
'Kenapa aku langsung turun, seharusnya aku menanyakan keadaan pak Ruslan terlebih dahulu, ya ampun.. aku kok jadi salah tingkah seperti ini sih !' Mawar mengutuki dirinya sendiri, berkali kali ia meneput judatnya. Ia tidak mengerti akan sikapnya yang tiba tiba langsung saja turun, tanpa menanyakan keadaan Ruslan, bukankah dari semalam dia begitu ingin tahu tentang keadaan Ruslan..
"Mawar, sudah di antar ya ?, bagaimana keadaan pak Ruslan, apakah dia sudah lebih baik sekarang ?", tanya mbok Inem kepada Mawar yang baru saja turun dari atas..
"Sudah mbok, tapi aku gak tahu pak Ruslan sudah lebih baik atau belum, karena habis aku antar itu aku langsung turun aja mbok." Jawab Mawar..
"Memangnya tidak kamu tanya dulu sama pak Ruslan gimana keadaannya sekarang ya neng ?"..
"Gak mbok, soalnya kan aku lagi buru buru ya mbok, sudah setengah tujuh, jadi aku mau pulang dulu, mau mandi mbok." Kilah Mawar..
"Oh iya neng Mawar, hati hati ya neng. Makasih loh ya sudah mau kesini nemenin Fiqi, kalau gak ada kamu, kasihan Fiqi semalam tidur sendiri, mbok gak bisa nemenin dia, mbok gak mau tidur pakai AC, gak bisa dan gak akan nyenyak tidur nya mbok..
"Iya mbok sama sama, aku juga makasih sama mbok sudah di bikinin teh pagi pagi.'' Balas Mawar..
"Kak Mawar.. kak Mawar mau ke mana kak ?" teriak Fiqi terdengar oleh Mawar yang baru saja menutup pintu, Fiqi berlari menghampiri Mawar..
"Fiqi udah bangun ya ?, kak Mawar mau pulang dulu ya, soalnya mau pergi kerja, jadi harus siap siap sekalian mau mandi dulu." Jawab Mawar..
"Kak Mawar gak mau temenin Fiqi lagi ya hari ini ?" tanya Fiqi dengan nada yang sedikit sedih..
"Kak Mawar mau temenin Fiqi, tapi kak Mawar kan harus kerja dulu sayang, ini bukan hari libur kak Mawar,'' ucap Mawar dengan lembut sambil menunduk menyetarakan tingginya dengan tinggi Fiqi..
"Tapi Fiqi mau di temanin kak Mawar hari ini. Fiqi harus les bahasa inggris dan les piano, papi kan masih sakit, jadi gak mungkin menemani Fiqi"..
Mawar terdiam ia bingung harus menjawab apa, ia tidak tega melihat FIqi yang sangat sedih, tapi ia harus bagaimana, ia juga harus bekerja hari ini, kalau bu Vera tahu dia tidak masuk, bisa kena marah dia oleh bu Vera..
"Tapi kak Mawar harus bekerja sayang hari ini, nanti pulang kerja aja ya kak Mawar ke sini lagi, temenin Fiqi lagi gimana ?" ujar Mawar lagi..
"Iya Fiqi, kak Mawar harus bekerja, Fiqi sama mbok Inem saja ya hari ini, gak usah les dulu, hari ini izin gak masuk." Mbok Inem ikut membujuk Fiqi..
Hari ini ada ujian praktek piano dan juga ada tes pidato dengan bahasa inggris, Fiqi gak bisa izin tidak masuk mbok"..
"Aduh.. mbok gak mungkin kan nemenin Fiqi, mbok gak ngerti, mbok takut"..
"Fiqi, ada apa ini sayang, kenapa ?" Ruslan menghampiri mereka bertiga, Ruslan masih menggunakan masker, mata Ruslan masih terlihat merah, mungkin tubuhnya mulai membaik tapi sepertinya belum fit sepenuhnya..
"Ini loh tuan, Mawar kan harus bekerja ya hari ini, jadi mau pulang. Tapi Fiqi mau minta di temenin sama neng Mawar untuk les piano dan bahasa inggris hari ini, katanya hari ini ada jadwal ujian praktek piano dan pidato bahasa inggris, jadi gak boleh izin tidak masuk." Mbok Inem menjelaskan secara rinci kepada Ruslan..
