
Papi bolehkah kita mampir nanti ke mall sebentar aja, Fiqi mau donat sama es krim, boleh ya pi ?, kan Fiqi sudah selesai ujian, papi pernah bilang kan kalau selesai ujian Fiqi boleh beli donat sama eskrim kan ?'' tanya Fiqi sambil merayu Ruslan..
"Boleh sayang, tapi tanya dulu kak Mawar, apakah kak Mawar habis ini ada kegiatan lain ?" suruh Ruslan..
"Memangnya kak Mawar mau pergi ya, habis dari sini ?" tanya Fiqi ke Mawar..
"Oh..gakk...gak kemana mana kok"..
"Kak Mawar mau kan ikut Fiqi beli donat dan es krim sebentar ?" tanya Fiqi..
"Oh..iya, iya boleh adik kecil." Jawab Mawar agak terbata..
"Kak mawar mau kok pi, ayo kita kesana sekarang, Fiqi sudah tidak sabar pengen makan donat itu"..
"Iya sayang, kita kesana sekarang ya, papi putar balik sekarang." Ruslan melajukan mobilnya agar segera cepat sampai ke tempat tujuan..
Mawar tidak mungkin menolak ajakan Fiqi, karena memang ia tidak ada rencana pergi kemana mana hari ini, keluar menemani Fiqi saja merupakan suatu hal yang terlalu mendadak baginya, lagi pula ia memang tidak pandai untuk berbohong, ia selalu jujur dalam berkata apapun..
'Untung saja hari ini aku memakai baju yang memang bagus, kalau aku pakai yang biasa saja, bisa malu aku ikut ke mall.' Desah Mawar di dalam hati..
Mobil telah menempati ruang parkirnya, Mawar pun menuntun Fiqi turun dari mobil itu, Ruslan pun ikut turun dan sama seperti tadi, Fiqi selalu ingin berjalan beriringan bersama Mawar dan papinya itu, ya meskipun Ruslan ataupun Mawar merasa risih dengan hal ini, mau tidak mau mereka harus mengikuti kemauan Fiqi yang hanya lah anak kecil belum mengerti hal hal semacam itu..
Mall hari ini terlihat begitu ramai, tidak seperti hari biasanya, dan ternyata di mall ini sedang ada promo film terbaru di bioskop, para petugas dari bioskop itupun membagikan brosur kepada setiap pengunjung yang baru berdatangan, termasuk Ruslan, Mawar dan juga Fiqi..
"Silahkan, ada promo get two free one, film kartun terbaru dengan kacamata 3D'' SPG perempuan itu mempromosikan film itu kepada mereka bertiga yang baru saja memasuki pintu kaca otomatis itu..
"Ini film apa kak ?" Fiqi bertanya langsung kepada SPG itu..
"Hai adik ganteng, ini film kartun terbaru. Ceritanya seru loh !, dan kamu bisa menontonnya menggunakan kacamata 3D, jadi adik ganteng bisa berasa berada di dalam film tersebut.'' Jelas SPG itu dengan manis kepada Fiqi..
"Wah kayaknya asik deh, Fiqi mau nonton.. mau nonton papi,'' seru Fiqi kepada Ruslan..
Ruslan masih membaca brosur itu, jadi tidak langsung menjawab permintaan Fiqi, maka Mawar dengan sigap menyahuti Fiqi, agar ia tidak kecewa..
"Iya Fiqi, habis baca brosur papinya Fiqi pasti mau juga." Timpal Mawar..
"Iya kak, papi.. Fiqi mau nonton film kartun ini, boleh ga ?"..
"Iya sayang, sebentar ya. Tadi katanya mau beli donat dan es krim aja, kok sekarang jadi mau nonton lg ?" tanya Ruslan..
"Fiqi tidak tahu kalau sedang ada film baru, dan sepertinya sangat seru pi !, lihat deh pi mereka semua nonton bersama orang tuanya, papi gak mau ya ajakin Fiqi gitu ?" tanya Fiqi dengan raut wajah yang memelas..
"Benar pak, ini filmnya seru sekali. Namun tidak lupa memberikan edukasi juga di dalam nya, jadi tidak akan sia sia membawa anak nonton ini pak, apalagi promonya cukup menarik, beli dua tiket bisa gratis satu tiket. Pas sekali untuk bapak dan istri, dan bonus untuk adik kecil yang ganteng ini." SPG itu begitu pandai melobi Ruslan dengan kata katanya yang jelas namun tetap ramah..
