Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Terjebak Rasa


__ADS_3

Sama seperti kemarin pengunjung Mall hari ini tidak kalah ramai, apalagi hari ini adalah hari minggu dimana hari ini merupakan giliran Mawar dan Riri yang mendapat bagian menjaga di stand terlebih dahulu, sementara Eca dan Gina stand by di salon..


Mawar dan Riri sudah sibuk melayani pengunjung yang berlalu lalang, mereka sibuk mempromosikan treatment dan diskon yang di tawarkan oleh salon mereka..


Tidak lama kemudian Ruslan membawa anaknya Fiqi pergi berkunjung, mereka membawa dua kotak donat ternyata Fiqi memang sangat menyukai donat itu, jadi setiap dia pergi ke Mall dia harus membeli donat itu..


"Papi, donat yang satu kotak ini untuk kak Mawar dan kawan kawannya kan ?" tanya Fiqi kepada Ruslan..


"Boleh, biar mereka semua juga ikut makan donat ya." jawab Ruslan..


Fiqi sangat bahagia karena Ruslan selalu menuruti kemauannya, dan hari ini kebahagiaannya semakin bertambah karena ia bertemu dengan Mawar lagi, dia sangat merindukan Mawar karena memang sudah lama ia tidak bertemu dengan Mawar..


Tidak terasa sebentar lagi jam makan siang pun tiba, Mawar dan Riri segera menyelesaikan pekerjaannya dan merapikan meja kerja mereka yang sedikit berantakan dan merepaikan penampilan mereka agar tetap enak di lihat oleh Vera nanti..


Dari kejauhan telah terlihat batang hidung Vera dan juga Gina serta Eca mengiringinya dari belakang..


"Oke waktunya makan siang ya, saya sudah order, sebentar lagi datang kita makan siang sama sama ya." Ucap Vera pada karyawannya..


"Papi.. papi beliin donat lagi Fiqinya ?" Vera sambil berbisik bertanya kepada RUslan..


"Iya soalnya dia mau lagi tadi, aku gak tega kalau gak beliin Fiqi"..


"Papi jangan terlalu memanjakan Fiqi, dia itu harus menjaga kesehatan giginya, kalau papi kasih dia makanan manis terus nanti giginya itu akan bermasalah, mami gak mau ya gigi Fiqi itu sampai ada yang bolong !" sungut Vera pada suaminya..


"Fiqi itu selalu rajin sikat gigi sebelum tidur dan pagi hari, jadi gak mungkin gigi Fiqi bolong, lagi pula dia makan donat pun tidak setiap hari,'' selah Ruslan..


"Iya papi donat ini kan manis, pasti menyisakan gulanya di gigi Fiqi, pokoknya mami gak mau tahu ya, papi gak boleh beliin donat ini lagi !" tegas Vera..


"Kamu ini apa apaan sih, ini kan hanya donat dan gigi Fiqi pun baik baik saja !, tidak usah berlebihan, seharusnya kamu itu lebih mementingkan kebahagiaan Fiqi bukan ketakutan kamu itu !" Ruslan mulai kesal..


Ke empat karyawan mereka yang duduk di depan sebenarnya mendengar perdebatan mereka walaupun mereka sambil berbisik bisik, namun ke empatnya pun diam seolah tidak tahu dan mereka terus menikmati makan siang itu dan juga mengajak Fiqi bersenda gurau agar Fiqi tidak mendengar dan tidak tahu kalau kedua orang tuanya sedang berdebat kecil..


"Adik kecil, kak Eca mau dong donat nya, mana buat kak Eca ?" tanya Eca manis kepada Fiqi..


"Ada kok, Fiqi sudah belikan satu kotak untuk kak Mawar dan juga kawan kawan kak Mawar, itu kotaknya ada dekat papi." Tunjuk Fiqi ke arah Ruslan..


"Ah mau dong !, buruan Mawar ambil donatnya !" Riri sangat tidak terlihat sabar..


"sabar, lihat tuh pak Ruslan sama bu Vera lagi bisik bisik tetangga,'' bisik Gina menyahuti Riri..


