Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
EGOIS


__ADS_3

Akhirnya Vera kembali juga kerumahnya setelah dua malam menghabiskan waktu nya menyendiri di hotel berbintang langganannya. Ia pulang ke rumah karena sudah berjanji kepada anaknya Fiqi, jadi tidak mungkin membuat putra semata wayangnya itu kecewa lagi.


Ruslan menyambut dingin kepulangan Vera, ia ingin Vera menyadari kalau dirinya saat ini sedang kesal dengan sikap Vera yang tidak peka kalau ia dan Fiqi kecewa karena ia tidak berkata jujur tentang kepulangannya. Namun sayangnya pemikiran Ruslan tidak sama dengan Vera, ia tidak terkecoh sama sekali dengan wajah masam Ruslan yang kini telah duduk di sofa ruang tamu itu..


"Hai pi, lagi santai ya ?" sapa Vera dengan santai dan ke lantai atas, tidak ada ciuman hangat, tidak ada sambutan tangan, dan juga tidak ada langkah yang menghampiri Ruslan dan mengerti akan ekspresinya saat ini..


Rasa kesal yang di pendam selama ini di hati Ruslan semakin keras dan mendalam, sungguh ia sangat jenuh dengan sikap acuh tak acuh Vera yang tidak bisa mengerti akan kemauannya dan tidak bisa menghargai nya sebagai seorang suami..


Di saat jenuh seperti ini lah kadang pikiran Ruslan mulai bercabang untuk mencari pelarian agar ia mendapatkan perhatian itu dari orang lain, namun secepat mungkin Ruslan menepis semua itu, ia sangat menjaga dan menghargai ikatan pernikahannya..


Apalagi bila terbayang wajah putranya Fiqi, sungguh ia tidak sanggup menorehkan luka di hati anak hanya demi Ego nya sendiri, makanya sebisa mungkin Ruslan mengesampingkan egonya demi tumbuh kembang dan masa depan anak nya..


"papi.." panggil Fiqi yang baru saja pulang les biola bersama pengasuhnya..


"Iya sayang,'' Ruslan langsung menghampirinya dan menyambut Fiqi dengan senyum hangat serta pelukan..


"Mami sudah pulang ya pi ?" tanya Fiqi anaknya sangat antusia, ia begitu merindukan sosok ibu nya tersebut..


"Sudah, barusan aja." Jawar Ruslan singkat..


Mendengar itu, Fiqi langsung berlari menuju lantai atas dimana ibunya saat ini berada, ia lari dengan begitu semangat dan dengan wajah yang sumringah, tidak sabar ingin bertemu dengan ibu yang di rindukannya itu..


Ruslan tersenyum dalam hati melihat tingkah anaknya itu, ya.. Ruslan sangat paham sekali perasaan Fiqi anaknya itu, anak mana sih yang tidak senang dengan kehadiran ibunya, termasuk Fiqi meskipun terkadang ibunya bersikap acuh tak acuh padanya karena memang sudah menyerahkan semuanya pada pengasuh Fiqi..


Itulah yang membuatnya bertahan bersama Vera, seandainya Vera mau untuk menurunkan sedikit egonya, dan mau menyadari kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu, tentulah Ruslan menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia ini, sudah memiliki istri berparas cantik, pintar, mempunyai bisnis di manapun, tidak mungkin baginya untuk berpikir yang macam macam..


Namun begitulah manusia, tidak pernah merasa puas dan cukup. Ada saja kekurangan yang tidak di sukainya padahal semua manusia itu tidak luput dari kekurangannya. Apalagi di dalam hubungan rumah tangga, tentulah sangat banyak ketidak cocokan, tinggal bagaimana kita saling menerima kekurangan itu sendiri masing masing..


Ruslan merupakan sejenak kekesalannya terhadap Vera, ia tidak boleh memperlihatkan itu semua di depan Fiqi, sebab Fiqi pasti sedih jika mengetahui kalau dirinya bersikap tidak baik pada Vera ibunya, Ruslan sangat menjaga perasaan Fiqi anaknya itu..