Hacchim.. haciiim.. Ruslan kembali bersin bersin, ''papi masih sakit ya?" tanya Fiqi..
"Papi sudah sedikit baikan, dan belum begitu sembuh sepenuhnya, flu nya masih ada." Jawab Ruslan sedikit terbatuk batuk..
"Maaf ya pak, bukan saya gak mau, tapi hari ini bukan hari libur, jadi saya harus masuk, saya takut nanti bu Vera marah kalau saya gak masuk hari ini pak,'' jelas Mawar sambil menunduk dengan suara pelan..
"Begini saja, saya minta tolong sama kamu Mawar, untuk hari ini kamu gak usah masuk kerja dulu, saya minta tolong temani Fiqi dulu untuk hari ini, nanti urusan Vera biar saya yang bilang, Vera pasti mengizinkan kamu tidak kerja hari ini." Pinta Ruslan kepada Mawar..
"Oh begitu ya pak, baik pak saya pulang sebentar kalau gitu pak, mau mandi dan ganti baju dulu sebentar, habis itu saya kesini lagi"..
__ADS_1
"Gak apa apa, kamu tunggu aja di rumah nanti biar saya dan Fiqi mampir ke sana, saya antar kalian berdua tapi nanti kamu yang nemenin Fiqi disana ya." Suruh Ruslan..
"Oh baik pak, kalau gitu saya permisi dulu ya"..
"Iya neng, biar Fiqi mbok dulu yang mandiin, ayo Fiqi mandi dulu ya, habis itu sarapan biar nanti ujiannya bisa fokus." Ajak mbok Inem kepada Fiqi..
Mawar berjalan cepat cepat menuju rumahnya, Mawar takut kalau ia sampai lambat, saat pak Ruslan dan Fiqi telah menjemputnya, ia masih belum siap, maka Mawar langsung mengeluarkan keahliannya yaitu jurus mandi bebek..
"Loe gak kerja ya hari ini ?" tanya Eca..
"Gue tadi mau masuk kerja, tapi tadi pak Ruslan minta tolong buat temenin si Fiqi les piano sama bahasa inggris, pak Ruslan masih sakit jadi gak ada yang nemenin Fiqi." Jelas Mawar..
"Oh gitu, bu Vera udah tahu belum ?"..
"Kata pak Ruslan biar dia nanti yang kasih tahu, jadi bu Vera gak mungkin gak kasih izin"..
"Iya juga sih ya, kalau suaminya yang ngomong, gak mungkin gak di izinin, buruh kamu pake baju, entar keburu di jemput loh !" suruh Eca..
Tit.. tit.. suara klakson mobil sudah memanggil dari depan, dan pasti itu adalah mobilnya pak Ruslan yang datang menjemput Mawar..
"Siapa tuh, pagi pagi udah ngelakson rumah orang aja !" tanya si Riri..
"Itu pak Ruslan sama Fiqi, kan mau nganterin Fiqi les. Nanti gue yang nungguin Fiqi di sana, soalnya pak Ruslan masih belum fit, dia cuma bisa nganterin. Aku pergi dulu ya.. daaah semua" Mawar melambaikan tangannya kepada Riri dan teman teman yang lain..
"Oke deh mamah muda,'' gurau Riri lagi kepada sahabatnya itu sambil tertawa..
Mawar tidak berani melirik ke arah Ruslan, ia hanya fokus ke depan dan mengobrol kepada Fiqi. Namun Mawar dapat melihat dari ujung matanya, kalau Ruslan hari ini mengenakan baju kaos berwarna krem, senada dengan blazernya Mawar, dan juga celana Ruslan berwarna coklat tua, serasi dengan rok Mawar yang juga berwarna coklat tua, namun saling memiliki motif bunga warna putih. Mereka terlihat seperti janjian akan pakaiannya hari ini sangat terlihat serasi..
'Kok bisa sih, warna nya samaan dengan pak Ruslan, aduh apa perasaan gue aja ya, ucap Mawar dalam hati, yang masih tidak berani menoleh ke arah Ruslan.' Padahal hatinya sangat ingin melihat Ruslan dengan jelas, dan memberi senyuman manis pagi kepada Ruslan..
