
Mawar mengenyampingkan dulu pertanyaannya, karena ia harus segera mengajak Fiqi masuk ke ruangan ujian pidato bahasa inggris, karena sebentar lagi ujian akan di mulai..
"Ayo Fiqi sayang, kita masuk sekarang kalau tidak nanti kita akan terlambat." Ajak Mawar..
Benar saja, semua anak yang ikut ujian bahasa inggris sudah berkumpul di ruangan itu. Tinggal Mawar dan Fiqi yang belum, Mawar langsung mengajak Fiqi duduk di bangku yang masih kosong itu, dan kali ini FIqi mendapat giliran maju kedepan di nomor tujuh..
Fiqi melihat teman temannya di ruangan ini, yang memang mereka semua saat ini di temani oleh kedua orang yang duduk di kiri kanan mereka, hanya Fiqi yang tidak di dampingi orang tua nya, Mawar yang tahu arti sorot mata Fiqi, langsung merasa iba..
'Kasihan sekali Fiqi, harusnya dia di temani oleh pak Ruslan dan bu Vera, tapi dia malah di temani oleh aku yang bukan siapa siapa nya,' desah Mawar dalam hatinya sambil menatap wajah Fiqi yang polos itu..
Mawar dan Fiqi kini menyaksikan satu persatu anak yang maju berpidato, sungguh Mawar takjub akan anak anak seumuran Fiqi yang sudah lancar berbahasa inggris. Mungkin karena orang tua mereka yang kaya jadi bisa memasukkan mereka les disini, sehingga di usia yang sangat kecil ini mereka sudah pandai berbahasa inggris..
"Baik selanjutnya kita panggilkan Fiqi Derajat, Fiqi hari ini dia di temani oleh bundanya, silahkan bunda berikan semangat kepada Fiqi." Ucap wanita di depan yang menjadi guru yang bertugas di ujian bahasa inggris Fiqi kali ini..
Kali ini baik Fiqi maupun Mawar tidak menyanggah ucapan wanita itu, mereka hanya tersenyum begitu pun dengan Mawar. Mawar langsung memberikan semangat kepada Fiqi dan tidak lupa Mawar mengecup puncak kepala Fiqi dengan lembut..
"Semangat ya, Fiqi pasti bisa !" ucap Mawar kepada Fiqi, dan di balas senyuman keyakinan oleh Fiqi. Ia melangkahkan kakinya menuju podium kecil dan memenang mikrofon itu untuk memulai pidatonya..
"Mawar sengaja tidak menyanggah ucapan wanita itu, sebab ia ingin menjaga perasaan Fiqi, semua anak dalam ruangan ini di temani oleh orang tua kandungnya, sedangkan Fiqi hanya di temani olehnya, maka Mawar yang tidak mau Fiqi malu terhadap teman temannya karena ia tidak ditemani seperti mereka, Mawar pun membiarkan kalau ia di kira ibunya Fiqi, agar orang orang dalam ruangan itu tidak menilai kalau Fiqi tidak di perhatikan oleh kedua orang tuanya..
Sama saat seperti praktek piano tadi, Mawar begitu antusias mereka Fiqi di layar ponsel, Mawar sangat kagum akan Fiqi, tidak hanya sehari hari Fiqi bijak dalam berbicara, ternyata saat berpidato di depan orang banyak, Fiqi sangat lancar, tidak terlihat malu ataupun gugup di wajah Fiqi, suaranya sangat lantang sehingga sangat jelas terdengar, Mawar begitu bangga akan Fiqi..
Fiqi menyelesaikan pidatonya, dan sama seperti tadi semua guru dan orang tua serta teman temannya memberikan tepuk tangan semangat untuk penampilannya, dan ia pun tersenyum dan kembali duduk di dekat Mawar..
"Keren banget Fiqi, kak Mawar kagum melihat penampilan Fiqi,'' puji Mawar yang langsung di iringi pelukan hangat..
"Terima kasih kak Mawar,'' Fiqi membalas pelukan Mawar..
Satu jam kemudian ujian pidato bahasa inggris pun selesai, saat Mawar dan Fiqi hendak meninggalkan ruangan ini, seseorang memanggil Fiqi, dan ternyata salah satu orang tua dari teman Fiqi, ia mengundang Fiqi untuk datang ke acara ulang tahun anaknya pekan depan..
"Bunda Fiqi, tunggu sebentar,'' seru wanita itu..
"Oh iya mbak, ada apa ?''..