Ia memberikan kesempatan untuk Vera dan Fiqi saling melepaskan rindunya, dan juga saling bercerita tentang apa yang mereka lakukan dalam keseharian. Ruslan memasuki ruang kerjanya yang baginya sangat nyaman apalagi jika ia sedang ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun, memang tidak ada yang berani memasuki ruangan itu sama sekali termasuk Vera dan Fiqi..


*Fiqi bertemu dengan Vera ibunya*


"Mami..." seru Fiqi membuka pintu kamar kedua orang tua nya itu, namun tidak di dapati sosok yang sangat di rindukannya itu..


"Mami dimana ?" Fiqi mencari dimana keberadaan ibunya itu, karena memang kamar Vera dan Ruslan sangat besar..


Tidak ada di setiap sudut ruangan ini, Fiqi pun beralih ke pintu kaca itu, yang di dalam nya merupakan kamar mandi yang besar milik Vera, biasanya Vera di sana jika tidak ada di ruangan ini..


"Mami," panggil Fiqi pelan, melihat ibunya yang ternyata sedang bersantai di genangan busa busa yang menutupi dirinya, hanya memperlihatkan wajah Vera saja..


"Hai sayang,'' balas Vera melihat putranya yang datang menghampirnya..


"Mami, aku sangat merindukanmu." Seru Fiqi dengan wajah yang merona..


Vera tersenyum mendengar ucapan manis putranya itu, "iya sayang, mami juga sangat merindukan jagoan mami." Balas Vera..


"Fiqi ingin memeluk mami,'' pinta Fiqi manja..


"Sebentar ya sayang, mami lagi berendam dulu sepuluh menit lagi ya, kamu tunggu mami di kamar dulu." Pinta Vera, yang masih ingin di belai dengan busa sabung air hangatnya ini..


Fiqi menuruti yang diminta Vera, padahal sebenarnya hatinya sudah tidak sabar ingin mendapat pelukan hangat dari maminya itu, namun ia tidak mungkin memaksanya, karena Fiqi sangat tahu kalau ibunya itu sangat tidak suka untuk di bantah..


Untung saja Ruslan yang sedang berada di ruangan kerjanya saat ini, jadi ia tidak mengetahui kalau Vera lebih mementingkan air hangat itu, dari pada untuk memeluk hangat putra semata wayang mereka yang sudah beberapa hari ini memendam rasa rindu akan sosok Vera ibunya sendiri..


Fiqi terbaring di kasur besar yang biasa di tiduri oleh kedua orang tua nya itu, sebenarnya Fiqi sangat ingin bisa tidur di antara mami dan papi nya, tapi Vera selalu mengatakan kalau ia harus tidur sendiri di kamar nya, walaupun tidak ingin sendiri, Vera akan menyuruh pengasuhnya yang akan menemani Fiqi, makanya di kamar Fiqi tersedia tempat tidur kecil untuk pengasuhnya..


"Mami bilang sepuluh menit, tapi ini sudah hampir dua puluh menit,'' ucap Fiqi mulai bosan menanti ibunya keluar dari sana..


Fiqi pun beranjak dari kasur itu dan akan keluar, tiba tiba Vera memanggilnya..


"Fiqi mau kemana ?"  tanya Vera masih mengenakan bathrobe..


"Mau panggil papi,'' jawab Fiqi..


"Vera menghampiri Fiqi dan memeluknya, "peluk mami sayang, maaf ya mami lama" Vera tidak mau Ruslan mengetahui kalau dirinya membiarkan Fiqi menunggu lama dirinya yang tengah asik tadi berendam air hangat..


Fiqi tadi sempet bete kini kembali bahagia, karena wanita yang di rindukannya tengah memeluk hangat dirinya, baginya pelukan sang ibu adalah kebahagiaan melebihi segala sesuatu..