"Kita makan siang dulu, baru gue ambil itu donat, kalau gak makan nasi gue gak mau ambilin." Goda Mawar ke Riri, mereka berdua memang sangat dekat di banding dengan yang lain..


"Iya.. iya.. ini mau makan nasi, habis itu ambilin ya ?" Riri merengek manja kepada Mawar..


Mereka berempat pun melahap makanan yang sudah di order oleh Vera bersama sama dan juga Fiqi duduk bersama dengan mereka. Sementara di sudut sana ada Vera dan Ruslan yang juga menyantap makanan mereka sambil mengobrol..


"Ayo adik kecil di makan sayang ini nasi nya," ucap Mawar kepada Fiqi karena ia meliha Fiqi hanya diam saja dan menatap ke arah orang tua nya disana..


"Fiqi mau makannya di suapin sama mami,'' ucap Fiqi pelan..


"Oh adik kecil mau di suapin mami, ayo kakak antar ke sana ya, dan ini kak Mawar bawain ya nasi nya,'' tawar Mawar membawakan kotak nasi milik Fiqi dan menghampiri Ruslan dan juga Vera disana..


"Mami, Fiqi makannya mau di suapin mami,'' pinta Fiqi dengan sangat lembut kepada Vera..


"Aduh Fiqi mami kan juga lagi makan, dan setelah ini mami ada janji dengan teman mami, jadi mami gak bisa lama lama, Fiqi makan sendiri ya, Fiqi kan sudah besar harus bisa makan sendiri, harus mandiri oke !" jawab Vera..


Fiqi pun tertunduk kecewa mendengar jawaban ibunya itu, dia hanya bisa pasrah dan berbalik badan..


"Oh ya sudah kalau begitu adik kecil, kak Mawar yang suapin kamu ya ?" tawar Mawar dengan sangat lembut kepada Fiqi..


"Nah iya Fiqi di suapin sama kak Mawar aja ya, sana makan disana ya Fiqi !" Vera menimpali ucapan Mawar..


Mawar pun menuntun Fiqi untuk kembali ke tempat ia duduk tadi, Mawar mengusap kepala Fiqi dengan lembut. Perlakuan Mawar saat ini sungguh menyejukkan mata Ruslan..


Wajah Ruslan mulai memperlihatkan kekesalannya, ia begitu kesal karena Vera selalu saja menolak permintaan Fiqi anaknya, padahal Fiqi tidak pernah minta sesuatu yang berlebihan..

__ADS_1


"Memangnya janji kamu itu jam berapa sih ?, sampai kamu tidak sempat untuk menyuapi anak kamu makan," protes Ruslan kepada Vera yang sedang asik mengunyah makanannya..


"Ya habis makan siang ini papi, orangnya tadi sudah menghubungi aku, dia itu orangnya sangat on time, gak boleh telat apalagi buat dia menunggu, nama baik aku harus di jaga dong papi." jawab Vera..


"Selalu saja begitu, kamu tidak bisa menuruti kemauannya sangatlah mudah, hanya minta di suapi oleh ibunya, masa kamu tidak bisa sih !" Ruslan terus cemberut kepada Vera..


"Bukan tidak bisa papi, tapi kan dia itu sudah besar ya, dia harus bisa belajar mandiri, Fiqi kan sudah bisa makan sendiri lagi pula sudah ada Mawar yang mau menyuapi dia, Vera melirik Mawar yang sangat telaten menyuapi Fiqi disana"..


"Mawar itu siapa, dia itu orang lain, Fiqi mintanya di suapin oleh kamu ibunya sendiri, bukan Mawar !" tegas Ruslan..


"Yang penting kan Fiqi mau pi, bukannya Fiqi itu sudah mengenal Mawar dan sepertinya dia sangat nyaman di dekat Mawar, biarin aja sih pi, kan bagus kalau udah nyaman dekat Mawar, jadi aku gak perlu repot repot lagi ngurus Fiqi kalau gak ada si Indah." Ujar Vera..


"Kamu selalu saja mengandalkan orang lain, harusnya kamu malu, kamu itu kan ibunya, harusnyakamu yang selalu ada untuk anak kamu sendiri bukannya orang lain !." Ruslan meninggalkan Vera di sana dan menyudahi makan siangnya. Ia tidak ingin semakin terbawa emosi, oleh karena itu ia meninggalkan Vera untuk beberapa saat untuk menenangkan dirinya sendiri..


