Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Dugaanku Benar


__ADS_3

"Jarang jarang ini kita bisa keluar bareng gini,'' seru Riri sambil menyeruput minumannya..


"Iya biasanya loe.. loee.. pada udah punya janji kan sama laki laki,'' sahut Gina..


"Eca sama Riri tuh, gue sih jarang ya,'' Tambah Mawar..


"Gue kan pengen juga sesekali quality time sama kalian, masa kerja doang barengnya,'' Eca juga menyahuti..


Hari libur ini mereka berempat mendatangi cafe yang tidak terlalu jauh dari asrama, terlihat sekarang mereka sudah menempati meja makan berwarna coklat kayu, dan duduk di lantai yang beralaskan karpet bulu tebal..


"Makanannya sudah datang itu,'' seru Riri menatap nampan yang di bawa oleh pelayan cafe itu..


"Wuihh.. mantap.. enak nih kayaknya,'' Gina menimpali, sambil melihat takjub ayam bakar di hadapannya..


"Nasi goreng petai.. udah lama banget ga makan pete gaess,'' Mawar mengaduk-aduk nasi goreng kemerahan yang di hiasi petai segar itu..


"Loe ga makan nasi Ca ?" Gina menyikut pelan Eca di sampingnya..


"Gak.. gue kan lagi diet sekarang jadi makan pecel aja deh." jawab Eca..


Kini mereka berempat asik menyantap makanan sesuai selera masing masing, terlihat masakan di cafe ini cukup membuat selera makan mereka bersemangat..


"Kenyang banget deh.." Gina menepuk nepuk pelan perutnya..


"Udah nambah nasi masih ga kenyang sih,'' ejek Eca ke Gina..


"Iya.. sotonya juga enak.. seger weh,'' sahut Riri..


"Petenya itu loh emang bikin selera makan jadi nambah ya,'' imbuh Mawar yang sangat menikmati nasi gorengnya tadi..


Menyeduh minuman yang masih menemani mereka di meja itu sambil menyaksikan band pribadi milik cafe itu, rasanya cukup membuat mereka lupa akan keseharian mereka yang habis di tempat kerja..


"Eh foto dulu dong kita smua,'' ajak Eca siap dengan ponselnya..


Kini mereka saling mengekspresikan wajah mereka ke arah ponsel Eca yang menangkap wajah wajah cantik ke empat sejoli itu..


"Mana Ca.. cakep ga ?" Tanya Riri ke Eca yang tengah sibuk menatap layar ponselnya..


"Nih lagi gue liat Ri, cakep cakep kok.."


"Loe kirim donk ke ponsel kita Ca, biar kita puas ngeliatnya,'' pungkas Gina..


"Iya Ca.. kirim donk sekarang,'' sahut Mawar..


Asik dengan ponsel masing masing, melihat foto foto yang baru saja mereka ambil hingga mereka tidak memperhatikan satu sama lain..


"Gue ke toilet dulu ya gaes,'' pamit Mawar yang di tanggapi diam oleh teman temannya yang pada lagi sibuk itu..


Mawar menyusuri lantai yang berwarna coklat dengan guratan guratan crem, sepertinya pemilik cafe ini sangat menyuai warna coklat papan yang memberikan kesan alami pada ruangan ini, terlihat bungan bunga hidup menghiasa lorong jalan menuju kamar kecil..


Setelah beberapa menit di kamar kecil tidak lupa ia merapikan rambut dan baju di depan cermin besar itu. Mawar berjalan kembali ke tempat teman temannya, tapi ia tidak sengaja melihat satu ruangan yang berdinding kaca yang di hiasa gorden coklat muda..


Tadi masih tertutup tapi sekarang sudah terbuka, terlihat empat orang sedang duduk di sofa ruangan itu membelakangi dinding kaca tebal ini. Mawar menelisik siapa yang di dalam itu, sepertinya ia tidak asing dengan orang orang itu..


"Kok terlihat seperti bu Vera ya ?" Mawar bicara sendiri..


Setelah mengamati ternyata benar wanita yang di lihat Mawar itu adalah bu Vera Bosnya sendiri, dan di samping itu bu Vera juga bu Lala sahabatnya yang pernah di kenalkannya di salon..


"Tapi laki laki itu siapa ya ?" Mawar masih menatap di balik kaca itu..


Mawar mengingat-ngingat wajah lelaki di samping bu Vera, dan ternyata dia suami bu Vera, Mawar pernah melihatnya dua kali saat baru baru bekerja di salon. Namun suami bu Vera sering pergi ke luar negeri makanya jarang terlihat..


