Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Malu


__ADS_3

Mobil sudah memasuki komplek perumahan di mana Mawar dan teman temannya tinggal, Asrama Mawar dan rumah Bosnya kebetulan memang satu perumahan hanya beda blok saja, mereka di perumahan yang ukurannya sedang, sedangkan Bosnya di blok Mewah yang memang ukuran rumahnya besar besar dan sudah pasti orang kaya semua di sana dan rata rata mereka adalah pengusaha berkelas internasional..


"Adik kecil, kakak duluan ya," Mawar membelai lembut kepala anak kecil itu, agar tidak di nilai kurang sopan, Mawar juga harus mengatakan sesuatu kepada suami Bosnya itu, "terima kasih ya pak." pamit Mawar menundukkan setengah badannya dan sekilas senyum..


"Dah kakak baik hati." balas Fiqi manis melambaikan tangannya ke arah Mawar..


Ruslan membalas ucapan Mawar dengan anggukan dan senyuman yang hangat, mungkin Ruslan masih bingung harus mengucapkan apa karena dia sangat jarang berbicara dengan perempuan selain istri dan rekan kerjanya sendiri. Namun sebagai seorang Bos tentu ia tidak ingin terlihat sombong dan angkuh di depan karyawannya, tapi ia tidak juga ingin terlihat terlalu ramah yang dapat menghilangkan citra kepemimpinan pada dirinya..


'Akhirnya nyampe juga,' Mawar menghembuskan nafas panjang sambil merebahkan dirinya di kasur yang lumayan empuk itu..


"Gak lagi lagi deh aku nemenin Fiqi pulang, perasaanku begitu gugup banget harus satu mobil dengan pak Ruslan, si Fiqi juga kok gak mau lepas sih dari aku ?" ucap Mawar mengelus dada dan untuk mengatur nafasnya agar lebih tenang..


"Mawar mengira ia akan tiba di rumah terakhir, rupanya teman temannya belum juga tiba di rumah. Mengetuk pintu kamar yang semuanya masih tertutup, Mawar tidak mendapat jawaban apapun dari semua kamar kamar itu..


"Belum pulang ya mereka ?" tanya Mawar pada dirinya sendiri, dari pada bosan dan bingung harus melakukan apa, Mawar mengambil handuk pinknya dan meletakkan di bahu, tidak lupa menjepit rambutnya dengan posisi di puncak kepala menjadi satu, membersihkan diri memang lah pilihan yang pas agar tubuh segera terasa rileks..


"Segar.." ucap Mawar menggosok gosok rambutnya dengan handuk. Membuka lemari dan mengambil salah satunya, segera ia pakai baju rumahnya yang juga merupakan baju favoritnya, kali ini Mawar mengenakan kaos santai yang oversize, dia memang mempunyai banyak koleksi kaos oversize. Tentu saja Mawar seperti perempuan kebanyakan pada umumnya yang jarang memakai dalaman penutup bagian dada jika di rumah agar terasa longgar dan nyaman dalam beraktivitas..


Menghadap cermin, ia oleskan tipis tipis cream berwarna putih itu pada wajahnya yang seharian cukup lelah di lapisi bedak padat. Dan tidak lupa juga lip care produk kesayangannya yang dapat melembabkan dan mencerahkan bibirnya, Mawar biasa melakukan itu semua jika selesai mandi..


Dan terakhir ia juga memberikan perawatan pada rambut panjangnya yang saat ini menjadi kebanggannya, karena rambutnya yang dapat merubah dan menentukan wajah agar terlihat lebih menarik. Mawar memijat mijat lembut kulot kepalanya yang baru saja ia semprotkan hair care untuk akar rambut agar lebih kuat dan tidak mudah rontoh, tidak lupa juga Mawar mengolesi batang rambutnya dengan vitamin yang beraroma susu itu, pantas saja rambut Mawar saat ini terlihat begitu indah dan berkilau membuat Mawar antusias ingin merawatnya..


Tit.. tit.. tit..


Klaksok mobil menghentikan Mawar yang sedang asik mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia segera membuka gorden jendela ingin tahu siapa di depan sana..


"Mobil bu Vera, apa pak Agus yang dateng." Ucap Mawar mengamati mobil yang berhenti di depan rumah itu. Mawar tidak ingin buru buru keluar, ia menunggu si supi yang turun dan mengetuk pintu jika ada keperluan..


