Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Kembalinya Vera


__ADS_3

"Huh.. melelahkan sekali !" keluh Vera keluar dari mobil mewah miliknya, memakai kaca mata hitam dan juga masker untuk menutupi wajah nya saat ini tanpa polesan make up, Vera merasa kurang percaya diri tanpa riasan bold di wajahnya..


Di langkahkan kaki nya menuju tempat yang sudah menanti nya sejak tadi, bukan.. ia bukan pulang ke rumah nya melainkan ke hotel berbintang yang biasa ia datangi jika ingin bermalam dan mengistirahatkan diri di kala lelah menyerangnya dan padatnya kegiatan serta sibuk nya pekerjaannya..


Hotel ini sudah sangat paham akan Vera, karena Vera akan berkunjung sebulan sekali atau dua kali kesini, selain tempatnya yang sangat nyaman, Vera juga merasa sangat cocok dengan terapis yang biasa memijat tubuhnya di saat letih seperti ini..


'Aku butuh merilekskan tubuh ku disini untuk sehari atau dua hari,' gumam Vera sambil berjalan menuju meja resepsionis. Petugas itu langsung menyambut kedatangan Vera dengan senyum hangat, tanpa bertanya ia langsung tahu tipe kamar yang akan di tempati nya nanti oleh Vera..


"Baik.. terima kasih." Vera memberikan selembar uang kepada pelayan itu yang mengantarkannya ke kamar yangakan di tempati nya..


Ya.. Vera telah pulang dari luar kota dalam rangka grand opening usaha salonnya disana. Pas satu minggu ia di sana, dan hari ini kembali ke kota tempat tinggalnya. Sengaja ia bermalam di hotel ini karena ingin menikmati fasilitas spa dan sauna yang menjadi langganannya. Dan tentunya ia ingin tidur malam nya lelap tanpa gangguan siapa pun termasuk suami nya..


Begitulah wanita karir yang ambisius ini, ia tidak takut melakukan segalanya sendiri justru bagi nya kesendirian membuat mood nya membaik dan bisa menghilangkan stress akan pekerjaan yang memenuhi hari hari nya..


Jadi walaupun sudah seminggu ia tidak melihat anak dan suami nya itu tidak kan menjadi masalah bagi Vera, yang ia pikirkan sekarang hanyalah kemajuan dan omset atas bisnis saat ini, tidak salah usaha salonnya semakin berkembang dan membuka cabang di beberapa kota, tentu itu membuat nya semakin sibuk dan mengabaikan akan kewajiban nya sebagai seorang istri dan ibu, apalagi ia memiliki uang yang banyak untuk membayar orang menggantikan peran nya di rumah..


Tring.. tring.. tring..


Ponsel di atas meja itu berdering untuk kesekian kali nya dan merusak keheningan yang di nikmati Vera saat ini, acuh dan membiarkan deringan ponsel itu terabaikan juga untuk kesekian kali nya..


Vera semakin terlelap ke alam mimpi nya, merasakan sentuhan yang begitu memanjakan tubuh nya dan baluran minyak di kulit putih dan halusnya..


Tring.. tring..


Selang sepuluh menit saja, ponselnya kembali berdering dan deringan itu lebih lama dari sebelumnya, menandakan ada penelepon yang sangat ingin bicara dengan nya saat ini. Sehngga memaksa Vera untuk melirik dan meraih benda pipih keluaran brand ternama itu, sambil menghembuskan nafas dan tatapan malas saat Vera melihat nama yang sama, dan ternyata itu panggilan dari Ruslan suami nya..


Tidak ada niat di hati nya untuk segera menggeser icon telepon berwarna hijau itu ke atas, dan segera menjawabnya, malah Vera membiarkan nya hingga dering itu merasa bosan dan berhenti dengan sendiri nya, lalu Vera menonaktifkan ponselnya agar tidak bisa mengganggu ketenangannya lagi..


"Ganggu aja !" gerutunya yang sedang menikmati pijatan dari terapis spa hotel tersebut, ia kembali memejamkan mata sambil menikmati sentuhan sentuhan menenangkan dari tangan perempuan yang memang ahli di bidangnya itu dan selalu menjadi pilihan Vera untuk menservice diri nya sendiri..


