Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Terima Kasih


__ADS_3

Uhuk.. uhuk..


Ruslan terbatuk, ia bangun dan mengambil botol berisi air putih yang selalu ada di samping tempat tidurnya itu, ia menelan beberapa teguk air di dalam botol itu, sampai tenggorokannya terasa sedikit lega..


Baru hendak memejamkan matanya lagi, seketika Rulan teringat akan Fiqi anaknya..


"Fiqi, dengan siapa ya dia tidur ?, Apakah mbok Inem jadi menemaninya, ya ampun.. aku sampai lupa kalau Fiqi lagi sendirian." Cemas Ruslan..


Ruslan melirik jamyang ada di atas tempat tidurnya, jarum jam telah menunjukkan pukul dua malam, Ruslan beranjak dari tempat tidurnya, ia akan turun untuk melihat anaknya serta ingin memastikan kalau Fiqi tidur terlelap di temani oleh mbok Inem. Untung saja keadaan kepala sudah mulai ringan, dan suhu tubuhnya sudah mulai turun tidak sepanas siang tadi..


Tidak lupa ia mengambil maskernya, mulai berjalan menuruni anak tangga, dan membuka perlahan pintu kamar putranya yang tidak terkunci itu, Ruslan langsung menghampiri anaknya dan ternyata Fiqi sedang terlelap, Ruslan mengelus kening Fiqi, dan tidak lupa ia memberi kecupan ringan di kening putranya itu..


"Maaf ya jagoan papi gak bisa temanin kamu, untung saja ada mbok Inem yang mau mengalah menemani kamu di kamar ini, jadi papi gak terlalu khawatir lagi kamu tidur sendirian, nanti kalau papi sudah sehat, biar papi yang nemenin kamu disini, tidur sambil peluk Fiqi." Ucap Ruslan pelan di bawah lampu kamar yang remang remang..


Ruslan tidak tahu kalau yang menemani Fiqi bukanlah mbok Inem, melainkan Mawar. Sebab mbok Inem lupa memberitahunya, kalau Mawar yang akan menemani Fiqi malam ini..


'Makasih ya mbok Inem, kamu mau mengalah dan menemani Fiqi.' Ruslan dalam hatinya sambil menoleh ke tempat tidur Mawar..


Ruslan langsung mengerutkan keningnya, ketika melihat siapa yang tidur disana, rambut Mawar yang panjang terurai di atas tempat tidur, membuat Ruslan jadi ragu kalau itu sebenarnya mbok Inem..


"Itu mbok Inem apa bukan ya ?, perasaan mbok Inem rambutnya yang begitu panjang deh, tapi kok ini panjang, kira kira siapa ya ?" seketika bulu kuduk Ruslan langsung berdiri di tengah malam ini..


Karena merasa sedikit larut namun ada juga rasa penasaran Ruslan ingin tahu siapa yang tidur disana, Ruslan segera menyalakan lampu utama kamar Fiqi, saat lampu menyala, Ruslan semakin terkejut kalau itu adalah Mawar yang menempati ranjang Indah pengasuhnya Fiqi, kebetulan wajah Mawar pas menghadap ke atas, jadi Ruslan bisa melihat wajahnya dengan jelas..


"Mawar, kenapa dia bisa ada di sini ?" ucap Ruslan bingung..


Beruntung Mawar yang memiliki kebiasaan tidur dengan mulut tertutup, dan nafas yang pelan. Kalau saja ia mempunyai kebiasaan tidur dengan mulut terbuka dan suara ngorok yang keras, bisa bisa saat ini Ruslan langsung kabur dan tidak ingin melihatnya..


Mawar yang terlelap menggerakkan kepalanya, mengganti posisinya yang tadinya menghadap ke kanan menjadi menghadap ke kiri. Ruslan sangat takut Mawar kebangun dan melihat ia yang sedang memperhatikan Mawar, maka dengan cepat Ruslan menghampiri stop kontak itu dan mematikan kembali lampu utama di kamar Fiqi..


"Untung saja dia tidak bangun ya, kalau tidak aku bisa malu ada di sini, takut Mawar salah sangka nantinya." Ruslan bergegas meninggalkan kamar Fiqi dan menutup pintu kamarnya dengan perlahan..


"Ternyata yang menemani Fiqi adalah gadis itu, bukanlah mbok Inem. Kenapa ya aku tidak tahu, siapa yang memberi tahu gadis itu kalau Fiqi lagi sendirian ?, ah.. sudahlah yang penting Fiqi tidak sendirian sekarang, apalagi yang menemaninya Mawar pasti Fiqi merasa sangat nyaman, lihat saja tadi tidurnya lelap banget." Ruslan berlari kembali ke lantai atas..