"Ini anak saya akan ulang tahun pekan depan, ini undangan untuk Fiqi, bundanya dan juga papanya." Wanita itu memberikan kartu undangan kepada Mawar..
__ADS_1
"Jangan sampai gak datangĀ yang bunda Fiqi, di ajak juga papanya Fiqi, soalnya anak saya bilang dia sangat akrab dengan Fiqi, jadi dia berharap Fiqi bisa datang nantinya." Ucap wanita itu dengan sangat ramah..
"Oh baik mbak, saya usahakan nanti untuk datang ya pekan depan di acara ulang tahunnya, terima kasih atas undangannya ya mbak,'' ucap Mawar juga tidak kalah ramahnya..
"Sama sama mbak kalau begitu kami duluan ya mbak." ucap wanita itu lagi..
"Mari, silahkan mbak." Mawar mendadak formal dan jiwa keibuannya langsung datang dengan sendiri nya..
'Kenapa semua orang di sini mengira aku ibunya Fiqi ya, apakah wajahku ada kemiripan dengan Fiqi ?, atau aku memang sudah cocok menjadi ibu ibu, berarti aku terlihat seumuran dengan bu Vera ?,' Mawar memperhatikan penampilannya sendiri, apakah baju yang ia kenakan hari ini sangat memberikan kesan yang dewasa, hingga semua menganggap Mawar ibunya Fiqi..
"Kita tunggu di sini saja ya Fiqi, kak Mawar mau telepon papi Fiqi dulu, agar papi Fiqi segera menjemput kita"..
"Ya kak Mawar, telepon papi sekarang ya." suruh Fiqi..
Mawar mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil, ia memulai panggilan keluar di nama pak Ruslan, Mawar tidak perlu menyimpan nomor itu lagi dari kartu nama Ruslan, sebab ia memang sudah memiliki kontaknya, telepon itu tersambung dan Mawar langsung menyerahkan ponselnya kepada Fiqi..
"Fiqi bicara sama papi ya, bilang kalau kita sudah pulang dan sudah menunggu di sini." Pinta Mawar kepada Fiqi..
"Papi jemput Fiqi dan kak Mawar sekarang ya, Fiqi sudah selesai disini kami menunggu di lobby ya pi,'' Fiqi menerangkan pada Ruslan di seberang sana..
Dua puluh menit kemudian, Ruslan sudah sampai dan ia langsung menghampiri Fiqi dan Mawar yang sedang duduk bersama sambil menonton video rekaman penampilan Fiqi di ponsel Mawar..
"Fiqi.." panggil Ruslan..
"Papi sudah datang, pap sini.. ayo lihat ini video Fiqi sedang memainkan piano tadi, kak Mawar merekamnya, ayo lihat sini pi !'' Diqi penuh semangat menarik tangan Ruslan untuk ikut melihat videonya di ponsel milik Mawar..
"Iya sayang, papi lihat sebentar." Ruslan tidak bisa menolak ajakan Fiqi, dan sekarang ia sudah duduk di samping Mawar..
"Mawat yang tadinya menonton video ini dengan asik dan penuh semangat, sekarang perasaannya berubah menjadi tidak menentu tiba tiba saja jantung nya kembali berdegup lebih kencang dan darahnya berdesir hebat saat Ruslan duduk tepat di sampingnya..
"Dengerin deh pa menurut papa gimana Fiqi udah jago belum main pianonya, nadanya bagus kan pa ?" tanya Fiqi kepada Ruslan yang melihat video itu sekilas saja atau mungkin Ruslan sungkan takut Mawar risih ia terlalu dekat dengannya..
"Iya sayang, bagus banget, kamu hebat banget deh sayang, nada yang kamu mainkan begitu merdu dan enak sekali untuk di dengar. Papi banggsa sama kamu nak." puji Ruslan kepada putranya..
"Makasih papi, coba dengerin sampai selesai pi, sebab di akhirnya nanti Fiqi memberikan melodi yang sangat indah, papi harus mendengarnya !" seru Fiqi yang menarik bahu Ruslan agar melihat videonya lebih dekat lagi, sehingga kini baju Ruslan menyentuh bahu Ruslan..
__ADS_1
Jelas saja itu membuat perasaan Mawar semakin tidak karuan, ia tidak bisa menahan kecanggungan di hatinya, terlebih dengan posisi yang sangat dekat saat ini membuatnya sangat tidak nyaman..
