Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

*Di sisi mas Yuda..


Karena lelah akan pekerjaan kemarin aku jadi ketiduran dan lupa untuk mengabari Mawar tentang kepergianku hari ini, tapi bisnis dan perintah kakak ku lebih dari semuanya, kalau aku membantahnya bisa bisa nanti fasilitas kemewahan yang aku nikmati sekarang di hentikan semua olehnya..


Sebenarnya ada perasaan tidak enak di hatiku karena harus meninggalkan dan mengakhiri hubungan dengan Mawar secara mendadak, tapi bagaimana pun ini harus kulakukan daripada aku bingung nantinya bagaimana harus bicara dengannya kelak, ini kesempatan ku yang bisa di jadikan alasan..


'Maaf Mawar jika aku mengecewakan mu,' terbesit di hati Yuda akan perasaan bersalahnya kepada Mawar..


'Ah.. tapi kan zaman sekarang hal itu sudah biasa, lagi pula Mawar kan tidak kenapa-kenapa,' aku mencoba menepis rasa bersalah ku..


Aku tak ingin memikirkan hubungan ku dengan Mawar lagi, aku harus fokus dengan bisnis di singapura agar tidak kalah dengan Edo, bawahan yang jadi kebanggaan abang dan kakakku karena kinerjanya yang bagus..


*Di sisi Mawar..


'Kedua kalinya aku datangi tempat ini dan kedua kalinya aku di buat patah hati dan kecewa oleh orang yang sama.' rintih Mawar di temani hembusan angin pantai yang terasa menusuk tulangnya..


Tidak ingin terpuruk di sudut kamarnya, Mawar mencoba menghirup udara di sekitar pantai ini. Ia berharap kegalauan dan kekecewaan yang ia rasakan saat ini bisa hilang terbawa angin yang membelainya..


Sempat terpikir oleh Mawar untuk melakukan hal yang bodoh, ia ingin mengakhiri hidupnya namun seketika wajah sang ibu menyadarkannya bahwa hidupnya bukan tentang dirinya saja, masih ada ibu dan adiknya yang menaruh harapan besar padanya..


Lama menikmati pantai yang menenangkan kesedihannya, Mawar duduk termenung dan pikirannya melayang jaung berharap mas Yuda kembali bersamanya. Namun semua itu hanya bayang bayang semu, Mawar mengusap wajahnya agar sadar bahwa laki laki itu bukanlah cinta sejatinya..


Mawar mengikat helaian rambutnya yang tertiup angin, dan bergegas pulang ke rumah supaya teman temannya tidak risau untuk mencari keberadaannya saat ini..


Ia bertekad akan berusaha melupakan mas Yuda dan menghapus semua dan segalanya yang pernah terjadi di antara mereka, memanglah sesuatu yang sangat berat bagi Mawar namun saat ini tidak ada pilihan lain, ikhlas yang harus di lakukan..


"Sial kok g ada sinyal ya,'' gerutu Mawar sambil mengotak atik ponselnya..


Lama ia berkutat dengan ponsel itu, namun tetap tidak bisa di gunakannya, ternyata setelah di cek Mawar tidak memiliki paket internet lagi di ponsel..


'Duh lupa kalau belum di isi,' lirih Mawar..


Mawar melirik kanan dan kiri berharap ada seseorang yang bisa meminjamkan ponsel padanya untuk memesan kendaraan online, 'kok sepi banget sih,' gumam Mawar..


Tidak tahu harus bagaimana Mawar terus menelusuri jalan di depannya, hingga tiba ia dekat jalan raya..


Tiba tiba kendaraan bermotor berhenti tepat di sampingnya, Mawar pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke seseorang di motor itu..


"Mbak Mawar, mau kemana ?" Tanya cewek berhijab merah itu..


Mawar tidak langsung menjawabnya, ia mengingat-ngingat akan wajah cewek yang menyapanya itu..


"Eh.. mbak Vina, ini saya mau pulang mbak,'' jawab Mawar setelah mengingat bahwa itu salah satu pelanggannya di salon..


"Kok jalan kaki, memang rumahnya deket dari sini ya ?," Tanya Vina..


"Gak deket mbak, tadi mau pesan kendaraan online.. eh rupanya paket internet saya habis,'' jawab Mawar malu malu..


"Owaalah.. ya udah bareng saya aja mbak, yukk !!" ajak Vina..


Karena hari pun sudah sore dan sebentar lagi teman teman Mawar pulang ke rumah, tanpa pikir panjang Mawar langsung menerima tawaran Vina..


"Makasih ya mbak Vina,'' Mawar tersenyum legah..


Bercerita sepanjang perjalanan dengan Vina bisa membuat Mawar lupa akan sosok mas Yuda yang menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping, Mawar terlihat tertawa lepas bersenda gurau dengan Vina..