'Apaan sih papi ini, selalu saja aku yang salah, selalu saja anaknya yang di manjakannya !, gerutu Vera dalam hatinya tidak terima akan sikap Ruslan..


Kring.. kring.. kring.. ponsel Vera berdering, ia pun segera menjawab panggilan itu..


"Ya halo, oh oke.. sudah disini ?, oke.. sepuluh menit lagi saya kesana ya, tunggu sebentar oke"..


Vera menyudahi makannya dan meneguk segelas air putih itu, serta mengelap bibirnya yang terkena minyak makanan itu dengan tisu, ia pun kembali memoleskan lipstiknya dan juga merapikan riasan wajahnya serta memastikan penampilan agar tetap fresh dan oke, karena ia akan bertemu dengan rekan bisnis yang cukup penting..


"Saya mau ketemu sama teman saya dulu ya, setelah makan ini kalian langsung stand by, oh ya.. yang di bawah saya minta Mawar dan Gina aja, dan yang di atas Eca dan Riri, Mawar titip Fiqi ya, kamu tolong jagain dia juga !' perintah Vera kepada anak buahnya..


"Baik bu,'' jawab Mawar..


"Fiqi disini dulu ya sama kak Mawar, mami mau kerja sebentar, mami harus bertemu dengan teman mami ini tentang bisnis mami oke ?, kan ada papi juga ya sayang, dan juga kak Mawar." Vera melambaikan tangannya kepada Fiqi..


Sebenarnya kesedihan di wajah Fiqi karena ia ingin ikut dengan Vera, namun setiap vera pergi selalu saja tidak lupa mengucapkan 'Dah' dan melambaikan tangan kepada Fiqi. Sungguh hati Fiqi sangat sedih, ia hanya bisa pasrah karena tia tidak pernah bisa ikut kemana ibunya pergi..


"Gue ke atas dulu ya sama si Riri," Eca menarik tangan Riri yang masih duduk di sana..


"Adik kecil, satu suap lagi makannya habis, hebat ya adik kecil makannya banyak." Puji Mawar kepada Fiqi sambil tersenyum manis..


"Iya kak, Fiqi suka karena kak Mawar nyuapinnya pelan dan dikit dikit, gak kayak kak Indah, kalau nyuapin Fiqi selalu banyak banyak, jadi Fiqi gak begitu nafsu makannya." Jawab Fiqi..


"Iya kak, besok Fiqi bilang deh sama kak Indah"..


Terlihat dua orang wanita mulai mengunjungi stand mereka, ibu ibu yang sudah berusia lanjut bersama anaknya yang terlihat sangat modis menghampiri Gina dan Mawar, mereka pun langsung berdiri untuk segera melayani pengunjung itu..


"Gue aja dulu yang handle itu Mawar, loe kan masih sibuk sama Fiqi ?" ucap Gina kepada Mawar..


"Iya, loe dulu aja deh Gin, gue sambil beresin ini dulu bentar ya"..


Mawar pun membereskan bekas makanannya dan juga Fiqi, ia membersihkan pinggiran mulut Fiqi yang terkena minyak makanan dengan telaten, Mawar juga membersihkan baju Fiqi yang terkena sedikit makanan. Mawar begitu perhatian dengan Fiqi, ia menganggap Fiqi sudah seperti adik kandungnya sendiri, dan Fiqi sangat terlihat nyaman di dekat Mawar..


Rupanya Ruslan telah memperhatikan gerak gerik Mawar dari kejauhan, ia begitu kagum dengan sifat Mawar yang begitu perhatian kepada Fiqi, padahal Mawar juga baru baru ini saja mengenal Fiqi anak Bosnya itu..


Bagi Ruslan kebahagiaan anaknya yang utama, melihat anaknya nyaman dan terurus seperti ini, rasanya dunia Ruslan sangatlah begitu bahagia..


