Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
MIMPI BURUK !!


__ADS_3

Mawar masih memandangi kain putih yang membalut tangan kiri nya saat ini, mungkin tangan nya terasa perih akibat tergores oleh pecahan gelas kaca yang tajam itu, namun rasa perih di tangan nya itu juga menimbulkan rasa bahagia di hati nya, karena akibat luka ini Mawar bisa melihat sisi lain dari Ruslan, ternyata Ruslan sosok lelaki yang begitu peduli dan sangat perhatian serta siaga untuk nya..


"Apa pak Ruslan memang laki laki seperti itu ya, yang selalu siaga bila melihat orang lain dalam kesusahan.'' Mawar bertanya pada diri nya sendiri..


"Mawar.. Mawar.. tidak usah terlalu pede deh, kamu juga jangan merasa diri kamu di spesialkan, mana mungkin kan Ruslan membiarkan orang yang terkena musih di depan nya ia biarkan begitu saja, ayolah Mawar, berpikir smart !" lagi lagi sisi lain Mawar mematahkan kesenangan hati nya..


Mawar memperhatikan Ruslan yang sedang membersihkan serpihan serpihan itu, tidak pernah terbayangkan oleh Mawar jika ia akan melihat sosok Bos nya seperti itu, yang sedang melakukan suatu pekerjaan yang tidak pernah di lakukan nya di depan anak buah nya sendiri, namun tidak terlihat ada keterpaksaan sedikit pun yang terlihat dari wajah Ruslan, sepertinya Ruslan memang melakukan nya dengan tulus kepada nya..


Mawar memegangi dada nya, masih terasa degupan jantung yang memburu nya tadi, desirah darah yang mengalir deras di seluruh tubuhnya, serta nafas nya yang sedikit sesak kesulitan untuk mendapatkan oksigen di ruangan ini, karena hati nya terlalu di penuhi rasa tidak percaya akan apa yang di lihat nya saat ini..


Mawar masih tersenyum dan terus memandangi kain putih itu, muncul ide gila di otak nya, seandainya nanti luka ini sudah sembuh, maka ia tidak ingin membuang kain ini, Mawar merasa kejadian malam tadi sungguh sangat berarti bagi nya, dan ia tidak akan pernah untuk melupakannya..


Kelihatan hati Mawar benar benar sudah berpaling, apakah nama mas Yuda benar benar sudah terhapus dari hati nya, memang benar kata sebuah pepatah, kalau yang di cintai akan kalah dengan yang selalu ada, ya.. meskipun sebenar nya Ruslan saat ini belum menjadi milik nya, tapi Mawar merasa waktu selalu memberikan kesempatan bagi nya untuk bertemu dengan Ruslan..


Semakin hari Mawar semakin sering bertemu pandang, dan juga semakin sering mendengar suara satu sama lain, Mawar mulai mengetahui sisi yang berbeda pada diri Ruslan, dia yang terlihat cuek bahkan tidak peduli bila di depan orang banyak, tapi jika sedang berdua ternyata ia merupakan sosok laki laki yang sangat lah baik, dan juga tidak gengsi untuk memberikan perhatian, dan juga bertanya akan hal hal yang bersifat pribadi pada Mawar..


"Ya ampun aku kok jadi gak bisa tidur terus gini ya, kenapa aku jadi mikirin Pak Ruslan terus !" Mawar mulai menggosok-gosok pergelangan tangan nya..


Ia tidak habis pikir seharus nya saat ini ia tengah merintih kesakitan karena goresan luka yang cukup perih ini, namun tidak bisa di bohongi, hati nya saat ini merasakan senang sehingga rasa sakit itu terkalahkan oleh rasa bahagia nya..


'Pak Ruslan, aku tidak pernah merasakan apapun sebelumnya pada diri mu, tapi setelah aku mengenalmu dan mengetahui dirimu, serta sering terbiasa berjumpa dengan mu, tidak tahu kenapa getaran itu semakin terasa olehku, dan saat ini aku tidak membohongi kalau aku mulai jatuh cinta padamu'..


