Kesucianku Terbuang

Kesucianku Terbuang
Salah Tingkah


__ADS_3

"Loh kemana pak Ruslan tadi ya ?" Mawar menoleh ke kiri dan ke kanan di dapur tapi tidak mendapati lelaki itu di dapur lagi. Mawar tidak ingin ambil pusing, ia segera mengembalikan peralatan pel yang baru saja ia gunakan ke tempat di mana ia mengambilnya tadi, ia tidak ingin mbok inem jadi marah karena semua peralatannya tidak sesuai pada tempatnya..


"Sudah sore nih, aku harus pulang deh selagi Fiqi masih tidur,'' Mawar mengintip Fiqi yang masih terlelap, Fiqi memang anak yang lucu, saat tidur saja wajahnya sungguh menggemaskan, agar Fiqi tidak mudah terbangun Mawar menutup pintu dengan rapat kamar Fiqi secara perlahan..


Saat Mawar hendak berlalu meninggalkan sekitar kamar Fiqi, matanya tertuju pada botol minum milik Ruslan di tepi lemari furniture itu dan Mawar segera mengambilnya..


Entah kenapa muncul inisiatif nya untuk kembali mengisi air botol minuman itu yang sudah tidak penuh untuk di berikan kepada Ruslan di atas, sekalian Mawar bermaksud akan berpamitan untuk pulang kepada Ruslan..


Pelan pelan Mawar menaiki anak tangga menuju lantai atas rumah Bosnya itu, ia memang belum pernah menginjakkan kakinya di lantai atas rumah besar ini, jadi ada sedikit rasa perasaan takut dan penasaran karena telah lancang menelusuri rumah ini, namun Mawar harus bertemu dengan Ruslan agar dirinya bisa pulang segera..


Dengan perlahan dan hati hati Mawar menelusuri lantai yang terdapat banyak ruangan dengan pintu tertutup. Tapi ada yang sedikit menarik perhatian Mawar, tepat di atas salah satu pintu itu di atasnya telah terpajang foto pernikahan Vera dan Ruslan yang mengenakan gaun putih dan jas putih, mereka begitu terlihat sangat serasi..


"Pantas saja pak Ruslan menikahi bu Vera, ternyata bu Vera saat itu sangatlah cantik, dan sampai sekarang masih tetaplah cantik,'' ucap Mawar tersenyum memandangi foto pernikahan bos nya itu..


'Andai saja aku berjodoh dengan mas Yuda, mungkin aku juga akan memiliki foto pernikahan seperti ini, dan akan ku pajang di setiap sudut rumahku, agar semua orang bisa tahu kalau kami merupakan pasangan yang sangat serasi,' desis Mawar yang tiba tiba penuh khayal akan dirinya bersama mas Yuda..


Mawar segera melepas kan khayalannya, ia sadar kalau semua itu tidak akan mungkin terjadi lagi, mas Yuda sudah pergi jauh dari hidupnya untuk selamanya, bahkan mas Yuda sudah tidak mengingatnya sama sekali, tinggal lah dirinya yang masih terpuruk dalam harapan yang tiada artinya itu, kembali hati Mawar merasakan tusukan duri yang tajam dan masih terbenam di dalam sana..


Mawar kembali melirik jam tangannya, waktu semakin sore, ia tidak bisa berlama lama termenung dalam kesedihan yang tiada guna ini, Mawar melanjutkan melangkah kan kakinya untuk kembali menemui Ruslan..


"Di mana ya pak Ruslan ?" Mawar menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat pintu yang tertutup dan dengan warna yang sama. Mawar bingung harus mengetuk pintu yang mana, karena semuanya terlihat seperti kamar yang sama besar nya..


"Mungkin itu ruang kerja nya pak Ruslan yang ini kali ya ?" tebak Mawar yang kini berdiri di depan salah satu pintu kamar. Mawar pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu..


Tok.. tok.. pak, tok.. tok.. pak, panggil Mawar lagi, namun tidak ada jawaban dari dalam sana..


