Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Lelaki Siaga


__ADS_3

Padahal Ruslan hanya memberikan waktu kurang lebih setengah jam kepada Fiqi untuk bermain dengan Fiqi, namun jika sudah bersama Mawar justru Fiqi tidak mengingat akan hal itu, anak itu begitu menikmati canda tawanya dengan Mawar, sedangkan Mawar sendiri tidak mungkin untuk menyuruh Fiqi utnuk kembali ke kamarnya, Mawar tidak mungkin tega dengan hal itu..


Saat ini yang di perlukan Mawar membuat Fiqi terlelap, sedangkan Mawar belum juga bisa memejamkan matanya, meskipun kamar ini begitu bagus dan sangat nyaman, namun tetap saja tempat yang paling nyaman untuk di tidur baginya adalah kamar kecil di asrama nya..


Sedangkan Ruslan yang sudah bergelut dengan pekerjaan nya tidak teringat lagi akan Fiqi yang sedang bermain dengan Mawar, bila sudah berhadapan dengan layar laptopnya, ia akan begitu serius hingga tidak sadar dengan waktu..


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ruslan barulah menyadari kalau sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, barulah ia mulai teringat kalau Fiqi tadi sedang bermain di kamar nya Mawar..


"Sudah jam sepuluh rupanya, Fiqi.. astaga !, aku lupa kalau tadi dia di kamar Mawar, di mana dia sekarang ya, apa dia masih bersama Mawar ?" Ruslan dengan cepat membereskan meja kerjanya, dan bergegas untuk turun ke bawah melihat apakah Fiqi masih di sana atau tidak..


"Fiqi,'' Ruslan membuka pintu kamar Fiqi dan tidak mendapati anak nya di sana, kamar itu kosong dengan lampu yang masih menyala terang..


Maka ia pun mulai bergegas ke kamar tamu yang telah di tempati Mawar sekarang, 'jadi dia masih di sana ya, astaga aku benar benar lupa dengan Fiqi dan keadaan Mawar saat ini"..


"Mawar.." Ruslan mengetuk dan mulai memanggil Mawar dengan pelan dari depan pintu..


Perlahan Mawar pun beranjak dari tempat tidur, ia lalu melepas tangan Fiqi yang sedang berada di atas pinggang nya, Mawar pun membuka pintu kamar nya..


"Ya pak, Fiqi ketiduran pak"..


"Aduh saya benar benar lupa kalau Fiqi masih di sini, pekerjaan saya tadi banyak sekali jadi sekarang baru saja selesai"..


"Tidak apa apa pak, itu Fiqi di sana tidur nya lelap sekali, jadi saya gak tega untuk membangun kan Fiqi"..


"Oke saya permisi sebentar untuk masuk ke dalam ya, biar saya gendong saja Fiqi ke kamar nya">.


"Ya pak, silahkan." Mawar langsung membuka pintu kamar nya lebih lebar..


"Maaf ya Mawar, saya gak bermaksud untuk merepotkan kamu menjaga Fiqi, tapi saya tadi benar benar lupa,'' Ruslan lalu menggendong tubuh Fiqi yang cukup berisi itu..


"Iya pak gak apa apa, oh ya pak kalau saya pulang sekarang boleh gak ?, saya sudah baik baik saja kok hari ini,'' akhirnya perkataan itu keluar juga dari mulut Mawar..


"Ini sudah malam Mawar, sebaiknya kamu istirahat aja dulu di sini, besok saya antar kamu pulang, saya tidak mau terjadi apa apa dengan kamu karena itu merupakan tanggung jawab saya,'' Ruslan berlalu dari kamar Mawar..


Tentu saja Mawar tidak bisa membantah satu kata pun dari ucapan Ruslan barusan, setidaknya ada perasaan lega di hati nya, karena sudah tahu kalau bu Vera akan pulang besok sore, dan ia tidak mungkin bertemu pandang dengan Vera di rumah ini..


"Lagian aku kenapa juga sih pakai acara pingsan segala tadi !, perasaan dulu waktu sekolah, sering kok gak sarapan sampai lemes gitu, tapi gak pingsan juga tuh, eh ini giliran udah gede malah pingsan, lemah banget sih !" Mawar mengutuk diri nya sendiri..


Lalu ia kembali mencoba merebahkan diri nya di kasur besar itu, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh nya, akhirnya Mawar benar benar menjadi tamu di kamar yang mewah ini, pilahan nya hanya satu, ia harus menikmati fasilitas yang ada di kamar ini..


Mawar kembali meraih ponsel nya, ia langsung mengirimkan pesan singkat untuk teman nya Riri, mengabari kalau ia sekarang berada di rumah pak Ruslan saat ini, dan menginap di sini agar ke tiga teman teman nya tidak khawatir dengan nya, dan tidak bertanya tanya di mana keberadaan nya..