"Fiqi, tolong pegang dulu ya ponsel kak Mawar, kakak mau ke toilet dulu sebntar,'' ucap Mawar menyerahkan ponselnya kepada Fiqi yang berada di belakangnya dan Ruslan..
Mawar sengaja beralasan pergi ke toilet sebab ia tidak bisa lama lama menahan ketidaknyaman ini, ia tidak sanggup menutupi perasaan groginya akibat posisi badan Ruslan yang terlalu menempel dengannya..
'Duh Fiqi pakai acara menarik badan pak Ruslan lagi, jadinya kan makin tambah nempel deh sama badan gue !, gue gak enak kalau di lihat orang lain, yang tahu kalau gue bukan ibunya Fiqi, bisa bisa gue di sangka pelakor nanti.' desis Mawar dalam hatinya sambil menghadap cermin di toilet..
Meskipun tidak ada keinginan buang air kecil ataupun buang air besar, namun Mawar tetap berdiam di kamar mandi sambil merapikan rambut dan juga bajunya, setelah sepuluh menit barulah Mawar keluar dan kembali menghampiri kedua laki laki yang masih menatap layar ponsel miliknya itu..
"Maaf ya Fiqi, kak Mawar lama." Ucap Mawar..
"Sini kak Mawar lihat video Fiqi lagi, ini waktu Fiqi pidato bahasa inggris," ajak kepada Mawar lagi..
"Fiqi nanti minta ya kak Mawar videonya kirim aja ke ponsel nya papi ya kak, biar kita lihat di rumah lebih lama lagi, biar lebih puas melihatnya,'' ujar di Ruslan kepada Fiqi, yang mungkin Ruslan paham kalau Mawar sudah enggan untuk melihat video itu bersamanya, apalagi dengan jarak yang sangat dekat ini..
"Oke deh papi, tapi nanti kita lihat sama sama lagi ya di kamar Fiqi ya pi,'' ujar Fiqi..
"Iya nanti kita lihat sama sama ya sayang, papi juga belum puas melihat penampilan jagoan papi yang keren banget tadi,'' Ruslan beranjak dari tempat duduknya..
Ruslan pun berjalan sambil memegang tangan Fiqi, semntara Mawar berjalan mengiringi mereka berdua dari belakang, namun saat keluar dari tempat lest itu Fiqi menoleh kepada Mawar, ia menarik tangan Mawar untuk ikut berjalan sejajar dengannya dan Ruslan, jadilah kini mereka berjalan bertiga bagaikan satu keluarga yang harmonis..
Mawar sebenarnya merasa tidak enak dengan posisi ini, sebab seharusnya yang berjalan bersama mereka saat ini adalah bu Vera, namun karena Fiqi menariknya jadi Mawar terpaksa ikut saja. Mawar hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fiqi dan Ruslan..
"Papi, Fiqi senang sekali hari ini, untuk saja ada kak Mawar yang menemani Fiqi, kalau tidak Fiqi bakalan sedih sebab teman teman yang lain semuanya di temani oleh mami dan papi nya,'' ujar Fiqi kepada Ruslan..
Iya sayang, maaf ya papi gak bisa mendampingi kamu tadi, kalau papi gak sakit pasti temenin Fiqi,'' Ruslan merasa dirinya sangat bersalah kepada putranya ini..
"Iya papi.. tidak apa apa, yang penting papi cepat sehat dulu. Kalau seandainya tidak ada kak Mawar, mungkin Fiqi barulah akan sedih dan Fiqi mungkin gak akan mengikuti ujian hari ini." Tutur Fiqi..
Hati Ruslan begitu sedih mendengar perkataan putranya itu, Ruslan semakin sangat merasa bersalah karena tidak bisa mendampingi putranya di saat momen yang sangat penting ini. Ruslan melihat Mawar sekilas, ia sangat berhutang budi kepada gadis ini yang telah sangat perhatian dan sayang kepada Fiqi..
"Terima kasih Mawar, kamu telah menggantikan peran Vera hari ini, aku sangat berhutang budi padamu, aku tidak tahu bagaimana caranya aku membalas hutang budi ini''...
Saat ini Ruslan baru sanggup mengucapkannya dalam hati, namun mau tidak mau Ruslan harus mengatakannya langsung kepada Mawar, walaupun gengsi di dalam diri Ruslan cukuplah tinggi, hingga ia harus mencari cara yang lebih tepat untuk berterima kasih kepada Mawar..
__ADS_1