Tit.. tit.. terlihat Ruslan menyembunyikan klakson itu, dan menurunkan kaca mobil. Melihat yang di dalam ternyata bukan pak Agus melainkan Bosnya, Mawar langsung berlari keluar rumah menghampiri mobil Ruslan..


"Iya pak.. ada apa ?" tanya Mawar sedikit takut karena membuat Bos nya itu sedikit menunggu sedikit lama..


Ruslan menatap Mawar yang terlihat lebih segar karena habis mandi, rambut Mawar yang basah dan sedikit berantakan memberikan kesan seksi padanya. Namun Mawar tidak menyadari tatapan Ruslan yang sedikit aneh melihat dirinya, karena ia sudah takut jika Bos nya ini akan marah karena ia tidak langsung keluar saat di klakson pertama tadi. Tak sengajamata Ruslan tertuju pada tonjolan kecil yang tercetak di kaos pink yang di kenakan Mawar..


"Pak ?" panggil Mawar pelan, Mawar tidak menyadari jika Ruslan tidak sengaja melirik ke arah dadanya, karena Mawar memang terlalu polos untuk mengartikan lirikan mata Ruslan..

__ADS_1


Ruslan tersadar dan segera mengontrol dirinya, "Ohh.. ini saya lupa kasih tadi, ada makanan untuk kalian semua,'' Ruslan memberikan sekotak donat yang masih utuh tadi dan sekotak nasi ayam yang memang sudah di belinya sewaktu di mall bersama Fiqi anaknya..


"Oh.. iya, makasih ya pak." hati Mawar sangat senang dan ia segera meraih makanan yang di berikan Ruslan dan mengangguk sambil tersenyum melihat Ruslan yang juga membalas singkat senyumannya, tidak ingin pikirannya menjalar entah kemana mana karena melihat Mawar sore hari ini, Ruslan pun berlalu melajukan mobilnya..


Sambil berlari kecil Mawar segera masuk ke dalam rumah membawa makanan pemberian Ruslan tadi..


"Kebetulan memang aku udah laper nih"..


Mawar melahap nasi ayam goreng dari brand terkenal itu, yang menjadi makanan favorit semua orang. Setelah kenyang ia pun membereskan bekas makanannya, tidak enak nanti di lihat oleh teman temannya yang lain karena tidak berbagi..


Selesai melahap habis nasi ayamnya, kebetulan teman teman Mawar sudah pulan, suaru pintu mobil dan senda gurau mereka terdengar oleh Mawar, ia pun mencuci mulutnya dan segera membungkus rapi bekas kotak nasi ayamnya pada kantong plastik hitam agar tidak terlihat oleh teman temannya..


"Kok kalian baru nyampe sih kesini, kemana aja ?" Mawar menghampiri ketiga temannya..


"Iya kita makan bakso dulu tadi.'' Jawab Eca..


"Sorry ya Mawar, soalnya sekalian lewat.'' Tambah Riri..


"Mawar kan gak doyan sama bakso, pasti dia oke oke aja kan, ya kan Mawar ?" Gina menyenggol pundakku..


"Karena loe gak ada, makanya kita makan bakso aja tadi.'' timpal Eca..


"Eh.. apaan ini Mawar ?'' Riri melihat kotak cukup besar di meja makan mereka..


"Oh.. itu di kasih sama pak Bos tadi''..


"Wih... mau donk, ini donat kan enak banget makanya harganya mahal.'' Gina langsung membuka kotak itu dan berbinar melihat dua belas donat dengan bermacam macam toping..


"Yang cokelat buat gue ya, jangan kalian ambil !" rengek Eca..


"Makanya cepetan sini !, siapa cepet dia yang dapet !" ujar Gina..


Mereka pun sama sama menyerbu kotak donat pemberian Ruslan, dan menikmati donat yang sangat viral dan terkenal itu..


"Enak banget ya ?" desar Riri..

__ADS_1


"Lumayan lah ya Mawar, nemenin Fiqi anaknya pak Bos bisa dapet donat,'' gurau Gina..


"Sering sering ya Fiqi minta di temenin sama kamu, biar tiap hari makan makanan enak, hehe." goda Riri..


"Huss kalau keseringan, yang ada bu Vera yang marah !" ketuk Gina..


"Udah.. mau sikat gigi nih, takut gigi gue berlubang nantinya." Eca duluan meninggalkan meja makan..


"Ya udahlah, donatnya juga udah pada habis." seru Riri..