"Mami, kenapa lama sekali pulangnya ?"..


"Iya sayang, mami banyak kerjaan, kan kamu tahu sendiri usaha mami terus berkembang dan bertambah banyak"..


"Iya mami, yang penting sekarang mami sudah pulang, jadi bisa main sama Fiqi." Ucap Fiqi semangat..


"Ehm.. kalau main kan bisa sama kak Indah, meskipun mami di rumah sekarang, pekerjaan mami masih banyak sayang"..


Ada pancaran kekecewaan di wajahnya Fiqi akan jawaban Vera ibu nya padahal ia sangat ingin sekali bermain dan tertawa girang bersama ibu nya itu..


"Kalau mami banyak kerjaan, Fiqi ajak kak...."


"Sayang, mami jawab telepon dulu ya." Vera memotong ucapan Fiqi karena ponslnya berdering, dan tentu saja Vera tidak ingin mengabaikannya karena yang menghubunginya sudah pasti rekan bisnisnya..


Fiqi hanya bisa pasrah, sudah biasa baginya bila bersama sang ibu pasti ada saja yang mengganggu obrolan mereka, bahkan ponsel maminya bisa berdering puluhan kali..


Lagi lagi Fiqi harus terabaikan dan menunggu Vera yang tengah sibuk menjawab si penelepon. Fiqi duduk termenung di atas kasur itu berharap sang ibu segera menghampirinya lagi..


Terdengar langkah kaki mendekat ke arah kamar itu, Vera menyadari itu, maka cepat cepat ia mengakhiri pembicaraannya di telepon dan kembali menyimpan ponsel ke dalam tas di atas meja riasnya itu..


Vera tahu kalau itu pasti Ruslan, ia langsung menghampiri Fiqi dan kembali mengajak bicara anak manis itu..


"Fiqi main kemana aja waktu mami pergi ?" tanya Vera..


"Fiqi pergi ke mall sama papi, makan, main game sama nonton dan banyak lagi," Fiqi kembali bersemangat..


"Oh ya, pasti seru sekali ya"..


"Lebih seru kalau ada mami,'' jawab Fiqi memelas..


"Oh ya, besok kita pergi jalan jalan bersama ya ?" tawar Vera..


"Benarkah mami?" Fiqi seolah tidak percaya..


"Iya anak manis, kenapa Fiqi gak mau ya ?"..


"Mau banget dong mi, ye.. besok jalan jalan bertiga,'' sorak Fiqi begitu gembiranya..


Ruslan yang sudah mendengar obrolan mereka dan juga memperhatikan mereka di celah pintu begitu bahagia melihat Fiqi riang seperti itu, kekesalannya pada Vera hilang bagai tersiram air melihat keakraban istri dan anaknya saat ini..

__ADS_1


Sedangkan Vera seolah tidak tahu akan adanya Ruslan, padahai ia sudah tahu, makanya ia bersikap sangat manis dan membuat hati anaknya gembira, karena paham sepasang mata tajam tengah mengawasinya agar tidak mengecewakan putranyalagi..


Ruslan pun membuka pintu dan ingin bergabung bersama Vera dan Fiqi, ia mau di mata Fiqi mereka selalu terlihat harmonis agar Fiqi selalu bahagia dan baik untuk tumbuh kembang serta masa depannya nanti..


"Papi,'' seru Fiqi menyambut kehadiran Ruslan..


"Iya jagoan papi''..


"Besok kita akan pergi jalan jalan lagi, sama mami juga." Ucap Fiqi..


"Oh ya ?" tanya Ruslan..


"Iya, mami sendirinya bilang, iya kan mami ?" Fiqi melirik ke ibunya yang sedang mengeringkan rambut..


"Iya anak manis." Sahut Vera..


"Asik, akhirnya kita jalan jalan bertiga lagi,'' memang sudah sangat lama mereka tidak terlihat menghabiskan waktu bertiga, jadi wajar saja kalau Fiqi sangat antusias dan bahagia..