'Apa bukan yang ini ya ruangannya ?' gumam Mawar mematung di depan pintu kamar itu..


Ting.. Suara pesan dari ponsel Mawar..

__ADS_1


'Kamu lagi dimana Mawar ?' pesan dari Riri, Mawar pun langsung membalas pesan singkat itu, dan untuk beberapa saat Mawar terlibat saling membalas pesan dengan temannya itu, hingga ia tidak sadar kalau pintu yang ada di hadapan nya ini telah terbuka..


Ceklek, Ruslan menarik knob pintunya..


Merasa sudah terlalu asik membalas pesan dengan Riri, Mawar memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan kembali ingin mengetuk pintu kamar itu, saat tangannya sudah siap dalam posisi mengetuk, Mawar menghentikan nya karena pintu sudah terbuka..


Ruslan sudah berdiri tegak tepat di depan mata Mawar, spontan saja Mawar langsung menoleh dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok di depannya ini hanya mengenakan boxer santai tanpa kaos yang menutup tubuh atas nya..


Mawar sempat terdiam sejenak untuk menutupi kecanggungan nya, melihat tubuh Ruslan yang berotot dan perut sixpack nya yang indah. Mawar segera menyadarkan diri nya bahwa yang di depannya itu adalah suami Bos nyayang berarti juga Bos nya sendiri..


"Maaf pak, saya cuma mau memberikan ini dan sekalian mau pamit untuk pulan." Ucap Mawar seraya menyerahkan botol minum sambil menunduk ke bawah..


Ruslan meraih botol yang di berikan oleh Mawar, dan memperhatikan Mawar yang enggan untuk melihat ke arah nya. Ia paham pasti Mawar merasa malu karena melihat nya yang hanya mengenakan celana pendek santai ini, namun Ruslan bersikap cuek saja seolah olah tidak tahu, ia hanya tersenyum dalam hati melihat gadis polos yang sedang malu dan ketakutan ini..


"Terima kasih ya Mawar." Jawab Ruslan..


"Mau saya antar ga ? tapi tunggu Fiqi bangun dulu." tawar Ruslan..


"Tidak usah pak, saya bisa jalan kaki saja. Tidak terlalu jauh kok"..


"Ok." Ruslan menutup kembali pintu kamarnya itu..


Mawar segera menuruni anak tangga, jantungnya berdebar lebih kencang karena merasa lancang telah menaiki ruangan atas milik Bosnya itu, apalagi melihat suami Bosnya yang hanya mengenakan celana pendek santai saja. Mawar merasa tidak enak hati dan malu akan diri nya sendiri..


Sementara Ruslan masih memandangi botol air minumnya yang di bawakan oleh Mawar tadi, Ruslan tertawa kecil karena telah berhasil membuat gadis polos itu merasa malu dan takut karena nya. Masih memandangi botol minuman nya itu seolah sesuatu yang baru yang sangat berarti, sehingga mampu membuatnya tersenyum tipis..


'Selain manis dia juga punya rasa perduli.' gumam Ruslan kembali memuji sikapnya Mawar..


Ruslan tidak ingin cepat menunjuk kan ketertarikannya kepada Mawar, karena memang saat ini Ruslan hanya sangat kagum dan menyenangi kepribadian Mawar yang begitu polos, pemalu dan juga perhatian serta perduli kepada anaknya Fiqi..

__ADS_1


Dua hari ini membuat Ruslan memuji sosok Mawar, selain wajah Mawar yang manis dan menyenangkan, dia juga sangatlah ramah dan sabar menghadapi Fiqi, Mawar juga sangat perhatian pada hal hal kecil. Inilah yang Ruslan harapkan dari sosok Vera yang menjadi pendamping nya saat ini..


Ruslan sadar kalau itu akan sulit terjadi, karena Vera dan Ruslan memang dua orang yang sangat berbeda. Vera merupakan sosok perempuan modern yang mandiri dan sangat mengutamakan karir nya, sedangkan Mawar seorang gadis desa yang polos dan tentu masih sangat pemalu..