"Astaga !, apa apaan aku ini ya, kenapa aku jadi malah asik terlarut dalam khayalanku, sebaiknya aku tidur deh, besok pagi kan aku harus pulang,'' Mawar menarik selimut nya dan mulai mematikan lampu utama. Ia pun mencoba memejamkan mata nya, sebenarnya diri nya sangat ingin berlama lama di kamar ini dan berada di rumah ini, namun itu semua tidak akan mungkin, karena besok wanita Ruslan sesungguh nya akan pulang ke rumah ini, tentulah mereka ingin melepas rasa rindu karena sudah lama tidak pernah bertemu sepekan ini..




"Dasar ya kamu perempuan yang tidak tahu diri !, kamu pikir kamu bisa menggantikan posisiku ini, seharusnya kamu sadar diri dong kamu itu siapa !, lihat saja penampilan mu itu dan wajahmu tidak akan sebanding dengan ku !" perempuan itu terus mengumpat, terlihat dari wajahnya ia sangat begitu kesal dan marah terhadap perempuan yang saat ini tubuh nya telah tersungkur di lantai..



"Hei.. kalian mau tau gak, ini loh perempuan gatal yang suka merusak rumah tangga orang, kali ini dia mencoba menggoda suami ku, dasar ya perempuan yang tidak tahu malu, perempuan kampung, tidak berpendidikan, berani berani nya dia mencoba menyaingi ku dan mencoba merebut hati suami ku, namun sayang nya suami ku tidak akan pernah tergoda dengan nya, lihat saja paras nya bagaikan angka dua berbanding angka sepuluh dengan ku, bukan kah begitu ya sayang ?" bibir nya yang di poles dengan lipstip merah maruh itu terus saja mencaci perempuan itu, sambil memegang erat tangan suami nya..



Orang orang yang mendengar makin dari mulut wanita itu, kini telah memandangi gadis muda yang sedang tersungkur dan tidak berani memperlihatkan wajah nya, mereka semua saling berbisik dan saling berpendapat buruk tentang gadis yang terlempar akibat dorongan di hadapan mereka..



"Hai Mawar !, ngomong dong kalau kamu memang gak seperti itu, bela diri, jadi kita gak salah paham !" teriak seorang wanita yang juga sedang melihat kejadian itu..



Rupanya wanita yang tidak berdaya akibat dorongan baru saja itu adalah Mawar, ia kini tengah di permalukan karena kedapatan hendak menggoda Ruslan, ternyata perhatian yang Ruslan berikan selama ini hanyalah jebakan untuk nya, Ruslan menceritakan semua nya kepada Vera, bahkan melebih-lebihkan cerita nya, seolah hanya Mawar yang tertarik akan diri nya, oleh karena itulah saat ini istri nya begitu marah kepara Mawar..



"Iya sayang tentu saja, dia pikir aku memiliki perasaan pada nya, padahal aku melakukan hal yang wajar, dasar dia nya saja yang menganggap semua nya begitu berlebihan, aku yakin dia itu berniat untuk mendapatkan kekayaan kita, makanya kita harus lebih hati hati, aku sengaja menjebak nya agar aku tahu apa tujuan nya sebenar nya, dan ternyata benar dia itu sedang mengincar harta kita, tapi sayang nya dia bermain dengan orang yang salah, tentu aku lebih memilih istriku yang baik hati dan cantik ini !" Ruslan menyahuti ucapan istrinya itu dengan nada yang angkuh..



Mawar kini yang masih menunduk malu hanya bisa menangis dalam hati, ia melihat sepasang suami istri yang berkacak pinggang itu dengan kompak nya mulai mengutuk nya saat ini, dan di belakang nya orang orang yang sedang mempertontonkan diri nya, Mawar tidak pernah menyangka kalau ia akan di permalukan seperti ini oleh Ruslan dan juga Vera..