Ruslan melirik singkat ke arah istrinya itu, akhirnya kesal di hati Ruslan luluh karena Vera telah berhasil membuat Fiqi tertawa bahagia, bagi Ruslan siapapun yang membuat putranya tertawa maka ia akan membuat orang tersebut lebih senang lagi..


Vera terpaksa membatalkan jadwalnya besok, padahal besok ia sudah berjanji dengan teman teman arisannya. Namun ia tidak ingin membuat Ruslan bertambah kesal padanya, dan ia sangat paham kelemahan Ruslan yaitu terletak pada Fiqi anaknya..


Padahal ia sudah membeli satu set perhiasan baru yang akan di kenakannya esok dan pasti akan membuat teman temannya berdecak kagum padanya. Ya.. Vera sering menjadi trend centre di antara teman temannya..


Dan ia akan berkumpul bersama teman temannya yang juga para wanita karir, mereka saling membicarakan kesuksesan dan usaha mereka yang maju dan bersaing. Bagi Vera pembahasan tentang karir saat ini menjadi topi yang sangat menarik..


Bahkan ia lebih senang mengobrol berlama lama dengan teman temannya dari pada dengan suaminya, tidak tahu mengapa Vera begitu cuek pada suaminya ini, ia tidak menyadari kelak kalu sikapnya inilah yang akan menjadi bumerang bagi rumah tangannya nanti..


Lelaki sangat tidak suka bila di abaikan, dan tidak di perdulikan apalagi sosok Ruslan yang gagah dan kaya, pasti tidak sedikit wanita yang siap menggantikan peran Vera di hidup Ruslan..


*Ke esokan harinya*


Hari ini adalah hari yang sangat di nanti oleh Fiqi sebagai anak tunggal nya Vera dan Ruslan, karena ia akan pergi bersama dua orang yang di sayangi nya itu, siapa lagi kalau bukan mami dan papi nya. Mereka mengenakan outfit yang senada, keren dan pastinya sangat menunjukkan kalau mereka memang berasal dari keluarga yang kaya..


Bila orang lain melihat kebersamaan mereka pasti berpikir kalau mereka merupakan keluarga yang bahagia, harmonis dan tidak mungkin ada masalah dalam rumah tangga. Bagaimana tidak, Vera yang selalu berpenampilan rapi dan tentunya polesan make up bold favoritnya yang menambah kepercayaan diri nya..


Di tambah lagi Ruslan yang memang memiliki tubuh yang ideal, tinggi dan memiliki dada bidang yang sempurna, meskipus usianya sudah kepala empat, penampilannya sangatlah keren dan kekinian namun tetap rapi dan bersahaja..


Tidak heren jika anaknya yang bernama Fiqi juga memiliki paras yang rupawan, bagaimana tidak kedua orang tua nya memang merupakan bibit yang unggul, jadi sangat beruntung menjadi Fiqi, terlahir dari keluarga yang kaya raya, dan juga memiliki wajah yang aduhai, kelak dewasa pasti nya akan menjadi idola di sekolahnya dan di gilai para wanita..


"Indah, pakaikan Fiqi sepatu yang baru saya beli kemarin ya !" perintah Vera pada pengasuhnya..


"Baik bu," Indah langsung membuka lemari yang penuh dengan koleksi sepatu Fiqi yang mahal mahal..


"Indah, semua keperluan Fiqi tidak ada yang lupa kan ?" tanya Vera..


"Sudah nyonya"..


"Loh kamu, kenapa belum siap siap?" tanya Vera melihat pengasuh Fiqi yang masih mengenakan seragam kerja nya saat di rumah..


"Oh saya nyonya, maaf.. saya kira hanya nyonya bertiga saja yang pergi,'' jawab pengasuhnya pelan..


"Ya kamu harus ikut dong, kemana Fiqi pergi kamu itu harus ada,'' tutur Vera..


