
Di Rumah Davina, berhubung hari ini adalah hari minggu, Davina bermalas - malasan di kamarnya. Apalagi semenjak Bibi murti memutuskan untuk tidak bekerja jadi TKI, beban Davin sekarang agak berkurang. Setidaknya sudah ada yang bikin sarapan buat Nenek dan dirinya sarapan sebelum berangkat kuliah dan kerja. Murti memutuskan buka toko sembako di pasar deket rumah mereka, sekalian bisa menjaga Ibunya yang sudah tua, setiap hari Murti bangun pagi menyiapkan sarapan dan beres-beres Rumah. Kebetulan hari ini hari minggu, murti pun memasak sangat banyak. Karna anggota di rumahnya ada semua.
Jam sudah pukul 10.00, Davina bangun dari tidurnya dan bergegas mandi karna perutnya sudah mulai perih. Setelah melaksanakan ritual mandinya, Davina turun ke bawah, dusana sudah ada nenek dan Bibi Murti. Mereka duduk santai menikmati teh dan cemilan.
Davina : Selamat Pagi nenek dan bibi. menciumi Bibi dan Neneknya.
Nenek dan Bu Murti cuma senyum dan geleng - geleng melihat kelakuan Davina.
Bibi murti : Sudah sana makan, nanti keburu sakit perut mu. ucap Bi Murti.
Davina langsung berlari ke dapur, di meja makan sudah tersedia sarapan kesukaannya. Dia memakan sarapannya dengan bahagia. Setidaknya bebannya berkurang, sekarang ada Bibi Murti yang memanjakannya. Meskipu demikian Davina tetap lah Davina yang rendah hati, mandiri, murah senyum dan pekerja keras.
Bi Murti : Sayang, yang mangkok merah jangan dimakan ya, itu Udang.
Davina : Ok Bibiku Sayang.
Bi Murti : Setelah makan gabung ya, nenek mau bicara sayang.
Davina pun mengangguk. Bi Murti tau, Davina nggak bisa makan udang, tiap Davina memakan makanan yang mengandung udang Badannya akan Panas, sesak nafas, muntah dan pingsan. Makanya Davina selalu hati - hati klo makan di luar.
Akhirnya Davina Selesai makan, Ia menghampiri Nenek dan bibinya di ruang keluarga. Davina tersenyum dan duduk di samping Neneknya. Tumben-tumbenan fikir dafina.
Nenek : Udah kenyang kesayangan nenek?
Davina : Udah dong Nek. Sambil mencium neneknya.
Bu murti melihat sekilas wajah Davina nggak tega, Murti sangat sayang sama Davina. Murti sudah menganggap Anak kakanya tersebut seperti anak kandungnya. Davina pun begitu, Davina suna menganggap Murti ibu kandungnya.
Davina : Nenek katanya mau ngomong. Sambil senyum.
Nenek : Ia sayang, nenek mau ngomong serius. Tapi Cucu nenek janji jangan marah sama Nenek Ya.
Davinapun mengangguk, Davina melihat Wajah nenek dan Bibinya terlihat serius. Davina hanya tersenyum menanggapinya. Sampai akhirnya neneknya bicara.
Nenek : Nak, menikalah.
Davina : Apa Nek? Dengan suara yang sangat kaget. Nenek nggak bercanda Kan?
Nenek : Nggak sayang. Nenek serius.
Sejenak hening, nggak ada yang bicara satupun, sampai akhirnya nenek melihat wajah Davina, tatapannya kosong, Davina bingung harus bagaimana. Nenekpun akhirnya menceritakan semuanya.
__ADS_1
Kemasa Lalu
Dulu sebelum Papamu meninggal, Papamu masih sempat memberitahukan nenek di Rumah sakit. Disana ada teman Papa mu juga menemani Papamu sampai nafas rerakhir Papamu. Dia adalah Cristofer Wijaya, Papamu berteman baik dengan keluarga wijaya, Mereka nggak mau sampai persahabatan mereka Putus. Akhirnya mereka berjanji menjodohkan Kamu dengan anak keluarga Wijaya.