"Mulai sekarang kamu gak usah bekerja lagi di salon ini, kamu ambil semua barang barang kamu itu, dan jangan pernah kamu perlihatkan wajahmu di sini, dasar perempuan yang tidak tahu diri, sudah di beri pekerjaan tapi mau nya malah minta yang lebih, dasar murahan !" kembali Vera menghujat nya dengan kata kata yang kasar..



Teman teman Mawar yang mengetahui itu tidak berani berbuat apa apa dan hanya melihat nya, bahkan kini ketiga teman nya itu melihat nya dengan tatapan yang jijik dan juga rasa yang tidak percaya, mereka pun ikut berbisik tidak menyangka jika Mawar yang mereka kenal lemah lembut, baik hati dan juga mempunyai rasa peduli yang tinggi tega berbuat seperti itu..



"Kalau dia diam saja, berarti benar apa yang di katakan pemilik salon ini, dia pasti sudah mencoba merebut suami pemilik salon ini, lihat saja dia tidak bernai menjawab apa apa," ibu lainnya yang juga menyaksikan kejadian itu ikut berkomentar lagi..



"Masih muda, cantik, masih banyak laki laki di luar sana yang bisa kamu cari, eh kamu malah mengincar suami orang, dasar perempuan nak !" sambung salah seorang yang sedang menonton kejadian itu..



"Untung saja ya suami pemilik salon ini orang yang setia dan akhirnya dia lebih milih istrinya, bahkan sekarang gadis muda ini di permalukan nya, sungguh lelaki yang hebat membela istri nya di bandingkan perempuan yang ingin menggodanya." Tidak ada henti nya mereka saling menyahuti satu sama lain..



"Tentu saja dong ibu ibu, saya ini kan perempuan baik baik, saya ini istri yang setia, istri yang selalu ada untuk suami saya, untuk anak saya, apapun saya bisa berikan untuk mereka, bahkan saya sendiri rela tidak memperhatikan diri saya demi mereka, jadi mana mungkin suami saya akan tergoda dengan dia, meskipun dia usianya jauh lebih muda, tapi bisa di lihat kan dia seperti terlihat seumuran dengan saya, jadi jangan berharap kamu bisa menggantikan posisi saya, dengan Mawar !" bentak Vera lagi..



Mawar tidak bisa berbuat apa apa sekarang, untuk mengangkat wajah nya saja ia tidak bernai, ia hanya bisa menatap lantai yang berdebu itu, dan juga bayangan bayangan orang yang sedang mentapnya saat ini, ia tidak pernah menyangka kalau ia akan di permalukan seperti ini, memang benar dia begitu menyukai Ruslan, tapi tidak ada maksudnya ingin merebut kekayaan Ruslan sama sekali, ia memang menyukai Ruslan dengan tulus dan menyayangi Fiqi anaknya juga dengan tulus..



"Oh ya Mawar, satu lagi jangan kamu pikir anak saya suka sama kamu ya, saya tahu kamu memperalat anak saya supaya suami saya bisa jatuh cinta sama kamu kan, jadi pernah bermimpi ya, kamu tahu kan suami saya itu akan setia dengan saya selama lama nya, cam kan itu baik baik Mawar !" tegas Vera dengan suara lantang..



Vera dan Ruslan langsung beranjak meninggalkan Mawar begitu saja, begitu juga dengan teman teman Mawar pun kembali masuk ke dalam, sementara Mawar masih terdiam diri di lantai bertemankan ketakutan, kesedihan dan kekecewaan..



Orang orang yang sedang menyaksikan kejadian itu satu per satu berlalu, merka kembali kepada kesibukan nya masing masing, hati Mawar remuk, hancur, tidak menentu, ia tidak menyangka kalau ini harus ia alami, untuk kedua kali nya ia merasa di sakiti, dan untuk kedua kali nya rasa cintanya di hancurkan, apakah hati nya hanya untuk di permainkan dan untuk di sakiti saja..



