Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Sulit Membayangkan


__ADS_3

Jangan menerobos hujannya pak, nanti bapak bisa sakit," Ucap Mawar..


"Mawar, kamu disini sedang apa ?" Ruslan bertanya kepada Mawar yang duduk di kursi depan minimarket itu..


"Saya habis belanja pak,'' Mawar menunjukkan plastik belanjaannya..


Seharusnya Rulan tidak menanyakan itu, "saya harus ke mobil, soalnya Fiqi sendiri disana, dia tadi tertidur jadi saya gak tega mau bangunin dia." Ujar Ruslan..


"Oh ada Fiqi ya pak di mobil, kalau begitu bapak pakai saja payung saya, biar gak kebasahan, kasih Fiqi sendiri disana," Mawar menyodorkan payung pink miliknya itu kepada Ruslan..


"Nanti kamu gimana ?" tanya Ruslan..


"Saya biar tunggu di sini aja pak, sampai hujan reda nanti baru saya pulang,'' sahut Mawar..


"Ruslan terdiam ia tidak menyangkat ternyata Mawar mempunyai hati yang sangat baik, demi orang lain dia rela mengorbankan kepentingan dirinya sendiri..


"Kamu sendiri kesini ?, naik apa tadi kesini ?" Ruslan kembali bertanya..


"Saya jalan kaki tadi pak, kan gak terlalu jauh juga dari rumah." jawab Mawar pelan..


Ruslan langsung merasa tidak enak hati kepada Mawar, maka ia pun menawarkan Mawar untuk ikut bersamanya..


"Kalau begitu ikut bareng sama saya aja, biar kamu juga gak kejauhan.'' Tawar Ruslan..


Jantung Mawar langsung berdebar saat Ruslan menawarkan dirinya untuk ikut dengannya..


"Gak usah pak, gak apa apa.. sebentar lagi kayaknya hujan reda, bapak duluan aja"..


"Hujannya deras, dan hujannya juga awet Mawar, lebih baik kamu ikut saya dari pada nanti kamu gak bisa pulah loh,'' tawar Ruslan lagi..


"Baik pak,'' Mawar menunduk, ia pun menuruti ajakan Ruslan..


Mawar mengembangkan payungnya dan beranjak dari tempat duduknya, akhirnya mereka berdua menerobos hujan itu di bawah payung milik Mawar, karena payung Mawar ukurannya tidak terlalu besar, otomatis bahu Ruslan menyentuh bahu Mawar dan posisi mereka sangatlah dekat untuk saat ini..


Tubuh Mawar menjadi semakin terasa gemetar, tapi bukan karena dinginnya air hujan, atau karena hembusan angin, tapi Mawar gemetar karena ia tidak percaya kalau saat ini yang berjalan di sampingnya adalah Ruslan..


Mawar berusaha menutupi kecanggungannya, ia terus berjalan agar segera sampai ke mobil itu, tapi tidak tahu kenapa langkah kaki ini menjadi begitu sangat pelan seolah ingin lebih lama bersama Ruslan..


'Oh Tuhan, kenapa aku jadi deg degan seperti ini ya, ya ampun !" desis Mawar mengingatkan dirinya lagi..


Sementara Ruslan terlihat cuek, datar dan biasa aja. Tapi tidak tahu kenapa yang ada di dalam hatinya siapa yang tahu, atau mungkin sekarang dia juga merasa kurang percaya diri, atau mungkin ada perasaan lain juga saat ia berjalan sedekat ini dengan Mawar..


Lagi jantung Mawar di buat berdegup kencang dua kali lipat, saat Ruslan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Mawar, dan mengambil gagang payung yang ada di tangan Mawar, agar Mawar bisa masuk terlebih dahulu ke dalam mobil..


Mawar tidak menyangka ternyata sosok Ruslan yang cuek, juga pedulu padanya, Ruslan sangat tahu cara memperlakukan wanita. Dan setelah memastikan Mawar masuk ke dalam mobil tanpa terkena air hujan, barulah Ruslan ikut masuk dan membawa payung itu..