Karena perasaan nya memang sudah lebih baik jadi tidak terlalu sulit untuk Mawar memejamkan matanya, jarang jarang juga ia bisa tidur di tempat yang bagus seperti ini, maka ia pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini, ya walaupun dia bisa menempati ini karena harus sakit terlebih dahulu, Mawar mulai terlelap dan terhanyut atau mungkin sudah bermimpi saat ini..




Ruslan memeluk tubuh kecil Fiqi lalu membelai belai rambut halus putra nya itu, ia tidak paham kenapa bisa anak nya ini begitu nyaman bila bersama dengan Mawar, padahal dulus aja saat Indah pertama kali bekerja di sini, sangat sulit sekali bagi Indah untuk melakukan pendekatan dengan Fiqi, tapi dengan Mawar yang baru saja kenal beberapa jam saja Fiqi sudah terlihat begitu akrab, dan sekarang dia pun semakin nyaman bersama nya, bahkan Fiqi tertidur di dalam pelukan nya..



Apakah anak kecil ini juga mulai merasakan di mana orang yang benar benar tulus menyayangi nya, dan mana orang orang yang hanya sekedar sayang dengan nya karena keharusan di dalam pekerjaan nya..



Meskipun terlihat begitu cuek dan biasa saja, tapi sebenarnya di dalam hati Ruslan sangat peduli dengan keadaan Mawar saat ini, bukti nya sekarang saja Ruslan belum bisa memejamkan kedua mata nya, ia sangat ingin tahu bagaimana dengan keadaan Mawar saat ini, ia begitu takut terjadi apa apa dengan Mawar, namun tidak mungkin Ruslan pergi ke kamar nya untuk mengetahui keadaannya, rasanya itu hal yang sangat tidak lah wajar bagi Ruslan mengunjungi kamar Mawar tengah malam begini..

__ADS_1



Sudah tengah malam tapi bagi Ruslan belum juga mengantuk, bosan memainkan ponsel nya lalu ia pun beranjak dari tempat tidur Fiqi, Ruslan ingin mencari sesuatu yang bisa di kunyah nya, seperti nya sekarang ia membutuhkan cemilan untuk menemani kesunyian malam nya..



"Tumben sekali malam malam begini aku lapar,'' Ruslan berjalan ke arah daput, menuju kulkas yang memang di khususkan untuk makanan ringan dan aneka minuman..



Ruslan mengambil coklat, keripik pisang kesukaannya, dan juga minuman bersoda, karena matanya memang masih menyala, maka ia akan menyalakan televisi untuk melengkapi cemilannya malam ini..



Sedang asik menonton action Film barat di layar besar depan nya ini, sambil menikmati cemilan nya. Tidak tahu kenapa malam ini mata Ruslan begitu terjaga, apa karena tadi saat bekerja ia minum secangkir kopi yang di buatkan oleh mbok Inem..



"Ini pasti gara gara kopi yang mbok Inem buat deh, sudah kubilang jangan banyak banyak kopinya, sepertinya ia memberikan terlalu banyak kopi sehingga mata ku jadi begini, masih terang jam segini !," Ruslan kembali meneguk minuman bersoda nya..



PRaaaakk.. suara bendak jatuh mengagetkan Ruslan yang sedang asik menikmati tayangan televisi, dan seperti nya suara itu berasal dari kamar yang telah di tempati oleh Mawar saat ini..



"Apa itu, seperti ada sesuatu yang jatuh di lantai ?" Ruslan masih mengamati suara itu dari mana asal nya, dan ia sangat yakin kalau suara itu berasal dari kamar tamu yang di tempati oleh Mawar..



"Mawar.. kenapa dia ?" Ruslan langsung teringat dengan keadaan Mawar yang saat ini memang sedang kurang baik, ia pun langsung berdiri dan hendak menuju ke kamar Mawar, namun saat ia berada di depan pintu kamar itu, Ruslan dengan ragu untuk mengetuk pintu kamar nya, karena ini memang sudah tengah malam, ia takut Mawar jadi salah paham dengan nya dan malah menilai yang tidak tidak tentang diri nya..




"Aduh, aww"..



Ruslan mendengar rintihan Mawar dari kamar itu, seperti nya Mawar tengah kesakitan, Ruslan yang masih penasaran mau tidak mau harus segera untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar yang di tempati Mawar sekarang, tanpa mencoba untuk mengetuk pintu itu Ruslan langsung saja menarik knop pintu nya dengan perlahan, ternyata Mawar memang tidak mengunci pintu kamar nya..



