
"Siapa kira-kira, Zack?" tanya Ryan
"Saya tidak tahu Tuan, apa sebaiknya saya mengecek terlebih dahulu orangnya?"
"Hmm, tidak usah. kau temani saja aku diruangan"
"Baik" ucapnya setelah pintu lift terbuka
Ryan dan Sekertaris Zack pun masuk keruangan, tak berapa lama seseorang mengetuk dari balik pintu
"Masuk!" ucap Ryan
Sekertaris Wanita itu masuk dan menundukkan kepala
"Maaf Tuan, seseorang itu tidak mau menunggu lama-lama, jadi dia memaksa. beruntung karyawan lain menahannya" ucapnya pias
Ryan menatap Sekertarisnya itu penuh dengan tanda tanya, siapa dia bahkan sampai membuat Sekertaris Wanitanya terluka terlihat dipergelangan tangan wanita itu tampak lebam dan ada sedikit goresan bekas cakaran
"Baik, suruh dia masuk" ucap Ryan kesal dan sekaligus penasaran
"Baik Tuan" ucapnya seraya kembali menutup pintu ruangan
Tak menunggu beberapa lama, seseorang itu masuk masih menggunakan kacamata hitam dan masker, tampak terlihat seperti wanita karna postur tubuhnya ramping seperti wanita pada umumnya
Wanita itu terus berjalan hingga mendekati meja kerja Ryan, setelah sampai ia membuka kacamatanya dan masker yang dikenakannya. Ryan tidak tampak terkejut setelah mengetahui siapa wanita itu, siapa lagi kalau bukan Melina
Cih wanita tidak tahu malu kau, masih berani datang kemari dan menampakkan diri disini, cari mati kau. Ryan
Benar-benar wanita bermuka tebal, muka badak, tidak tahu malu dan murahan, sudah jelas-jelas kau berbuat masalah yang tidak bisa dimaafkan malah kau masih berani datang kemari. Sekertaris Zack
"Terkejut setelah tahu siapa yang datang kemari?" ucap Melina tersenyum penuh kelicikan
"Mau apa kau datang kesini" ucap Ryan dengan santai
"Hmm, apa tidak sebaiknya kita duduk disana saja" ucapnya menunjuk sofa
Belum lagi Ryan berucap wanita itu sudah berjalan ke sana dengan tak tahu malunya, dan duduk dengan sok anggunnya disana bahkan masih bisa-bisanya ia menggoda Ryan dengan cara duduknya yang menjijikkan itu
Ryan bodoh amat dengan kelakuan Melina disana, ia langsung duduk saja di bangkunya dengan santai, dan Sekertaris Zack berdiri dibelakang punggung Ryan sembari menatap Melina dengan sinis
"Apakah kita bisa bicara?" ucap Melina
"Ya katakan saja" Ryan menjawab dengan ketusnya
"Tidak maksudku, apa kita bisa berbicara empat mata saja?" ucap Melina menatap Sekertaris Zack dengan senyum sinisnya
__ADS_1
"Aku keberatan, biarkan saja dia disini. anggap saja dia tidak berada disini" ucap Ryan
Sulit sekali memisahkan mereka berdua, cara apalagi agar sekertaris sialan ini keluar. pikir Melina
"Katakanlah" ucap Ryan sekali lagi
"Hmm, aku haus. bisakah kita minum-minum dulu?" Melina beralasan
Tentu saja itu hanya alasan Melina saja, supaya Sekertaris Zack keluar dan tak mendengarkan percakapan mereka, karna Melina sudah menyusun rencana supaya Ryan mau memaafkannya dan kembali kepadanya lagi
"Zack" panggil Ryan
Sekertaris Zack pun mendekati Ryan
"Ambilkan minuman untuk kami berdua" ucap Ryan
"Baik"
Tapi sebelum Sekertaris Zack beranjak pergi, Ryan menjentikkan tangannya agar Sekertaris Zack lebih dekat padanya
"Biarkan kami berdua saja dulu, tunggu kami disini selama 10 menit, aku penasaran apa yang ingin ia bicarakan padaku. tak usah khawatir aku bisa mengendalikan diri dan emosi" ucap Ryan berbisik ditelinga Sekertaris Zack
Sekertaris Zack pun mengangguk dan menatap Melina sekali lagi dengan sinisnya lalu pergi keluar dan membiarkan Tuannya berdua didalam sana dengan wanita berbisa itu
"Katakan padaku, apa tujuanmu datang kemari" tanya Ryan masih dengan nada kesalnya
"Tidak"
"Benarkah, kalau tidak mengapa seperti ini sikapmu padaku?" ucapnya mengiba
"Hei, apa kau tidak sadar dengan semua perbuatanmu? dan kau masih berharap aku bersikap baik padamu?"