Air mata itu kini mengalir di pipi nya, Mawar terisak meratapi nasib nya saat ini, tidak tahu harus berbuat apa, dan tidak hrus kemana, ia sungguh tidak sanggup membawa wajah ini, rasanya ingin Mawar menghilang saja sejauh jauh nya dari muka bumi ini, terbesit di pikiran nya untuk menghabisi nyawanya saat ini juga..



Perlahan ia bangun dari simpuhannya, Mawar mencoba membersihkan tangan dan kakinya yang terkena debu itu, Mawar memunguti barang barang yang di lempar oleh Vera tadi, ia harus tetap kuat, ia harus berdiri, mau tidak mau ia harus memasang tebal wajah nya, agar bisa keluar dari tempat ini, meskipun kini semua orang telah melihat nya dengan padangan yang tidak suka..



Baru saja Mawar hendak melangkah kan kaki nya meninggal kan tempat itu, tiba tiba suara bariton itu kembali terdengar di telinga nya..


__ADS_1


"Dasar perempuan bodoh !, padahal kamu sudah pernah di sakiti oleh adik saya, dan sekarang kamu masih juga tidak jera, kamu pikir keluargu sebodoh itu apa, kamu tidak akan pernah bisa membalaskan dendam, aku begitu puas telah mempermalukan mu hari ini, haha." Tawanya bagaikan petir yang hendak menyambar nya..



Suara Ruslan terdengar mengerikan di telinga Mawar saat ini, sosok yang ia kira baik dan juga perhatian pada nya ternyata tidak jauh berbeda dengan mas Yuda, malah jauh lebih menyakitkan dan lebih menghancurkan hati nya saat ini, bahkan di hadapan semua orang dan juga di hadapan teman teman nya..



Mendengar suara itu, Mawar hanya bisa menangis, ia tidak tahu harus bagaimana, mungkin saat ini hanya air mata lah yang mampu menepis semua kesedihan nya dan menemani kesendirian nya, dan keterpurukan nya saat ini, sementara laki laki itu setelah berkata menyakit kan hati Mawar, ia pun berlalu begitu saja..



Mawar menatap badan tegap itu dari belakang, ia berharap laki laki itu berjalan berbalik ke arah nya untuk mengatakan kalau semua ini tidak terjadi, tapi harapan Mawar hanya sia sia, laki laki itu terus menjauh dari nya dan pergi meninggalkan nya dalam kesendirian ini..



Hiks.. hiks..



Mawar terisak, tangisan nya semakin menjadi jadi, lalu ia memunguti barang barang yang berserakan di lantai dengan hati yang kecewa dan sedih, di luar dugaan kalau diri nya menjadi seperti ini, iya tidak menyangkau kalau ternyata Ruslan hanyalah mempermainkan perasaan nya, dan ia juga tidak pernah menyangka kalau diri nya bisa terjebak kembali..



Air mata itu seakan tidak ingin untuk berhenti mengalir, terus saja membasahi pipi nya yang saat ini sedang layu, Mawar hanya bisa terisak ingin mengadu pada ibu nya di kampung tapi itu semua tidak lah mungkin justru ibu nya tidak boleh mengetahui hal ini, Mawar hanya bisa meratapi nya dan merasakan nya sendirian..



Hiks.. hiks.. kenapa harus aku sih !..



"Mawar.. Mawar.. kamu kenapa neng ?, bangun neng Mawar, kamu kenapa kok menangis sih ?" mbok Inem menggoyang-goyangkan tubuh Mawar yang matanya masih terpejam, namun air mata nya sudah membasahi pipi nya bahkan membasahi bantal yang di tiduri nya..



"Seperti nya anak ini sedang mimpi buruk dek, sampai menangis seperti ini kasihan sekali, karena kurang enak badan, Mawar ayo bangun,'' mbok Inem masih mencoba membangunkan Mawar..