Alarm Mawar berbunyi tepat di pukul enam pagi, Mawar terbangun dan dia langsung ke kamar mandi mencuci mukanya, dan berkumur. Ia melihat Fiqi yang masih terlelap di bawah selimut itu..



Mawar meninggalkan kamar Fiqi, ia ingin ke dapur mengambil air putih karena kebiasaan Mawar setelah bangun tidur ia selalu minum air putih agar tenggorokan yang kering langsung basah dan juga tenggorokan terasa nyaman..



"Neng Mawar , sudah bangun ya ?, ini masih pagi loh." Ucap mbok Inem yang saat ini sedang memasak..



"Sudah dong mbok, aku kan mau berangkat kerja nanti jam delapan, mbok lagi ngapain ?" tanya Mawar..



"Ini lagi masak tempe goreng, sama bikin bubur untuk tuan Ruslan, eh kamu minum teh ya neng ?. tunggu ya mbok bikinin"..



"Gak usah, mbok kan lagi repot sekarang, biar aku yang bikin sendiri aja ya." Mawar pun langsung mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat serta teh dan gula. Mawar memanglah gadis yang pengertian, ia tahu kalau mbok Inem adalah pembantu Bosnya bukan pembantunya, maka ia tidak ingin menyusahkan mbok Inem..



"Kalau mau kuenye, kamu bisa ambil di lemari ya neng, disana banyak macam macam kue,'' suruh mbok Inem kepada Mawar..



"Ini aja dulu mbok, soalnya masih pagi, jadi belum mau makan apa apa"..


__ADS_1


"Oh, sama kayak mbok ya kalau pagi cuma minum teh aja." Sahut mbok Inem..



"Pak Ruslan gimana keadaannya mbok, sudah sehat kah beliau ?" tanya Mawar kepada mbok Inem..



"Belum tahu neng, tapi semoga sudah membaik ya, karena ini sudah masuk tiga hari, kasihan tuan kalau belum sehat. Tapi semalam dia sudah berobat dengan dokter Luis, dokter pribadi keluarga ini..



"Iya mbok, semoga saja ya. Jadi Fiqi bisa tidur dan main sama papinya"..



"Iya, hari ini Fiqi ada les piano dan bahasa inggris, tapi kalau papi nya belum sehat di liburkan saja dulu, sebab Mawar juga harus kerja gak bisa temani Fiqi kan ?"..



"Iya mbok, aku harus kerja hari ini. Sebenarnya aku mau temani Fiqi, tapi gak enak sama teman teman kalau izin gak masuk nanti"..



"Iy neng Mawar, mbok paham kok. Kalau mbok yang nganterin, mbok gak tahu, gak negerti, mbok gak bisa ketemu orang banyak, malu." Ucap mbok Inem..



"Buburnya sudah mateng nih, susunya juga udah siap, dan ini air putihnya, tinggal di taro di kamar pak Ruslan, dia pagi pagi pasti sudah bangun, kalau sehat biasanya pak Ruslan sudah olahraga pagi pagi begini,'' mbok Inem mengambil nampan dan menata makanan di atas nampan yang akan di antar ke kamar Ruslan..



Setelah rapi, mbok Inem mengangkat nampan itu dan akan segera naik untuk di antar ke kamar Ruslan, namun tiba tiba mbok Inem merasa sakit pada perutnya, hingga ia kembali meletakkan nampan itu di atas meja makan..



"Aduh.. ini kok jadi sakit perut ya, mbok gak tahan mau ke kamar mandi dulu ah." Ujar mbok Inem sambil meremas perutnya sendiri..




"Iya nih neng, memang jam segini biasanya mbok harus ke kamar mandi. Neng Mawar, mbok minta tolong dong, kamu anterin itu nampan ke kamarnya pak Ruslan ya, soalnya dia itu gak mau sarapannya telat, karena dia harus minum obat, tolong ya neng Mawar !" pinta mbok Inem seraya berlari menuju kamar mandi..



'Gue di suruh nganterin ini ke kamar pak Ruslan, ya ampun gimana ini, kok jadi deg deg an ya, nanti di kira pak Ruslan gue sengaja cari perhatian sama dia lagi, aduh.. mbok Inem gimana sih ini !' desah Mawar..



Mawar jadi bingung, sebenarnya ia sangat ingin mengantarkan makanan ini kepada Ruslan, sekalian tahu keadaan Ruslan, namun ia tetap tidak enak hati sebab ini bukan tugasnya, apalagi Ruslan belum tentu senang kalau Mawar yang mengantarkan ini, dan bisa saja Ruslan malah marah karena Mawar telah lancang mengetuk pintu kamarnya..



Sudah seperempat jam tapi mbok Inem belum juga kembali dan keluar dari kamar mandi, sementara Mawar masih diam saja belum melakukan apa yang mbok Inem minta, sebab Mawar ragu untuk melakukannya, takut nanti Ruslan salah sangka kepadanya..