Mawar begitu senang di perlakukan manis oleh Ruslan, mungkin Ruslan menganggap ini suatu hal yang biasa, namun bagi Mawar ia merasa sangat spesial, terasa Ruslan begitu peduli akan dirinya..


Mawar melirik Fiqi yang sedang terlelap, Mawar tersenyum melihat wajah anak kecil itu, entah mengapa Mawar makin menyayanginya apalagi Fiqi adalah putra dari laki laki yang saat ini sedang mengusik hatinya..


"Kak Mawar," racau Fiqi setengah sadar, dan matanya pun hanya terbuka sedikit. Fiqi langsung berpindah ke pangkuan Mawar..


Mawar pun dengan senang hati langsung memeluk Fiqi, pasti Fiqi sedang kedinginan saat ini, karena udara di luar juga sedang hujan, dan suhu pendingin mobil juga cukup kencang, Fiqi semakin terlelap saat Mawar memeluknya..


Ruslan fokus menyetir, tidak tahu apa yang ada di dalam hati Ruslan saat ini, tapi dari raut wajahnya ia seperti menyembunyikan sebuah rasa, namun sulit untuk di mengerti apa rasa itu, yang jelas saat ini ia merasa sangat nyaman apalagi melihat Fiqi di dalam pelukan Mawar..


Tidak lama mobil pun sudah di depan rumah yang di tempati oleh Mawar dan kawan kawan, dengan pelan Mawar berbisik di telinga Fiqi..


"Adik kecil, kak Mawar turun dulu ya,'' ucap Mawar sangat pelan di telinga Fiqi, ia tidak ingin melihat Fiqi terganggu tidurnya..


Namun Fiqi tidak menjawabnya, mata Fiqi begitu rapat, terlihat semakin lelap, mungkin Fiqi merasa tidurnya saat ini terasa sangat nyaman sehingga ia tidak mendengar ucapan Mawar padahal tepat di telinga nya..


"Adik kecil, kak Mawar turun dulu ya, Fiqi kakak pindahin ke sini.'' ucap Mawar lagi kepada Fiqi..


"Fiqi ngantuk,'' Fiqi malah semakin erat memeluk tubuh Mawar, seakan tidak mau tidurnya terganggu..


Ruslan yang melihat ha itu pun ikut kembali bicara, membujuk anaknya agar Mawar bisa turun pulang ke rumahnya..


"Fiqi, itu kak Mawar dia mau turun, sebentar lagi kita juga sampai ke rumah kita, Fiqi lanjut tidurnya di kamar." Ruslan ikut membujuk Fiqi..


Namun Fiqi masih tidak menjawab, pelukannya semakin erat, Mawar jadi tidak tega melihat Fiqi, mungkin saat ini Fiqi sangatlah lelah hingga tidurnya sangat lelap sekali..


"Kalau begitu kamu ikut ke rumah dulu ya, nanti baru saya antar kamu pulang." Pinta Ruslan kepada Mwar..


"Baik pak,'' jawab Mawar pelan menuruti perintah dan ucapan Ruslan..


Hujan tidak kunjung untuk berhenti, ia semakin memperbanyak tetesan demi tetesan untuk membasahi bumi, seolah airnya tidak habis ingin menyirami seluruh tanah ini..


Mobil Ruslan memasuki garasi rumahnya, saat Ruslan mematikan mesinnya dan membuka pintu, dengan siaga Mawar langsung menggendong Fiqi dan membuka pintunya sendiri..


"Biar saya yang bawa Fiqi ke dalam, ucap Ruslan dengan spontan, saat melihat Mawar menggendong putranya itu..

__ADS_1


Ruslan mengambil Fiqi dari tangan Mawar, dan tidak sengaja tangan Ruslan menyentuh tangan Mawar. Namun Mawar berusaha bersikap tenang, Mawar tahu semua itu terjadi karena tidak sengaja, karena Fiqi ada di gendongannya, jadi pasti tangan Ruslan akan menyentuh tangannya..


Ruslan membawa Fiqi ke dalam, sementara Mawar masih berdiri di luar sana, Mawar sungguh gadis yang pemalu, ia takkan masuk ke dalam rumah sebelum di persilahkan, walaupun ia sudah sering ke sini namun ia tetap tidak mau bersikap lancang..


