
Menghadapi tumpukan baju kotor yang sudah menanti Mawar untuk segera mencucinya. Ya, Mawar menikmati keseharian saat hari libur seperti ini. Untungnya Mawar memang hobi beberes rumah sejak dulu jadi tidak ada masalah bagi Mawar untuk membersihkan Asrama ini di saat libur meskipun teman teman yang lain tidak membantu..
"Mawar.. maaf ya aku akhir akhir ini jarang bantuin kamu beres beres ya." Ucap riri yang melihat Mawar mencuci baju dari bibir pintu ini..
"Gak apa apa kok Ri, lagian rumah kita ini kan gak terlalu besar ya, sebentar aja udah kelar kok." Tutur Mawar..
"Senangnya aku punya teman pengertian gini." Puji Riri pada Mawar..
"Gina udah pergi ya Ri ?"..
"Udah semalem di jemput sama kakaknya"..
"Oh.. kalau Eca kemana ?"..
"Belum bangun dia jam segini, paling nanti siang dia bangunnya pas mau pergi"..
"Kamu kok udah bangun pagi pagi gini Ri ?''..
"Iya aku mau belanja nanti sama pacarku, mau masak masak sama calon mertua"..
"Cieee.. yang mau ketemu calon mertua, senangnya." Seru Mawar..
"Deg.. Degan tahu say, aku takut mama nya gak suka sama aku"..
"Harus rileks dong, pokoknya jangan cemberut aja, apapun yang di bilang atau bagaimana pun sikap mamanya, yang penting kamu tetap pasang muka senyum manis ya, urusan suka gak suka belakangan aja deh." Mawar memberi masukan kepada Riri..
"Iya ya Mawar, doain ya semoga mamanya suka sama aku, aamiin." pinta Riri..
"Aamiin, pasti dong. Lagian masa iya temanku yang imut dan cantik ini gak di sukain sama calon mertua ya kan, apalagi kamu tuh pinter masak"..
"Hmm.. kamu bisa aja ya Mawar buat nyenengin aku." Senyum Riri..
"Beneran loh Ri, kalau aku ya jadi calon mertua kamu, ga usah lama lama deh langsung aku suruh nikah aja tuh"..
"Haha.. kamu ya, emang bisa bikin mood aku bisa kembali happy." Tutur Riri..
"Iya dong, biar kamu jadi happy seharian"..
"Aku mandi dulu ya kalau gitu, mau siap siap"..
"Oke riri, semangat ya"..
'Pagi ini sarapan apa ya, masak nasi goreng lagi, bosen banget ah.' gumam Mawar sambil membereskan dapur nya yang memang tidak terlalu kotor..
"Bikin telur dadar ah, pakai saos kayaknya enak." Mawar mulai mengocok dua butir telur ayam yang di berikan sedikit garam dan penyedap rasa..
Aroma telur dadar masakan Mawar memenuhi sisi daput mereka, membuat perut Mawar semakin bergemuruh ingin di isi dengan segera..
"Mawar, masak apa wangi banget ?" Tanya Eca yang baru bangun tidur sekarang..
"Telur dadar Ca, mau ga ?.. yuk sarapan !" ajak Mawar..
"Aku cobain dikit dong, biar gak ileran nih hehe," Eca memotong sedikit telur dadar yang terlihat sangat lezat itu..
"Kok dikit banget sih Ca ?, lagi dong ambil aja !"..
"Udah saym aku mau sarapan juga nanti"..
"Oh.. oke Ca, aku makan dulu"..
"Ok"..
"Sarapan udah, nyuci sudah, tinggal nyapu sama ngepel nanti deh tunggu mereka pergi,'' Mawar kini merebahkan tubuhnya di kasur sambil memainkan ponselnya..
"Mawar aku berangkat dulu ya ke tempat calon mertua, doain ya,'' pamit Riri..
"Iya, hati hati di jalan ya Ri"..
Riri sudah berangkat juga, sekarang tinggal Eca yang ada. Tak lama kemudia Eca juga berpamitan kepada Mawar untuk pergi berkencan dengan kekasihnya. Karena teman temannya sudah berangkat Mawar pun kini mulai membersihkan rumahnya, ia memang suka sekali membersihkan rumah dari sejak dulu di kampung, entah kenapa matanya selalu risih bila melihat sesuatu yang kotor dan berantakan di rumah yang sekarang di tempati bersama teman temannya..