"Wah mbak Vina ternyata pandai ngelawak juga ya,'' puji Mawar..


"Iya mbak kan aku masih saudaranya sule haha,'' Vina terkekeh..


"Makasih ya mbak udah mau nganterin aku,'' pamit Mawar turun dari motor..


"Iya mbak, kebetulan kita searah aja"..


"Mampir yuk mbak," tawar Mawar..


"Lain kali aja mbak Mawar, udah di tungguin anak anak,'' Vina melanjutkan motornya..


Mawar segera masuk dan membersihkan dirinya yang terlihat sangat lusuh, ia tidak ingin teman temannya tahu kalau ia seharian ini menangis dan bersedih..


Mawar kini ingin fokus pada pekerjaannya dan membahagia kan keluarganya yang tidak lain ibu dan adiknya di kampung, apalagi sang adik sebentar lagi akan ujian pasti butuh biaya lebih untuk melunasi semua tunggakan sekolahnya..


"Mawar kamu udah enakan ?" Tanya Gina menemui Mawar di kamar..


"Sudah Gin, cuma masuk angin aja ini kayaknya,'' jawab Mawar pelan..


"Baguslah, namanya jauh dari orang tua kita harus di jaga kesehatannya,'' tambah Gina..


Mawar mengangguk setuju akan ucapan Gina..


Tanpa diminta, air bening itu kembali meluncur di pipi Mawar, untung saja Gina sudah kembali ke kamarnya jadi ia tidak memperlihatkan kesedihan yang di alaminya saat ini..


'Mas.. aku sangat mencintaimu, ku kira kamu lah laki laki satu satunya yang akan menemaniku sampai kelak nanti kita menikah, tapi apa.. setelah ku berikan semuanya mengapa mas justru dengan mudahnya meninggalkan aku seorang tidak pernah terjadi apapun di antara kita,' rintih Mawar sambil meremas bantal gulingnya..

__ADS_1


Termenung.. itu lah hobi Mawar saat ini jika sedang di kamar, teringat segala hal yang telah ia lalui bersama mas Yuda, manisnya cinta yang dulu ia rasakan serta indahnya kemesraan yang mereka lalui seakan menjadi mata pisau yang tajam mencabik cabik hatinya sekarang..


Ia sungguh tidak menyangka jika kisah cintanya harus berakhir luka yang sangat pedih seperti ini, kini tinggalah dirinya yang di selimuti kesedihan dan penyesalan akan pengorbanan cinta yang sekejap ini..


Mawar meraih cermin bulat berwarna pink itu, terlihat wajahnya di cermin sangat begitu pucat, layu dan tidak bersemangat sama dengan perasaannya saat ini..


"Mawar"..


Suara di balik pintu menyadarkan Mawar, ia segera merapikan dan mengikat rambutnya menjadi satu..


"Riri"..


"Kamu gimana keadaannya Mawar ?" Tanya Riri khawatir..


"Baik kok, tinggal lemas sedikit aja"..


"Duh.. muka kamu kusem banget sih say,'' ucap Riri membelai lembut wajah Mawar..


Mawar hanya tersenyum kecil, Riri segera masuk dan menutup pintu kamar dan menuntun Mawar ke tempat tidur..


"Kamu tiduran ya, biar aku bersihin dan pinjetin wajah kamu biar lebih fresh lagi,'' tawar Riri dengan manis..


Mawar menerima tawaran temannya itu, terlihat kini ia mulai terbaing santai di kasur singlenya. Riri memulai aksinya menumpahkan beberapa tetes susu pembersih di tangannya lalu di aplikasikan ke wajah Mawar, dengan lembut Riri meratakan susu pembersih itu hingga mengenai seluruh wajah Mawar..


Kini Mawar terlihat memejamkan matanya sambil menikmati gerakan tangan Riri yang menari nari lincah di wajahnya sehingga merilekskan urat urat di wajahnya yang menegang dari kemarin..


Riri memang gadis yang imut dan agak manja tapi ia sangat peduli akan teman temannya, seperti saat ini ia tengah membantu Mawar menghilangkan sedikit beban di wajah manis Mawar..


"Kayaknya ketiduran dia ini,'' Tanya Riri melihat Mawar yang terpejam..


Tidak ingin mengganggu kenyamanan tidur Mawar, Riri mencoba mencari sendiri sesuatu di meja rias Mawar..


"Nih dia,'' ucap Riri saat menemukan benda yang di carinya..


Riri mengeluarkan sheet mask itu dari bungkusnya dan menempelkannya di wajah Mawar yang telah ia bersihkan..


"Aku tinggal aja deh, kan itu aman sampai besok pagi"..


Riri beranjak dari kamar Mawar dan mematikan stop kontak lampu supaya tidur Mawar semakin lelap..


