
Mawar masih menunggu Ruslan turun, berharap Ruslan bisa mengantarnya pulang malam ini. Mawar akhirnya tertidur di kamar Fiqi, matanya begitu berat hingga ia tidak sanggup untuk menahan kantuknya lagi, dan kini ia telah terlelap di tempat tidur Indah pengasuhnya Fiqi..
Sementara di ruangan yang besar ini, di depan layar laptop yang menyala, lelaki itu masih termenung memikirkan akan perasaannya sendiri, dan sibuk menghalau gejolak di dalam dirinya saat ini, ia tidak tahu harus berbuat apa karena hasratnya enggan juga surut..
Rupanya Ruslan tidak bisa memejamkan matanya, karena terus teringat bayangan tubuh mawar yang mengusiknya sejak tadi. Tidak tahu kenapa bayangan itu terus mengganggunya, hingga ia tidak bisa menenangkan dirinya sendiri saat ini, bayangan Mawar terus melintas di otaknya membuatnya sungguh tidak sanggup memejamkan mata ini..
Ruslan melirik jam di ruang kerjanya, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua malam, namun matanya masih saja menyala, tidak ada tanda akan tertidur. Karena bingung perasaannya semakin kacau, apalagi bayangan Mawar semakin berani melintai di imajinasinya..
"Sial !, kenapa dia terus mengganggu pikiranku, padahal aku hanya melihatnya sebentar !" umpat Ruslan kepada dirinya sendiri, yang tidak mampu menepis bayangan Mawar di pikirannya..
Kesal akan dirinya yang tidak mampu menghalau rasa tidak menentu ini, Ruslan melirik lemari kecil yang ada di sudut ruangan, botol kaca itu masih berisi seperempat cairan, di ambilnya botol itu. Ya.. di saat pikirannya sedang kacau dan kesal akan dirinya sendiri saat ini, Ruslan memang biasa meluapkan emosinya di temani minuman yang baginya dapat mengurangi rasa kesal dan kecewa di kesendiriannya malam ini..
Setelah meminum habis bir itu, Ruslan terasa melayang, matanya sudah mulai memerah. Ia kira dengan menegak minuman yang cukup memabukkan ini, maka ia akan melupakan bayangan tubuh Mawar yang mengganggunya, tapi nyatanya bayangan itu semakin jelas, dan semakin melekat di otaknya, hingga Ruslan semakin kesal pada dirinya..
"Brengsek !" teriak Ruslan seraya membanting benda yang ada di meja sudut ruangan itu, untung saja itu hanya hiasan meja yang terbuat dari plastik, jadi tidak menimbulkan suara yang kencang. Ruslan mengusap kasar wajahnya, ia kesal akan dirinya yang tidak bisa mengontrol diri malam ini..
"Apa apaan aku ini !, bukankah hal seperti itu biasa begiku, bahkan di luar negeri sana begitu banyak perempuan yang berpakaian lebih minim, dan di sana siapa saja bisa melihat mereka tanpa busana sekalipun, tapi mengapa setelah aku melihat dia, pikiran ku jadi terganggu dan hati ku menjadi terusik, sial ! apa aku sudah mulai tergoda dengan gadis polos itu !" Ruslan kembali mengusap kasar wajahnya..
Harusnya di saat seperti inilah Ruslan sangat membutuhkan Vera, sebab ia baru saja melihat tubuh wanita lain dan ia tergoda, hasratnya memuncak birahinya terpanggil, maka ia harus segera menyalurkan hasrat itu namun sayangnya istrinya sedang tidak berada di dekatnya, dan sekarang ia tengah kesusahan untuk menahan naluri kelelakiannya, sungguh membuatnya semakin tidak karuan, emosi yang berakibat terbantingnya semua barang yang ada di ruang kerja miliknya..
Kemarin kemarin Ruslan hanya mengagumi pribadi mawar dan wajah manisnya. Namun belum ada terpikir oleh Ruslan kalau ia akan terusik oleh Mawar sejauh ini. Sebagai lelaki normal tidak bisa di pungkiri, lelaki mana yang tidak tergoda dengan fisik perempuan yang begitu sempurna, begitu juga dengan Ruslan setelah ia melihat kemolekan dan kemulusan tubuh Mawar, tentu ia semakin memiliki ketertarikan kepada Mawar..