"Haha.. dasar loe Ca." timpal Mawar..


'Kalau tahu bu Vera aku pulang sama suaminya, kira kira dia bakal marah ga ya,' Mawar masih merasa tidak enak karena telah duduk di jok yang seharusnya di duduki oleh Bos perempuannya itu yang tidak lain merupakan istrinya Ruslan..


"Mawar menghadap ke cermin besarnya, teringat kalau rambutnya tadi tidak jadi di rapikannya, karena keburu pak Bos datang, sambil menyisir rambutnya yang sudah mulai kering Mawar bersenandung melantunkan lagu romantis kesukaannya, tiba tiba nadanya menjadi kacau saat ia sadar kalau ia sedang memakai baju yang tipis, sehingga mencetak jelas puncak aset milik nya itu..


"Ya ampun.. tadi gue nyamperin pak Ruslan pakai baju ini loh !" teriak Mawar sedikit histeris sadar jika baju yang di gunakannya ini sangat tipis dan mencetak bagian dadanya..


"Ya ampun.. malu banget deh gue, pasti pak Ruslan ngira gue gak sopan banget ya.'' Gerutu Mawar kesal, bajunya memang besar tapi tipis dan pendek hanya sampai pertengahan paha..


'Untung ga ada bu Vera gue keluar tadi, kalau ada bisa bisa dia ngira gue sengaja lagi pakai baju begitu nyamperin suaminya,' dengus Mawar malu akan dirinya sendiri..


"Ah.. bodoh amat lah, lagian gue kan jarang ketemu sama pak Bos, terus ya gak mungkin juga dia merhatiin 'ini gue' dia saja cuma sebentar doang tadi, dasar gue nya aja yang parno.'' Mawar menyakinkan dirinya sendiri..


Mawar mencoba tidak memikirkan hal itu lagi, namun entah kenapa malam ini Mawar terbayang terus akan wajahnya Ruslan yang teduh dan berwibawa sangat berbeda dengan istrinya yang berwajah sinis dan tegas dengan make up bold ciri khasnya..


Mawar membayangkan seandainyaia bisa mendapatkan suami seperti Ruslan, udah kaya, mapan dan tampan. Pastilah orang di kampung akan terperangah melihat dirinya. dan ibunya akan senang sekali karena Mawar memberikan mantu yang begitu sangat istimewa untuknya..


"Duh Mawar.. Mawar, menghayalnya kok tinggi banget sih !" Mawar mengutuk dirinya sendiri..


Mawar sadar siapa dirinya, yang hanya lah karyawab biasa, mana bisa mendapatkan pria yang berpendidikan dan kaya seperti Ruslan, apalagi saat ini Mawar masih menyimpan kekecewaannya dalam dalam akan sikap mas Yuda yang meninggalkannya, setelah merenggut semua kebahagiaannya. Perasaan tersakiti ini lah yang membuat sampai saat ini Mawar begitu takut dan pesimis dalam mencari pasangan hidup kelak nanti..


"Bagaimana aku bisa menjelaskan kepada calon suami ku kelak, bahwa aku sekarang bukan seorang wanita yang suci lagi, apalagi dulunya aku pernah di lecehkan oleh abang sepupu ku sendiri. Apa ada lelaki yang mau menerimaku dan tidak mengungkit masa laluku, jangankan membayangkan menikah, bahkan membuka hati untuk laki laki baru pun sulit bagi ku sekarang. Karena aku takut, aku takut akan keadaanku yang sekarang. Aku gadis tapi bukan perawan." Mawar menitikkan air mata menahan kesedihan dan kekecewaan akan kebodohan nya sendiri..


Mawar ini merupakan gadis yang polos dan juga baik hati, serta lemah lembut. Hanya kadang kepolosannya itu justru menjatuhkan nya pada lubang kebodohan yang akhirnya ia masuk ke lubang itu dan tidak berani mencari jalan untuk keluar dari sana, hingga ia hanya bisa memendam, meratapi nasibnya sendiri tanpa berani mengambil tindakan harus berbuat apa kedepannya agar tidak terjerumus lagi..

__ADS_1


Kini, meskipun wajahnya cantik dan sangat jauh dengan dia yang dahulu namun Mawar kehilangan rasa percaya dirinya sendiri, karena ia merasa tidak berharga lagi dan tidak pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik. Padahal, jika di lihat dari kasat mata, tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi pada Mawar selain Yuda dan dirinya sendiri..


__ADS_2