Mawar hanya bisa menelan ludahnya saat perempuan itu mengatakan kalau Mawar adalah istri Ruslan, Mawar menunduk malu, dia takut kalau Ruslan akan menyanggah apa yang di ucapkan perempuan itu namun ternyata Ruslan tidak membahas hal itu..
"Oh begitu ya, boleh.. boleh, kalau begitu saya ambil promonya ya." Ucap Ruslan..
"Asik kita jadi nonton, ayo kak Mawar, kak Mawar sudah pernah nonton bioskop belum ?" tanya Fiqi..
"Belum, kak Mawar belum pernah nonton bioskop, kalau libur kak Mawar jarang pergi kemana mana,'' jawab Mawar..
"Ya sudah, hari ini kita nonton, seru loh kak, apa lagi pakai kacamata 3D." Fiqi menarik tangan Mawar mengikuti Ruslan dan juga SPG tadi ke dalam untuk membeli tiket..
'Tadi di tempat les orang orang mengira aku ini ibunya Fiqi, eh sekarang sampai disini aku malah di kira istrinya Ruslan, aku hanya takut pak Ruslan gak suka dan risih dengan ucapan wanita itu tadi, bisa bisa dia gak mau ngajak aku lagi nanti.' Keluh Mawar dalam hatinya, ia merasa tidak enak kepada Ruslan..
Sementara Ruslan berada di dalam antrian pengambilan tiket, Mawar mengajak Fiqi untuk duduk di sofa yang tersedia di dalam koridor bioskop itu. Fiqi terlihat begitu antusias dan bahagia, tidak sabar untuk menyaksikan film tersebut, termasuk Mawar juga tidak sabar, karena memang dia yang tidak pernah menonton bioskop sama sekali juga ingin sekali-kali merasakan bagaimana sih bahagianya nonton bioskoip..
"Ayo jagoan papi kita pergi ke dalam, papi sudah punya tiketnya nih." Ruslan memperlihatkan tiga kertas kecil di tangannya kepada Fiqi dan Mawar..
"Asik.. ayo, Fiqi sudah gak sabar nih pi"..
"Iya sayang, untung saja kita cepat ke dalam, tiketnya udah gak banyak lagi, tinggal enam tiket lagi." Ujar Ruslan..
"Oh ya, beruntung banget ya kita pi masih kebagian tiketnya, ayo kak Mawar !" Fiqi pun menarik tangan Mawar untuk kembali berjalan bersamanya dan Ruslan..
Mereka bertiga pun masuk ke dalam teater bioskop dan mengikuti petugas bioskop yang akan memberitahu di mana mereka akan duduk, dan ternyata mereka berada di barisan nomor dua paling belakang. Tempatnya cukup nyaman untuk menonton, karena tidak terlalu dekat dengan layar besar yang cukup menyilaukan mata itu..
'Jadi seperti ini ya ruangan bioskop, dingin sekali ya disini !, ruangannya cukup besar dan layar Tv nya besar sekali.' Mawar kagum karena baru pertama kali nya ia masuk ke dalam ruangan teater bioskop ini..
"Silahkan untuk ibu dan bapak serta adiknya di sini ya !" petugas itu pun menunjukkan tiga kursi kosong ke arah dinding untuk mereka bertiga, Mawar pun duduk di paling ujung lalu Fiqi dan kemudia Ruslan..
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian tayangan film pun di mulai, suara musik dari pembukaan film tersebut begitu terdengar kuat, Mawar yang baru pertama kali agak cukup terkejut mendengar suara yang sangat kencang itu..
Semua orang di dalam ruangan yang besar ini menikmati tanyangan yang di sediakan, apalagi saat ini mereka tengah mengenakan kacamata 3D yang membuat mereka seolah ikut beradegan di dalam film tersebut. Selain pertarungan yang cukup menegangkan itu, tidak lupa juga di selingi dengan adegan adegan yang lucu sehingga membuat orang orang tertawa..
"Aggghh !", Mawar berteriak saat adegan salah satu tokoh mengepalkan tangannya untuk memukul lawannya, karena menggunakan kacamata 3D, jadi serasa tokoh tersebut memukul orang yang sedang menonton. Mawar pun langsung menutup mulutnya karena teriakannya cukup kencang dan membuat dia merasa malu apalagi kepada Ruslan..