''Akhirnya bisa beres juga,'' Mawar menghirup aroma jeruk yang menyeruak dari lantai yang sudah bersih dan mengkilat ini..
Tit.. tit.. suara klakson mengagetkan Mawar yang tengah asik bersantai di kasur single nya..
"Siapa ya ?" Mawar melihat mobil yang sudah berhenti did epan sana. Dan Mawar ingat betul kalu itu mobil Bosnya yang semalam menumpangi ia pulang..
Kali ini Mawar tidak ingin mau malu lagi, ia mengganti pakaian rumahnya dengan baju kaos yang cukup tebal dan celana joger panjangnya. Tidak ingin membuat Bosnya itu kembali menunggu lama seperti tempo hari maka ia segera berlari menghampiri mobil yang sudah menunggu nya itu..
"Kakak baik hati," seru Fiqi melihat Mawar berjalan ke arahnya..
"Hai adik kecil," sapa Mawar tersenyum ramah, Mawar sangat canggung melihat wajah Ruslan yang masih belum menoleh ke arahnya..
"Kakak, temenin Fiqi ya di rumah, soalnya mbok inem sama kak indah mau pergi jalan jalan katanya." Pinta Fiqi dengan suara cadel dan nada manja nya..
Mawar tidak mungkin menolak permintaan anak Bosnya ini, walaupun sebenarnya ia sangat canggung bila harus berlama lama di rumah Bosnya itu, "Oh.. iya adik kecil sebentar ya." Ucap Mawar melirik Ruslan..
Mengerti akan lirikan Mawar, Ruslan langsung menyambung permintaan Fiqi, "Ya Mawar, kebetulan yang kerja minta izin keluar, saya bisa jaga Fiqi, tapi Fiqi maksa mau minta kamu temenin dia, jadinya saya ke sini jemput kamu." Terang Ruslan..
"Oh.. begitu ya pak ?" jawab Mawar dengan spontan..
"Tapi kalau kamu ada kegiatan lain dan gak bisa, gak apa apa juga, gak masalah, yang penting Fiqi langsung dengar sendiri dari kamu,'' sambung Ruslan..
"Papi.." Fiqi merengek melirik ke arah Ruslan, tidak setuju dengan apa yang barusan di ucapkan nya..
__ADS_1
Mawar yang tidak tega melihat Fiqi kecewa, dan juga tidak enak hati kepada Ruslan jika menolak permintaan Fiqi, cepat cepat ia menenangkan Fiqi, "saya gak ada kegiatan lain kok pak, saya bisa temenin Fiqi," jawab Mawar..
Fiqi langsung tersenyum ceria mendengar ucapan Mawar, matanya berbinar memancarkan rona bahagia yang tulus, "ye.. tuh kan papi, kakak Mawar mau temenin Fiqi kan." Ucap Fiqi sangat menggemaskan..
Begitu tersirat di wajah Ruslan kalau ia sangat bahagia melihat putranya tertawa ceria saat ini, di usapnya kepala putra tunggalnya itu, "iya.. iya." Sahut Ruslan..
"Ayoo kakak baik hati, ke rumah Fiqi yuk,'' ajak Fiqi..
"Iya Mawar," Ruslan ikut mengajak Mawar..
"Baik pak, tunggu sebentar saya kunci pintu dulu." Mawar segera masuk mengambil ponsel dan tas kecilnya lalu mengunci pintu rumah, kebetulan masing masing mereka memiliki kunci asrama nya sendiri..
"Asik kakak baik hati mau nemenin Fiqi." Seru Fiqi bahagia melihat Mawar yang sudah ikut bersamanya di kursi belakang..
Mawar hanya bisa tersenyum tipis melihat Fiqi yang begitu ceria, ia juga tidak mengerti mengapa Fiqi begitu senang bersamanya, padahal ia dan Fiqi belum lama saling mengenal, tapi Fiqi begitu terlihat sangat akrab dengannya..