Tidak ingin perbuatannya mengamati orang orang di dalam sana ada yang melihat, Mawar bergegas pergi menyusuri jalan menuju teman temannya..


"lama banget loe Mawar.." ucap Eca..


"Iya nih, agak mules dikit td Ca." jawab Mawar..


"Kebanyakan makan pete loe tadi,'' ejek Gina tertawa..


"Pulang yuk !!" ajak Riri..


"Yuk atuh pulang, gue juga tar malem ada janji nih sama laki gwe,'' tambah Eca..


"Bayar gih, gue ga bawa uang cash belom narik,'' Gina nyengir ke teman temannya..


"Gue aja yang bayar, tar loe di rumah baru pada bayar ke gue,'' tawar Mawar..


"Asiik.." seru Riri..


"Tapi ada bunganya ya,'' Mawar terkekeh menggoda teman temannya..

__ADS_1


"Gile lu ya.." sahut Gina..


"Gampar ntar gue kasih bunga pasir ya," Eca ikut mengomentari..


"Idiihh.. ga mau gue,'' seru Mawar memonyongkan bibirnya..


"Emang bunga pasir yang warna nya gimana sih, kok aku ga pernah tau ?" sahut Riri polos..


Teman temannya kompak tertawa mendengar pertanyaan Riri..


"Taik kucing Riri," teriak ketiganya berbarengan..


Riri mengerutkan keningnya mendengar teriakan mereka bertiga, ''ih.. jorok banget kalian,'' Riri menggerakkan bahunya..


"Gue bayar dulu ya,'' Mawar berjalan menuju kasir yang berada hampir dekat dengan ruangan yang berdinding kaca tadi..


Mawar memberikan beberapa lembar uang kepada wanita yang menatap layar komputer itu, sambil menunggu kembaliannya, Mawar melihat dua orang wanita keluar dari ruangann itu yang tidak lain itu adalah bu Vera dan bu Lala..


"Mereka siapa mbak ?" Tanya Mawar ke wanita di depannya..


"Oh itu bu Lala yang punya cafe ini, kalau yang di sebelahnya itu temannya,'' jawabnya sopan..


Tidak ingin keberadaan Mawar terlihat oleh mereka, Mawar berdiri membelakangi bu Vera dan bu Lala, dan untungnya mereka pun masih berdiri di depan pintu terlibat obrolan yang cukup seru..


''Jadi loe beneran nyuruh Yuda ke singapura ?"..


"Iyalah, masa bohongan sih La"..


"Gue kira cuma pura pura"..


"Ga lah, gue gak mau adik gue berhubungan makin jauh sama itu anak !"..


"Emang loe ga setuju banget ya Ver ?"


"Bangetlah, masa adek gue pacara sama karyawan gue sendiri sih, kan ga selevel La"..


"Iya sih, tapi gue liat itu anak cakep banget kok Ver"..


"Cakep sih cakep, tapi kan tetap aja beda kelas say"..


"Yang mana sih anaknya, gue ga tahu tuh ?"..


"Itu yang paling manis dia, namanya Mawar"..


Mawar terkejut mendengar obrolan singkat kedua wanita di belakangnya itu, hingga ia tidak perduli dengan wanita di depannya lagi..


"Mbak.. ini kembaliannya,'' ucap wanita itu..


Mawar masih diam dan wajahnya terlihat sangat kesal, ia masih terus berusaha mendengar percakapan kedua sekawan itu..


"Mbak," wanita itu menyentuh tangan Mawar..


"Eh, iya mbak.. maaf,'' Mawar mengambil uang kembalian di tangan wanita itu sambil tersenyum dan bergegas berjalan agar tidak terlihat oleh bu Vera dan bu Lala..


"Yuk.. mobilnya udah dateng tuh,'' ucap Eca..


Mereka pergi meninggalkan cafe ini menuju mobil taksi online yang di pesan Eca. Sementara Mawar masih dalam kebingungan, kecemasan dan kegugupan setelah mendengar percakapan singkat bu Vera dan sahabatnya bu Lala..


Duduk di posisi pinggir mempercepat langkah Mawar untuk keluar dari mobil, tanpa bicara apapun ia segera membuka kunci asrama dan menuju kamarnya, serta langsung melemparkan handbag miliknya di atas kasur..


"Jadi benar kan dugaanku bu Vera sudah tahu semua,'' ucap Mawar yang berdiri menatap ke luar jendela..