Masih terekam jelas di otaknya, rambut indah Mawar yang terurai, tubuh langsing, putih dan mulus milik Mawar yang memang menggoda. Apalagi Ruslan juga melihat belahan dada Mawar yang menyembul indah di balik kain berwarna merah tadi, membuat Ruslan harus menelan air liurnya, ia memang sudah lama tidak merasakan gejolak seperti ini, ada sesuatu yang aneh di rasakan hatinya, seolah ia baru pertama melihat hal itu..
Terbesit di pikiran Ruslan kalau ia ingin menghubungi Vera saat ini, saat ia hendak menekan icon hijau itu pada kontak nama Vera, Ruslan kembali berpikir lagi, rasanya tindakannya ini kurang tepat. Dengan menghubungi Vera semuanya tidak akan selesai, belum tentu Vera mengerti akan dirinya dan belum tentu juga Vera di seberang sana akan menjawab panggilan dari nya, apalagi sudah pukul dua dini hari Ruslan harus kembali menyimpan ponselnya dan duduk termenung di meja kerjanya yang sudah tidak beraturan..
Untung saja bir di dalam botol itu hanya seperempat, jadi tidak terlalu memberikan efek mabuk kepada Ruslan, hanya saja mata Ruslan ememrah dan tentu ia sedikit uring-uringan karena efek dari minuman itu, Ruslan meninggalkan ruang kerjanya yang sedang berantakan, ia kembali ke kamar tidurnya ia berharap matanya akan terpejam saat berada di kamarnya nanti..
Baru saja ia mau mulai mendaratkan bokongnya di tempat tidur itu, tiba tiba tenggorokannya terasa sakit mungkin ia membutuhkan air putih untuk membasahi tenggorokannya agar sedikit legah..
"Sial !, habis. Aku lupa menyuruh mbok Inem mengisinya, Ruslan melihat botol minumannya yang kosong itu"..
Karena ia begitu merasakan haus, dan tenggorokannya terasa panas. Ruslan meraih botol minum itu dan keluar dari kamarnya untuk turun ke bawah mengisi botol minumannya. Ruslan menuruni anak tangga dengan perlahan, karena pandangan matanya mulai berkunang-kunang akibat dari minum bit itu dan juga kepalanya terasa sedikit pusing..
Botol kosong itu sudah terisi air minum, Ruslan beranjak dan segera kembali ke kamar tidurnya, ia berharap masih bisa memejamkan mata untuk malam ini, karena besok pagi ia pasti memiliki begitu banyak kegiatan, apalagi ia memiliki janji pada Fiqi untuk menonton video ujiannya, tentu saja Ruslan tidak mau terlihat berantakan atau kurang tidur di depan anaknya..
"Kenapa kepalaku berat sekali ya, bukankah aku hanya sedikit menegak minuman itu,'' Ruslan memegang kepalanya, ia merasakan pusing yang hebat di kepalanya, sementara tangan satunya memegang botol minum yang ukurannya cukup besar..
Mungkin karena kondisi Ruslan yang baru saja sehat, namun ia nekat meneguk minuman keras, jadi saat ini kepalanya merasakan pusing yang hebat, dan akibatnya ia merasakan kesakitan, hingga Ruslan tertaih berjalan. baru saja ia hendak menaiki anak tangga itu, Ruslan tidak sanggup menahan pusing di kepalanya, hingga ia nyaris terjatuh..
Hampir saja kepada Ruslan mengenai sudut pegangan tangga itu, namun untunya dengan cepat Mawar menopang tubuh Ruslan yang besar tinggi itu, Mawar berusaha menolongnya agar kepala Ruslan terhindar dari sudut pegangan tangga. Dengan susah payah, dan Mawar mengambil botol minum di tangan Ruslan yang satunya dan meletakkannya di lantai..
"Pak, bapak kenapa ?, bapak tidak apa apa kan ?" tanya Mawar pelan dan sedikit panik melihat Ruslan yang sudah tidak membuka matanya dan terus memegangi kepalanya dengan langkah yang tergopoh..
"Kepala saya sakit sekali." Rintih Ruslan mungkin ia merasakan sesuatu yang menusuk di kepalanya..
"Kenapa pak ?, sebaiknya bapak duduk dulu." Mawar tertatih menopang tubuh Ruslan, dan menggesernya agar Ruslan bisa duduk di salah satu anak tangga itu. Mawar mengambil botol minum Ruslan lalu membukanya dan memberikan minum itu kepada Ruslan..