"Duh,, harusnya aku gak lancang naik ke atas tadi,'' gerutu Mawar kesal akan diri nya sendiri. Ia merasa bersikap kurang pantas karena telah berani naik ke ruang atas Bos nya..


"Gimana kalau ada cctv disana, terus bu Vera tahu kalau aku naik ke sana dan melihat pak Ruslan yang bertelanjang dada itu, matilah aku !'' Mawar masih mengutuk dirinya sendiri..


"Mawar.. kamu dari mana saja ?" Tanya Riri yang menyambut kepulangan Mawar..


"Oh aku habis dari beli kuota internet Ri"..


"Oh.. aku kira kemana saja, tumben kan tiba tiba kamu ga ada di rumah udah sore gini lagi"..


"Iya sengaja aku keluar sore biar gak terlalu panas, soalnya kan jalan kaki ya." Aku sengaja berbohong, aku tidak ingin ada yang tahu kalau aku habis menemani Fiqi, aku tidak mau mereka beranggapan lain padaku nanti..


Hari yang cukup menyenangkan bagi Mawar, karena tidak membosankan seperti hari libur sebelumnya. Setidaknya Mawar merasakan suasana baru apalagi saat menemani Fiqi di taman belakang rumahnya membuat pikiran Mawar lebih tenang dan fresh sekarang..


'Kenapa aku jadi ingat pak Ruslan sih !' batin Mawar, karena ia tidak ingin mengingat Bos nya itu, namun bayangan Ruslan datang sendiri mengganggu ketenangannya..


"Duh Mawar pliss deh, dia itu suami Bos loe, sudah punya anak juga sekarang, lagian dia juga cuek sama loe, jadi gak usah deh mikirin dia apalagi kagum sama dia, loe gak akan bakalan di anggap, dia itu cuma butuh loe karena Fiqi anaknya, biar loe bisa ngasuh si Fiqi. Jadi jangan salah tingkah apalagi salah perasaan paham !!" Mawar memerangi diri nya sendiri, ia tidak ingin membuat dirinya mengingat-ngingat sesuatu yang bukanlah miliknya sendiri..


Mawar menepis jauh jauh bayangan Ruslan yang mengerumuni isi kepala nya, ia berjanji pada diri nya sendiri tidak ingin dirinya merasakan lagi sakit hati yang cukup dalam, mencintai orang yang belum milik siapa siapa saja sudah sakit banget. Apalagi jika mencintai laki laki yang sudah menjadi milik orang lain, itu sama saja menyakiti diri nya sendiri..


"Ingat Mawar, kamu bukan Eca, yang bisa menjalin hubungan dengan suami orang tanpa memikirkan perasaan orang yang mencintai nya di rumah, kamu bukan perempuan yang tidak punya perasaan yang dengan mudah nya masuk ke dalam hubungan orang lain demi kesenangan egomu saja !" Tekan Mawar pada dirinya sendiri..


Mawar memanglah gadis yang polos dan baik, sekali jatuh cinta ia akan mencintai seseorang itu dengan tulus hingga rela memberikan apapun kepada orang yang di cintai nya. Namun ketulusan lah yang membuat hati nya terluka, dan luka itu masih membekas sampai saat ini, apalagi keadaan dirinya saat ini yang sudah tidak suci lagi, Mawar amat takut membuka diri untuk orang lain, oleh karena itu kali ini ia lebih berhati hati dalam melabuhkan cinta nya, ia berharap suatu hari akan ada laki laki yang bisa menerimana nya dengan segala kekurangan yang di miliki nya tanpa mengungkit-ngungkit kesalahan yang telah ia perbuat selama ini..


Akan kah ada laki laki yang bisa di harapkan Mawar itu ?, ikuti terus ya kisah Mawar si gadis polos yang berasal dari desa dengan kisah masa lalu nya yang begitu banyak kepedihan akhirnya membuat nya menjadi gadis yang kuat dan tegar dalam menjalankan kehidupannya, Mawar si gadis polos yang mencari cinta sejati nya dengan membawa kesalahan masa lalu nya..

__ADS_1


__ADS_2