"Baik nyonya,'' Indah lalu bergegas ke kamar nya untuk mengganti pakaian nya..


"Fiqi duduk terdiam di kursi itu, ia tidak bisa membantah permintaan ibunya itu. Tadinya ia pikir memang hanya mereka bertiga yang pergi, karena Fiqi sangat ingin di manjakan oleh Vera seharian ini, jadi Fiqi tidak ingin Indah pengasuhnya itu juga ikut bersamanya..


"Tunggu Indah pi,'' sahut Vera, matanya tetap tertuju pada ponsel di tangannya..


"Indah,'' sahut Ruslan sembari mengerutkan alisnya..


"Iya, kan Indah ikut dengan kita"..


"Loh bukannya kita bertiga saja"..


"Ya gak bisa lah pi, kemana Fiqi pergi si Indah harus kudu ikut"..


"Memangnya kenapa ?"..


"Susi itu kan pengasuhnya Fiqi kan, jadi kalau Fiqi butuh apa apa si harus siaga"..


"Kita kan mau jalan jalan, bukan mau melakukan kegiatan atau semacamnya"..


"Karena kita mau jalan jalan, jadi aku tidak refreshing terganggu"..


"Kan tidak ada yang mengganggu kita"..


"Iya memang, makanya indah harus ikut, biar nanti aku ga kerepotan mengurus Fiqi"..


Vera memang tidak memiliki sisi keibuan di dalam dirinya, bahkan untuk mengajak anaknya jalan jalan saja harus membawa pengasuhnya..


Ruslan menghembuskan nafasnya, Fiqi yang sudah berusia lima tahun itu tentu sudah tidak terlalu merepotkan bila di ajak jalan jalan, apalagi Fiqi merupakan tipe anak yang sangat penurut dan mandiri, jadi tidak mungkin akan begitu repot untuk mengurusnya..


Ingin sekali rasanya Ruslan mengungkapkan yang ada di hati nya saat ini, namun ia sadar ada Fiqi yang sedang duduk disana dan melihat mereka berdua, Ruslan tidak ingin membiarkan Fiqi menyaksikan perdebatan mereka. Dengan berat hati Ruslan menurut akan maunya Vera..


Lima belas menit, akhirnya Indah sudah siap untuk ikut bersama mereka..


"Kita jalan jalan kemana mami, papi ?" tanya Fiqi..


"Emang Fiqi mau nya kemana ?" tanya Ruslan..


"Fiqi pengen berenang papi, di pantai." Jawab Fiqi penuh dengan semangat..


"Berenang ya, kayaknya asik juga nak." Ruslan mengangguk-anggukan kepalanya..


"Iya papi, aku sudah lama tidak berenang dan bermain di pantai"..


"Oke, jadi kita berenang ke pantai ya ?"..


"Mau.. mau.. papi"..


"Coba bilang sama mami deh," suruh Ruslan kepada Fiqi..


"Mami, kita berenang ke pantai yuk ?" ajak Fiqi menghampiri Vera yang tengah asik membalas pesan di ponselnya..


"Oke,'' jawab Vera tidak melirik ke arah Fiqi jari jarinya sibuk menari di keypad ponselnya..


"Kata mami oke pi,'' Fiqi menoleh ke arah Ruslan..

__ADS_1


Ruslan mengacungkan jempolnya tanda setuju, ''Indah siapkan keperluan Fiqi ya, dia mau berenang di pantai !" pinta Ruslan ke pengasuhnya Fiqi..


"Baik tuan"..


Tidak ingin terus beranjak siang, Ruslan langsung mengajak anak dan istri nya naik ke mobil untuk segera berangkat ke pantai yang terdekat dari tempat mereka..


"Fiqi, duduk sama Indah pengasuhnya di belakang ya,'' suruh Vera..


"Tapi Fiqi mau sama mami di depan,'' ucap Fiqi pelan..


"Bukannya mami gak mau, tapi mami harus bikin bahan meeting untuk salon mami, jadi mami harus mengerjakannya di laptop, jadi gak bisa kalau sambil pangkuin kamu di depan"..