Untung saja Fiqi dan Ruslan tidak ambil pusing akan hal itu, karena mereka terlalu menikmati tayangan yang ada di depan matanya, terlihat mereka tertawa terpingkal-pingkal saat adegan lucu itu, apalagi Ruslan hingga terkekeh..
Film itu berdurasi satu setengah jam dan mereka sudah menghabiskan waktu nonton selama satu jam, Mawar menoleh ke arah Fiqi, ternyata Fiqi tertidur rupanya di ruangan dingin ini membuat dia merasa ngantuk..
Mawar yang melihat Fiqi terlelap langsung membuka kacamatanya, dan mawar bergerak mengancingkan jaket Fiqi, agar Fiqi tidak kedinginan. Kebetulan Fiqi memang sudah mengenakan jaket saat ia masuk ke dalam ruangan ini..
Mawar kembali memakai kacamata untuk kembali menyaksikan tayangan di depan, rupanya Mawar ketagihan menyaksikan film kartun ini, saat ini tengah tertawa menikmati adegan lucu antara antar tokoh di film tersebut..
Semakin lama Mawar merasa semakin merasakan hawa dingin di ruangan ini, untung saja dia mengenakan blazer jadi tubuhnya tidak terlalu merasakan hembusan AC di ruangan ini. Tapi sayangnya hari ini dia tidak mengenakan celana panjang, Mawar mengenakan rok di bawah lutut akibatnya kaki Mawar terasa sangat dingin. Refleks Mawar menggosok-gosok kakinya, karena pori-porinya mulai mengembang merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya..
Ruslan yang terlihat cuek dan tidak peduli ternyata di balik kacamatanya memperhatikan tingkah Mawar yang terus menggosok-gosok kakinya itu. Ruslan merasa tidak tega dengan Mawar yang sedang kedinginan, maka ia pun berinisiatif untuk membuka sweater nya, kebetulan ia memang mengenakan sweater dan memberikannya kepada Mawar..
'Ini pakai untuk menutupi kaki, biar gak kedinginan." Sambil memberikan sweaternya itu kepada Mawar..
"Iya pak makasih ya," jawab Mawar pelan sambil meraihnya..
Mawar tidak menyangka ternyata Ruslan punya rasa peduli juga, melihat ia yang memang sudah tidak tahan dengan hawa dingin yang menusuk ini, maka Mawar segera menutup kan sweater itu ke bagian kakinya yang tebuka, barulah Mawar merasa hangat dan sedikit tenang. Ia pun kembali menikmati tayangan di depan, yang durasinya tinggal dua puluh menit lagi..
"Rupanya pak Ruslan gak secuek yang aku kira, selama ini aku sangka dia bakalan gak pernah peduli untuk melihat ku kedinginan seperti ini, ternyata ada juga sisi rasa kasih dan pedulinya kepada ku, bagus deh.. kalu gak bisa beku ini kaki ku lama lama di sini !" mana masih setelah jam lagi, ujar Mawar dalam hatinya..
Ruslan memang lah terlihat cuek bahkan ekspresinya selalu datar. tapi siapa yang tahu kalau ternyata Ruslan juga mempunyai hati yang lembut dan peduli, apalagi terhadap anaknya. Dan saat ini terhadap Mawar yang telah menyayangi dan perhatian kepada anaknya dengan tulus, maka tidak ada ruginya dan tidak ada sungkannya bagi Ruslan juga untuk memberikan perhatian kepada Mawar, apalagi saat ini hati Ruslan memang sangatlah mengagumi kepribadian Mawar..
Film pun berakhir, satu demi satu orang orang meninggalkan ruangan bioskop, dan sekarang tinggal Ruslan, Mawar serta Fiqi. Karena Fiqi masih saja terlelap, jadi Ruslan sengan memilih keluar belakangan..
"Fiqi bangun dong sayang, ayo kita pulang filmnya sudah selesai loh." Ucap Ruslan mencoba membangunkan Fiqi..
Namun Fiqi tidak juga kunjung membuka matanya, Ruslan kembali membangunkan Fiqi untuk kedua kalinya, namun masih sama Fiqi sangat terlelap sekarang..
"Bagaimana kita bisa pulang ya, Fiqi gak mau bangun." Gerutu Ruslan pelan, namun Mawar tetap mendengarnya..
"Fiqi sayang ayo kita pulang, filmnya sudah selesai loh. Kata Fiqi habis ini mau beli es krim sama donat kan." Mawar membisiki Fiqi dengan sangat pelan sambil mengusap-usap kepala Fiqi..