Sesampainya di rumah Ruslan, ternyata mbok inem dan kak indah sudah berangkat. Dan sekarang di rumah mewah dan besar ini terlihat sangat sepi, hanya ada satpam di pos dekat pagar itu..
Mawar pun menuntun Fiqi masuk ke dalam rumah, dan Fiqi terlihat sangat nyaman dan bahagia bersama Mawar..
"Kakak baik hati temani Fiqi main ini yuk !"..
"Ayukk adik kecil." Mawar mulai menemani Fiqi bermain, bermain apa saja yang Fiqi mau. Sedangkan Ruslan sudah meninggalkan mereka sejak sampai tadi, ia langsung ke atas entah ke kamar atau di ruangan kerjanya..
Mawar yang memang sudah lama tidak melakukan kegiatan lain saat libur bekerja juga sangat menikmati bermain bersama anak Bosnya ini, Mawar tidak menganggap kalau ia sedang mengasuh anak, tapi ia menganggap kalau dirinya kini sedang berada di tempat hiburan bermain anak anak, agar ia menikmati semua permainan milik Fiqi yang ada di drumah ini..
"Kakak, aku lapar mau makan,'' ucap Fiqi setelah puas bermain basket di lapangan mininya..
"Oh.. Adik kecil lapar ya, coba kita lihat ada apa di meja makan sana." Mawar mengajak Fiqi dan sekalian minta Fiqi menunjukkan di mana letak meja makan nya..
Ternyata mbok inem sudah memasak terlebih dahulu sebelum pergi tadi, jadi di meja makan ini sudah penuh dengan berbagai macam masakan, ada ayam kecap, bakwan jagung, sup telur, sambal udang dan juga sayuran lainnya, semua sudah terhidang di atas meja dan terlihat sangat menggiurkan..
"Fiqi mau semuanya ?" tanya Mawar sudah menyiapkan sepiring nasi untuk Fiqi..
"Iya kak, aku mau semuanya"..
Mawar dengan telaten menyuapi Fiqi, dan Fiqi pun makan dengan begitu lahap, Mawar sangat pandai membuat Fiqi bersemangat makan hingga tidak menyisakan sedikit pun di piringnya..
Ruslan yang hendak menuju dapur untuk mengingatkan jam makan Fiqi hanya terdiam melihat Mawar yang telaten dan sabar menyuapi dan meladeni ocehan Fiqi. Terbayang olehnya, andai saja Vera yang melakukan itu tentulah Fiqi lebih bahagia dan semangat lagi untuk makan, karena selama ini Fiqi selalu susah makan bila di suapi oleh pengasuhnya, padahal mungkin itu cara Fiqi mencari perhatian ibu nya sendiri..
'Gadis yang manis,' lagi lagi pujian itu dengan spontan nya keluar dari dalam hati Ruslan, hingga membuat senyum nya terukir..
"Sekarang giliran kakak baik hati yang makan biar aku temenin deh." Suruh Fiqi manis..
"Kakak Mawar udah makan adik kecil tadi di rumah." Jawab Mawar dengan lembut..
"Itu kan tadi kak, sekarang makan lagi dong ya." Pinta Fiqi dengan manja..
"Kak Mawar masih kenyang adik kecil." Sahut Mawar lagi..
Kedatangan Ruslan membuat Mawar sedikit terkejut, ia pun menunduk tersenyum dan membawa piring bekas Fiqi makan ke tempat pencucian piring..
"Benar kata Fiqi, kamu makan dulu ya Mawar ini sudah siang loh." Suruh Ruslan yang juga sudah duduk di meja makan saat ini..
Mawar tidak sanggup menolak perintah Bosnya Ruslan, ia segera menurut dan mengambil piring untuknya. "Baik pak"..
"Jagoan papi udah makan belum ?" tanya Ruslan sangat lembut pada putranya..
"Sudah dong pi kan aku di suapin sama kakak baik hati tadi"..
"Oh ya, banyak ga makannya ?"..
"Banyak dong, kakak baik hati ambil nasinya tadi pas banget dengan porsi nya Fiqi, gak kayak kak Indah, ambil nasinya selalu kebanyakan makanya Fiqi suka gak habis,'' tutur Fiqi..
"Oh, gitu ya." Sahut Ruslan..