"Nanti pulangnya aja baru duduk sama mami ya sayang," Ruslan menambahkan..


"Iya pi.'' Fiqi menuruti kata kata kedua orang tua nya, dengan wajah sedikit sedih ia duduk di pangkuan Indah pengasuhnya..


Sepanjang perjalanan begitu hening, tidak ada obrolan, canda tawa ataupun senda gurau. Ruslan fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan Vera sibuk mengotak atik laptopnya, ia terlihat sangat sibuk..


Sementara Fiqi, masih dalam pangkuan Indah pengasuhnya, yang saat ini siap untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan di sepanjang jalan..


Ruslan hanya bisa berlapang dada melihat sikap Vera yang semakin tidak hangat kepada anak nya ini, demi pekerjaan ia rela membuat hati anaknya kecewa, padahal permintaan Fiqi sangatlah sederhana dan wajar jika seorang anak sangat ingin begitu dengan ibu nya..


Vera tidak ambil pusing sama sekali dengan sikap dingin Ruslan, yang ia tahu saat ini pekerjaannya harus segera di selesaikan, dan ia akan mengerjakan pekerjaannya yang lain lagi..


Ruslan sangat tidak menyukai sikap Vera yang tidak pandai menjaga kehangatan keluarganya, apalagi dia merupakan seorang istri dan juga sekaligus seorang ibu, dimana dialah yang seharusnya menjadi pusat kekuatan dan keceriaan keluarga kecilnya ini..


Ruslan semakin melajukan mobil nya agar segera sampai ke pantai yang di tuju, dan bisa menikmati pemandangan serta menikmati segarnya air pantai yang akan di rasakan nya kelak berenang bersama anaknya Fiqi..


Akhirnya mobil memasuki area pantai juga, karena memang masih pukul sembilan pagi, jadi belum terlihat begitu banyak pengunjung yang datang di pantai itu jadi tidak terlalu susah untuk mencari tempat parkir mobilnya..


Di rasa mobilnya sudah mendapatkan tempat yang aman, Ruslan mengajak putra nya itu untuk turun..


"Loh.. kok kita ke pantai ?" ucap Vera yang baru menyadari kalau mereka sudah di area pantai..


Vera baru saja melepas pandangannya dari laptopnya, sehingga ia baru tahu kalau mereka sekarang sedang berada di pantai..


"Kan Fiqi mau nya berenang di pantai,'' ucap Ruslan..


"Berenang ?" Vera tidak yakin dengan ucapan Ruslan..


"Iya mami, Fiqi mau berenang di pantai,'' sambung Fiqi..


"Kenapa gak berenang di hotel aja, atau di apartement ?" tanya Vera..


"Fiqi kan mau nya berenang di pantai sambil main pasir mami''..


"Tapi kan air pantai belum tentu bersih sayang,'' sahut Vera..


"Nanti kan bisa mandi lagi dengan air bersih.'' Tutur Ruslan..


"Kalau Fiqi memang ingin berenang di pantai gak apa apa, tapi mami gak ikutan ke sana ya"..


"Kenapa gak ikut berenang ?"..


"Mami baru saja luluran kemarin, cuaca sebentar lagi akan panas, mami tidak mau kulit mami jadi kering dan menggelap karena sinar matahari." Ucap Vera..


"Ya sudahlah kamu di sini aja, biar aku yang temani Fiqi berenang di pantai.'' Ujar Ruslan..


"Oke, Indah sana temani Fiqi.'' Suruh Vera pada susi pengasuhnya..


"Baik nyonya"..


Dengan entengnya Vera lebih memikirkan kulitnya dari pada kebahagiaan anak nya. Dan ia tidak paham sekali kalau ucapan Ruslan sebenarnya bentuk tidak suka akan sikapnya..


"Indah kamu ajak Fiqi kesana dulu, sambil membawa karpet ini !" pinta Ruslan..