Fiqi pun membuka matanya perlahan, dan ia meregangkan otot otonya serta menggosok-gosok matanya yang mungkin masih terasa sangat berat, "Fiqi sekarang dimana ?" tanya Fiqi masih belum sadar sepenuhnya..
"Fiqi sudah bangun ?" tanya Mawar pelan, dia tahu kalau Fiqi masih sangat mengantuk..
"Kak Mawar, Fiqi ketiduran ya ?, kita di mana sekarang kak ?" tanya Fiqi..
"Iya, Fiqi ketiduran tadi saat menonton film kartun, mungkin Fiqi sangat mengantuk dan cukup lelah karena habis ujian juga kan tadi, nanti di rumah Fiqi tidur lagi ya, karena sekarang ruangan ini sudah kosong, jadi kita harus pulang." Bisik Mawar begitu pelan kepada Fiqi, dia sangat tahu kalau Fiqi baru bangun tidur maka belum bisa menyimak dengan suara kencang..
Fiqi melihat sekelilingnya yang memang sudah tidak ada orang lain disana, hanya ada petugas bioskop yang berdiri di bawah menunggu mereka, sementara layar di depan pun sudah tidak menayangkan apa apa lagi..
"Filmnya sudah selesai ya kak kak ?" tanya Fiqi kepada Mawar lagi..
"Iya filmnya sudah selesai sayang, tadi di pertengahan film Fiqi ketiduran tapi gak usah sedih ya, nanti kak Mawar ceritain ya sama Fiqi.'' Ucap Mawar pada Fiqi..
"Iya kak, papi kenapa tidak bangunkan Fiqi saat tertidur tadi ?, Fiqi kan ingin menonton sampai selesai filmnya." Fiqi menoleh ke Ruslan yang berdiri..
"Maaf ya jagoan papi, papi gak tahu kalau Fiqi tidur, soalnya kacamata Fiqi kan masih terpasang, dan papi juga gak tau kalau Fiqi sudah tertidur, maafin papi ya sayang ya." Pinta Ruslan..
"Oh iya, kan Fiqi pakai kacamata 3D tadi,'' Fiqi menepuk pelan keningnya, ia lupa kalau dirinya telah menonton bioskop menggunakan kacamata 3D nya..
"Ayo Fiqi kita pulang sekarang ya, katanya mau beli es krim sama donat, dua jam lagi mallnya akan tutup loh." Ajak Ruslan kepada Fiqi..
"Iya papi, Fiqi mau es krim sama donat, ayo papi kita keluar dari sini, ayo kak Mawar !" Fiqi langsung meraih tangan Mawar dan memegangnya, Mawar pun juga langsung menggenggam telapak tangan Fiqi, mengiringi Fiqi berjalan dan petugas bioskop itu menunjukkan pintu keluar kepada mereka bertiga..
"Terima kasih atas kunjungannya, semoga keluarga bapak dan ibu juga adik selalu bahagia ya." Ucap perempuan cantik yang berbaju hitam dan rok hitam itu dengan ramah tamah..
Mawar hanya terdiam seraya sedikit membesarkan matanya mendengar ucapan perpisahan dari perempuan itu, 'hm.. lagi lagi aku di kira istrinya pak Ruslan, ya ampun.. jadi gak enak aku sama pak Ruslan.' Desis Mawar dalam hati, ia tidak sanggup menatap wajah Ruslan, karena Mawar merasa kalau saat ini Ruslan pasti tengah kesal sekali dengannya..
Untung saja Fiqi baru bangun tidur, jadi dia tidak mendengar jelas apa yang di ucapkan oleh petugas bioskop tadi, kalau saja dia mendengar dengan jelas pasti dia akan langsung menyanggahnya, seperti ia menyanggah ucapan Miss di tempat lesnya itu..
Mereka kembali berjalan beriringan bertiga, dan seperti janji Ruslan ia akan memberikan satu kotak donat untuk Fiqi dan juga es krim. Tidak mungkin Ruslan tidak mengerti akan diri Mawar, apalagi hari ini Mawar telah menyempatkan waktunya untuk menemani Fiqi ujian dan juga menemani dia nonton bioskop, maka juga akan memberikan satu kotak donat juga kepada Mawar sebagai ucapan terima kasihnya, dan juga es krim coklat dengan topping strawbery kepada Mawar..