"Iya papi, ehm.. papi mau makan juga ya ?" tanya Fiqi anaknya..
"Iya, papi mau makan juga nih"..
Mendengar itu Mawar langsung mengambilkan piring satu lagi untuk Ruslan dan menyiapkan segelas air putih untuk Ruslan Bosnya..
"Makasih ya Mawar." Ucap Ruslan tanpa melihat Mawar..
Kini mereka makan di satu meja makan yang sama, Mawar terlihat begitu sangat canggung sambil menikmati makan siangnya. Bukan karena masakan mbok inem tidak enak, tapi ia merasa sungkat dan hormat ketika makan di depan Bos nya ini, untung saja ada Fiqi di sana yang menjadi pencair suasana..
Ruslan memperlihatkan sikap yang biasa aja, ia menyantap dan menikmati makan siangnya apa lagi kali ini ia tidak makan sendirian, diam diam Ruslan melirik Mawar saat Mawar tengah menunduk dan sesekali menanggapi perkataan Fiqi yang ceriwis itu..
'Gadis manis dengan senyum yang manis !' hati Ruslan tidak bisa berhenti mengeluarkan pujian itu bila melihat senyuman Mawar yang tulus apalagi saat bersenda gurau dengan anak kecil yang bernama Fiqi itu..
Dan Ruslan paham betul kalau saat ini Mawar sedang tidak merasa nyaman akan keberadaannya disini, kepolosan Mawar begitu terlihat, membuat Ruslan semakin memujinya..
Ruslan pun menyelesaikan makanannya terlebih dahulu, ia begitu paham kalau Mawar sangat tidak nyaman dengan adanya dia disini, dan bukan juga karena porsi Mawar lebih banyak tapi mungkin Mawar lebih lambat dalam mengunyah makanan nya atau mungkin Mawar sengaja lama lama menghabiskan makanan nya..
"jagoan papi, sini temenin papi yuk lihat ikan kita di kolak belakang!' Ruslan mengajak Fiqi anaknya untuk meninggalkan Mawar yang sedang menghabiskan makanannya, agar Mawar lebih nyaman menghabiskan makan siangnya, Ruslan tidak ingin gadis itu jadi kelaparan karenanya..
"Ok pi, kakak baik hati Fiqi sama papi ke belakang dulu ya." Pamit Fiqi turun dari kursinya dan langsung menggenggam tangan Ruslan..
"Iya adik kecil." Jawab Mawar dengan pelan dan lembut..
Wajah Mawar yang terlihat tegang dan kaku akhirnya lebih rileks dan ia bisa bernafas lebih tenang dan menghabiskan makan siang nya lebih cepat, sebab sejak tadi dia memang tidak terlihat nyaman jika harus terus terusan ada Ruslan di meja makan ini, meskipun Ruslan tidak mungkin memperhatikan nya namun Mawar merasa malu..
Setelah melahap habis masakan mbok inem yang rasanya cukup memanjakan lidahnya Mawar, ia pun bersendawa cukup keras, untung saja Ruslan sudah tidak ada disana, bisa bisa Mawar akan mempermalukan diri nya lagi dengan tingkahnya yang tidak sopan itu..
__ADS_1
Selesai makan, mawar membereskan meja makan dan juga mencuci piri hingga tidak ada yang tersisa sedikit pun, dan Mawar memastikan meja makan dan keadaan daput tetap bersih bagaimana ia datangi tadi, agar mbok inem tidak terlihat kesal saat pulang nanti..
"Akhirnya beres.. kalau dapur cantik kayak gini sih betah lama lama di dapur juga." Mawar memandangi kagum desain dapur yang di dominasi dengan warna merah dan hitam itu, sesuai dengan warna kesukaan Vera Bosnya, dapur ini memang sangat besar dan nyaman sekali..
Tidak ingin Ruslan dan Fiqi berpikir yang macam macam akan dirinya yang berlama lama di dapur, Mawar segera berjalan menuju ruang utama. Namun tidak mendapati fiqi dan Ruslan disana. Justru Mawar terpana melihat foto yang terpampang jelas dan besar itu di dinding rumah ruangan utama..
