
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Clara
"Seharusnya kakak yang berkata seperti itu kepadamu, Clara"
"Aku tidak apa-apa kak, terimakasih kak"
"Terimakasih untuk?" mengerutkan dahi
"Terimakasih telah membuka semua kejahatan kak Melina dan Chintya" memeluk Ryan
"Sebenarnya sudah dari kamu kembali ke tanah air kakak ingin memberi tahu mu, tapi kakak yakin saat itu kamu pasti tidak akan mempercayai semua ucapan kakak" memeluk erat Clara
"Kakak" terbenam didada bidang Ryan
"Aku selalu percaya kakak, aku sayang kakak"
"Kakak juga begitu Clara" ucapnya tersenyum "Sudah jangan bersedih lagi, kan kamu masih punya Ika" menoleh ke arah Ika
Ika yang dibicarakan mereka malah tersipu malu, apalagi tatapan Ryan begitu hangat melihatnya
"Tenang Clara, masih ada aku juga" saut Dika
"Nah benar itu, Dika juga ada. nanti dia juga bisa membantumu" ucap Ryan
"Baik kak, kak maaf ya, selama ini aku nggak tau masalah besar ini" Clara menunduk
"Sudahlah tidak apa-apa, lagi pula waktu kejadian itu kamu berada di Eropa, bagaimana kamu bisa tahu kan" memegang dagu Clara dengan hangat
Clara pun mengangguk dan muncul sebening air mata dimatanya
"Sudah, adik kesayangan kakak ini jangan bersedih, Clara nggak salah apa-apa dalam hal ini" mengusap air mata Clara
"Iya kak"
"Ika" panggil Ryan dengan hangat
"Eh iya Tuan" jawab Ika gelagapan
"Jaga terus Clara ya, saya mempercayai kamu dan juga kamu Dika. jaga adik saya ya"
"Baik Tuan"
"Baik Kak Ryan" Dika menjawab semangat
"Ya sudah mari kita pulang" perintah Ryan
__ADS_1
"Baik kak"
Mereka pun keluar dari cafe itu dengan perasaan lega dan tenang, tidak ada lagi beban yang menghantui mereka lagi, semua telah berakhir malam ini dengan perasaan diri masing-masing
Setelah sampai diparkiran
"Dika mau ikut sama kami tidak?" tanya Clara
"Ah tidak La, sebaiknya aku pulang" melirik jam tangannya
"Ayolah, lagi pula nggak capek kalau langsung balik ke rumah?" ajak Clara
"Hmm boleh kah kak?" menatap Ryan
Ryan tersenyum dan mengangguk
"Boleh"
"Baiklah, terimakasih kak"
"Sama-sama"
Mereka pun masuk ke mobilnya masing-masing, Sementara Dika di mobil miliknya sendiri tidak ikut bergabung atau Clara menemani, karena Ryan sangat melarang sekali adiknya terlalu dekat dengan pria lain, Ryan sangat melarang adiknya untuk berpacaran takut kalau-kalau salah bergaul apalagi takut terjadi hal yang tidak diinginkan olehnya
Tak berapa lama, mereka sampai di villa milik Tuan Ryan
"Baik"
Semua masuk dengan perasaan masing-masing. Ryan duduk di sofa diikuti dengan Clara dan Ika serta ada Dika dan Sekertaris Zack setianya
"Dika, aku pengen tahu awal mula kejadian itu" Clara membuka topik pembicaraan
"Maksudnya Clara?" Dika mengerutkan kening
"Kejadian awal mula dihotel itu, bagaimana kamu tahu itu semua jebakan Chintya" Clara kepo dan sekaligus ingin tahu lebih detail
"Oh itu.." melirik Tuan Ryan
"Untuk apa kamu tahu?" potong Ryan
"Ya Clara ingin tahu lebih banyak saja, sejauh mana kejahatan Chintya kak"
"Bukankah tadi sudah mengetahuinya?"
"Kan kurang sedetail keinginan tahuku, apa itu salah?"
__ADS_1
"Ahh tidak, tidak" kilah Ryan
"Lagi pula, tidak hanya aku saja yang ingin tahu. kak Ika juga pasti ingin tahu, iya kan kak?" menoleh ke Ika
"Ah tidak begitu nona" Ika langsung gugup dan cemas
"Kakak jangan bilang begitu, padahal pengen tahu juga kan?" goda Clara seraya menyikut lengan Ika
"Tidak nona"
"Oh iya, kakak ini siapa?" tanya Dika
"Aku lupa kenal kan, Ini kak Ika. sekertaris Papaku sekaligus orang kepercayaan papa dan orang kepercayaan aku juga" cerita Clara
"Begitu? kenalkan kak, saya Dika. teman Clara. saya juga anak dari teman bisnis kak Ryan" Dika mengulurkan tangan
Ika dan Dika saling berjabat tangan, Ika menjabatnya dengan kaku. Ryan yang melihat itu mengalihkan pandangan seolah tak menampakkan kecemburuannya.
Dasar Tuan Muda ini, tidak bisa bersikap biasa saja! kalau begini caranya terus. akan mudah orang menebak perasaan Tuan Muda pada Nona Ika
"Bagaimana Dika?" Clara memecahkan keheningan sejenak
"Hmm"
"Katakan saja, tidak apa Dika, sepertinya Clara sangat ingin tahu sekali sampai mendesak seperti itu" ucap Ryan seraya menatap Clara
"Tidak begitu ya kak, Clara hanya ingin tahu saja, apa salah?" Clara mengomel
"Haha tidak-tidak, mudah sekali dibuat kesal ya" memainkan rambut Clara
"Jangan diberantakan, nanti rusak rambut cantikku" merapikan rambutnya dengan kesal
"Cih, begitu saja marah" tertawa melihat tingkah Clara
"Aku susah-susah begini menata rambut ini, kakak seenaknya saja merusaknya"
"Iya deh, lanjutkan lah cerita mu dengan Dika"
"Ah iya hampir saja lupa, tolonglah Dika. ceritakan"
"Baiklah Clara" tersenyum manis
Dika tak berbicara terlebih dahulu dulu, ia menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan pikiran dia mengingat hal itu.
Sebenarnya aku sudah tidak ingin membicarakan hal ini lagi Clara.
__ADS_1
Dika tersenyum, dan sulit dimengerti maksud dari senyuman Dika itu.
Setelah cukup lega, Dika mencoba mengingat masalah itu dengan menceritakan ulang dengan bahasa yang lugas dan cukup dimengerti oleh Clara sendiri