Perlahan Mawar pun membukakan mata nya dan melihat ke arah mbok Inem, ''mbok.. apa benar ini mbok ?" tanya Mawar ragu ragu dan dengan tatapan yang sangat takut..



"Iya neng, ini mbok Inem, kamu kenapa, mimpi buruk ya neng Mawr ?''..



Mawar menatap sekeliling nya, ia menyadari kalau sekarang ia sedang berada di ruangan yang tidak biasa ia tempati, ia pun kembali beranjak duduk dengan perlahan, Mawar mengelus dada nya 'ternyata semua itu hanyalah mimpi,' Mawar menghirup nafas dalam dalam..



Namun kenapa kejadian itu seolah begitu nyata sekali ya, aku tidak sanggup membayangkan jika itu menjadi kenyataan, Mawar masih tidak percaya kalau apa yang di alami nya barusan hanya ada di dalam mimpi, dan sekarang diri nya tengah bersama mbok Inem orang yang memang baik hati nya..



"Mbok,'' Mawar memeluk nya, air mata nya masih jatuh di pipi..




"Ya mbok, aku mimpi buruk sekali, aku tidak sanggup kalau mimpi itu akan benar benar terjadi dalam hidup ku, aku tidak sanggup untuk membayangkan hal itu,'' Mawar kembali terisak..



"Mimpi itu kan bunga tidur ya neng, ada yang indah ada juga yang tidak, jadu kamu tidak usah terlalu memikirkan nya, yang penting kan kamu sekarang sudah sehat, sudah tidak demam lagi,'' mbok Inem mencoba untuk menenangkan Mawar yang masih belum berhenti menangis saat ini..



"Untung saja mbok Inem cepat membangunkan aku, kalau tidak aku tidak tahu harus berbuat apa, di dalam mimpi itu rasanya aku ingin menangis sepuas puas nya, dan sekencang kencang nya mbok, namun tidak tahu kenapa tidak ada satu orang pun yang peduli denganku mbok"..



"Sudah, itu akn hanya mimpi saja neng, jangan terlalu kamu pikirkan ya, tadi mbok Inem cuma lewat di depan pintu kamar kamu, mbok mendengar suara tangisan, dan gak berhenti berhenti jadi nya mbok buka aja kebetulan gak di kunci pintu nya, eh ternyata benar kamu lagi menangis, makanya cepat mbok bangunkan, mbok kan jadi khawatir sama neng,'' jelas mbok Inem kepada Mawar..



"Memangnya mimpi nya menyedihkan sekali ya neng ? sampai air mata kamu banyak banget tadi, tuh lihat saja bantal nya sampai basah loh,'' mulut mbok Inem menunjuk ke arah bantal yang habis di tiduri Mawar..



Mawar pun menoleh pada bantal itu, ternyata memang benar ia pun tidak sadar kalau air mata nya memang begitu deras, namun ia tidak mungkin akan mengatakan dan menceritakan mimpi nya tersebut kepada mbok Inem, Mawar saat ini hanya bisa terdiam dan bingung harus mengatakan apa pada mbok Inem..



"Pasti kamu mimpi ibu kamu ya di kampung kan ?, biasa nya kan kalau kita sedang tidak enak badan ya, kita itu suka teringat dengan ibu kita sendiri, jadi bawaan nya sedih, biar pun sudah tua begini, mbok juga sering begitu kok neng,'' ujar mbok Inem..



"Iya mbok aku rindu dengan ibu di kampung,'' Mawar masih memeluk erat tubuh mbok Inem, saat ini Mawar mengibaratkan mbok Inem ini adalah ibu yang sedang di rindukan nya, pelukan Mawar sangat erat..



"Tapi, meskipun kita mau orang tua kita itu mengetahui keadaan kita, alangkah baik nya jika sedang dalam keadaan sakit kamu tidak memberitahu orang tuamu neng, takut nya di khawatir disana, kan kasihan." Tutur mbok Inem..



