
Setelah beberapa bulan dari kejadian itu, benar saja. Perusahaan Pak Jaya bangkrut total karena Perusahaan Almanac juga mencabut saham di Perusahaan Papa Wira, dan kini sekarang hidup Wira kesusahan. sekarang Papanya hanya menjadi buruh kerja di Perusahaan Swasta dan Ibunya bekerja sebagai pembantu sedangkan Wira? kini malu dengan kehidupan barunya.
Awalnya Wira marah besar atas balasan yang diberi Dika, tetapi meredam dan memohon maaf setelah tahu Tuan Muda Ryan juga ikut bergabung dalam rencana Dika, dan mengetahui juga kejahatannya. Wira merasa malu dan menyesal, iri dan dengkinyalah yang telah menghancurkan hidup dan persahabatannya.
Mendengar Wira telah bangkrut, lantas Chintya menjauh serta memblokir nomor pribadi Wira dan tak ingin meneruskan hubungan dengannya.
*****
Mendengar cerita itu, telah membuka mata Clara lebar-lebar. dan merasa bersyukur mengetahuinya lebih cepat
"Kak Ika"
"Iya Nona" menutup pintu kamar
"Ada apa Nona?" menghampiri Clara
"Ternyata benar ya kata orang-orang, kalau orang terdekat kita belum tentu semua adalah orang yang benar-benar baik"
"Kenapa Nona berkata begitu?" Ika sedikit heran dengan arah pembicaraan Clara
"Ya.. seperti yang Kak Ika ketahui, Kak Melina dan Chintya adalah orang-orang terdekat Clara, apalagi Clara sudah mengenal mereka waktu masih ada Mama 12 Tahun yang lalu, Chintya bisa di bilang teman dekat Clara waktu kecil, dulu mereka sering datang ke rumah bersama orang tua mereka. bahkan Clara mengenal baik mereka, tapi kenyataannya sebaliknya. mereka ternyata bukan orang yang baik, dibalik kedekatan kita mereka merencanakan hal yang tidak baik" sambung Clara bercerita
Clara seketika menunduk dan menitikkan air mata seraya kakinya menggesek ke lantai, Ika memandangi itu dengan mata menerawang, mencoba melihat dari dekat apa yang terjadi
"Clara, Clara menangis?" Ika menggoyang pelan bahu Clara
"Ah tidak kak" mengusap air matanya seraya menatap langit-langit
"Tuh lihat, Clara menangis" Ika menyeka air mata Clara
"Jangan menangis" mengusap-usap bahu Clara
__ADS_1
"Tidak kak, hehe" memegang tangan Ika, dan Ika pun menoleh
"Nona kenapa?"
"Hmm, tidak ada kak" memeluk tangan Ika
"Clara boleh peluk kakak?"
"Eh.."
Clara memeluk Ika, cukup erat. Clara merasa sekarang dunianya telah hancur. orang-orang yang ia sayang justru mengkhianati kepercayaannya, sebaliknya orang-orang yang kurang ia percaya malah adalah orang-orang terbaik yang sebelumnya ia abaikan
"Kak" Clara melepaskan pelukannya
"Iya Nona"
"Aku merasa.." memberhentikan ucapannya
"Hmm?" Ika mengernyitkan alis
"Jahat kenapa Nona?" Ika terheran-heran
"Iya, aku jahat padanya. aku kembali membuat hatinya terluka"
"Kenapa Nona berbicara seperti itu?"
"Ya Clara merasa jahat padanya, selama Clara berada diluar negeri, Clara tidak tahu keadaan disini yang sebenarnya, Clara malah lebih intensif memberi kabar pada kak Melina dan mempercayai semua perkataannya, tetapi satu katapun keluar dari mulut Kak Ryan, Clara malah selalu menyalahkannya dan tak mempercayainya sama sekali. mungkin kak Ryan dendam padaku" menundukkan kepala
"Ah tidak nona, Tuan tidak pernah dendam ataupun marah pada nona, justru Tuan sangat sayang pada nona"
"Tidak mungkin kak, kalau ia benar-benar menyayangi Clara dan tak dendam dengan Clara, pastinya ia memberitahukan aku lebih dulu tentang kejahatan kak Melina dan Chintya"
__ADS_1
"Pasti Tuan memiliki cara tersendiri, supaya nona bisa mempercayai semua kejahatan Nona Melina dan Nona Chintya itu nyata, nah buktinya sekarang Nona"
"Maksudnya?"