"Ini buat Fiqi, dan ini buat kamu ya Mawar." Ruslan memberikan cup es krim itu kepada anaknya Fiqi dan juga Mawar. Fiqi maupun Mawar menerima es krim itu dengan mata yang berbinar apalagi Mawar, ia seolah menjadi anak kecil kembali atas perlakuan Ruslan barusan. Sebenarnya sejak tadi di hati Mawar memang menginginkan es krim ini, tapi ternyata tanpa di minta pun Ruslan telah memberikannya, membuat Mawar begitu tersanjung dengan perlakuan manis ini..
__ADS_1
"Ayo kak Mawar kita makan sama sama duduk di sini, yang beli donat nya papi aja ya, Fiqi dan kak Mawar tunggu di sini aja." Fiqi menarik tangan Mawar sembari bicara pada Ruslan..
"Oke, tunggu di sini ya !, papi beli donatnya sebentar." Rulan pun berlalu meninggalkan Mawar dan Fiqi, sementara mereka berdua sangat menikmati setiap suapan es krim yang begitu manis itu di iringi dengan senda gurau, sepertinya mereka memang dua insan yang di pertemukan dengan satu frekuensi sehingga sangat terlihat akrab dan bersahabat..
"Kak Mawar, kenapa semua orang mengira kalau kaka Mawar itu ibunya Fiqi, apakah wajah kita terlihat mirip ya ?" tanya Fiqi dengan polosnya kepada Mawar..
"Kakak ga tahu adik kecil, mungkin karena kita berjalan bertiga jadi mereka mengira kalau kak Mawar ini ibunya Fiqi, maafin mereka ya. Mereka kan tidak tahu, Fiqi gak marah kan ?" tanya Mawar..
"Fiqi gak marah kok kak, cuma Fiqi aneh aja. Apakah wajah kita ini mirip ya berdua, atau mungkin wajah kak Mawar yang mirip sama papi Fiqi ?" Fiqi kembali dengan pertanyaan yang lucu dan konyolnya..
"Haha.. gak kok Fiqi, Fiqi itu mirip sama maminya Fiqi, dan kak Mawar mirip dengan ibunya kak Mawar di kampung." Jawab Mawar yang tidak mau terlalu serius menanggapi pertanyaan anak kecil di depannya saat ini..
"Oh iya juga ya, kok aku baru ingat sih." Ekspresinya Fiqi sungguh menggemaskan..
"Iya Fiqi, memangnya Fiqi lupa ya kalau Fiqi itu sebenarnya mirip banget sama mami ?"..
Fiqi hanya tertawa mendengar ucapan Mawar, dan ia pun kembali menikmati es krim itu. Begitu pun dengan Mawar rupanya mereka berdua memiliki selera yang sejalan, sama sama menyukai makanan manis dan berbau coklat jadi saat ini mereka akan menghabiskan es krim mereka sampai tetes terakhir dan tidak menyisakan sedikit pun..
"Andai saja mami Fiqi itu kak Mawar, jadi saat ini sedang menemani Fiqi, pastilah Fiqi senang sekali, apalagi tadi mami juga menemani ujian, menemani nonton, Fiqi akan merasa jadi anak yang paling bahagia hari ini, karena di temani oleh ke dua orang Fiqi yang lengkap,yaitu mami dan papi Fiqi." Dari sorot matanya, Fiqi sangat menginginkan momen seperti yang ia ucapkan..
Mawar yang mendengar celotehan anak kecil itu, hanya memandang dengan senyuman kecil kepada Fiqi. Mawar tahu ia hanyalah anak kecil yang menginginkan kebahagiaan bersama kedua orang tuanya, jadi setiap ucapan yang keluar hanyalah ungkapan kecil isi hati nya, dan Mawar tidak mau mematahkan ucapan Fiqi karena nanti hanya akan melukai hatinya saja..
"Tuh, papi Fiqi sudah beli donatnya kak, lihat deh !" Mawar mengalihkan pembicaraan dan menunjuk ke arah Ruslan yang sudah terlihat membawa dua kotak donat dari kejauhan..
"Ye.. akhirnya Fiqi makan donat lagi, tapi kak Mawar jangan bilang bilang sama mami ya kalau Fiqi makan donat, mami bisa marah nanti ?" bisik Fiqi dengan pelan ke telinga Mawar..
"Ok, tapi gimana kalau papi Fiqi yang bilang ke mami ?"..
"Papi gak akan bilang ke mami, kamu sudah sepakat berdua, karena ini janji papi sendiri, katanya kalau Fiqi ujiannya lancar maka papi akan belikan makanan kesukaan Fiqi"..