"Loh mbak, ayo masuk !, kok di luar aja sih,'' ajak mbok inem saat melihat Mawar masih berdiri di luar..


"Oh ya mbok, makasih ini sudah mau pulang kok,'' jawab Mawar..


"Ya nanti dulu lah, minum teh hangat dulu di dalam, kok buru buru amat sih neng ?" tawar Inem lagi..


"Iya mbok, tadi cuma nganterin Fiqi aja, gak sengaja ketemu pak Ruslan di sana"..


"Iya gak apa apa, sekali kali minum teh bareng mbok yuk,'' ajak Inem lagi..


Mawar tidak enak menolak ajakan mbok Inem, mbok memang sosok yang sangat ramah terhadap sesiapa pun, lagi pula Ruslan pun tidak kunjung turun, dan hujan masih sangat deras tidak mungkin Mawar pulang tanpa berpamitan kepada Ruslan..


"Ok deh kalau mbok memang pengen minum teh bareng aku,'' Mawar pun ikut ke dalam mengiringi langkah mbok Inem..


"Ini teh nya di minum dulu ya neng biar hangat, hujan di luar deras sekali loh." Mbok menyuguhkan satu gelas teh yang masih panas kepada Mawar..


"Makasih mbok, maaf ya aku sedikit ngerepotin, jadi gak enak aku nya." Mawar berbasa basi..


"Ngerepotin apa neng, kan cuma teh anget kok, malah mbok seneng ada yang nemenin minum teh, sebentar mbok ambil kuenya dulu"..


Inem kembali menghampiri Mawar membawa dua toples yang berisi keripik, dan juga kue manis. ''Ini kuenya biar minum tehnya makin asik neng." ucap di Inem..


"Wah kok di suguhi yang macam macam, nanti aku malah jadi gak pulang pulang nih mbok, makin betah deh di sini." Gurau Mawar..


"Yah gak apa apa, tidur sama mbok di kamar kan bisa, biar kita cerita cerita nanti, mbok udah lama gak punya teman cerita, malam malam tidur sendiri." Inem bersemangat karena Inem merasa kalau Mawar terlihat sangat ramah kepadanya..


"Yang ada nanti mbok Inem lagi yang keganggu, aku tidurnya ngoroh loh mbok." Gurau Mawar lagi..


"Ah masa sih, cantik cantik kok ngorok, gimana nanti kalau udah punya suami.. kaget dong suaminya, kok ini istriku cantik cantik tapi ngorok !" balas mbok Inem ikut bergurau..


"Haha bisa aja deh mbok", Mawar tertawa mendengar gurauan inem..


"Ngomong ngomong, udah punya pacar belum neng ?" mbok Inem mulai kepo..


"Mbok pengen tahu aja deh urusan anak muda"..


"Iya dong, biar mbok udah tua gini tapi bibi suka kalu nonton acara gosip gosip artis di Tv buat hiburan"..


"Oh gitu, gaul juga ya mbok, meskipun dinasnya di dapur tapi tetap membantu perkembangan dunia hiburan ya mbok"..


"Keren mah si mbok,'' puji Mawar..


"Jadi gimana, udah punya pacar belum ?, kok gak di jawab sih !" tanya mbok Inem lagi..


"Gak ada yang mau sama aku mbok"..


"Gak ada yang mau, apa kamunya yang pilih pilih, kamu cantik jadi masa gak ada yang mau sih,'' mbok Inem tidak percaya..


"Beneran mbok, ngapain sih aku bohong, kalau ada yang mau, ya gak mungkin aku masih ngejomblo hingga sampai detik ini kan !"..


"Ya udah mbok doain semoga cepat dapat pacar ya, bukan cuma pacar sekalian jodoh yang baik, sayang dan tulus sama neng"..


"Aamiin, makasih ya mbok atas doanya"..


"Sama sama, mbok tuh paling seneng loh kalau dengar ada orang yang mau nikahan, apalagi kalau yang menikah itu orang yang mbok kenal"..