"Mawar, kamu kenapa ?" Ruslan langsung berlari masuk ke dalam, saat melihat Mawar yang berjongkok seperti memunguti sesuatu di lantai..



"Pak Ruslan,'' ucap Mawar pelan melihat lelaki itu sudah menghampiri nya..



"Tangan kamu berdarah"..



"Iya pak, tadi gelasnya terjatuh saat saya ingin meletakkannya setelah minum">.

__ADS_1



"Kamu terkena pecahan beling ya, sebaiknya kamu menyingkir dulu dan duduk di sana,'' suruh Ruslan kepada Mawar..



"Tapi pecahan ini pak, harus segera saya bereskan"..



"Udah, nanti biar saya yang bereskan, luka kamu harus di obati terlebih dahulu takut nya nanti malah jadi infeksi," ujar Ruslan dengan tegas..



"Iya pak,'' Mawar pun mulai menepi dan mencoba duduk di kursi depan meja rias itu, Ruslan pun keluar dari kamar dan lalu mengambil sesuatu yang bisa di gunakan untuk mengobati luka Mawar, tidak lama kemudian Ruslan kembali sambil membawa kotak P3K dan juga sepasang sandal..



"Kamu pakai sandal ini Mawar, karena banyak serpihan serpihan kecil beling dan kalau terkena kaki bisa jadi bahaya nanti." Ruslan memberikan sepasang sandal berwarna putih itu kepada Mawar..



Melihat darah yang terus keluar dari tangan Mawar, tentu saja Ruslan tidak akan tega membiarkan darah itu semakin banyak, maka Ruslan pun dengan segera mengobati nya, ia membuka kota P3K itu dan mengambil benda benda yang di perlukannya untuk mengobati luka Mawar saat ini..



Mawar terluka di tangannya sebelah kiri, untung saja luka itu bukan di bagian telapak tangan, beling itu mengenai punggung tangan Mawar, dan sekarang Ruslan sedang membersihkan nya dan mulai memberikan betadine serta membalutnya dengan kain kasa, main ini Ruslan menjadi tenaga kesehatan dadakan untuk Mawar..



Mawar hanya bisa diam saja melihat ketelatenan Ruslan yang sedang membersihkan luka nya serta membalut nya, jantung nya berdegup sangat kencang, ada perasaan malu di hati nya karena telah merepotkan Ruslan tengah malam seperti ini, namun ada perasaan kagum juga di hati nya, ternyata Ruslan sangat begitu peduli pada nya, dan juga dengan cepat bertindak bila melihat sesuatu yang tidak baik di depan nya..



"Terima kasih ya pak, maaf merepotkan bapak malam malam seperti ini,'' Mawar sangat merasa tidak enak sehingga ia tidak berani untuk menatap wajah Ruslan..



"Kamu duduk saja dulu diam di sini ya, saya mau bersihkan pecahan gelas itu, takut nanti nya bisa terkena kaki kamu"..



Ruslan kembali keluar dari kamar itu, pasti ia sekarang sedang mengambil sapu dan juga teman nya, untuk membersihkan pecahan dan serpihan gelas gelas itu, Ruslan yang jarang atau mungkin tidak pernah sama sekali memegang sapu dan juga peralatan bersih bersih lainnya, malam ini mau tidak mau ia harus melakukan nya demi Mawar, tiba tiba saja kemampuannya mencari barang barang yang tidak di ketahui muncul begitu saja, padahal sebelumnya ia tidak tahu dimana tempat sapu dan serokan sampah ini di letakkan sebelumnya, namun karena rasa kepedulian dan kekhawatiran nya akan Mawar, insting nya bergerak dengan sendiri nya untuk mencari benda yang di perlukan nya itu..



Ruslan pun mulai membersihkan serpihan serpihan gelas itu, dan ia sangat memastikan dengan kedua mata nya bahwa tidak ada lagi serpihan atau butiran kecil yang dapat melukai kaki Mawar..



"Sekarang kamu bisa kembali ke tempat tidur ya Mawar, saya sudah bersihkan, semoga saja besok kamu bisa kembali sehat ya." Ucap Ruslan kepada Mawar dan ia pun menutup kembali pintu kamar Mawar..



Di depan pintu itu dengan sejenak Ruslan mencoba untuk berpikir, kenapa bisa dia melakukan semua hal itu, bukankah selama ini ia paling anti yang namanya memegang peralatan kebersihan di rumah ini, tapi kenapa malam ini ia begitu mudah nya menemukan semua itu, aneh memang !..


__ADS_1


"Aku begitu khawatirnya dengan gadis itu." Ruslan bertanya tanya pada diri nya sendiri, ia pun juga merasakan sesuatu yang lain di hati nya, bila mengingat Mawar..


__ADS_2