Setelah nenek menceritakan semua, Davina Semakin bingung antara mau nangis atau menolak perjodohan tersebut. Davina tidak tau harus berbuat Apa. Davina tiba - tiba berdiri dari duduknya menuju kamarnya. Sebelum Davina menaki anak tangga Nenek meberitahukan bahwa besok malam keluarga Wijaya datang membicarakan rencana pernikan Dirinya denga anak wijaya. Davina berlari mebaiki tangga dan masuk kekamarnya tanpa sepatah katapun, Davina mengunci kamarnya dan menangis sesenggukan di atas ranjangnya. Davina mengambil Photo kedua orang tuanya, Menangisi photo tersebut, Sungguh berat cobaan hidupnya. Ingin rasanya Davina pergi jauh dan nggak ada satupun yang tau dirinya dimana. Davina terus menangis sesenggukan, Sampai akhirnya Terdengar ketukan pintu, Bi murti mengetuk pintu.
tok tok tok
Davina masih sesenggukan dikamar, tidak membukaan pintu sama sekali. Sampai akhirnta suara ketukan itu pun hilang. Davina masih sesenggukan menangis meratapi nasibnya.
*Kenapa Nasib hamba hiks hiks seperti ini hiks hiks ya Tuhan, hiks hiks hiks hiks Davina lelah hiks hiks dengan semua situasi ini. hiks hiks hiks Biarkan hamba hiks hiks hiks merasakan sedikit kebahagiaan. hiks hiks hiks
hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks*
Ucap Davina sesenggukan, sampai akhirnya Davina terlelap. Sesekali masih terdengar suara sesenggukannya.
Sementara di Kamar Nenek, Bi murti menghampiri Ibunya tersebut.
Bi Murti : Bu, apa nggak bisa di tolak perjohan Davina, kasihan Davina Bu. Murti nggak tega mendengar tangis Davina Bu, Pilu, sedih hati Murti lihat Vina nangis kyk tadi.
Bi murti pun ikut menangisi nasib Davina.
Nenek : Ibu nggak bisa menolak Ndo, Itu sudah perjanjian Dominik dengan Wijaya. Saya Neneknya Davina sekalipun tidak berhak menolak perjodohan ini. Doakan saja Pernikahan Davina nanti Bahagia.
Sementara Di Rumah Keluarga Wijaya,
Nenek Mirna, Cristofer wijaya dan istrinya Yanti Wijaya beserta kedua Anaknya sedang duduk sambil mengobrol tentang rencana pernikan Criss dengan Anak sahabatnya.
Cristian hanya Diam dan mangguk menundukkan kepalanya, di hatinya bingung harus bagaimana. Dia sudah membuat keputusan yang salah menurutnya saat ini. Dia bingung bagaimana menjelaskannya pada kekasihnya Helena mengenai pernikahannya. Di satu sisi dia menyayangi Ayahnya dan kekuarganya, Cris nggak tega membatalkan perjodohan ini.
Akhirnya persiapan pernikan Cris dengan anak teman Papanya sudah 50 %, Besok malam keluarga Wijaya akan kerumah Davina. Sementara Dikamar, Criss pun semakin bingung harus bagaimana. Akhirnya Criss menelp Kekasihnya Helena, tetalu sebelum criss menelp Helena tiba-tiba satu panggilan masuk dari helena. Cris pun menjawab panggilan tersebut.
Criss : Panjang umur ini kesayanganku. ucap cris. Halo Sayang, Ada apa. tanya criss
Helena : Sayang, Senin besok aku akan ikut Atasan ku perjalanan Bisnis ke Hongkong, sepertinya bakalan lama disana. Jawab helena.
Criss : Berapa lama disa sayang. tanya criss lagi.
Helena : Mungkin 5 bulanan Sayang. Sebelum aky berangkat kita makan malam yuk sayang. ucap helena dengan manja. membuat hati Criss mendesir bahagia.