"Bagus itu mbok, kita kan memang harus bahagia kalau melihat orang lain bahagia, jangan giliran orang lain bahagia, eh kita nya malah sewot dan mencoba merusak kebahagiaan orang lain,'' timpal Mawar..


"Iya benar mbok setuju neng, soalnya kalau ada yang menikah dan mbok kenal baik dengan orang itu pasti mbok jadi kebagian di dandanin, mbok paling seneng kalau di dandanin"..


"Oh iya, mbok seneng di dandanin ya ?, nanti deh kapan kapan aku make up in mau ga ?" tawar Mawar..


"Ya mau lah, tapi mau ke mana ?. mbok kan gak ada mau ke acara nikahan"..


"Dandan kan gak mesti datang ke nikahan aja mbok, buat foto aja juga boleh kok biar di cetak terus di pajang di kamar"..


"Atau nanti aja kamu dandani mbok ya neng, dengar dengar gak lama lagi ada den Yuda adik nya bu Vera akan menikah, dia akan pulang kesini." ucap mbok Inem kepada Mawar..


Seketika gluduk terdengar menggelegar sampai ke dalam rumah, hingga mengejutkan mbok Inem dan juga Mawar, apakah langit mengetahui apa yang di rasakan hati Mawar saat ini, hingga ia pun ikut bergemuruh mendengar kabar yang di sampaikan oleh mbok Inem baru saja..


"Aduh kok gledeknya makin keras aja ya, hujan juga semakin lebat." ucap Inem saat mendengar suara gledek yang baru saja menggelegar..


Mawar langsung meraih gelasnya dan meneguk teh hangat itu, ia ingin meluruhkan sesuatu yang tiba tiba mengganjal di kerongkongannya, tidak tahu kenapa hati Mawar terasa begitu sesak, nafasnya terasa begitu sempit saat mendengar kalau mas Yuda akan segera menikah..


Hujan di luar sana semakin deras saja, semakin membasahi seluruh permukaan bumi ini, atau mungkin hujan juga merasakan kesedihan yang di rasakan Mawar saat ini, atau mungkin hujan mencoba menutupi kegelisahan hati Mawar yang saat ini sagat tidak baik keadaannya..


"Sepertinya kamu gak bisa pulang deh neng, hujannya makin bertambah deras log," ujar Inem setelah menutup gorden di dapurnya melihat hujan di luar sana..

__ADS_1


"Masa sih, tapi kan aku ada bawa payung loh mbok," jawab Mawar..


"Iya memang kamu bawa payung neng tapi kamu gak denger ya tadi suara gledeknya kencang sekali, dan petirnya pun mengerikan, bahaya loh.. lebih baik kamu di sini aja dulu ya neng, sampai hujannya reda,'' ucap mbok Inem..


"Tapi hari sudah sangat sore mbok, sebentar lagi malam, aku belum mandi loh ini mbok, dan juga teman teman di rumah pasti nanyain aku kemana nanti''..


"Kabarin aja dulu teman teman kamu neng, bilang kamu disini biar mereka gak pada khawatir nantinya,'' mbok Inem memberikan saran kepada Mawar..


"Iya mbok, nanti aku kabarin sama mereka, tapi semoga sebentar lagi hujannya bakalan bisa reda jadi aku bisa pulang ke rumah." Harap Mawar..


"Kalau belum reda nanti neng minta tolong di antar oleh pak Ruslan saja pulangnya naik mobil jadi kan aman." Ujar mbok Inem..


"Ah gak usah mbok, ngerepotin nantinya !, dari sini ke sana juga gak terlalu jauh kok mbok, aku jalan kaki juga bisa nanti." Jawab Mawar..


"Iya seandainya kalau hujannya gak reda reda nanti neng, kamu tidur di sini aja ya temenin mbok kita cerita cerita, terus curhat curhat bareng deh,'' ajak mbok Inem..


"Haha boleh deh, tapi lain kali tunggu aku ada waktu luang ya mbok, besok kalau gak kerja baru deh aku nginep disini, atau mbok Inem aja yang nginep ke kamar ku gimana ?" ajak Mawar..