Melihat pintu kamar yang terbuka, Mawar segera menutupnya dengan sedikit hempasan..


"Brengsek !!!" Teriak Mawar melemparkan benda apapun yang ada di atas meja riasnya..


"Aku ga terima.. aa.. aaa... !!" Teriak Mawar kesal dan emosi..


Tidak ingin semakin larut dengan emosinya Mawar segera merebahkan tubuhnya di kasur. Menatap kosong langit langit di kamarnya, di iringi dentingan jam dan sepinya malam yang semakin membuat hatinya merasa kesepian dan kesal...


Hatinya benar benar kecewa akan mas Yuda dan sekarang di tambah lagi setelah ia tahu kalau bu Vera lah orang yang memang sengaja menyuruh mas Yuda ke luar negeri agar tidak bisa meneruskan hubungannya dengan Mawar..


'Tapi jika memang dia mencintaiku, dia pasti akan berusaha bagaimana pun caranya agar tetap bisa berhubungan dengan ku meskipun jarak yang jauh,' gumam batin Mawar..


Ia berpikir jauh terbayang semua kejadian yang telah ia lalu bersama mas Yuda, bagaimana tidak mas Yuda adalah lelaki pertamya yang berhasil merebut dan mengungkapkan cinta padanya, dan mas Yuda laki laki pertama juga yang telah memberikan rasa manis dalam sebuah percintaan..


Tapi kini dia juga yang menghancurkan hati Mawar hingga berkeping keping atas kepergiannya, apakah ini yang di namakan kutukan cinta perta, banyak orang bilang kalau cinta pertama selalu berakhir dengan menyakitkan..


"Kenapa aku begitu bodoh ya !'' desah Mawar..


Kini sudah mulai terpikir oleh Mawar kalau ia telah menjadi korban kebodohannya sendiri yang mengatas namakan ketulusan cinta, padahal mas Yuda belum tentu tulus mencintainya seperti ia mencintai mas Yuda, lihat saja dia dengan mudahnya pergi tanpa beban apapun..

__ADS_1


"Kalian berdua memang brengsek !!" keluh Mawar mengepalkan kedua tangannya seolah menatap tajam mas Yuda dan bu Vera..


Tiit.. tiit.. tit..


Suara klaksok mobil di depan rumah mengacaukan lamunan kekesalan Mawar..


"Siapa itu ?" Tanya Mawar menoleh ke arah jendela..


Tidak ingin hanya bertanya tanpa adanya jawaban, Mawar bangkit dan menghampiri jendelanya serta menyingkap kain gorden pink miliknya yang bermotif bunga itu..


"Eca,'' ucap Mawar saat melihat Eca di depan rumah bersama seorang lelaki..


Eca sudah siap dengan dress cantiknya terlihat mengobrol santai dengan seorang lelaki yang mobilnya terparkir di depan rumah dalam keadaan mesin yang di biarkan menyala..


"Hai dear"..


"Hai baby"..


"Kamu cantik sekali malam ini"..


"Kamu juga selalu keren"..


"Jadi kita cari ponsel baru yang kamu mau ?"..


"jadi dong, ayo jalan"..


Obrolan singkat Eca terdengar oleh Mawar yang memang memperhatikan mereka di balik kaca jendela yang terbuka sedikit itu, diam diam Mawar memperhatikan sosok laki laki yang bersama Eca sekarang, yang sejak tadi merangkul Eca dan berbicara dengan senyum manis terhadap Eca..


"Pacar Eca kah itu ?" Tanya Mawar, yang terus melihat dua sejoli itu masuk ke dalam kendaraan roda empat yang mewah itu dan meninggalkan Mawar yang lagi kesepian saat ini..


"Pacar Eca kayaknya orang kaya banget deh." ucap Mawar masih berdiri memandangi halaman yang kosong..


"Tapi.. kayaknya laki laki itu usianya jauh di atas gue dan Eca deh, ya memang masih ganteng sih,'' Mawar menduga-duga sendiri..


"Pantes Eca sekarang makin bersemangat saja, uangnya ga habis habis, tiap minggu belanja barang baru, ternyata hasil pemberian pacarnya.'' Mawar masih penasaran dengan Eca dan kekasihnya..


Mawar menutup jendela serta merapikan kain gordennya, tidak ingin berlarut-larut kesal ia mengambil handuknya dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar tubuhnya sedikit lebih ringan dan pikirannya lebih terbuka agar bisa berpikir jernih lagi..