Foto dengan ukuran yang sangat besar itu, berbingkai merah dan dengan ukiran hitamnya, yang di dalamnya menampilkan wajah wajah yang sangat indah untuk di pandang, Vera dengan dress elegannya yang senada dengan jas yang di kenakan Ruslan. Dan juga mas Yuda yang mengenakan jas warna senada dengan Fiqi..
'Mas Yuda,' desis Mawar dalam hati saat melihat foto keluarga Vera dan suaminya juga ada mas Yuda dan Fiqi disana, terlihat foto ini belum lama di ambil dan masih terlihat sangat baru, karena tinggi dan potongan rambut Fiqi terlihat sama seperti sekarang. Dan juga Ruslan juga tidak ada perbedaan dengan dirinyayang sekarang..
Mawar masih memandang foto itu, namun kini matanya tertuju hanya satu wajah. Wajah yang sangat di rindukannya, wajah yang pernah mengisi hatinya, dan wajah yang telah memberikan nya pengalaman hidup yang tidak bisa di lupakan nya, bahkan sampai detik saat ini..
Namun seketika juga pandangannya menjadi sendu dan kesedihan memenuhi relung hatinya, bila teringat kalau wajah itu juga yang telah membuatnya kecewa teramat dalam dan merasakan patah hati yang paling kejam karena terlalu berharap dan terlalu mencintai nya..
'Mas Yuda, pleaase.. pergilah dari hati ku sekarang, aku tidak ingin lagi untuk mengingatmu kembali, dan aku ingin bahagia meski tanpa dirimu.' getir Mawar menunduk kan pandangan nya tidak lagi melihat lelaki yang telah mempermainkan perasaan nya itu. Tanpa di sadari oleh Mawar menjatuhkan setitik air matanya karena kekecewaan yang masih ia rasakan hingga sekarang, jujur sampai saat ini ia masih belum mampu untuk menghilangkan mas Yuda dari dalam hati dan pikirannya..
"Ehmm.. Mawar, kamu disini ya ?" tanya Ruslan yang sudah berdiri di belakang Mawar..
Kedatangan Ruslan, membuat Mawar cukup terkejut hingga ia refleks begitu saja menyapu air matanya dengan kedua tangan agar air mata itu tidak terlihat oleh mata Ruslan..
"Iya pak, maaf saya kira Fiqi ada di sini." Ucap Mawar pelan dan sedikit takut seraya menunduk..
"Kami melihat ikan di kolam belakang, bukan di bawa foto ini." Ucap Ruslan yang semakin membuat Mawar tidak enak hati..
"Iya pak, maaf saya belum pernah melihat ukuran foto yang sebesar ini." Mawar memberi alasan yang menutupi rasa malu nya saat ini..
"Gak masalah Mawar, Fiqi udah nungguin kamu di belakang dari tadi." Ucap Ruslan lagi..
"Iya saya akan ke belakang sekarang ya pak." Mawar bergegas meninggalkan Ruslan yang sepertinya tahu jika Mawar sedang sedikit bersedih..
Ruslan menatap punggung Mawar, ia menangkap kesedihan yang di rasakan oleh Mawar, namun Ruslan tidak tahu kira kira kesedihan Mawar ada hubungannya dengan foto tersebut..
"Kenapa dia seperti teringat akan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya ya ?" Tanya Ruslan sambil melipat tangannya dan terus memandangi Mawar yang berjalan dan melirik foto keluarganya itu. "Mungkin dia rindu keluarganya,'' selah Ruslan tidak ingin memikirkan hal kecil itu..
"Duh.. malu maluin aja aku ini, ngapain juga aku sampai menangis sambil melihat foto tadi. Lebay banget sih !!, nanti pak Ruslan berpikiran aneh dan yang gak gak lagi, dasar memang aku ini malu maluin, semoga dia ga lihat kalau aku tadi ngeluarin air mata." Mawar mengutuk dirinya sendiri sambil menepuk nepuk kecil dahinya..
"Kakak baik hati.." panggil Fiqi di depan kolam ikan itu..
"Adik kecil, sedang apa ?" Mawar berlari kecil menghampiri Fiqi..
"Kasih makan ikan nih kak, lihat ini ikan nya Fiqi !, besar besar kan ?" Fiqi sangat semangat menunjukkan ikan ikannya yang besar dan berwarna cerah..