"Mbok Inem lama banget sih !, jadi gimana ini, apa aku antar aja ya, aduh.. mana pak Ruslan gak boleh telat sarapan, dia kan mau minum obat, bisa bisa si mbok yang di marahin nanti"..



Akhirnya terpaksa Mawar membawa nampan itu naik ke atas, dan mengantarkannya kepada Ruslan dengan hati yang berdebar dan perasaan yang gugup..



Tok.. tok.. tok..


__ADS_1


Mawar mengetuk pintu kamar Ruslan di iringi perasaan yang campur aduk, antara takut, ragu, dan juga was was..



Karena pintu belum juga di buka oleh Ruslan, maka Mawar kembali mengetuk pintu itu lagi, 'kok gak ada juga yang jawab ya ?, apa pak Ruslan masih tidur ya ?', tanya Mawar dalam hati nya..



"Masuk saja mbok, gak di kunci pintunya !" teriak Ruslan dari dalam kamar nya..



Deg.. jantung Mawar semakin berdegup kencang, mana mungkin ia masuk ke kamar Ruslan dengan lancang. Ia bingung harus bagaimana, perasaannya semakin tidak menentu, dan tangannya semakin gemetar ia takut kalau nampan yang dia bawa ini akan terjatuh dari tangannya..



"Maaf pak, ini saya Mawar." Mawar sedikit berteriak menyahuti teriakan Ruslan yang tadi..



Tidak lama pintu kamar Ruslan terbuka, dan Ruslan sudah berdiri di sana. "Mawar.. memangnya mbok Inem kemana ?, kenapa jadi kamu yang mengantarkan ini kepada saya ?" tanya Ruslan..



"Mbok Inem tadi sakit perut pak, jadi dia minta tolong saya yang anterin ini ke bapak, katanya bapak gak boleh telat sarapan, karena mau minum obat. Maaf ya pak kalau saya telah lancang untuk naik ke sini,'' ucap Mawar sambil menunduk, ia sungguh tidak sanggup menatap wajah Ruslan..



"Oh begitu, saya juga minta tolong kamu, letakkan di samping tempat tidur saya, di atas meja kecil itu ya ?" suruh Ruslan kepada Mawar..



Masih dengan pandangan ke bawah, Mawar pun menuruti perintah Ruslan, ia masuk ke kamar Ruslan dan meletakkan nampan itu di meja kecil dekat tempat tidur Ruslan. Mawar tidak bisa membayangkan dan menggambarkan perasaannya saat ini, ia tidak menyangka kalau ia bisa memasuki kamar Ruslan dan juga Vera, yang penampakan kamarnya terlihat begitu sangat mewah, dan tempat tidurnya yang begitu besar pasti sangat nyaman berlama lama tidur di kamar ini..



"Saya permisi ya pak,'' Mawar bergegas akan meninggalkan Ruslan, karena sungguh ia sangat tidak percaya diri, apalagi saat ini ia tengah mengenakan piyama dan dirinya terlihat berantakan karena baru bangun tidur..



Ruslan yang dewasa tentu tahu bagaimana perasaan Mawar saat ini, Ruslan tahu kalau sebenarnya Mawar saat ini sedang salah tingkat melihatnya, namun Ruslan tetap menunjukkan wajah datar seolah ia tidak paham, Ruslan hanya tersenyum kecil melihat Mawar yang terus menunduk dan mempercepat langkahnya..



"Mawar.." panggil Ruslan lagi, saat Mawar baru hendak menuruni tangga itu..



Mawar menghentikan langkahnya mendengar Ruslan memanggilnya, ia pun menoleh dengan malu malu..



"Iya pak, ada apa ?" jawab Mawar pelan dan sopan..



"Terima kasih ya sudah mau menemani Fiqi semaleman,'' ucap Ruslan dengan tulus..



"Oh iya pak, sama sama.'' Jawab Mawar..



Ruslan tersenyum melihat wajah Mawar yang terlihat begitu gugup, dan Ruslan menyukai itu..



"Terima kasih juga ya, sudah mengantar sarapan ini untuk saya." Ucap Ruslan lagi..

__ADS_1



Dan kali ini Mawar tidak sanggup menjawab perkataan Ruslan, tidak tahu kenapa hatinya merasa begitu tersanjung akan ucapan terima kasih dari suami Bos nya itu. Mawar hanya tersenyum tipis dan segera berlalu meninggalkan Ruslan, mungkin Mawar tidak sanggup untuk menyembunyikan perasaan groginya saat ini, ia bergegas menuruni anak tangga itu di iringi senyuman yang ceria di dalam hati nya..


__ADS_2