"Mbok mau aja nginep disana neng, tapi yang nanti gantiin tugas mbok di dapur sini ?, kalau bu Vera tau bibi kesana bisa kena semprot deh"..


Mungkin wajah Mawar dapat tersenyum dan bergurau dengan mbok Inem, tapi sesungguhnya di hati nya saat ini berusaha menahan rasa sakit yang begitu perih setelah ia mendengar apa yang di katakan oleh mbok Inem baru saja. Namun ia harus menutupi kesedihannya itu, karena ia tidak ingin merusak suasana hangat dirinya bersama mbok Inem yang terlihat begitu ceria mengobrol dengan Mawar..


Hati Mawar mulai gelisah, ia sudah tidak bisa menahan bongkahan kesedihan di hatinya, ingin segera ia merebahkan tubuhnya pada kasurnya dan menumpahkan segala air matanya, mencurahkan segala kesedihan dan kekecewaannya, sungguh hatinya sangat terasa sakit hari ini, dan mungkin air matanya yang di keluarkan akan melebihi derasnya hujan di hari ini..


Setelah hampir setengah jam dari ngobrol hangat dengan mbok Inem dan bergurau di sertai canda tawa dapat sedikit menghibur hati Mawar yang tengah galau saat ini, namun tetap saja ia akan meluruhkan kesedihannya ini dengan air mata, kelak saat tiba di kamarnya..


"Sepertinya hujan sudah mulai reda," Mawar beranjalan berjalan menuju jendela di dekat dapur dan menarik gorden untuk melihat keluar, ternyata langit sudah mulai cerah, hujan deras sudah berhenti dan suara gledek tidak terdengar lagi..


"Jadi mau pulang sekarang ya neng ?" tanya mbok Inem kepada Mawar..


"Iya mbok, aku pulang sekarang aja ya, soalnya aku juga belum mandi, dan belum nyetrika baju buat kerja besok"..


"Pulangnya mau jalan kaki ?, gak mau minta anterin pak Ruslan, kalau mau minta anterin biar mbok yang panggilin bapak di atas,'' tawar Inem..


"Gak usah mbok, biar aku jalan kaki saja, udah gak hujan lagi kok.. lagi pula gak terlalu jauh juga dari sini"..


"Ya sudah hati hati ya, mana payungnya katanya kamu bawa payung neng ?"..


"Masih di dalam mobil, tapi gak apa apa biarin aja dulu di sana, sudah gak hujan juga. Aku pulang dulu ya mbok, tolong bilangin sama pak Ruslan aku pamit dulu ya." Mawar berpamitan kepada mbok Inem..


"Iya nanti mbok sampaikan ke bapak ya, hati hati di jalan, nanti kapan kapan main ke sini la ya neng." Pinta mbok Inem..


Baru saja ingin menutup pintu tiba tiba Ruslan berlari dari atas ke lantai bawah, "Mawar mana mbok ?" tanya Ruslan kepada Inem..


"Oh baru saja keluar tua, katanya mau pulang." Jawab mbok Inem..


"Memang nya sudah tidak hujan lagi ya di luar ?"..


"Sudah reda tuab, tinggal sisa gerimis kecil kecil"..


"Mawar pulang dengan siapa ?, naik apa ?" tanya Ruslan lagi..


"Sendiri tuan, katanya mau jalan kaki saja tadi"..


Ruslan tidak menyahuti ucapan mbok Inem, ia langsung bergegas keluar rumah dan menyalakan mesin mobilnya ternyata ia tidak enak hati karena membiarkan Mawar berjalan kaki pulang ke rumah, tadi saat hujan deras Mawar telah menolongnya dan meminjamkan payungnya untuk Ruslan, dan sekarang Mawar harus telat pulang ke rumahnya karena memangku Fiqi yang tertidur, masa iya Ruslan harus membiarkan dia pulang sendiri berjalan kaki, ya.. meskipun jarak rumah Ruslan ke rumah Mawar tidak terlalu jauh..