"Fiqi di temani kak Mawar ya, papi cuma bisa antar aja nanti, kalau sudah selesai papi jemput ya,'' ujar Ruslan kepada anaknya, Fiqi pun langsung menyalami tangan papinya itu..
"Iya pi, tapi hati hati di jalan ya pi." Balas Fiqi..
"Iya jagoan papi, semoga ujiannya berjalan lancar, hasil ujian piano dan bahasa inggris Fiqi memuaskan ya." Ruslan memberikan semangat kepada putra semata wayangnya itu..
"Papi, Fiqi kan belum tahu nanti pulangnya jam berapa, karena ini ujian berbeda dengan hari biasanya, lalu bagaimana papi tahu kapan harus menjemput Fiqi, kan papi gak tahu Fiqi pulang jam berapa nanti." Tanya Fiqi kepada Ruslan..
''Memangnya, pulangnya tidak seperti biasa ya nak ?" Ruslan balik bertanya lagi..
"Tidak papi, kalau ujian akan lebih lama di banding les seperti biasanya." Terang Fiqi..
"Oh begitu nanti kamu bilang aja gurunya kalau sudah selesai, tolong telpon ke nomor papi aja ya, nomor orang tua disana kan sudah tersimpan," suruh Ruslan kepada Fiqi..
"Kenapa tidak suruh kak Mawr saja menelepon papi, kan kak Mawar yang menemani Fiqi, jadi kak Mawar tahu kapan Fiqi akan pulang, kak Mawar bisa langsung telepon papi kan, biar papi bisa langsung ke sini deh." Fiqi sangat bijak memberikan saran, sambil memandang Mawar dan juga ayahnya Ruslan..
Mawar yang mendengar itu hanya diam saja, ia tidak ingin ikut campur percakapan antara ayah dan anak itu..
__ADS_1
"Iya sayang, nanti suruh saja kak Mawar telepon papi ya kalau udah selesai"..
"Iya pi, kak Mawar sudah punya nomor telepon papi kan ?" tanya Fiqi menoleh ke Mawar..
"Apa ?, oh sudah, eh.. maksud kakak belum, kak Mawar belum punya nomornya,'' Mawar menjawab dengan gugup, hampir saja ia keceplosan kalau ia memang telah menyimpan nomor Ruslan..
"Ini kartu nama saya Mawar, nanti kamu telepon saja di nomor itu ya, itu nomor pribadi saya." Ruslan memberikan kartu namanya kepada Mawar..
"Iya pak, nanti saya hubungi bapak kalau sudah selesai,'' jawab Mawar menunduk, ia langsung menunggu Fiqi untuk masuk ke dalam bangunan dua lantai yang besar itu..
"Dah papi, hati hati di jalan ya." Fiqi melambaikan tangannya..
Sebenarnya Fiqi sangat ingin saat ujian seperti ini di dampingi oleh ibunya, namun sayangnya Vera tidak pernah bisa dan tidak memiliki kesempatan untuk menamani Fiqi, walaupun hanya sekedar mengantar les. Ia menyerahkan semuanya kepada pengasuhnya Fiqi, karena ia tidak memiliki waktu sedikitpun untuk Fiqi..
Namun berkat ketulusan hati Mawar, senyuman semangat dan perhatian dari Mawar, serta kesediaannya untuk mengantar Fiqi hari ini, membuat Fiqi jadi memiliki semangat lebih lagi, bahkan ia tidak teringat kalau yang mengantarnya ini adalah Mawar bukanlah ibunya..
Dengan langkah yang begitu yakin, senyum yang menawan, serta semangat yang menggebu, Fiqi maju ke depan dan siap untuk memainkan piano itu, menyuarakan nada nada yang sudah ia pelajarin hingga hafal..
Layaknya seorang ibu yang bangga kepada anaknya, apalagi melihat anak yang berumur lima tahun telah lihai memainkan piano dengan nada nada yang berirama dan sangat indah di dengar. Mawar begitu semangat merekam video di layar ponselnya, Mawar merekam Fiqi dengan begitu bangga dan penuh dengan senyuman, pasti orang orang di dalam sana menyangka kalau Mawar adalah ibunya Fiqi, karena begitu terlihat ketulusan di wajah Mawar kalau ia begitu menyayangi dia sepenuh hati..