Criss : Ok Sayang, aku jemput ya. I love you. muachhh
__ADS_1
Helena : Muachhh muach muachh
Crrriss segera mandi, bergegas mengganti pakaiannya dengas kemeja lengan panjang, tanngannya di gulung, dengan jeans biru dongker. Memakai sepatu Warna putih, Tampilannya benar-benar membuat wanita manapun yang nelihatnya kagum. Criss merauh Hp, dompet dan kunci mobilnya. Dia bergegas turun dari kamarnya menuju Mobilnya yang ada di garasi. Criss pamit ke Mamahnya dengan alasan bertemu rekan bisnisnya. Mamahnya pun menyettujui tanpa curiga sedikitpun, karna criss sudah biasa dan sering pergi mendadak seperti saat ini.
Di Restoran yang mereka janjikan tadi, Helena sudah datang terlebih dahulu, Di memesan Jus sambil menunggu Criss. Tak butuh waktu lama Crispun datang, menghampiri Helena dan mencium Pipi Helena. Helena memeluk criss tanpa peduli dengan sorot mata tertuju ke mereka. Mereka pun memesan makanan, sebelum pesanan datang mereka pun mengobrol.
Criss : Ko lama ceh sayang perjalanan bisnisnya, sama Bos mu lagi. Kamu harus hati-hati loh disana. Jaga hati dan mata, ingat aku selalu disini menunggumu.
Helena : Mau gimana lagi sayang, namanya juga Tugas. Ucap helena dengan senyum.
Criss : Sayang, Besok aku antar ya ke Bandara. bujuk Criss
Helena : Ok Sayang. Menjawab setuju
Criss : Besok jam berapa Sayang? tanya cris lagi
Helena : Jam 7 sayang, Jam 5 jemput di rumah ya. Hawab Helena.
Criss : atau kamu kerja di kantorku aja ya, jadi sekretaris pribadiku aja. Bujuk Criss
Sebelum Helena menjawab Tiba-tiba pesanan mereka datang, mereka pun makan tanpa suara. Setelah selesai makan, mereka akhirnya Keluar dari restoran tersebut, Sebelum pulang mereka ke salah satu Mall terdekat, setelah menemani Helena belanja, Criss mengantar Helena pulang kerumahnya. Setelah itu Criss pun kembali ke Rumahnya.
Sementara di Rumah Davina, Davina terbangun dari tidurnya, dia melihat jam ding -ding kamarnya, Ia kaget melihat sudah jam 17.20.
Selama ini kah aku tidur. Gumam Davina dalam hati. Dia tiba - tiba ingat apa yang dibicarakan neneknya tadi. Davina hampir menitikkan air matanya. Davina bangun langsung masuk ke kamar mandi, dan melaksanakan ritual mandinya. Ia ingin melupakan masalahnya sejenak.
Bibi murti Naik ke kamar Davina, Bu Murti berkali - kali mengetuk kamar Davina tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Bu murti masuk bersamaan dengan Davina yg baru selesai mandi.
Davina : Ada apa Bi. Tanya Davina.
Bi Murti : Makan yuk, nenek sudah menunggu di Bawah. Jawab Bu Murti.
Davina : Vina pake baju dulu ya Bi, abis itu Vina nyusul ke bawah makan.
Bu murti pun turun ke bawah menemui Ibunya di meja makan, tak butuh waktu lama Davinah turun bergabung di meja makan. mereka pun makan tanpa suara. Tiba - tiba Nenek memecah keheningan di meja makan.
Nenek : Sayang, besok Ijin dulu ya jangan kerja, Kuliah gpp masuk. Besok keluarga wijaya mau datang, jadi kita siap-siap menyambut mereka. Mungkin acaranya kayak lamaran gitu dan sekalian mentukan tanggal pernikahan kalian.
Davina hanya mengangguk, Bi Murti melihat wajah Davina sangat sedih. Kali ini Bi Murti tidak bisa ber buat apa-apa untuk Davina, Dia hanya bisa mendoakan Davina Bahagia.
Semoga Kebahagiaan menghapiri Davina.
__ADS_1
Maaf kalau ada salah tulis šš