempercepat pekerjaannya agar segera selesai, ia tidak sabar untuk bicara dengan Fiqi, kalau ia mempunyai ide yang bagus sekarang, Inem berlari menghampiri Fiqi yang sedang nonton Tv di ruang keluarga..


"Den Fiqi.. Fiqi.." seru mbok Inem memanggil Fiqi dengan semangat..


"Ada apa mbok, kok lari lari sih ?" tanya Fiqi..


"Mbok baru inget, bagaimana kalau kak Mawar saja yang menemani Fiqi tidur malam ini, kan Fiqi sudah kenal dekat dengan kak Mawar." Mbok Inem berkata dengan sumringah..


"Kak Mawar ya, iya tuh mbok, Fiqi mau, tapi kan.. kak Mawar mau gak ya mbok ?"..


"Nanti mbok tanya dulu ya, kayaknya pasti mau deh, mbok yang suruh." Inem optimis..


"Iya mbok, tanya sekarang aja, kak Mawar mau gak temanin Fiqi biar dia gak kesepian lagi, asik Fiqi bisa main sama kak Mawar malam ini,'' Fiqi sangat antusias..


"Iya nanti mbok Inem telepon dia dulu ya, tapi tanya dulu sama papi boleh gak kak Mawar nginep disini ?"..


"Mbok aja yang tanyain sama papi ya, Fiqi lagi asik nonton film kartun lagi seru nih"..


"Iya nanti mbok Inem tanyain sama papi, Fiqi nonton aja dulu, mbok mau telepon kak Mawar sekarang, sepertinya dia sudah pulang dari kerja"..


Untung saja Inem kemarin ngobrol sama Mawar tidak lupa mau minta kontak ponselnya Mawar, jadi sekarang Inem bisa langsung menelponnya, tidak butuh waktu lama Mawar pun langsung menjawab panggilan dari mbok Inem..


"Halo mbok Inem, ada apa ?, tumben mbok telepon aku,'' sapa Mawar saat menjawab panggilan dari mbok Inem..


"Iya halo juga Mawar,'' jawab Inem menyahuti sapaan Mawar di seberang sana..


"Ada apa nih, mbok mau ngajakin aku minum teh lagi ya ?" goda Mawar..


"Kali ini jangankan minum teh neng, sekalian mbok mau masakin makanan spesial buat kamu." Tukas mbok Inem..


"Oh ya, serius nih mbok.. dalam rangka apa nih, mbok ulang tahun ya ?"..


"Iya nih mbok ulang tahun, makanya kamu kesini ya, jangan lupa bawain kado ya buat mbok ! haha.." sahut Inem ikut bergurau..


"Ah mbok ya, kasih kabarnya mendadak sih !, kalau tahu mbok ulang tahun, tadi aku beliin kado boneka beruang yang gede banget, tapi sekarang aku udah pulang, gak bisa beli kado nya"..


"Gak apa apa neng, yang penting kamu nya kesini ya habis pulang kerja nanti !" pinta mbok Inem lagi..


"Emangnya ada apa sih mbok, kok pengen banget aku kesana ?"..


"Iya, ini loh neng Mawar, mbok kasih sama Fiqi, kan papinya lagi sakit sudah dua hari kena flu, sedangkan pengasuhnya Fiqi si Indah sudah pulang kampung di karenakan orang tuanya juga sedang sakit, jadi Fiqi gak ada yang menemani tidurnya di kamar." Ungkap mbok Inem..


"Iya sudah dua hari pak Ruslan demam, dan sekarang semakin menjadi parah, dia terkena flu makanya tidak bisa dekat dekat dengan anaknya Fiqi, takut flu nya menular kepada Fiqi"..


"Oh begitu, kasihan si Fiqi ya mbok, kan bu Vera lagi gak ada di rumah juga"..


"Itu makanya mbok telepon kamu neng, supaya kamu bisa temani Fiqi"..


"Iya mbok, aku mandi dulu ya nanti aku telepon mbok lagi kalau mau ke sana ya." Mawar menutup teleponnya..


Mengapa perasaan Mawar langsung khawatir dan sedikit kepedulian saat mendengar kalau pak Ruslan suami Bos nya itu lagi tengah sakit, Mawar pun segera beranjak mandi agar ia bisa datang kesana secepat mungkin, ia sangat ingin mengetahui keadaan Ruslan secara langsung, dan juga menemani Fiqi tengah sedih dan kesepian..


Mawar mengambil piyama tidur yang berlengan panjang dan celana panjang, ia langsung menyisir rambutnya yang masih basah, terlihat terburu buru Mawar mengunci pintu kamarnya, untuk segera pergi ke rumah Ruslan..


"Mawar, mau kemana loe ?" tanya Riri yang tahu kalau Mawar terlihat buru buru..


"Gue mau ke rumah pak Ruslan"..


"Ngapain malam malam ke sana ?" tanya Riri sedikit heran..


"Barusan di telepon sama mbok Inem, suruh nemenin Fiqi"..


"Nemenin Fiqi ?, bukannya si Fiqi punya pengasuh ya ?" tanya Riri lagi..