Seperempat jam Fiqi memainkan nada itu, dan Mawar sangat menikmati setiap petikan nada yang Fiqi mainkan, setelah selesai mereka semua bertepuk tangan dan tentu tepukan tangan dari Mawar yang paling kencang untuk Fiqi, ia pun langsung berdiri dan berjalan menghampiri Fiqi dan memeluk erat Fiqi seolah menandakan kalau ia begitu bangga akan Fiqi hari ini..
"Selamat ya Fiqi sayang, kamu keren sekali memainkan pianonya, kak Mawar sangat menikmatinya." Bisik Mawar di telinga Fiqi..
"Terima kasih juga kak Mawar sudah menemani Fiqi dan memberikan semangat kepada Fiqi hari ini." Jawab Fiqi dengan senyum yang sangat menawan..
Ternyata benar yang Fiqi ucapkan, saat ujian seperti ini memakan waktu yang cukup lama. Di jam makan siang saja Fiqi baru selesai ujian praktek piano, nanti setelah makan siang baru Fiqi akan mengikuti ujian bahasa inggrisnya, dan saat ini Fiqi sedang makan siang di temani oleh Mawar..
Tempat les Fiqi ini memang tempat les anak anak orang kaya, jadi saat makan siang, sudah ada teman khusus dan juga ada makanan yang sudah di sediakan dari pihak tempat les. Dan saat ini Mawar tengah menyuapi Fiqi dengan sangat telaten, Mawar memperlakukan Fiqi layaknya anaknya sendiri..
Tidak ada yang tahu kalau ternyata diam diam Ruslan melihat Mawar dan Fiqi dari kejauhan, ternyata saat jam setengah dua belas tadi, Ruslan sudah mendatangi tempat les ini karena biasanya Fiqi akan pulang di jam itu. Namun setelah di beritahu oleh wanita yang berada di depan, kalau sekarang sedang jam makan siang maka Ruslan pun langsung ke ruangan makan siang, dan rupanya ia telah menemukan Mawar dan Fiqi yang sedang menikmati makan siang. Ruslan tidak langsung menghampiri mereka, Ruslan memilih memperhatikan gerak gerik Mawar dari kejauhan, ia ingin tahu bagaimana Mawar memperlakukan Fiqi saat tidak ada dirinya..
Mungkin sebagian orang akan berlaku baik dan perhatian kepada seseorang anak saat ada orang tuanya, tapi tidak dengan Mawar meskipun saat ini dia sedang tidak bersama kedua orang tuanya Fiqi, Mawar tetap memperlakukan Fiqi dengan sangat baik dan lembut, karena Mawar memanglah sangat menyayangi Fiqi sudah seperti adik kandungnya sendiri. Maka tidak ada perasaan berat dan sungkan bagi Mawar untuk mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya kepada Fiqi..
Gadis itu memang benar benar baik, dia sangat perhatian kepada Fiqi, Ruslan masih memperhatikan Mawar yang menyuapi Fiqi juga membersihkan mulut Fiqi dari saus makanya..
Dirasa sudah cukup untuk bersantai setelah makan, dan memastikan kalau pinggiran mulut Fiqi sudah bersih, Mawar mengajak Fiqi untuk kembali ke ruangan yang akan di jadikan tempat ujian bahasa inggrisnya nanti, Mawar menuntun tangan Fiqi seperti biasa..
"Fiqi, papinya mana ?" tiba tiba wanita yang di depan kembali menyapa Fiqi..
"Papi kan sudah pulang, dia hanya mengantar Fiqi tadi,'' jawab Fiqi..
"Barusan papi kamu datang lagi pas jam makan siang, dia tadi ada di sana, melihat kamu sama kakak kamu sendang makan.'' Ucap wanita yang biasa di panggil Miss oleh Fiqi..
"Tapi Fiqi gak ketemu papi pas lagi makan siang tadi,'' ujar Fiqi..
Mawar mengerutkan keningnya, ada perasaan bingung di hati Mawar. 'melihat aku dan Fiqi makan siang, lalu eknapa dia tidak menghampirinya ?, apa pak Ruslan sengaja memata-matai aku, tapi untuk apa ?' gumam Mawar dalam hatinya, ia tidak mengerti akan maksud dari suami Bos nya Ruslan..
__ADS_1