Ketika Cintaku Korban Sahabat Baikku

Ketika Cintaku Korban Sahabat Baikku
Bab 33


__ADS_3

"Halo kak, bisa bertemu sekarang?" Dika menelfon Ryan


"Iya bisa, ada apa Dika, kelihatannya hal serius?"


"Aku ingin meminta bantuan mu kak, tolonglah aku" Dika berbicara serius


"Baik, datanglah ke perusahaan kakak"


"Baik kak"


Dika pun menutup telfon, dan meraih kunci mobilnya, masuk ke dalam lift dan setelah keluar ia bertemu dengan resepsionis


"Tolong suruh beberapa karyawan hotel ini, membersihkan kamar nomor 128, aku ingin kembali kamar sudah bersih" perintah Dika


"Baik Tuan"


Dika pun meninggalkan ruangan itu dan menuju mobilnya terparkir. meninggalkan halaman parkiran itu dan melajukan mobil ke jalan menuju ke Perusahaan Group Almanac. didalam mobil Dika sudah sangat kecewa dan kesal tak ingin mempercayai semuanya tapi itulah kenyataan yang sebenarnya


Dika menarik gas cukup kencang dan merasa ingin cepat-cepat sampai untuk segera menyelesaikan semuanya. Akhirnya sampai lah di gedung megah milik Perusahaan Almanac. Dika memakirkan mobilnya dan menuju ke ruangan Tuan Ryan.


Para karyawan tak berani menegur Dika, karena tanpa menanyakan kepada mereka pun, pasti sudah membuat janjian terlebih dahulu, apalagi Dika sangat dekat dengan Tuan mereka.


Dika mengetuk pintu sebelum masuk


"Masuklah" ucap Ryan


Dika membuka pintu dan berjalan ke sofa dan menghempaskan tubuhnya kasar


"Ada apa dengan mu?" tanya Ryan


Sekertaris Zack yang melihat itu pun hanya memandang Dika dengan segudang pertanyaan diotaknya


"Kak kemarilah, aku ingin berbicara serius" ucap Dika dengan mengatupkan tangannya menutupi wajahnya


Ryan mengerutkan keningnya seraya berjalan menghampiri Dika


"Kamu kenapa anak muda, sepertinya banyak sekali beban pikiran" ledek Ryan


"Ini masalah serius kak, janganlah menghina ku sekarang" Dika mengomel

__ADS_1


"Baiklah, lalu apa yang terjadi padamu?" ucap Ryan seraya duduk di sofa


Dika pun menceritakan semuanya yang terjadi pada Ryan dengan jelas dan gamblang. Sekertaris Zack juga turut mendengarkan. Setelah mengetahui itu Ryan menjadi tersulut emosi bahkan bukan cuman Ryan saja, Sekertaris Zack juga turut emosi dengan kelakuan Chintya


Huh ternyata kakak dan adik tidak jauh berbeda, sama-sama pembawa petaka saja. Zack


Ternyata bukan hanya aku saja yang merasakan kelicikan Melina, dan kau juga turut merasakan kelicikan Chintya, Dika. Adik dan Kakak sama saja liciknya, sama-sama tidak tahu malu, tapi aku kali ini sudah tidak ada rasa simpatik pada mereka, akan aku selesaikan semuanya kalau perlu buat mereka merasakan dan tidak pernah lupa kejadian itu. Tuan Muda


"Kejadiannya kamu berada di hotel mana?" tanya Ryan


"Hotel Each milik Kakak"


"Each? Hmm"


"Kenapa kak? kakak ada rencana?" tanya Dika


Tuan Ryan menatap Sekertaris Zack, langsung saja Sekertaris Zack paham dan menganggukkan kepala lalu pergi keluar. ia tahu betul harus melakukan apa atas kejadian yang menimpa Dika.


"Kak katakanlah, rencana apa?"


"Hmm, disana ada cctv disetiap sudut ruangan. kakak ada rencana untuk menyelidiki setiap sudut ruangan apakah ada yang mencurigakan sebelum kejadian itu"


"Tidak usah, Sekertaris Zack yang akan membereskan semua"


"Benarkah?"


"Iya"


"Baiklah kalau begitu, tapi aku masih ada satu lagi yang harus dibereskan kak"


"Soal apa?"


"Wira!"


"Wira? teman kecil kamu itu kan?" Ryan menebak


"Ya, dia juga otak dibalik semua ini juga!"


"Maksudnya?" Ryan kurang mengerti

__ADS_1


"Ya, Wira ternyata selama ini berselingkuh dengan Chintya dibelakang aku, dan Wira jugalah dalang dibalik ini semua" tegas Dika


"Humm, rumit juga kisah mu anak muda, jadi kamu perlu bantuan apa dari kakak?"


"Aku juga ingin dia menderita sama halnya dengan perbuatan dia"


"Huh, kakak baru ingat. Perusahaan Papa mu memiliki saham yang cukup tinggi di Perusahaan Pak Jaya, Papa Wira. dan kakak juga memiliki saham yang cukup berpengaruh dalam perusahaan itu. kalau Papa mu mencabut sahamnya di Perusahaan Pak Jaya setidaknya akan berdampak yang cukup merosot, dan itu membuat perlahan-lahan Perusahaan Pak Jaya mengalami penurunan yang cukup signifikan. kalau saham kakak, kakak cabut juga itu akan membuat Perusahaan mereka bangkrut total.." Ryan berhenti sejenak


"Tapi.. kakak ingin tanya padamu, ingin melihat Wira menderita langsung, atau berangsur-angsur menderita?"


Sejenak Dika berpikir, sakit hatinya cukuplah dalam, apalagi selama ini Dika mengenal Wira cukup baik, tapi tak habis pikir justru Wira lah musuh yang paling bahaya untuknya, duri yang menancap dalam perlahan. Wira juga tahu Dika sangat teramat menyayangi Chintya tapi justru Wira manfaatkan untuk merebut kebahagiaan Dika.


"Oke kak, aku ingin melihat Wira menderita lebih lama"


"Jadi.." Ryan memberhentikan ucapannya


"Aku ingin melihat Wira pelan-pelan hancur dan menderita, Hahaha" tawa Dika menyeringai bibir manisnya


"Oke, kakak akan membantumu, ceritakan ini semua dengan Papa mu, Kakak yakin dia akan ikut andil. apalagi jika tahu kakak juga ikut andil dalam hal ini"


"Baik kak"


"Oke, kita kasih dia pelajaran agar tidak membuat kesalahan lagi yang cukup fatal"


"Baik kak"


"Lalu, setelah ini kamu akan pergi kemana?"


"Hmm, mungkin ke kantor Papa"


"Baiklah kalau begitu, pergilah. masih ada kerjaan yang cukup banyak yang harus kakak urus" sambung Ryan


"Baik kak, Dika pergi dulu" beranjak dari sofa


"Hati-hati"


Ryan mengamati Dika lamat


Kasihan sekali dirimu, tak jauh berbeda dengan aku. tapi aku tidak ingin kau hancur dengan wanita yang sama

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2