Indah pun membawa Fiqi ke bawah pohon tepi pantai dan menggelar karpet yang sudah di bawa dari rumah untuk tempat mereka duduk, Fiqi begitu senang melihat pemandangan pantai di depan mata nya, ia tidak sabar ingin segera masuk ke dalam genangan air asin itu..


"Kamu ini kenapa sih, gak bisa apa memikirkan kebahagiaan Fiqi sedikit ?" tanya Ruslan pada Vera yang masih asik dengan laptop nya..


"Maksud papi apa ?" Vera malah balik bertanya..


"Tadi kamu bilang oke waktu dia minta berenang di pantai"..


"Ya aku pikir kita kan di hotel atau tempat yang lebih nyaman"..


"Selalu saja lebih mementing diri kamu sendiri !" Ruslan mulai kesal..


"Aku sudah batalkan janji aku dengan teman teman hari ini, dan papi masih bilang aku mementingkan diri sendiri ?" sanggah Vera..


"Janji apa, janji ngerumpi kalian itu !" tanya Ruslan..


"Papi, jangan sembarangn ya, kami itu wanita karir jadi tidak ada waktu membahas hal yang tidak penting, ataupun untuk ngerumpi." Bantah Vera..


Vera dan Ruslan terlibat adu mulut di dalam mobil, mereka tidak ingin mengalah satu sama lain. Apalagi Vera, ia bisa menjawab semua protesan Ruslan, karena memang ia sangat pandai berdebat dan mematahkan omongan lawan bicara nya..


Tidak ingin perselisihan ini semakin panjang dan tidak kunjung selesai, Ruslan segera keluar dari mobil, dan membanting keras pintu mobilnya, ia berusaha untuk tetap tenang agar Fiqi tidak tahu kalau ia baru saja berdebat dengan ibunya itu..


"Papi, kenapa lama sekali ?" tanya Fiqi..


"Maaf sayang, tadi papi terima telepon sebentar..


"Oh.. ayo pi, kita berenang ke pantai yuk." Rengek Fiqi dengan manja khasnya..


"Ok jagoan papi, tapi nanti sebelum jam dua belas kita selesai ya sayang,'' pinta Ruslan..


"Siap papi"..


Ruslan begitu senang melihat senyuman yang telah terukir dari bibir putranya itu, ia tidak habis pikir kenapa istrinya yang sekaligus ibu dari anaknya itu bisa melewatkan momen langka seperti ini bersama anak mereka padahal momen seperti ini belum tentu bisa terulang kembali, apa hidupnya hanya untuk karir dan karir, entahlah..


Sudah lebih dari satu jam Fiqi dan Ruslan menikmati air asin itu, matahari terus beranjak dan sinarnya semakin menyengat kulit. Ruslan mengajak Fiqi untuk menyudahi kegiatan renang mereka, khawatir Fiqi akan kepanasan karena matahari sudah mulai naik dan panas..


"Fiqi ayo kita mandi air bersih,'' ajak Ruslan..


"Ok papi"..


Tiba tiba saja Vera menghampiri mereka yang akan pergi ke pemandian air bersih..


"Sayang, papi, lihat sini sebentar dong !" pinta Vera sambil memegang ponselnya dan mengarahkan kamera ke arah nya dan juga Ruslan dan Fiqi..

__ADS_1


Rupanya Vera mengambil video dan gambar kalau diri nya sedang bersama dengan suami dan anak nya menikmati suasana pantai, dan tentu saja video itu akan ia posting di sosial media milik nya, dan orang akan mengira kalau mereka adalah keluarga yang harmonis..


Begitulah Vera lebih mengutamakan ego dan kepentingan dirinya sendiri, bagi nya harga diri dan image nya lebih utama di banding segala nya, ia semakin tidak menyadari kalau sikap nya akan membawa bencana besar dalam rumah tangga yang ia jalani selama bertahun tahun ini..


__ADS_2