Dua jam sudah tubuh Vera berbalur dengan minyak yang lembut dan wangi itu, terlihat terapis mulai menyapu tubuhnya dengan handuk yang di celupkan air hangan. Sungguh tubuh Vera terasa ringan dan rileks sehingga ia enggan beranjak dari tempat tidur nya sekarang, saat ini inilah posisi ternyaman yang dia rasakan sekarang..


Tanpa membuka mata dan terus berbaring, "terima kasih ya, uang tips nya sekalian besok aja ya karena saya mau creambath dan pijat wajah juga." Ucap Vera pada terapis itu pelan karena ngantuk menguasai dirinya saat ini..


"Baik bu." Perempuan itu pun meninggalkan Vera yang posisi nya sangat lengket dengan kasur itu. Sang terapis sudah paham sekali akan customer langganan nya ini, jadi ia tidak perlu khawatir tidak mendapat kan uang tips hari ini, karena Vera akan memberi nya besok dan jumlah nya pun cukup besar..


Tak terasa hari semakin sore, puas bertamasya di alam mimpi mata Vera mulai terbuka, ia merasakan tidak nyaman pada pencernaannya dan segera memegang perut yang seperti nya mulai menagih jatah meraka. Saking enak nya tidur Vera lupa akan makan siang nya yang sudah lama terlewat dan sekarang sudah hampir malam, pantas perut nya terasa begitu perih, karena saking sibuknya dia tidak teringat samak sekali untuk mengisi perut nya sendiri..


Ia memilih milih menu makanan berbentuk buku yang memang sudah tersedia di kamar hotel itu, segelas orange jus dan nasi merah serta sup ayam segar menjadi pilihan nya..


Yahh memakan waktu yang lama, pelayan telah mengantar makanan untuknya, hingga ia bisa menyantap nya tanpa perlu kemana mana, Vera memang sangat menyukai sup ayam segar karena selain tidak berminyak, banyak mengandung sayuran yang bagus untuk kulit nya, ya.. Vera sangat menjaga kehalusan kulit nya..

__ADS_1


Sedang asik nya mengunyah makanan spesial itu, lagi lagi dering ponsel memanggilnya kembali, namun kali ini Vera tidak akan mengabaikan nya, karena ia juga pahal pasti Ruslan akan sangat kesal bila berkali kali tidak menjawab panggilannya..


"Ya.. halo pi." Ucap Vera mengunyah makanan nya..


"Kamu katanya pulang hari ini, kenapa belum sampai rumah ?" suara Ruslan terdengar khawatir..


"Iya, ini udah sampai tadi jam sebelas"..


"Oh ya ?, terus kenapa belum pulang ke rumah ?"..


"Aku lelah pi, jadi aku bermalam di hotel dulu sampai besok." Dengan santai Vera menjawab nya..


"Jadi kamu sudah di hotel dari tadi siang ?"..


"Iya.. aku habis pijat badan, ini baru makan"..


"Kenapa ga ngabarin, aku dan Fiqi khawatir sama kamu !"..


"Iya maaf, aku ketiduran tadi. Aku makan dulu ya, perutku sangat lapar." Vera mengakhiri sambungan telepon nya..


Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Vera terus menikmati makan sore sekalian makan malam nya ini, apalagi pemandangan yang terlihat dari kaca kamar nya begituindah di pandang oleh mata, pantas saja kamar ini selalu menjadi pilihan nya bila bermalam di tempat ini..


Sementara disana seorang laki laki tengah berusaha menahan kesal nya akan sikap istrinya yang begitu acuh terhadap nya dan anak nya Fiqi..


"Keterlaluan !, bisa bisa nya dia berbicara seperti itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.'' gerutu Ruslan saat sambungan telepon itu terputus..


Inilah yang sangat ia tidak suka dari Vera, selalu mementingkan diri nya sendiri dari pada keluarga nya. 'Memang ia capek karena pekerjaannya yang begitu padat, tapi tidak bisakah ia memberikan kabar kepada suami dan anaknya jika diri nya sedang berada dimana !' Ruslan merasa geram..


Lagi dan lagi Ruslan kecewa dengan sikap Vera, apa tidak ada rasa rindu di hati nya untuk Fiqi putra tunggal nya itu. Ya.. memang dulu dia bersikeras untuk tidak memiliki anak karena bagi nyajika memiliki anak hanya lah menghambat pekerjaan nya yang harus kesana kemari..