"Ok deh kalau begitu, kak Mawar gak akan bilang sama siapa siapa termasuk sama mami Fiqi, janji deh !" sambil menunjukkan jari kelingkingnya kepada Fiqi..
"Janji ya kak Mawar !" Fiqi menautkan jari Mawar dengan jari kelingkingnya yang kecil yang sedang merahasiakan sesuatu Ruslan yang melihat itu langsung mengerutkan keningnya dan spontan ia pun bertanya..
"Fiqi ngapain tuh sama kak Mawar ?, Fiqi punya rahasia ya sama kak Mawar ?" tanya Ruslan yang baru saja datang..
"Eh papi, gak kok pi, gak ada rahasia apa apa, ini hanya permainan." Iya kan kak Mawar ucap Fiqi kepada Mawar..
"Iya Fiqi," jawab Mawar sambil tersenyum..
"Es krimnya sudah habis ya ?, kalau begitu ayo kita pulang, ini sudah jam setengah sembilan malam,'' ajak Ruslan..
"Oke papi, kita pulang sekarang yuk. Fiqi juga udah pengen cepat sampai rumah nih, pengen istirahat dan rindu dengan kamar Fiqi." Jawab Fiqi..
'Waduh ga terasa ternyata sudah jam delapan malam ternyata, seharian ini waktu ku memang benar benar hanya untuk menemani Fiqi, tapi tidak apalah. Karena aku pun merasa senang bisa nonton bioskop dan makan donat kesukaan, gak rugi deh.' Desah Mawar dalam hatinya..
"Papi sepertinya hari ini sudah sehat ?, Fiqi tidak mendengar papi bersin bersin lagi,'' tanya Fiqi di dalam mobil kepada Ruslan yang sedang fokus menyetir..
"Iya nih papi sudah lumayan fit setelah minum obat dari dokter luis, flunya sudah hampir hilang hanya tenggorokan papi yang masih terasa sedikit gatal." Jawab Ruslan..
"Kalau begitu malam ini papi sudah bisa menemani Fiqi tidur di kamar kan ? tanya Fiqi lagi..
"Boleh, nanti papi temani Fiqi tidur ya." Ruslan mengelus kepala anaknya itu, namun pandangannya tetap fokus ke depan jalan..
"Terimakasih papi, sudah belikan Fiqi es krim, belikan donat, dan malam nanti papi akan menemani Fiqi tidur." Seru Fiqi begitu bahagianya..
"Iya sayang," jawab Ruslan singkat..
Papi seandainya saja kak Mawar ini adalah mami, dan mami itu adalah kak Mawar, Fiqi pasti sangat bahagia. Sebab Fiqi gak akan sering di tinggal lagi sama mami, karena kan mami harus tetap disini terus menemani Fiqi, dan bekerja di tiap harinya." Fiqi mengeluarkan hal konyolnya lagi..
Ruslan yang tadinya fokus menyetir, langsung tersedak mendengar celotehan anaknya si Fiqi..
Mawar yang melihat Ruslan yang terus terbatuk dan, Mawar dengan sigap langsung cepat mengambil air mineral yang ada di samping Fiqi, dan membukan serta langsung memberikannya kepada Ruslan..
"Ini pak minum dulu, sebaiknya mobilnya di hentikan terlabih dahulu." Ucap Mawar dengan sangat pelan agar Ruslan tidak merasa di perintah..
Ruslan memelankan laju kendaraannya, dan menepikan mobil nya serta mengerem kendaraannya secara perlahan agar benar benar berhenti, barulah Ruslan mengambil botol air mineral dari tangan Mawar dan segera meminumnya..
"Papi masih batuk ya ?," tanya Fiqi dengan polos melihat Ruslan yang tersedak, padahal Ruslan tersedak karena ucapan Fiqi yang menurutnya cukup konyol untuk di dengar..
Ada rasa ingin tertawa di hati Mawar mendengar ucapan anak kecil di sampingnya ini, yang memang masih sangat polos. Ada juga perasaan malu dan tidak enak di hatinya karena celotehan anak kecil ini, dan itulah yang membuat Ruslan tersedak..
__ADS_1
Sepertinya pak Ruslan sangat tidak menerima ucapan Fiqi yang tadi, di dalam hati ia langsung merasa bersalah akibatnya Ruslan menjadi tersedak. Dan kini diri Mawar hanya bisa menunduk malu karena ia pun takut kalau ruslan semakin tidak nyaman dengannya..