
Tempat yang dipesan oleh Clara telah dipersiapkan dengan baik dan mewah bahkan dekorasi yang diinginkan Clara dengan cekatan para pelayan cafe segera mendekorasi dengan apik, setelah tahu ternyata wanita yang memesan cafe tersebut adalah adik kandung nomor satu di negara ini, belum lagi pemilik cafe yang sebelumnya tampak songong ternyata setelah mengetahui untuk siapa dinner malam ini ditujukan, ia pun langsung menunduk hormat dan mencari muka agar tak terkena masalah besar karena telah memperlakukan Adik Tuan Muda tidak baik sebelumnya.
"Maaf Nona, semua pesanan dan keinginan Nona Clara sekiranya telah selesai. Nona bisa langsung melihatnya sendiri" kata pemilik cafe tersebut sopan
"Baik, nanti saya akan melihatnya"
"Baik Nona, dan cafe ini sudah saya buat khusus untuk Tuan Muda dan Nona Melina sebagai hadiah saya, karena sudah berkenan memilih cafe saya ini untuk momen spesial Tuan Muda dan Nona Melina" ucapnya cari muka
Clara hanya melihat pemilik cafe tersebut sinis, merasa tidak suka dengan ucapan pemilik cafe tersebut
Huh, tadi kau sok jual mahal dengan ku setelah tahu siapa yang akan menyewa cafemu lantas kau bersikap sok baik padaku. gerutunya
"Kak, ayo kita lihat hasilnya!" tak menghiraukan ucapan pemilik cafe tersebut yang panjang lebar berbicara, lantas menarik tangan Ika
"Eh baik Nona, permisi Tuan" ucap Ika sembari berjalan mengikuti Clara
Habislah aku kalau Tuan tahu bahwa Nona Clara tadi diperlakukan tidak baik oleh Tuan ini
Clara pun terdiam ketika melihat semua dekorasi yang ia minta sesuai dengan seleranya
Hmm bagus juga, kalau tidak bagus tadi habis kau dengan kakak ku
"Nona, ini sangat luar biasa" Ika terpesona dengan dekorasi yang berkesan super mewah itu
"Biasa aja kali Kak" ucap Clara
"Tidak Nona, ini sungguh luar biasa" ucapnya lagi takjub
"Ya, ya harusnya ini terlihat mewah, tapi kalau ingat sikap angkuhnya pemilik cafe itu sungguh menjijikkan" kata-kata Clara terlihat sewot
"Hmm" Ika menarik nafas
Ika tak bisa berkata apapun, takut kalau-kalau ia mengatakan sesuatu malah membuat Clara semakin kesal dan malah justru Ika nanti terkena imbas dari Clara
"Ayo Kak kita balik, sudah muak aku melihat pemilik cafe itu yang masih saja memperhatikan kita!" menoleh ke pemilik cafe yang memperhatikan mereka dengan perasaan was-was
Habislah aku, nasib cafe ini akan kelar.
__ADS_1
Clara pun berlalu berjalan tak menghiraukan tatapan pemilik cafe itu yang terlihat gusar dan menyesal
"Nona, mohon bantu saya untuk permintaan maaf saya yang telah lancang bersikap tidak baik pada Nona Clara" ucapnya seraya menarik tangan Ika
Pemilik cafe itu terlihat bersujud dihadapan Ika
"Maaf Tuan, untuk apa melakukan ini. saya tidak ada wewenang apapun, mohon berdirilah" Ika tak sampai hati jika ada yang sampai berlutut memohon padanya
"Saya tidak akan berdiri Nona, sampai Nona bersedia menolong saya untuk tidak mengatakan apapun pada Tuan Muda, mohon bantu saya Nona. nasib saya hanya pada cafe ini saja" ucapnya pias dan masih berlutut
"Saya mohon Nona"
"Baik, akan saya usahakan. dan mohon anda berdiri, anda tidak pantas berlutut pada saya Tuan" ucap Ika
"Baik Nona, Terimakasih nona"
"Saya mohon pada Tuan, rubahlah sikap anda dalam memperlakukan orang lain, jangan pandang segalanya karena materi Tuan, jika masih tetap seperti ini sikap anda. saya jamin usaha cafe anda tidak akan berjalan dengan baik" tegas Ika
"Baik Nona baik, saya akan merubahnya. terimakasih Nona"
Ika pun berlalu setelah selesai bicara, dan menyusul Clara yang sudah jalan duluan meninggalkan cafe itu
"Dia memohon Nona, agar tak mengatakan pada Tuan Muda soal perilaku dia kepada kita nona"
"Huh, setelah tahu aku siapa langsung dia syok dan memohon ampun?, dasar tak tau malu!" gerutunya
"Saya mohon Nona, jangan mengatakan apapun pada Tuan Muda, kasihan Tuan pemilik cafe itu Nona, ia mengatakan hanya cafe itu andalan untuk kelangsungan hidupnya"
"Dan Kakak percaya?"
Ika mengangguk mengartikan ia percaya dengan semua ucapan pemilik cafe tersebut, karena Ika bisa melihat sosok kejujuran dalam mata milik Tuan cafe tersebut
"Baiklah, karena ini kakak memohon. aku tak akan mengatakan pada Kak Ryan"
Ika mendongak dan menatap Clara, sembari tersenyum
"Terimakasih Nona, nona memiliki hati nurani yang tulus"
__ADS_1
"Ahh kakak bisa saja"
Mereka pun terus berlanjut hingga merasa kelelahan
"Ahh kak aku capek" sembari duduk di tembok batu yang berukuran setengah meter itu
Ika hanya tersenyum melihatnya
"Kak sini, duduk disebelah aku, kita lihat pemandangan pantai itu, bagus bukan?" seraya menggerakkan tangan menunjuk apa yang ia lihat
Ika pun menurut dan duduk disebelah Clara sembari memandang pantai itu, deru ombak yang besar menggulung-gulung hingga akhirnya lepas dibibir pantai hingga membasahi hewan-hewan kecil yang dekat dengan bibir pantai
"Kak, kira-kira nanti malam momennya akan sebagus apa ya?" tawanya menyeringai setelah hening sejenak
"Saya kurang pasti betul nona" Ika sebenarnya enggan menjawabnya, karena Ika sudah tau Tuan Muda dan Nona Melina tak lagi bersama
"Wah, pokoknya Clara nggak mau ketinggalan momen indah ini" tawanya lepas seolah-olah usaha dia menyatukan dua insan yang saling mencintai bertemu lagi dengan momen yang sangat manis
Ika tak menjawab hanya mendengarkan ucapan Clara yang terus saja membicarakan hal itu
Biarlah nona berbicara panjang lebar sebelum ia mengetahui semua masalah dalam hubungan Tuan Muda dan Nona Melina
"Kak" ucap Clara
"Iya Nona"
"Ayo pulang, aku sudah mulai gerah" seraya berdiri dari tempat duduknya
Ika pun bergegas dan mengikuti langkah Clara, seraya membaca isi pesan yang berdering diponselnya
"Jangan pulang terlalu sore, nanti Tuan Muda Marah lagi!"
Isi pesan dari Sekertaris Zack
Ika membalas pesan itu lalu melanjutkan langkahnya tadi
Ahhh begini jadi orang kaya. pergi dan kembali pun harus diatur, telat sedikit marahnya bukan main. pikir Ika
__ADS_1
*****