"Iya pengasuhnya Fiqi izin pulang kampung, orang tuanya lagi sakit, jadi si Fiqi gak ada yang nemenin"..


"Kan ada ayahnya, masa ayahnya gak mau nemenin si Fiqi sih, ayah macam apa itu !" cetus Riri..


"Stt ! jangan ngomong sembarangan kalau gak tahu ya Ri, pak Ruslan tuh lagi sakit dan sudah dua hari, makanya kasihan si Fiqi gak ada yang nemenin"..


"Upss, maaf.. maaf.. gue gak tahu Mawar, gue kira gak mau nemenin anaknya"..


"Untung cuma gue aja yang denger"..


"Jadi loe kesana naik apa ?" tanya Riri lagi..


"Gue mau ke sana jalan kaki aj, kan gak terlalu jauh juga kok"..


"Naik ojek online aja lah, ngapain loe jalan kaki malam malam begini !"..


"Oh iya lupa gue Ri, ya udah gue order dulu ya"..


"Jadi loe mau tidur disana malam ini ?"..

__ADS_1


"Iya, mbok Inem nyuruh gue tidur di sana, katanya gak ada yang nemenin Fiqi tidur, soalnya mbok Inem kan gak bisa nemenin Fiqi dia gak tahan pakai AC..


"Iya juga sih, kasihan juga ya sama si Fiqi, bu Vera kan lagi di luar kota juga"..


"Iya sebenarnya sih gue segan ya mau kesana, tapi gak sama mbok Inem soalnya dia yang minta tolong"..


"Iya loe kesana aja deh, Fiqi kan juga udah deket banget sama loe Mawar"..


"Ojek gue udah dateng nih, gue jalan dulu ya Ri, bilangin sama Gina sama Eca juga kalau gue tidur disana"..


"Oke deh, hati hati ya." Riri menutup pintu..


Hanya butuh waktu sepuluh menit saja, Mawar sudah sampai di depan rumah Bosnya itu, jika di tempuh berjalan kaki mungkin menghabiskan kurang lebih dua puluh menit..


"Mbok.. mbok Inem, ini Mawar mbok." Mawar mengetuk pintu rumah Ruslan..


"Mawar sudah datang ya kamu,'' mbok Inem langsung membuka pintu dan menarik tangan Mawar untuk segera masuk ke dalam rumah..


"Iya mbok, mana Fiqi ?''..


"Ada, lagi nonton Tv tuh, mbok belum selesai di dapur, kamu temani Fiqi aja dulu ya !" pinta mbok Inem..


"Oke mbok"..


"Oh iya mau di bikinin minuman apa ? apa mau minum teh, jus atau kopi ?"..


"Apa aja deh mbok, yang penting jangan bikin mbok repot aja deh"..


"Gak repot kok mbok neng, ya udah nanti di antar ya cemilan sama minumannya kesana"..


"Hai adik kecil,'' sapa Mawar dengan ramah kepada Fiqi yang sedang asik menonton Tv, film kartun keseukaannya..


"Kak Mawar, ye... kak Mawar sudah datang." Fiqi langsung berdiri dan berlari ke arah Mawar memeluk erat pinggang Mawar..


"Fiqi nonton apa ?, kelihatan seru sekali, kakak boleh ikutan nonton ga ?"..


"Nonton kartun kesukaan Fiqi dong kak, seru loh.. kak ayo temanin Fiqi nonton yuk !" ajak Fiqi..


Tidak lama kemudian mbok Inem datang membawa nampan yang sudah berisi tiga gelas minuman dan beberapa toples berisi cemilan untuk menemani Mawar dan Fiqi serta dirinya juga yang akan bersantai menonton Tv bersama..


"Ayo di minum !, ini mbok udah bikinin loh cappucino hangat, enak banget dan ini cemilannya ada yang pedas, manis, dan ada yang gurih. Ayo Fiqi  di minum, mbok juga udah buatin susu buat Fiqi." seru mbok Inem dengan semangat..


"Wah.. makasih ya mbok inem,'' Fiqi langsung meraih gelas susu itu, dari tatapan mata Fiqi sangat terlihat binar kebahagiaan, pasti ia sudah lama tidak merasakan kehangatan keluarga seperti ini, selama ini ia selalu di temani kak indah dan kak Indah pun kalau menamninya selalu sibuk memainkan ponsel, dan jarang sekali mengajak Fiqi untuk bermain besama dengannya..


"Sudah pukul sembilan malam lewat nih, Fiqi jam 10 harus tidur ya !" mbok Inem mengingatkan Fiqi..


"Baik mbok Inem, kak Mawar jadi kan temani Fiqi tidur di kamar kan mbok ?" tanya Fiqi..


"Jadi dong, kak Mawar kan sudah datang ke rumah jadi Fiqi gak sendirian di kamar, ada kak Mawar yang nemenin malam ini"..


"Makasih ya kak Mawar sudah mau temani Fiqi"..


"Iya sama sama, papi Fiqi masih sakit ya ?" tanya Mawar lagi..