"Ya seperti nona ketahui, sebelum nona pulang ke tanah air pasti tuan sudah memikirkan cara bagaimana caranya agar nona bisa percaya semua yang diucapkan Tuan itu benar, kan nona sendiri yang mengatakan kan? nona tidak akan mempercayai semuanya jika tidak ada bukti.." Ika melihat reaksi Clara yang sedikit memberikan ekspresi
"Nah, karena Tuan sudah mengenal sifat asli nona, makanya Tuan memberikan sedikit peluang untuk nona bertemu terakhir dengan mereka nona sebelum semua rencana yang sudah disusun oleh Tuan berjalan dengan baik, dan sekaligus Tuan juga ingin mengetahui lebih jauh apakah Nona Melina sudah berubah? ternyata belum kan? nah mungkin juga rencana yang dicafe itu juga bagian dari rencana Tuan, dan bisa nona Clara sendiri saksikan langsung beserta bukti-bukti yang nyata, bukan begitu nona?" ucap Ika dengan lugas seraya mengelus rambut Clara
"Hmm, apa yang kakak bicarakan juga benar" Clara tersenyum
"Jadi nona, jangan berprasangka bahwa Tuan dendam ataupun marah dengan Nona sebaliknya Tuan sangat menyayangi nona. saya tahu itu pasti" tersenyum
"Terimakasih kak, sudah memberikan nasihat yang baik, ya itu pasti. kakak pasti sangat menyayangi Clara" Clara tertawa kecil
"Ya sudah nona tidurlah, istirahat. pasti nona capek"
"Ah iya kak, Clara istirahat duluan ya, kakak jangan begadang lagi" pinta Clara
"Baik nona, saya kekamar mandi ya nona" beranjak dari kasur
"Silahkan kak"
Clara kembali berbaring di kasur dan menarik selimutnya. sementara Ika bergegas mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. setelah selesai Ika kembali dan dilihat Clara sudah tertidur pulas
Nona manis, nona itu berhati lembut dan saya yakin suatu saat akan ada orang yang setia dan baik kepada nona. Ahh nona tidur seperti itu saja masih cantik
Ika belum merasakan kantuk, Ika merasakan haus. ia keluar kamar dan turun ke dapur untuk minum. sebelum sampai dapur, Ika melihat Dika, Tuan Muda dan Sekertaris Zack sedang bercengkrama. Duduk santai dengan ditemani deru ombak pantai dan bintang-bintang indah menghiasi malam itu.
Mereka berbicara tidak terlalu jelas, sehingga Ika sendiri tidak bisa mendengarkan percakapan mereka. Ika bergidik, tujuannya turunkan untuk minum bukan untuk mendengarkan percakapan mereka. Ika terus berjalan ke dapur menuangkan air dalam gelas dan meneguknya.
Tenggorokan Ika terasa segar dan merasakan aliran air membuat tenggorokannya merasa lebih segar dan tak kering lagi. Tapi Ika sangat penasaran pembicaraan mereka, Ika memberanikan diri mendekat, ia berdiri dari balik dinding dapur yang cukup berdekatan dengan mereka. tetap saja tidak terdengar karena deru ombak sangat keras, sudah beberapa kali ganti posisi juga tetap tidak kedengaran
__ADS_1
Akhirnya Ika capek dan menyerah, ia kembali masuk ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat dan berbaring di kasur. tidak butuh waktu lama, Ika sudah tertidur dengan pulasnya.
Bersambung