Ruslan yang memang haus sejak tadi begitu dahaga meneguk air dari botol itu, Mawar dengan sabar memegangi botol agar Ruslan bisa meminumnya dengan mudah..
Sebenarnya Mawar merasakan dan mencium aroma yang kurang sedap dari mulut Ruslan, seperti aroma minuman keras, namun Mawar tidak mau berprasangka buruk kalau Ruslan sebenarnya tengah mabuk malam ini. Mawar tidak mau ikut campur urusan lelaki ini, yang ia tahu hanya membatu Ruslan yang nyaris terjatuh, karena tidak ingin kepada Ruslan terbentur sudut pegangan yang terlihat runcing itu..
"Bapak baik baik saja ?" tanya mawar pelan, sebenarnya ia takut untuk menanyakan ini namun untuk memastikan keadaan Ruslan maka Mawar harus menanyakannya..
"Saya tidak apa apa, saya baik baik saja kok Mawar." Ruslan masih menunjukkan sifat gengsinya, ia mengambil botol minumnya dan ingin kembali mencoba menaiki anak tangga itu menuju ke lantai atas..
Mawar membiarkan Ruslan yang mencoba berdiri sendiri, karena Mawar pun tidak ingin lancar untuk mengatar atau pun mencegahnya berjalan sendiri ke atas. Mawar hanya diam melihat Ruslan yang saat ini mencoba menaiki satu persatu anak tangga itu..
__ADS_1
Ruslan telah menaiki tiga anak tangga, namun Mawar belum beranja dari sana, karena Mawar merasa khawatir takut Ruslan terjatuh, sebab dari matanya terlihat kalau Ruslan sedang tidak baik baik saja, dan juga dari langkahnya sangat menggambarkan kalau Ruslan tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri..
Benar saja saat Ruslan mencoba melangkahkan kaki kirinya ke anak tangga yang ke empat, telapak kaki nya meleset, hingga membuat ia nyaris terjatuh untuk kedua kalinya, beruntung Mawar yang masih di situ begerak cepat, ia kembali menopang tubuh tinggi Ruslan..
Sebenarnya tubuh kecil Mawar sangat merasa terbebani oleh tubuh Ruslan, namun karena kekhawatirannya Mawar pun mengerahkan seluruh tenaganya, agar ia bisa membatu Ruslan malam ini untuk segera sampai ke lantai atas menuju kamarnya..
"Bapak tidak apa apa kan ?, biar saya bantu, saya takut bapak terjatuh lagi." Ucap Mawar terbata-bata, karena sambil menahan beban berat badannya Ruslan yang dua kali lipat lebih besar dari badannya..
"Kepala saya sakit, mata saya berkunang-kunang, badan saya lemas." Ucap Ruslan samar samar yang di sertai rintihan, sambil terus memegang kepalanya, terlihat kepalanya sangat terbebani..
"Biar saya bantu bapak ke atas ya, saya takut bapak terjatuh lagi,'' pinta Mawar lagi yang kembali mengambil tangan Ruslan untuk di letakkan di pundaknya dan tangan Mawar kembali menopang punggung Ruslan, dengan tertatih Mawar memberikan arahan kepada Ruslan, agar melangkahkan kakinya dengan pelan pelan menaiki anak tangga..
Memakan waktu yang cukup lama menaiki anak tangga itu, karena Ruslan sangat lemah dan mungkin kepalanya semakin berat. Sebentar lagi mereka akan sampai ke depan pintu kamar Ruslan..
Ada perasaan takut di hati Mawar untuk mengantar Ruslan sampai ke kamar, bukan !, bukan takut Ruslan menyerangnya, tapi mawar takut nanti Ruslan mengira dirinya lancang, dengan beraninya memasuki kamarnya tengah malam seperti ini. Padahal Mawar hanya ingin memastikan Ruslan sampai ke tempat tidurnya dengan baik baik saja..
"Pak, sudah sampai di depan kamar." Ucap Mawar pelan kepada Ruslan, sayangnya Ruslan mulai tidak sadarkan diri, matanya terpejam dan tubuhnya membungkuk, hingga kepalanya jatuh ke pundak Mawar..
"Pak, pak Ruslan,'' panggil Mawar kepada suami Bos nya itu..
Ruslan tidak menjawab panggilan Mawar, apakah Ruslan sudah tertidur, atau mungkin Ruslan yang sudah tidak sadarkan diri..