"Met istirahat Mawar" ucap Riri manis meninggalkan sahabatnya yang sedang tertidur pulas itu..


*Beberapa minggu kemudian*


Mawar memulai lagi aktivitasnya seperti biasa, walaupun sudah hampir satu bulan kepergian mas Yuda namun luka di hati Mawar seolah masih basah dan tidak membaik sama sekali..


'kenapa.. kenapa harus aku yang merasakan ini, kenapa dia pilih aku kalau akhirnya akulah yang harus seperti ini,' rintih Mawar sesekali melirik wajah ketiga teman temannya yang jauh lebih beruntung hingga tidak merasakan luka sepertinya..


"Mawar.. tadi customer yang kamu handle kemarin telepon bu Bos, katanya kamu lupa kasih serum ke wajahnya ?" Gina bertanya ke Mawar dari meja kasir..


Mawar tetap diam sambil memegang majalah di tangannya, majalah itu memang terbuka tapi mata Mawar tidak menunjukkan kalau ia sedang membacanya..


"Hei.. Mawar.. " panggil Gina..


"Mawar... melamun loe ya ?" Eca sedikit berteriak menepuk pundak Mawar yang tidak mendengar panggilan Gina..


Mawar tersadar dan menoleh ke Eca dan Gina "iya.. kenapa ?" Tanyanya dengan datar..


"Tuh di tanyain sama Gina.'' ucap Eca memajukan bibirnya ke arah Gina..


"Iya Gin kenapa ?.'' Tanya Mawar polos..


"Ini kemarin ada customer yang komplain sedikit, katanya kamu lupa kasih serum ke wajahnya ?," jawab Gina sopan..


"Oh.. iya.. ya ampun, aku lupa Gin.. " ucap Mawar kaku..


"Iya.. bu Bos yang kasih tau aku, soalnya customer langsung nelpon ke bu Bos,'' terang Gina..


Mata Mawar langsung membesar dan mulutnya terbuka, "waduh.. gawat.. habislah gue,'' gerutu Mawar menepuk jidatnya..


"Ya udah sih.. namanya juga manusia ada lupanya,'' imbuh Eca..


"Nanti kamu jelasin aja ke bu Bos alasan kamu apa, katanya nanti mau mampir sebentar ?" ucap Gina..


"sana.. loe ngarang dulu alasan yang paling masuk akal, biar bu Bos ga senewen sama kamu Mawar,'' sahut Eca menggoyangkan kedua alisnya..


"Duh.. bilang apa ya ?" Mawar bingung harus memberi alasan apa, karena memang itu keteledoran dia yang tidak fokus akibat mikirin si mas Yuda terus..


Pusing memikirkan apa yang harus ia katakan nanti pada bu Vera kelak, Mawar masih termenung sendiri di ruangan karyawan..


Tiba.. tiba..


Ceklek.. seseorang menarik knop pintu itu..

__ADS_1


"Mawar.. !" ucap bu Vera pelan..


Sigap Mawar merubah posisinya yang terbaring menjadi duduk dan merapikan helaian rambutnya yang sedikit tidak beraturan..


"Iya ibu.." Mawar segera akan beranjak berdiri..


"Tetap duduk disana Mawar !" perintah bu Vera..


Mawar menuruti maunya bu Vera, ia pun kembali merebahkan bokongnya di lantai beralaskan karpet yang bermotif polkadot itu..


"Kamu sudah tau kesalahan kamu kan ?" Tanya bu Vera masih berdiri melipat kedua tangannya..


"Iya bu.. " jawab Mawar pelan sambil menundukkan kepalanya..


"Kali ini saya maklumin, tapi saya harap kamu tidak melakukannya lagi apalagi sama customer langganan !" ucap bu Vera sedikit sinis..


"Baik bu"..


"Saya minta kamu tetap fokus ya kalau memang masih betah untuk bekerja disini, karena beberapa bulan terakhir ini target kamu pun selalu menurun,'' jelas bu Vera kepada Mawar..


"Iya bu".. jawab Mawar..


"Ingat ya.. jika kamu sedang ada masalah pribadi tolong jangan sampai berimbas pada pekerjaanmu, berika yang terbaik untuk salon ini !" Tekan bu Vera..


Mawar hanya diam tertunduk mendengar perkataan bosnya itu, sementara bu Vera berbalik dan menutup pintu itu meninggalkan Mawar di dalamnya..


Kesal.. mungkin itu yang Mawar rasakan saat ini, saat hatinya tengah rapuh ada saja masalah yang menambah kesal di hatinya, Mawar memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya, meskipun teman teman Mawar tidak mendengar apa yang di bilang bu Vera, tapi rasa malu Mawar datang dengan sendirinya hingga ia terlihat begitu canggung dan takut untuk keluar dari ruangan ini..