Tapi setelah melalui perdebatan yang cukup panjang akhirnya ia bersedia untuk mengandung, dengan syarat anak tersebut hanya memiliki pengasuh yang menggantikan semua tugas Vera di rumah. Mau tidak mau Ruslan menyetujuinya dari pada ia tidak mempunyai keturunan. Alhasil itulah Fiqi yang memang kurang kasih sayang dari Vera dan selalu bergantung pada pengasuhnya..


Ruslah hanya bisa menahan amarah kecewa dari sikap Vera yang memang tidak romantis dan kurangnya perhatian terhadap nya dan Fiqi. Ia beranjak ke ruangan gym nya untuk menumpahkan seluruh kekesalan yang mengganjal di hati nya, walaupun kesal Ruslan tetap menyalurkan emosi nya ke hal hal yang baik sejauh ini..


"Andai saja aku tahu sifat kamu dari awal seperti ini, aku tidak akan mau menikah denganmu. Ternyata kecantikan dan kecerdasan yang kamu miliki justru membuat diri mu angkuh dan tidak menghargai aku sebagai suami juga tidak memahami maunya Fiqi sebagai anak kecil yang selalu ingin di dekat dan di perhatikan ibu nya sendiri !" tatapan Ruslan terlihat sangat tajam sambil mengangkat beban barbel yang cukup berat itu..


"Papi.. apa mami sudah ada kabar nya ?" tanya Fiqi polos pada Ruslan yang kini segar dengan rambut basahnya dan bersiap untuk makan malam..


Ruslan terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang akan ia berikan kepada Fiqi. Ia tidak ingin Fiqi kecewa karena ibu nya lebih memilih pulang ke hotel dari pada bertemu dengan Fiqi..


"Papi.. ?" tanya Fiqi lagi..

__ADS_1


"Iya jagoan papi, mami pulangnya besok karena pekerjaannya belum selesai sayang." Ruslan terpaksa berbohong kepada anaknya..


"Ohh.. kita telepon mami boleh gak, aku kangen sama mami." Pinta Fiqi..


Sebenarnya malas bagi Ruslan untuk menghubungi Vera, bisa bisa dia semakin besar kepala beranggapan Ruslan sangat menunggu kepulangannya, ya walaupun sebenarnya memang menunggu karena tidak ingin Fiqi bersedih terlalu lama tidak bertemu dengan Vera..


"Iya boleh, habis makan kita telepon mami ya"..


"Ok pi"..


Tut.. tut.. tut.. tut..


Seperti biasa Vera tidak pernah cepat untuk menjawab telepon nya..


"Ya pi, ada apa ? aku ngantuk sekali." Ucap Vera dingin dari seberang sana..


"Fiqi ingin bicara sama kamu, aku bilang kamu belum pulang karena masih banyak pekerjaan"..


"Baguslah, kalau begitu kenapa dia masih ingin bicara padaku, bilang saja aku sedang sibuk meeting, mataku berat sekali." Tutur Vera..


Ruslan menghembuskan nafas kasar mendengar ucapan Vera, mudahnya ia berkata seperti itu, apa rasa lelahnya mengalahkan rasa rindu dan sayang pada darah dagingnya sendiri..


"Bicara sebentar ia sangat ingin bicara denganmu !" Tegas Ruslan kali ini..


"Ok.. mana dia ?"..


"Halo mami, aku kangen mami." seru Fiqi semangat ingin bicara dengan ibu nya..


"Iya sayang, mami juga kangen"..


"Mami kapan pulang nya ?, aku pengen tidur di dekat mami." manja Fiqi..


"Mami masih sibuk sayang, mungkin lusa sampai di rumah"..


"Ok mami, aku tunggu ya"..


"Ok sayang mami"..


Percakapan singkat yang membuat wajah anak kecil itu merona dan mata nya berbinar serta senyumnya melebar, sangat bahagia mendengar suara ibu nya yang sangat di rindukan nya. Inilah yang membuat Ruslan tidak bisa melepaskan Vera karena Fiqi begitu menyayangi Vera..


Kekesalan di hati Ruslan sedikit meluluhkan nya, melihat putra nya bahagia seperti ini. Baginya kebahagiaan Fiqi adalah yang utama, jika Fiqi bahagia maka ia rela mengorbankan hatinya meskipun berat bagi nya menjalani rumah tangga yang mulai hampa dan dingin ini..

__ADS_1


__ADS_2