"Iya mbok, aku juga gak mau bikin ibu jadi kepikiran, lagi pula aku kan cuma sakit biasa ya mbok, bukan sakit parah dan sekarang pun sudah baikan, terima kasih ya mbok." Mawar mulai kembali untuk tersenyum..



"Iya sama sama neng, sana kamu cuci muka dulu ya biar seger, gak usah di pikirin lagi mimpi nya, mbok Inem mau ke dapur dulu bikinin teh hangat bukan kamu neng, biar badan kamu lebih enak lagi ya"..



"Iya mbok, aku cuci muka dulu sebentar, aku ikut nanti ke dapur ya mbok biar aku buat sendiri aja, kasih mbok kan masih repot kalau pagi pagi begini"..

__ADS_1



"Ya sudah, ayo mbok tunggu kita ke dapur sama sama ya neng, biar kita bisa minum teh sama sama lagi"..



Mawar pergi ke kamar mandi, lalu ia menghadap westafel yang di lengkapi dengan cermin besar itu, menyingkap rambut nya ke belakang, Mawar menghidupkan keran itu dan memulai mengambil air nya dan menyiram kan pada wajah nya..



"Aghh.. aghh.." tiba tiba Mawar merintih kesakitan dan sedikit berteriak, saat tangannya terkena air, ia baru saja ingat kalau tangan kiri nya sedang terluka, maka terasa perih saat terkena air. Mawar menyikirkan tangan kiri nya, kini ia menuci muka nya hanya menggunakan tangan kanan..



"Ayo kita dapur sekarang mbok, aku pengen banget deh minum teh hangat, soalnya perut ku sedikit mual jadi kalau minum teh jadi terasa hangat." Ajak Mawar..



"Kamu kenapa kayak kesakitan gitu di kamar mandi barusan neng ?" ternyata mbok Inem mendengar rintihan pelan Mawar tadi, telinga mbok Inem memang sangat jeli..



"Oh gak apa apa kok mbok, emang nya mbok tadi dengar aku lagi kesakitan ya ?" Mawar mengikat rambut nya menjadi satu, agar perasaan nya lebih nyaman pagi ini, dan tenyata mata mbok Inem tertuju pada kain kasa yang saat ini membalut tangan kiri Mawar..



"Loh kok tangan kamu kenapa neng Mawar ?, kok di perban begitu sih, ada darah nya lagi, kenapa itu.. coba sini mbok lihat !" mbok Inem penasaran sekali dengan luka Mawar, sehingga ia pun menarik tangan Mawar yang masih sibuk menyimpulkan rambut nya itu..



"Aduh mbok.. sakit, sakit mbok,'' teriak Mawar saat tangan kirinya di tarik tidak sengaja oleh mbok Inem..



"Ya ampun neng, maafin mbok ya neng Mawar, maaf mbok gak sengaja, mbok betul betul gak sengaja, soalnya mbok pengen tahu tangan kamu luka nya kenapa, aduh.. mbok minta maaf banget ya neng Mawar,'' wajah mbok Inem terlihat sangat cemas dan panik, ia dengan spontan saja menarik tangan Mawar tadi..



"Iya gak apa apa kok mbok, aku cuma kaget aja kok tadi, gak terlalu sakit ini, cuma luka kecil saja." Jawab Mawar sambil menenangkan mbok Inem..



"Luka kecil apa neng, kalau kecil ya gak sampai seperti ini di perban seperti itu dong, coba mbok lihat sini neng !'' Mawar memperlihatkan tangan kiri nya kepada mbok Inem, dan mbok Inem pun mengamati luka itu dengan teliti, seolah ia adalah dokter spesialis yang akan menangani Mawar..



"Sepertinya darah nya lumayan banyak ya neng, dan juga perban nya cukup rapi, oh sudah di beri pertolongan pertama ya betadine,'' komentar mbok Inem saat memperhatikan balutan kain kasa itu pada tangan Mawar..