"Ryan, janganlah seperti itu padaku" Melina meraih tangan Ryan dan berusaha menggenggamnya
Belum lagi Melina berhasil menggenggam tangannya, Ryan sudah lebih dulu mengibaskan tangannya seolah enggan disentuh wanita itu lagi
Bahkan dia berani berbuat seperti itu, Huh. Melina sabar sabar
"Katakan padaku apa tujuanmu kemari!" ucap Ryan menaikkan nada tingginya
"Aku, aku kesini ingin meminta maaf"
"Sudah aku katakan bukan? aku sudah memaafkan mu" ucap Ryan lagi
"Bukan itu saja"
__ADS_1
"Lalu?" Ryan menaikkan alisnya dan sedikit heran dengan ucapan Melina
"Aku ingin, kau memberiku kesempatan lagi" ucapnya tersenyum manis
"Hahahaha" Ryan tertawa mendengar keinginan Melina
Melina tentu saja terheran-heran mendengar tawa Ryan
"Kau memang tidak tahu malu atau urat malu mu sudah hilang kah? kau sadar dengan ucapanmu barusan?" Ryan menyinggung Melina
"Ya jelas, jelas aku sadar. justru aku sangat sadar dengan ucapanku, itu sudah sangat jelas kau dengar bukan?" Melina mempertegas ucapannya
Sekali lagi Ryan tertawa lebih keras dan diselingi dengan tepuk tangan yang terasa sangat mengerikan, tapi Melina seperti sudah kehilangan harga dirinya. tetapi Melina tidak memperdulikan apapun lagi, yang terpenting baginya ialah, Ryan mau kembali lagi dengannya
Persetan dengan harga diri
"Haha, Melina" panggil Ryan dan Melina menoleh menatap Ryan dengan wajah yang ia pasang dengan mimik menyedihkan agar Ryan mau berbelas kasih padanya dan mau kembali padanya, karna dulu saat mereka masih bersama, mereka bertengkar Melina selalu memasang wajah seperti itu dan tentu saja Ryan luluh dan mau kembali padanya
"Apa kau ingat dengan kata-kata ku waktu itu bukan?" kali ini Ryan bangkit dari duduknya dan berjalan mengelilingi Melina
Melina tak menjawab dan menunduk, tangannya bergetar, tampak dari cara ia menggenggam pinggiran sofa tersebut
"Aku sudah pernah katakan bukan? jangankan kembali padamu, melihat wajahmu saja aku sudah tak sudi, dengan kau pasang wajah seperti itu aku sadar kau itu tidak pantas untuk dimanjakan seperti wanita lain pada umumnya, kau kalau dimanjakan akan tampak terlihat wanita licikmu" Ryan memberhentikan ucapannya sesekali menatap Melina dengan jengkelnya
"Jangankan dimanjakan, untuk diperlakukan dengan baik saja mungkin sudah tidak pantas. Hmm, wajah cantikmu tidak sesuai dengan tingkah lakumu. Ya memang dulu aku sangat bodoh, bodoh dengan caraku yang begitu sangat mencintai mu tapi sekarang tidak. Kenapa? karna aku sudah paham dan mengerti wanita mana yang pantas untuk aku cintai dan aku perjuangkan, dan itu tidak ada di dirimu. Kau dengar?" ucap Ryan lagi
"Kau dengar tidak, kau sudah tidak pantas untuk aku cintai bahkan aku perjuangkan. Jadi kau jangan bermimpi untuk bisa kembali padaku, karna aku sudah tak sudi bersanding denganmu lagi" ucap Ryan
"Tapi Ryan, berikan aku kesempatan. aku yakin aku, aku bisa berubah" ucapnya dengan Isak tangisnya
"Tidak, sekarang pilih! kau keluar dari sini dengan terhormat atau aku paksa Zack untuk mengusirmu!" Ryan menaikkan nada tingginya
Melina diam dan tak bergeming
"Oh, kau tidak suka diperlakukan dengan hormat lantas kau suka dikasari? sudah ku duga" ucap Ryan sekali lagi
"Sekertaris Zack! masuk!" panggil Ryan
Tentu saja Sekertaris Zack memang sudah berada dibalik pintu, dan sudah siap untuk menarik paksa Melina keluar
"Nona mari keluar" ucap Sekertaris Zack sebelum menarik paksa Melina
"Tidak!" Melina meronta
"Paksa dan tarik saja dia! dia tidak pantas diperlakukan dengan baik" ucap Ryan
__ADS_1
Tentu saja Sekertaris Zack lebih mendengarkan Tuannya, dengan sinisnya ia menarik kasar Melina dan membawanya keluar dari ruangan itu dan mengabaikan suara Melina yang meronta-ronta tidak ingin meninggalkan tempat itu
Bersambung