"Mawar.. makan yuk,'' ajak Riri yang membuka pintu itu tiba tiba..


Mawar kaget mendengar suara Riri dan segera melihat ke arahnya, di saat ia merasa malu dan canggung keluar dari sini tapi ada Riri yang mengajaknya. memang dari ketiga temannya hanya Riri yang paling perhatian dan dekat dengannya..


"Ayo.." ucap Mawar menghampiri Riri..


"Loe kenapa sih Mawar.. kok mukanya kaya lesu gitu sih ?"


"Iya nih.. gara gara gue ga fokus kerja kemaren"..


"Ga fokus gimana ?" Riri tidak tahu apa apa sama sekali..


"Kan ada customer yang komplain sama gue, gara gara lupa kasih serum ke mukanya,'' terang Mawar..


"Terus"..


"Ya tadi gue di kasih peringatan sama bu Bos" jawab Mawar bete..


"Ya udah.. yang sabar ya Mawar,'' Riri mengelus pundak Mawar..


"Iya Ri.. makasih ya"..


Riri mengangguk tersenyum. ''makan lagi dong,'' ucapnya menambahkan telur sambal pada piring Mawar..


"Huhh.." keluh Mawar melemparkan tas hitam kecil ke sembarang arah di dalam kamarnya. Ia langsungĀ  menjatuhkan tubuhnya di kasur itu, seakan melepas semua beban yang sangat berat di alaminya beberapa minggu terakhir..


"Gara gara kamu ini, aku jadi ga fokus sama kerjaanku !'' gerutu Mawar berbicara menghadap lampu yang tertanam di langit langit kamar itu..


Selama bekerja Mawar belum pernah melakukan kesalahan seperti ini, ini memang bukan kesalahan besar tapi entah mengapa hati Mawar begitu sedih bila teringat saat siang tadi ketika bu Vera sedang bicara padanya..


''Kenapa hatiku saat ini kesal sekali, padahal dia bicara sewajarnya saja tadi ?" Tanya Mawar sambil memiringkan badannya dan meraih badan guling untuk di peluknya..


Entah kenapa perasaan kesal Mawar tidak bisa hilang bila terbayang wajah bu Vera, Bosnya itu yang juga kakak kandung dari mas Yuda lelaki yang sangat ia cintai..


"Gara gara dia mas Yuda meninggalkan aku".. pandangan Mawar tajam seolah sedang menatap seseorang yang di bencinya..


Mawar tahu sekarang kenapa hatinya begitu malas bila teringat wajah bu Vera, ya.. karena dialah yang menyuruh mas Yuda pergi dari kota ini ke luar negeri, padahal hubungan Mawar sedang baik baik saja. Gara gara bu Vera juga, Mawar harus menjalani hubungan secara kucing kucingan..


"Apa mungkin ia sudah tahu kalau aku berpacaran dengan adiknya ?" Tanya Mawar menatap dinding putih ini..


Mawar berpikir keras apa mungkin kalau Bosnya itu mengetahui hubungannya dengan mas Yuda dan sengaja menyuruh mas Yuda untuk pergi agar hubungan mereka tidak bisa di lanjutkan..


Mawar bangkit dari tidurnya dan mengelus-ngelus dahinya, agar otaknya sedikit rileks, dan Mawar meraih cermin bulat kesayangannya..


"Memangnya aku ini buruk sekali kah ?" Tanya Mawar kesal pada cerminnya..


Ia terus menelisik setiap inti wajahnya, membelai-belai rambut hitam indahnya. Di lihatnya wajah putih mulusnya, hidung yang tidak terlalu mancung dan tidak juga pesek serta di elusnya bibir pink muda yang sedikit tipis namun tetap menawan..


"Perasaan ga jelek jelek amat deh,'' Mawar meyakinkan diri nya sendiri..


Prakk.. Mawar melemparkan cermin bulat itu di lantai, untung cermin itu tidak pecah, dan kembali Mawar merebahkan tubuhnya di kasur..


"Ginilah ya.. nasib orang biasa, ga pantes bersanding sama laki laki kaya,'' ringis Mawar..


Tidak seperti biasanya jika sepulang bekerja Mawar bergegas membersihkan diri dan merapikan kamar tidurnya, tapi kali ini ia membiarkan barang barangnya tergeletak di sembarang tempat, bahkan seragam kerja yang sejak pagi menempel di tubuhnya, ia biarkan tetap melapisi badannya..

__ADS_1


Begitu terlihat kegalauan Mawar terusik kembali, hingga ia tidak peduli dengan dirinya saat ini..


"Awas aja jika memang benar kalau dia sengaja menyuruh mas Yuda pergi karena tahu akan hubungan kami, menyebalkan !!" dengus Mawar menggertakan gigi giginya..


__ADS_2