Mawar jadi panik ia bingung harus melakukan apa, sementara Ruslan saat ini tidak membuka matanya dan tidak menyahut saat di panggilnya sama sekali..
Karena tidak sanggup terus menopang tubuh Ruslan, Mawar pun memberanikan dirinya untuk menarik knop pintu kamar Ruslan, dan akhirnya pintu kamar itu pun terbuka. Dengan tertatih dan susah payah Mawar menyeret tubuh Ruslan agar di baringkan ke atas tempat tidurnya itu..
"Ayo pak, langkahkan kakinya sudah sampai di kamar bapak, sebaiknya bapak pergi istirahat." Ucap Mawar, ia berharap Ruslan masih sadar dan bisa melangkahkan kakinya, karena sungguh tenaga Mawar tidak sanggup kalau harus menopang sepenuhnya tubuh Ruslan hingga sampai ke ranjang besar itu..
Mungkin Ruslan kehilangan delapan puluh persen kesadarannya saat ini, matanya memang terpejam dan tubuh nya tidak berdaya, namun langkah kakinya masih bisa di gerakkan, mungkin karena ia puntidak tega melihat Mawar yang kelelahan akibat berat tubuhnya..
'Ya ampun, berat banget sih pak Ruslan !, sakit tangan aku nahannya.' Keluh Mawar di dalam hati, ia memang merasa kelelahan sekarang..
'Akhirnya sampai juga ke tempat tidur ini, gilaa !, tangan aku capek banget !.' Gerutu Mawar di dalam hati..
Mawar pun melepaskan tangan Ruslan dari pundaknya dengan perlahan, dan Mawar juga memindahkan tangannya yang menopang punggung Ruslan, kini kedua tangan Mawar ingin bertumpu di pinggan Ruslan, agar ia bisa memposisikan Ruslan berbaring nyaman di tempat tidur itu..
Namun kenyataannya tidak sesuai dengan ekspetasi Mawar, kedua tangannya tidak sanggup menopang tubuh Ruslan, alhasil baru ia meletakkan kedua tangannya di pinggang Ruslan, Ruslan pun langsung tumbang dan kini tubuh Mawar tertindih oleh tubuh besar Rulan di atas tempat tidur itu..
"Aww.." rintih Mawar spontan saat tubuh Ruslan mengenai tubuhnya, untung saja tubuh Ruslan tidak tepat berada di atasnya, hanya sebagian pinggiran bahu dan kaki yang mengenai tubuh Mawar, jadi Mawar masih bisa bergerak dan menahan kesakitan yang di rasakannya saat ini..
"Aduh.. sakit, sakit pak !, pak permisi !" teriak Mawar kepada Ruslan, Mawar kini tidak peduli lagi, Ruslan sadar atau tidak yang jelas ia ingin segera beranjak dari tindihan sebagian badan Ruslan yang berat ini..
Namun Ruslan tidak menyahuti rintihannya sama sekali, apa mungkin kini Ruslan telah kehilangan semua kesadarannya, hingga hanya diam saja dan terpaku di atas tempat tidur itu..
'Ya ampun, kayaknya pak Ruslan pingsan deh !' Mawar merintih lagi dan ia berusaha menyingkirkan tangan, badan dan kaki Ruslan yang mengenai sebagian tubuhnya. Mawar bergerak dengan bersusah payah untuk bisa keluar dari dekapan sepatuh tubuh Ruslan..
Setelah bersusah payah akhirnya Mawar pun bisa keluar dari dekapan tubuh Ruslan, Mawar meregangkan otot ototnya dan merapikan kembali rambutnya yang acak acakan..
'Sakit banget tangan aku, ya ampun !, kayak habis di timpa sama lemari aja." Ucap Mawar pelan, tentu ia tidak mau ucapannya di dengar oleh Ruslan..
Sebenarnya Mawar sangat ingin kembali lagi ke bawah untuk merebahkan dirinya di kamar Fiqi, namun ia tidak tega melihat keadaan Ruslan yang saat ini sedang tertidur dengan posisi tertelungkup, dan sebagian kakinya masih menjuntai di pinggir tempat tidur. Mawar tidak mungkin membiarkannya, karena Mawar memang memiliki sisi kepedulian yang tinggi terhadap orang lain..