Mawar baru tahu jika di belakang rumah ini ada taman seasri ini, kolam yang di dalamnya terdapat banyak ikan ikan dengan warna yang indah, juga di penuhi tanaman tanaman bunga yang cantik di pandang mata, rasanya sudah lama Mawar tidak menikmati pemandangan seperti ini, ia jadi rindu akan kampung halamannya yang masih banyak menyajikan pemandangan yang hijau dimana mana..
"Sejuk banget disini, tamannya nyaman banget bikin aku pengen rebahan di rumput hijau itu." Mata Mawar berbinar melihat dasar taman yang di tumbuhi rumput hijau yang rapi itu, karena memang taman ini memiliki pengurus pribadi yang memastikan taman selalu bersih dan tidak ada rumput yang mengganggu serta memastikan ikan dan bunga bunga yang tidak terbengkalai..
Mawar merebahkan tubuhnya di rerumputan hijau yang sangat begitu terawat ini, matanya terpejam menikmati semilir angin, Mawar tersenyum merasakan kesedihan yang tadi sempat menyapa nya telah lenyap dan hilang sekarang..
Cukup lama menemani Fiqi bermain main dengan ikannya dan bersantai di taman sambil merasakan kenyamanan ini, menghilangkan sedikit kejenuhan Mawar yang setiap hari libur hanya bisa memandangi kamarnya saja..
"Kakak baik hati, Fiqi ngantuk pengen tidur nih." Ucap Fiqi dengan tatapan mata yang sayu..
"Kalau begitu, ayo kakak antar ke kamar kamu ya adik kecil." Mawar menuntuk tangan Fiqi dan mengikuti kemana kaki Fiqi melangkah..
"Iya kakak, tapi nanti bacain satu buku cerita ya buat aku, biar aku cepat bisa tidurnya." Pinta Fiqi dengan nada manja khasnya..
"Iya, nanti kakak bacain buat kamu ya adik kecil." Mawar tersenyum dengan manis ke Fiqi..
"Asik..." Fiqi dan Mawar segera berjalan meninggalkan taman, tampaknya Fiqi merasa sangat nyaman sekali dan senang bersama Mawar, Maka tidak heran setiap berjalan bersama Mawar, Fiqi selalu ingin menggenggam tangannya Mawar untuk menunjukkan kalau dia sangat menyenangi Mawar..
Sampai di kamar Fiqi, lagi lagi Mawar terkagum kagum melihat kamar yang ukurannya juga sangatlah besar untuk seorang anak yang masih berumur lima tahun, Mawar segera mengambil salah satu koleksi buku cerita yang tersusun sangat rapi di lemari milik Fiqi..
"Jadi si katak berhasil mengalahkan si tupai yang telah curang kepada nya,'' Mawar menghentinkan bacaannya saat melirik Fiqi yang sudah terpejam. Mawar membenarkan posisi kepala Fiqi ke atas bantal dan tidak lupa untuk memberikan selimut pada tubuh Fiqi, karena menurut Mawar suhu pendingin ruangan amatlah dingin..
'Baru sebentar di bacakan udah tidur dia, pasti dia udah ngantuk banget deh dari tadi,' gumam Mawar yang masih enggan beranjak dari kasur yang beralaskan sprei motif robot pilihan Fiqi itu..
Meskipun Fiqi sudah tidur, Mawar masih meneruskan membaca buku cerita yang di pegangnya namun kali ini ia membaca dalam hati, mungkin mawar juga menyukai cerita anak anak makanya ia tertarik untuk meneruskan bacaannya, ia tidak menyadari sama sekali jika sepasang mata sudah mengawasi nya sejak tadi..
Diam diam Ruslan memperhatikan Fiqi dan Mawar sejak di taman tadi, awalnya Ruslan hanya ingin memastikan kalau putra semata wayangnya di perlakukan dengan baik oleh Mawar, karena tidak semua orang menyukai anak kecil dan bisa membuat nyaman Fiqi apalagi Mawar yang baru dua hari di kenal Fiqi..