"Seharusnya Vera yang melakukan nya, bukan gadis itu. Tapi apa boleh buat gadis itu jauh lebih perhatian kepada Fiqi, apa mungkin gadis itu yang harus ku jadikan pengganti Vera ?" Ruslan segera menepis pertanyaan konyolnya itu..


Ruslan berjalan menghampiri Fiqi, ia juga tidak ingin Mawar jadi mengabaikan pekerjaannya karena Fiqi. Vera pasti akan memarahi Mawar, dan Ruslan tidak akan membiarkan itu terjadi..


Ini yang dinamakan semua terjadi karena adanya kesempatan, ya begitu lah mungkin kesempatan untuk Ruslan dan Mawar selalu bertemu, hingga mereka merasa terbiasa saling melihat dan saling memperhatikan satu sama lain. Maka di saat dua insan ini tidak bertemu ada perasaan berbeda di hati mereka seakan ada sesuatu hal penting yang hilang..


Tidak mungkin ada asap jika tidak ada apinya, tidak mungkin ada akibat jika tidak ada sebabnya. Terkadang yang salah itu terasa lebih baik, dan yang benar itu terasa membosankan, namun tak selamanya yang salah itu jahat dan yang benar itu baik..


Hati, dialah yang merasakan, dia yang menginginkan, mungkin raga sudah berusaha untuk menolak namun hati tetap bersikeras menginginkan, itulah yang kini tengah Mawar rasakan, jiwa nya beriskeras dan berusaha untuk melunturkan rasa ini terhadap Ruslan namun hatinya terus saja mengukir huruf demi huruf nama Ruslan di relung hatinya.


Kata orang cinta datang karena terbiasa, dan yang spesial bisa kalah dengan yang selalu ada, mungkin memang benar. Untuk saat ini Mawar dan Ruslan terbiasa bertemu tidak tahu kenapa ada saja waktu yang mempertemukan mereka, mungkinkah Vera dengan Mawar yang selalu ada ?, hanya waktu yang bisa menjawab semuanya..


Tidak maksut untuk mengambil milik orang lain, terkadang miliki orang lain itu yang ingin di miliki olehnya, terkadang milik orang lain itu yang menyerahkan dirinya, terkadang milik orang lain itu merasa lebih di jaga olehnya, dan terkadang semua itu terjadi begitu saja di luar kendalinya..


Dalam keluarga, anak adalah permata yang paling berharga, orang tua kan rela melakukan apapun demi anaknya, tapi bagaimana jika seorang ibu justru mengabaikan kebahagiaan anaknya, apakah ibu seperti itu harus di pertahankan atau mungkin sang ibu memang tidak menyayangi anaknya ?..

__ADS_1


Hati anak kecil sangat lah tulus, aia akan nyaman dengan orang yang sayang padanya, dan nyamannya seorang anak itu biasanya bila ia dekat dengan ibunya, tapi tidak dengan Fiqi. Untuk saat ini Fiqi bahkan tidak mengenal ibunya lagi, ibunya terlalu sibuk, terlalu mementingkan karir dan terlalu sering meninggalkan bersama pengasuh, Fiqi sedih dan kecewa..


Dan Mawar yang berhati lembut dan penyayang mencoba untuk mengobati luka hati Fiqi, naluri Mawar sebagai perempuan langsung bereaksi bila melihat seorang anak kecil sedih, karena untuk Mawar walaupun dia bukan dari keluarga yang berada, ia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang ibunya, hanya saja ibunya mungkin tidak seperti Vera yang mampu memberikannya barang apapun, namun ibunya tetap mengasihi dengan tulus..


Mawar sudah takut untuk melabuhkan cintanya saat ini kepada laki laki dewasa, ia takut terluka lagi, ia takut di tinggalkan lagi, ia takut di abaikan lagi, dan ia takut tidak di anggap lagi, maka Mawar menyerah, Mawar pasrahkan semuanya dan kini Mawar akan mencoba mencurahkan rasa cintanya kepada Fiqi seorang anak kecil yang kekurangan kasih sayang dari ibunya..


Memang ada rasa di hati Mawar untuk Ruslan, namun sebisa mungkin ia akan menepis perasaan itu, ia sadar betul kalau Ruslan tidak pantas untuknya..