"Iya papi masih sakit kak, bersin bersin dari tadi makanya papi gak mau tidur sama Fiqi, katanya takutnya Fiqi juga ikut sakit kak"..


"Iya bener itu, kan Fiqi banyak jadwal les jadi harus sehat, Fiqi gak boleh sakit"..


"Iya kak Mawar"..


"Kita ke kamar sekarang aja ya Fiqi, biar nanti kak Mawar bacain buku cerita untuk Fiqi, supaya cepat tertidur, mau gak ?" tawar Mawar..


"Mau dong kak, Fiqi sekarang punya buku cerita baru yang belum sempat di bacakan sama kak Indah, ayo kak kita ke kamar Fiqi !" Fiqi begitu antusias dan bersemangat..


"Mbok Inem, kami ke kamar dulu ya." Pamit Mawar kepada mbok Inem..


"Oh iya neng, mbok juga udah ngantuk ini, mau beresin ini sebentar habis itu mau pergi tidur, besok mbok mau bangun pagi soalnya mau masakin bubur buat pak Ruslan"..


"Selamat malam ya mbok Inem,'' ucap Mawar..


Sampai di kamar Fiqi, sebelum tidur Mawar tidak lupa menyuruh Fiqi untuk mencuci tangan, kaki dan mukanya. Juga tidak lupa untuk sikat gigi setelah itu Mawar menyelimuti Fiqi, mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur yang remang remang, tidak lupa juga Mawar membacakan buku dongeng terbaru milik Fiqi..


Fiqi terlihat begitu nyaman di temani oleh Mawar, ia mendengarkan Mawar bercerita dengan serius, tidak lama kemudia mata Fiqi sudah terpejam, sementara Mawar masih melanjutkan ceritanya, ia tidak menyadari kalau Fiqi sudah tidur dengan nyenyak..


"Jadi kesimpulannya kita tidak boleh berbuat jahat kepada orang yang telah menjaga kita, kita harus selalu berbuat baik kepada semua orang. Begitu Fiqi, Mawar menoleh ke arah Fiqi dan ternyata dia telah pulas tertidur dari tadi..


"Malah aku yang di tinggal tidur lagi sekarang, kirain masih dengerin rupanya udah tidur dari tadi." Ucap Mawar mengelus kening Fiqi..


Mawar mengembalikan buku dongeng itu pada susunan di lemari, ia merapikan selimut Fiqi dan ia mengusap kepada Fiqi untuk beberap kali, tidak tahu kenapa Mawar begitu pedulu dan menyayangi anak kecil ini, padahal belum lama ia begitu mengenalnya. Karena rasa sayang dan peduli itu Mawar pun mengecup keningnya Fiqi layaknya adiknya sendiri, ''selamat malam adik kecil semoga mimpi indah ya." Ucap Mawar..


Mawar pung langsung berali ke tempat tidur kecil yang biasa di tempati oleh Indah, malam ini iya akan menggantikan Indah untuk menemani Fiqi di kamar ini, karena belum mengantuk Mawar pun memainkan ponsel nya untuk beberapa saat..


Sepertinya mata Mawar mulai berat, dan mulai tidak bersahabat untuk menatap layar ponsel ini lagi. Mawar pun mematikan ponselnya dan tidak lupa ia menyalakan alarm pagi, agar ia tidak kesiangan. Mawar menarik selimut yang sudah tersedia di tempat tidur itu, meskipun tempat tidur Indah lebih empuk dari tempat tidur di kamarnya, tapi tetap saja Mawar tidak semudah itu untuk terlelap, Mawar merasa asing dengan kamar ini..


"Aduh kok aku jadi kangen kamar ku ya, kasurnya lebih empuk sih, tapi aku kok lebih betah di kamar ku sendiri ya. Ah.. udah lah ini kan demi Fiqi, dari pada Fiqi tidur sendirian lebih baik aku tidur aja deh, semoga besok pak Ruslan sudah lebih baik dan sehat jadi pak Ruslan yang akan menemani Fiqi lagi"..


Mawar mencoba memejamkan matanya, sejenak ia teringan bagaimana keadaan Ruslan di atas, "aku jadi pengen tahu, tapi gak mungkin juga aku ke atas jenguk pak Ruslan, gak sopan banget deh kayaknya"..


Mawar masih terpikir dengan Ruslan, sesungguhnya ia sangat ingin tahu keadaan Ruslan saat ini, tidak tahu kenapa hatinya masih begitu khawatir, ada rasa kepedulian yang begitu tinggi terhadap Ruslan, ia sangat ingin memberikan semangat dan juga perhatian kepada Ruslan, tapi itu semua tidak akan mungkin terjadi, karena Mawar bukanlah siapa siapa, dan tentu saja pak Ruslan akan risih jika di beri perhatian oleh Mawar..

__ADS_1


"Gimana ya caranya, agar besok aku bisa melihat pak Ruslan, aku cuma mau memastikan saja kalau pak Ruslan baik baik saja, agar perasaan khawatir ku hilang begitu saja." Mawar sangat berharap untuk bisa bertemu Ruslan..


__ADS_2