Maka untuk kesekian kalinya, Mawar harus mengeluarkan tenaganya dan bersusah payah untuk membenarkan posisi Ruslan saat ini, ia pun mengangkat kaki ruslan yang terjuntai itu, agar berada di atas tempat tidurnya. Namun untuk posisi tubuh Ruslan yang tertelungkup Mawar tidak mungkin untuk membalikan tubuhnya, karena jujur Mawar sudah kehabisan lebih dari separuh tenaganya..
"Udah ah, yang penting pak Ruslan sudah di tempat tidur sekarang, capek juga aku malam ini", Mawar memutar badannya dan akan segera meninggal kan Ruslan..
"Haus, aku haus." Suara Ruslan terdengar serak..
__ADS_1
Mawar kembali menoleh ke arah Ruslan, ia meneliti apakah Ruslan sudar sadar atau belum, namun di lihatnya mata Ruslan masih terpajam dan tubuh Ruslan pun masih tertelungkup seperti tadi, 'lalu siapa yang bicara baru saja', ucap Mawar di dalam hati..
"Pak, bapak mau minum kah ?" tanya Mawar mendekati wajah Ruslan yang menempel di permukaan kasur itu..
"Mau minum." Jawab Ruslan singkat..
"Oh.. baik, sebentar ya pak." Mawar pun keluar dari kamar itu sambil berlari mengambil botol minum Ruslan yang tertinggal di dekat tangga tadi..
"Sebenarnya, pak Ruslan pingsan apa gak ya ?, di bilang pingsan tapi barusan kok dia bisa ngomong, tapi kalau gak pingsan kenapa tadi dia tidak menjawab saat aku panggil, terus kok badannya berat banget sampai sakit sakit semuanya ini tangan aku !" keluh Mawar..
"Ini pak minumannya," ucap Mawar kepada Ruslan yang masih memejamkan mata dan tidak berubah di posisi tadi, dan ia diam saja tidak menjawab omongan Mawar lagi..
'Kok pak Ruslan diam aja ya ?, sebenarnya pak Ruslan sadar apa gak ya ?,'' Mawar bertanya tanya pada dirinya sendiri, sambil mengamati wajah Ruslan yang terlihat sedikit sendu..
Karena penasaran Mawar pun mengarahkan tangannya ke arah hidung Ruslan, ia ingin merasakan apakah Ruslan masih bernafas atau tidak, namun saat ia mengarahkan tangannya tiba tiba Ruslan langsung meraih tangannya dan menggenggam tangan Mawar..
"Sudah pulang kamu ?", suara Ruslan terdengar serak dan samar samar, matanya pun masih terpejam..
Mawar terkejut dan ia bingung akan ucapan Ruslan, ia tidak mengerti maksud pertanyaan Ruslan apa, Mawar berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ruslan. Sungguh menyebalkan ternyata di saat tidak sadarkan diri seperti ini, tenaga laki laki tetaplah lebih kuat di bandingkan dengan tenaga wanita..
"Bapak sepertinya tidak sadar, ini saya Mawar pak !" ucap Mawar masih berusaha menarik tangannya agar terlepas dari tangan Ruslan..
"Mami kenapa sih pergi pergi terus, dan baru pulang sekarang ?" Ruslan bukannya melepaskan tangan Mawar, malah kembali bertanya dan pertanyaannya kembali membuat Mawar semakin bingung..
'Aku tidak mengerti maksud dari pertanyaan pak Ruslan ini apa, atau pak Ruslan berpikir, aku ini ibu Vera ya, tadi dia bilang mami,'' desis Mawar di dalam hati..
"Maaf pak ini saya Mawar, bapak tadi terjatuh di tangga dan saya terpaksa menolong bapak sampai ke kamar ini, pak..bapak sadar ya, tolong lepasin tangan saya pak." Pinta Mawar sambil menarik tangannya agar terlepas dari tangan Ruslan..
Mungkin kali ini Ruslan mendengar ucapan Mawar, Ruslan menggerakkan matanya dan tangannya kembali memegang kepalanya, mungkin sakit kepalanya masih menyerangnya namun Ruslan berusaha untuk membukakan matanya agar bisa melihat jelas siapa yang ada di depannya saat ini..
"Aaghh.. kamu, kamu Mawar," Ruslan pun langsung melepaskan tangannya dari tangan Mawar yang sudah di genggamnya cukup lama..