Untuk saat ini Mawar berhasil menghalau rasa itu, karena ia mengalihkan rasa sayangnya kepada Fiqi. Mawar menyayangi Fiqi dengan tulus dan ia menganggap Fiqi seperti adiknya sendiri dan ia menjadi Fiqi tempat ia mencurahkan semua kasih sayangnya, kasih sayang yang telah di abaikan oleh mas Yuda yang tidak lain adalah om nya Fiqi..


Vera semakin tidak menyadari kalau dirinya lah yang membuka celah bagi Ruslan dan Mawar untuk memiliki rasa saling mencari dan rasa kehilangan di saat mereka tidak bertemu..


Vera terlalu terobsesi dan fokus dengan pekerjaannya, terlalu ingin karinya melonjak, ingin usahanya memuncak, hingga ia tidak sadar kalau sesungguhnya usahanya yang paling penting yaitu rumah tangganya yang sedang di ujung tanduk itu..


Perlahan tapi pasti maka rumah tangga Ruslan dan Vera akan menemui keretakan hingga waktunya tiba, dan semua itu bukan salah Mawar melainkan semua itu adalah kelalaian dari Vera sebagai seorang istri sekaligus ibu dari anaknya Fiqi dan juga ketidakpastian Ruslan menerima sikap Vera, hingga ia menyerah menghadapi semua ini..


Semakin memberi kesempatan kepada Ruslan dan juga Mawar untuk menjalani waktu bersama, ini bukan ingin Mawar ataupun Ruslan, tapi semua terjadi begitu saja seperti air yang mengalir..


Seperti hari ini Vera lebih memilih datang memenuhi undangan reuni teman temannya di bandingkan menemani anaknya les piano, kebetulan hari ini pengasuhnya si Indah tengah izin jadi tidak bisa mengantar Fiqi pergi les piano. Vera merasa kalau Mawar bisa mengurus Fiqi dengan baik, ia pun langsung menghubungi Mawar dan memintanya untuk menemani Fiqi untuk pergi les piano..


Sebenarnya Mawar tidak mau melakukannya, namun ia tidak mungkin untuk membantah perintah dari Bos nya itu, meskipun ini di luar tanggung jawab dari pekerjaannya, namunia tetap menghargai apa yang di suruh oleh Vera..


Mawar pun berangkat menemani Fiqi untuk les piano, Vera mengantar langsung Mawar dan Fiqi. Mawar pun cukup senang karena ia baru pertama kali melihat suasana di tempat les piano ini, ternyata tempat les piano Fiqi sangat lah elit karena memang murid muridnya anak dari pengusaha dan tentu saja anak anak orang kaya semua..


Hampir dua jam menemani Fiqi les piano, cukup membuat diri Mawar terhibur karena ia telah mendengar nada nada yang di mainkan oleh Fiqi, untuk bocah seumuran Fiqi, ia termasuk sudah cukup mahir dalam memainkan pianonya..


Mobil merah milik Vera menghampiri Mawar dan Fiqi yang sudah menunggu di lobby sejak tadi, Mawar menuntun Fiqi untuk naik ke mobil..


Seketika jantung Mawar kembali berdebar lagi, saat tahu kalau yang menjemputnya adalah Ruslan, suami Vera dan tidak ada Vera di sampingnya. Namun Mawar berusaha mengatasi ketidaknyamanannya itu..


Seperti biasa setelah menaikkan Fiqi di depan, Mawar pun beralih membuka pintu belakang dan akan duduk di belakang Fiqi, namun belum sempat lagi beranjak, Fiqi cepat menarik tangan Mawar..


"Kak Mawar mau kemana ?, di sini saja, duduk sama Fiqi !" pinta Fiqi dengan logat cadelnya yang menggemaskan..


"Kakak duduknya di belakang aja ya, dekat Fiqi juga kok." Ucap Mawar pelan..


"Di sini aja, Fiqi mau di pangku sama kak Mawar, boleh kan pi ?" Fiqi melirik ke arah Ruslan..


"Boleh, Mawar tolong ya duduk dekat Fiqi," pinta Ruslan kepada Mawar..


"Baik pak,'' jawab Mawar menunduk tanpa melihat ke arah Ruslan..