Namun kekhawatiran Ruslan sirna ketika melihat cara Mawar memperlakukan Fiqi dengan tulus dan tidak di buat buat sehingga Fiqi merasa nyaman bersamanya, bahkan Mawar tahu dan paham apa saja yang di sukai oleh Fiqi. Dia cukup cerdas bisa memerankan diri nya sebagai pengasuh sekaligus teman Fiqi. Karena selama ini hanya Indah yang melakukan nya itu pun karena dia bekerja disini dan menerima gaji sebagai baby sitter..
Bahkan kini timbul rasa kagum di hati Ruslan akan sosok Mawar yang begitu telaten nya dalam mengurus Fiqi. Ruslan tidak pernah melihat Fiqi sehangat ini bersama seseorang perempuan, bahkan bersama Vera ibunya sendiri. Fiqi sering mencari perhatian kepada Vera namun ibunya terlalu sibuk hingga menyerahkan semuanya pada pengasuhnya..
'Kenapa aku jadi mengaguminya ya !' gumam Ruslan bergegas meninggalkan tempatnya berdiri sekarang agar tidak terlihat oleh Mawar..
Setengah jam berkutat menatap layar laptop nya, membuat Ruslan jenuh dan merasa haus. Ia segera turun mengisi botol minuman nya yang sudah kosong..
"Sudah pukul empat, kenapa mereka belum pulang ya ?" Ruslan memperhatikan seisi daput yang masih sunyi belum ada tanda kepulangan pembantu dan pengasuh Fiqi..
"Mungkin sebentar lagi," Ruslan ingin kembali ke ruang kerjanya, tapi ia ingin memastikan Fiqi masih tertidur atau sudah bangun. Namun ia mungurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar, karena melihat Mawar yang kini ikut tertidur dengan buku terbuka di sampingnya, ia ketiduran saat sedang membaca, dan mungkin juga Mawar kelelahan karena harus menemani Fiqi, karena biasanya Mawar menghabiskan hari libur memang lebih banyak tidurnya..
Mata Ruslan tertuju pada Mawar yang kini sekarang tengah terpejam, Mawar terlihat begitu pulas. Sebagian rambutnya menyentuh wajah mulusnya dan bibir tipisnya tertutup sehingga terlihat menggemaskan. Ruslan masih menatapnya dari bibir pintu. Entah kenapa Ruslan semakin ingin menatapnya lebih lama dan lebih dekat, segera Ruslan menepis keinginan konyolnya itu..
"Apa apaan aku ini !, kenapa aku malah melihatnya, bukan kah aku ingin melihat Fiqi," Ruslan mencoba mengontrol diri nya tidak ingin matanya terus tertuju pada gadis manis yang sedang tidur di ranjang bersama anaknya itu. Ruslan menutup pintu kamar itu dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur Fiqi dan juga Mawar..
Tiba tiba.. Bruuk..
Tidak sengaja Ruslan menjatuhkan botol minuman yang ada di tangannya, al hasil air tinggal setengah, dan sebagian sudah tertumpah di lantai. Ruslan segera meraih botol itu, dan bergegas ke dapur mengambil sesuatu yang bisa di gunakan untuk mengeringkan air yang membasahi lantai..
"Aduh.. mana lagi ini lap nya !" gerutu Ruslan kesal tidak menemukan sesuatu yang bisa di gunakan, ia pun tidak tahu penyimpanan barang barang di dapur ini karena memang ia masuk daput jika ingin makan saja dan semua terhidang di atas meja makan..
"Biar saya bersihkan pak." Tiba tiba suara Mawar mengejutkan Ruslan yang kebingungan sejak tadi mondar mandir di dapur. Ruslan menoleh dan hanya bisa diam, dia bingung harus berkata apa pada Mawar. Ia hanya melihat dari dapur yang tengah Mawar lakukan sekarang membersihkan tumpahan air dan mengepelnya agar tidak basah dan licin lagi..
__ADS_1
Mungkin gengsi dalam diri Ruslan sangat lah tinggi, hingga Mawar yang baru menggantikan tanggung jawabnya ia tinggal begitu saja berlalu ke atas menuju ruang kerjanya, atau mungkin ada perasaan malu, takut Mawar menyadari kalau Ruslan memperhatikannya sejak tadi sebab tumpahan air itu pas di depan kamar Fiqi..