"Segarnya.." Mawar mengusap-usap rambut panjangnya dengan handuk..


Ia mengambil satu dress tidur tipisnya, yang akan menemaninya tidur malam ini, dan memulai aktivitas rutinnya memanjakan kulit tubuh dan wajah dengan produk kecantikannya. Meskipun hatinya saat ini sedang tidak baik baik saja, tapi ia harus tetap menjaga penampilannya karena tuntutan pekerjaan dan untuk kepuasan dirinya sendiri..


"Huh.. beres juga sekarang," ucap Mawar menatap isi lemari pakaiannya yang sudah tertata rapi..


Karena sudah seminggu ini ia tidak pernah perduli dengan kamarnya sendiri, jadi semua tidak beraturan hingga kini Mawar harus membuatnya seperti sedia kala agar kamarnya terasa nyaman kembali..


Tek.. tek.. Mawar melirik jam dinding mungilnya, sibuk dengan kamarnya hingga ia tidak sadar sudah pukul setengah dua belas malam..


"Ya ampun dah malam banget deh !" teriak Mawar melotot melirik jam itu..


Ia beranjak untuk segera mengambil posisi tidur dan menarik selimut lembutnya, namun ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya sehingga Mawar beranjak ingin mengetahui siapa di depan sana..


"Eca,'' ucap Mawar yang melihat Eca di dalam mobil bersama laki laki itu dengan kaca mobil yang terbuka lebar di sisi Eca. Mawar memperhatikan Eca di sana yang terlihat mengobrol santai dengan pacarnya..


Mereka terlihat tersenyum dan tertawa riang, apalagi Eca terlihat berbinar menatap teman lelakinya itu..


"Upss.." Mawar membesarkan matanya saat melihat Eca dan lelaki itu tengah berciuman mesra di dalam mobil..


Meskipun dari jarak yang sedikit jauh namun Mawar masih bisa melihat dengan jelas kemesraan Eca dan kekasihnya, yang kini saling menautkan bibir dan saling menyerang satu sama lain..


Terlihat di sana laki laki itu begitu bernafsu akan bibir Eca hingga ia tidak ingin melepaskan Eca walau sebentar saja, begitu pun Eca mengimbangi permainan dari serangan lelaki itu..


Entah kenapa tubuh Mawar begitu bergetar, dan jantungnya berdebar melihat kemesraan Eca di depan matanya. Lalu ia terbayang akan mas Yuda yang juga dulu sering melakukan hal manis itu padanya..


'Andai kamu masih disini mas Yud ?' lirih Mawar pelan..


Mawar segera menutup gordennya saat tahu Eca sudah turun dari mobil dan akan mendekat ke arah rumah. Mawar kembali menjatuhkan tubuhnya dan meraih bantal guling untuk menemani tidurnya..


Mawar masih terbayang akan kemesraan Eca tadi sehingga tidak bisa ia berpaling untuk kembali mengingat mas Yuda, lelaki yang telah memberi kehangatan dan kenikmatan padanya..


'Mas Yuda,' rintih mawar yang kini terbayang wajah mas Yuda..


Mawar menyentuh lembut bibir polosonya, seakan bibir ini sedang di manjakan oleh bibir mas Yuda. Semakin dalam, Mawar kini memejamkan matanya seolah merasakan kehangatan di bibirnya akan ******* manja dari mas Yuda..


"Oh.. mas.. " desar Mawah..


Mawar semakin hanyut dengan khayalannya, tidak hanya bibir kini ia membelai lembut wajah dan lehernya seorang daerah sensitif itu tengah di belai oleh tangan lembut milik mas Yuda..


Terlihat Mawar benar benar hilang akan kesadaran akan khayalannya hingga ia kini tidak sadar atas apa yang telah di lakukannya sekarang..


Praakk... cermin bulat di atas meja riasnya jatuh ke lantai, dan mengagetkan Mawar yang tengah berfantasi dalam khayalannya. Mawar tersentak dan membuka matanya, betapa terkejutnya ia ketika melihat apa yang terjadi pada dirinya sekarang..

__ADS_1


"Apa yang ku lakukan ?" ucap Mawar bingung..


Mawar segera menarik kedua tangannya, dan berdiri meraih cermin yang jatuh tadi, jari lentiknya menekan stop kontak, kamar Mawar langsung gelap hanya cahaya tipis tipis dari teras yang samar samar masuk ke dalam kamarnya..


__ADS_2