"Mawar ayo naik !, saya antar." Suruh Ruslan menghentikan mobilnya di samping Mawar yang sedang berjalan kaki, baru berjarak sekitar dua puluh meter dari rumahnya..


Mawar menoleh dan dia cukup kaget ternyata yang memanggilnya adalah Ruslan, dan ia tidak mungkin menolak Ruslan yang sudah ada di sampingnya, maka Mawar pun mengikuti permintaannya dan langsung naik ke mobil..


"Maaf pak merepotkan, saya bisa kok jalan kaki kan gak terlalu jauh." Ucap Mawar sambil menunduk, ia begitu merasa segan kepada Ruslan..


"Tidak merepotkan kok, soalnya sekalian saya mau keluar juga, saya mau beli obat di apotik karena badan saya terasa meriang, kayaknya mau masuk angin deh." Ucap Ruslan..


"Oh iya pak"..


'Jangan ge er deh Mawar, ternyata pak Ruslan itu mau keluar beli obat, bukan sengaja buat nganterin elo !, pleas deh, elo itu jangan merasa di perhatikan sama pak Ruslan, sadar Mawar, sadar.. elo tuh bukan siapa siapanya dia !' lagi dan lagi Mawar mengingatkan diri nya sendiri..


"Itu payung kamu di belakang, terima kasih ya Mawar, tadi sudah kasih pinjam payung, jadi saya gak terkena hujan." Kali ini Ruslan lebih terdengar ramah..


"Iya pak saa sama, saya juga berterima kasih karena sudah di anterin ke rumah, mari pak." Pamit Mawar..


Mawar pun beranjak dan turun dari mobil Ruslan, ia segera masuk ke dalam rumahnya, ternyata rumahnya masih sepi, belum ada Riri dan Eca, mereka belum pulang. Seperti biasa di hari libur teman temannya itu mempunyai janji masing masing dengan pasangannya..


Mawar segera menutup pintu kamarnya, sedari tadi ia ingin segera menumpahkan air matanya yang sudah menggunung di pelupuk matanya, ia ingin meluapkan kekecewaannya saat ini juga, apalagi di rumahini sedang tidak ada siapa siapa, dengan begitu Mawar bisa melepaskan tangisannya dengan sejadi jadinya untuk meluapkan kekecewaannya yang begitu dalam di rasakannya..


"Kenapa, kenapa hanya kesedihan yang kau torehkan di hatiku ?, kenapa, kenapa engkau selalu membuatku menjatuhkan air mata ini ?, dan merasakan perih luka yang berusaha untuk sembuhkan sendiri. Aku mohon pergilah.. pergilah.. dari hatiku, aku mohon !" Rintih Mawar di sela tangisannya mengingat mas Yuda. Sungguh tidak sanggup ia membayangkan jika mas Yuda benar benar pulang dan melihatnya bersanding dengan wanita lain..


'Oh tuhan, aku mohon berilah pengganti mas Yuda, berilah laki laki yang bisa menggantikan mas Yuda di hatiku, dan aku mohon ijinkan lelaki itu menyayangiku dengan tulus, siapapun lelaki itu aku tidak pedulu, aku hanya ingin melupakan mas Yuda di hatiku, menghempaskan namanya, dan melupakan semua kisah serta kenangan yang telah kulalui bersamanya, aku ingin luka ini sembuh, aku mohon Tuhan.' Mawar kembali menitikkan air matanya di temani kesepian yang melanda dirinya saat ini..


Waktu terus beralu, gelap malam semakin pekat, Mawar tidak mungkin terus terpuruk di dalam kesedihan, ia tidak mau matanya menjadi bengkak di esok hari karena kebanyakan menangis, dan juga ia tidak mau teman temannya nanti tahu apa yang terjadi dan ia rasakan saat ini..

__ADS_1


Mawar pun menyadarkan dirinya untuk segera bangkit dan membersihkan diri, Mawar harus ingat hidupnya masihlah panjang, ada tanggung jawab yang harus di pikulnya atas kehidupan ibu dan adiknya. Bagaimana pun keadaan hatinya, ia harus terlihat ceria dan bersemangat, terlebih saat ia sedang bekerja..


__ADS_2