Mawar yang merasa lega karena tangannya terlepas dari genggaman tangan Ruslan, ia langsung mengayun-ayunkan tangannya, karena memang ia merasakan sakit yang lumayan di telapak tangannya, akibat genggaman tenaga Ruslan yang memang kuat baginya..
"Iya saya Mawar pak." Jawab Mawar mungkin kali ini hati Mawar telah dongkol atas tingkah Ruslan malam ini yang cukup menyusahkannya..
Ruslan langsung beranjak dari tidurnya dan duduk di atas kasurnya, ''maaf ya Mawar, saya kira kamu itu istri saya, maaf.. saya tidak sengaja," Ruslan langsung merasa tidak enak hati atas apa yang telah ia lakukan kepada Mawar..
"Iya pak, tadi bapak hampir terjatuh dan saya mengantar bapak ke atas tapi saat hendak masuk kamar bapak udah tidak sadarkan diri dan tidak menjawab, maka saya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar bapak agar bisa merebahkan bapak di tempat tidur, mohon maaf jika saya lancang ya pak,'' ucap Mawar sambil menunduk ia sungguh merasa tidak enak atas kelancangan nya telah berani masuk ke kamar Ruslan..
Meskipun sempat tidak sadar kan diri sebentar, namun Ruslan masih mengingat jelas semuanya, apa yang di katakan Mawar memanglah benar terjadi, justru saat ini ia yang merasa telah bersalah kepada Mawar, karena telah menyusahkan diri Mawar dan sekarang membuat Mawar menjadi merasa terpojok seperti ini seolah ia begitu lancang dengan beraninya memasuki kamar pribadinya..
"Iya Mawar tidak apa apa, justru saya yang harusnya minta maaf karena telah merepotkan kamu, maaf mungkin kondisi saya lagi belum fit jadi kepala saya kembali sakit." Terang Ruslan..
"Iya pak, sebaiknya bapak kembali minum obat setelah itu istirahat kembali,'' Mawar memberikan saran kepada Ruslan..
"Tidak apa apa Mawar, saya tidak perlu minum obat lagi hanya butuh istirahat, saya akan tidur sekarang. Terima kasih ya karena telah menolong saya dan mengantar saya kesini, maaf atas sikap saya tadi, saya tidak sengaja." Ucap Ruslan sepertinya kali ini Ruslan yang merasa tidak enak hati kepada Mawar..
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu ya pak, saya mau ke bawah dulu." Pamit Mawar kepada Ruslan, Mawar pun meninggalkan kamar Ruslan turun kembali ke bawah memasuki kamar Fiqi..
Ruslan yang baru saja di tinggalkan oleh Mawar, masih termenung di kamarnya sendirian, kini ia sedang berpikir kenapa dirinya bisa tidak sadarkan diri, padahal ia hanya minum seperempat dari isi botol itu, biasanya ia bahkan menghabiskan satu botol penuh di kala hatinya tengah kesal..
"Kenapa aku bisa lemas seperti ini dan kenapa aku bisa tidak sadarkan diri ya, begitu memalukannya !, apa yang telah ku lakukan kepada gadis itu ?, aku harap diriku tidak melakukan sesuatu yang di luar batas,'' ucap Ruslan pada dirinya sendiri..
Ruslan meraih botol minumannya dan meneguk kembali air putih itu, lalu ia merebahkan tubuhnya dan akan mengistirahatkan diri nya, karena hari sudah hampir pagi, dan ia hanya memiliki sedikit waktu untuk bisa tidur lagi, maka ia akan memanfaatkan beberapa jam itu untuk memejamkan matanya..
'Apa yang aku lakukan terhadap gadis itu ?, aduh kenapa aku jadi kepikiran dan aku jadi penasaran seperti ini !, apa aku harus bertanya kepadanya, tapi.. apa mungkin ia akan menjawab pertanyaanku, ah.. sudahlah aku tidak mengerti akan diriku malam ini, kenapa aku bisa tidak jelas seperti ini.' Ruslan memaksa dirinya untuk segera memejamkan matanya, agar ia bisa istirahat dari semua kekesalan yang ia lalui malam ini..
__ADS_1
Ruslan tidakĀ menyangka, berawal dari ketidak sengajaannya melihat indahnya tubuh Mawar dan membuat gairahnya memuncak, hingga ia tidak sanggup membendungnya dan akhirnya minuman itu jadi pelampiasan, namun justru gara gara minuman itu ia menjadi tidak enak hati dan merepotkan Mawar malam ini..