"Mbok Inem udah kayak perawat aja deh ya, merhatiin nya sampai kayak gitu, udah ah mbok aku mau minum teh hangat dulu,'' Mawar meninggalkan mbok Inem mengambil gelas dan lalu mengisi nya dengan air panas, dan juga teh serta gula, tidak lupa ia juga membuatkan untuk mbok Inem..



Kini mereka berdua telah duduk bersama di meja makan, sambil menyeduh teh panas dan juga di temani oleh satu toples biskuit serta juga dengan tahu goreng yang memang tadi sudah di goreng oleh mbok Inem..



"Eh tapi ya mbok serius mau nanya loh neng, itu tangan kamu lupa karena apa neng ?, perasaan semalam baik baik saja deh, kamu luka nya kapan ?" ternyata mbok Inem masih saja penasaran..



"Oh ini mbok, ini itu kena pecahan gelas malam tadi, pas aku mau taruh minum kan tapi gelas nya jatuh, lalu aku coba pungutin eh malah kena punggung tangan ku, jadi nya berdarah deh mbok." Jawab Mawar dengan santai..



"Astaga kasihan betul kamu neng, lagi gak enak badan sekarang tangan kamu yang luka, mbok Inem yang seharusnya menyiapkan cangkir plastik untuk kmau, biasa nya kan orang kalau sudah kurang enak badan memang tidak sanggup membawa gelas, jadi nya seperti ini, maafin mbok Inem ya neng Mawar"..



"Kok jadi salah mbok sih, ini kan salah aku mbok, Mawar taruh gelasnya ternyata belum sampai di meja, jadi nya gelas nya jatuh." Terang Mawar..



"Tetap saja neng, ini juga salah mbok,'' mbok Inem bersikeras..



"Iya, iya deh salah mbok Inem, ya udah kalau mbok emang merasa bersalah, lebih baik nanti mbok gantiin ini kain kasa nya ya, biar luka aku cepat sembuh, gimana mau ga mbok nya ?" ucap Mawar sambil menaikkan kedua alis nya menggoda mbok Inem..



"Tapi itu sudah tidak ada darah nya kan, soalnya mbok Inem gak bisa lihat darah neng, nanti malah mbok nya yang pingsan, gimana dong !"..



"Kayaknya sih udah gak ada ya mbok, sudah kering juga kok kan di bungkus juga agar nanti terlindung dari debu aja mbok"..



"Oh kalau sudah tidak ada darah, oke deh nanti mbok obatin neng ya." Mereka kembali menyantap kue itu, dan juga tahu sambil menyeduh teh hangat, mbok Inem terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu, terlihat dari wajah nya ia sedang mengangguk-angguk seolah menerka nerka sesuatu yang ada dalam pikiran nya..



"Neng Mawar, tapi kok mbok jadi bertanya tanya ya, itu yang mengobati luka kamu siapa neng semalam ?, kok kamu tahu ada obat obatan di rumah ini ?" tanya mbok Inem dengan raut wajah yang sangat penasaran..



Mendengar pertanyaan dari mbok Inem membuat Mawar langsung terdiam begitu saja, ia pun bingung harus mengatakan sejujurnya apa tidak kalau yang sebenarnya bahwa Ruslan lah yang telah mengobati nya tadi malam, tapi jika ia mengatakan nya kepada mbok Inem apa tidak akan membuat mbok Inem berpikir yang lain lain ya..



"Oh ini mbok"..



Kring.. kring, ponsel Mawar pun berdering, membuat Mawar tidak melanjutkan kalimat nya, Mawar pun mengambil ponsel nya dan langsung menjawab panggil yang masuk itu..

__ADS_1



"Iya halo Riri, iya aku pulang kok sebentar lagi, ini aku lagi sarapan sama mbok Inem, lagi minum teh sama makan kue,'' obrolan Mawar dan Riri melupakan pertanyaan mbok Inem, dan Mawar pun kembali ke kamar untuk bersiap siap akan pulang ke asrama..


__ADS_2