Lagi lagi Mawar terjebak dengan keadaan ini, di mana satu sisi dia sangatlah canggung berada satu mobil dengan Ruslan dan duduk di samping seperti ini, tapi di satu sisi ada perasaan senang karena saat ini jaraknya begitu dekat dengan Ruslan..


Tidak tau kenapa setiap Fiqi di dekat Mawar dia terlihat sangat begitu bahagia, ia terus berbicara dan terus bersenda gurau dengan Mawar, dan Mawar pun menanggapi setiap ocehannya dengan sabar, sehingga mereka sama sama tertawa saat ini"..


Ruslan sedang fokus menyetir, meskipun pandangannya ke depan ternyata sudut matanya memperhatikan sikap Mawar. Dan Ruslan tidak bisa membohongi hati dan dirinya, kalau saat ini ia begitu bahagia melihat senyum dan tawa anaknya itu..


'Sungguh pandai ia menghibur Fiqi,' puji Ruslan dalam hatinya untuk Mawar..


Namun Ruslan berusaha untuk acuh, ia tidak ingin Mawar tahu kalau dirinya tengah memuji mawar, bagaimana pun dia harus menjaga nama baik istrinya, karena Mawar tetap lah karyawan mereka..


Ruslan pun tidak menginginkan rasa ini, namun ada sesuatu yang lain di rasakannya saat ini, setelah beberapa hari ia selalu bersama Mawar entah mengapa hatinya merasa tenang dan nyaman bila ada Mawar..


Di saat mereka tidak bertemu ada kegelisahan, ada kehilangan dan ada rasa rindu, serta rasa mencari sesuatu yang hilang pada dirinya. apakah ia mulai merasakan jatuh cinta kepada gadis kampung yang mampu merebut hati anaknya itu ?, dan sekarang terlihat mulai merebut hatinya..


Tidak terasa perjalanan sudah mau tiba, Mawar pun merasa lega karena akhirnya sebentar lagi akan turun dari mobil Bosnya ini, tidak tahu kenapa setiap dia berada di samping Ruslan tubuhnya terasa gemetar, hatinya terus berdebar dan lidahnya keluh untuk mengucapkan sesuatu, serta matanya selalu takut untuk memandang wajah Ruslan..


Mawar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, apa mungkin ia mulai jatuh cinta pada Ruslan, tapi bukankah di hatinya masih di penuhi dengan mas Yuda. Mawar bingung dengan hatinya, yang selalu saja memilih cinta yang sulit untuk di gapai olehnya..


"Hai Mawar, ayo bangun !, kamu jangan bermimpi, dia itu suami Bos mu, dia itu orang kaya, berpendidikan, jadi tidak mungkin dia mau bersanding dengan kamu !, ingat mas Yuda telah menyakitimu, mas Yuda saja meninggalkanmu apalagi dia. Dan bagaimana jika dia tahu kalau kamu sudah tidak suci lagi, sungguh memalukan !" Mawar mengutuk dirinya sendiri..


Lagi dan lagi, kesalahan masa lalu itu membuat diri sendiri takut. Mawar selalu merasa cemas bila teringat kesalahan itu, ia merasa dirinya paling buruk, dan ia merasa dirinya yang paling kotor di dunia ini, dan ia merasa kalau tidak akan ada laki laki yang mau menerima dirinya, apa lagi mencintainya dengan tulus..


'Oh tuhan, kepada siapa harus ku curahkan isi hatiku ini ?, aku sangat ingin mengatakan keluh kesahku ini, aku sangat ingin ada orang yang memberi motivasi dan membangkitkan semangatku, serta keberanianku, hingga aku tidak terus terpuruk dalam kesedihan ini'..

__ADS_1


Mungkin bagi sebagian perempuan lain yang mengalami seperti Mawar, mereka akan menganggap semua ini hal yang sepele, dan tidak perlu bila di ratapi terus menerus..


Tapi tidak untuk Mawar, si gadis desa yang polos, lemah dan sangat rapuh hatinya bila di sakiti. Sungguh Mawar telah di perdaya oleh cintanya, hingga ia tidak mampu membenci orang yang telah menyakitinya..


__ADS_2