
Hari telah menjelang petang. Mereka pun sampai dirumah besar milik keluarga Tuan Ryan. Ryan dan Sekertaris Zack telah turun duluan dari mobil, lalu dengan sigap Sekertaris Zack mengangkat barang-barang milik Tuan dan Nona, Ika dan Clara turun berbarengan. Diperjalanan tadi Dika sudah berpisah alur dengan mobil milik Tuan Ryan yang dikemudikan oleh Sekertaris Zack
Clara masuk dengan berjalan santai, Ika membawa koper miliknya tergopoh-gopoh memegang Tasnya dan Tas milik Clara
"Letakkan saja disitu, biar kepala pelayan yang membawa" ucap Tuan Ryan
Ika terpelongok mendengarkan ucapan barusan, Ia hanya terdiam dan tak menjawab. kelu dirasakan Ika tenggorokan tiba-tiba saja mengering
"Kau tak dengar? letakkan saja disitu, biar kepala pelayan yang membawa" Ucapnya mengulangi
Ika pun menurut dan meletakkan Tas tersebut, dengan sigap kepala pelayan meraih tas tersebut dan membawanya kedalam rumah
Tuan Ryan sudah masuk terlebih dahulu setelah berucap tadi. sementara Sekertaris Zack berdiri tepat dibelakang Ika dengan tatapan dinginnya. Ika tak berkutit apalagi menoleh ia hanya berjalan lurus menatap depan dengan cemas dan khawatir
Didalam ruangan, Clara sudah bermanja ria oleh Papanya, bercerita seputar liburannya dan menceritakan semua masa liburnya yang telah terjadi disana dengan wajah dan semangatnya bercerita
"Kak, sini" panggil Clara seraya menunjuk kursi didekatnya
Ika pun menurut dan berjalan ke arah yang diminta, Tuan Ryan sudah duduk dan bergabung disana dengan santainya dan tersenyum tipis penuh makna
"Pa, Clara sudah tahu semua kebusukan Kak Melina dan Chintya" Clara mulai bercerita
"Papa sudah mengetahuinya" imbuh Pak Surya
"Maksud Papa?" tanya Clara heran, karena ia merasa Papa tidak tahu kejadian yang disana
"Ya, Papa sudah tahu kebusukan mereka berdua. jauh sebelum kamu kembali ke tanah air" ucapnya lagi
"Lalu.. Lalu mengapa Papa tidak mengatakan itu pada Clara?"
"Mungkin kamu sudah tahu alasan Papa tidak memberitahu mu, Kak Ryan sudah bercerita bukan?" ucapnya menatap Ryan
Ryan hanya mengangguk pelan seraya tersenyum lebar
"Lalu kenapa? kenapa Papa dan Kak Ryan tidak melarangku bertemu dengan mereka? mengapa tidak mencegah?"
__ADS_1
"Ya Kakak ingin memberi kesempatan pada Melina untuk segera bertobat dan tidak melakukan hal buruk itu lagi, tapi rupanya sama saja dengan sebelumnya" Ryan membuka suara
"Lalu?"
"Lagi pula jika kakak atau papa melarang mu, pasti kamu akan bertanya terus menerus apa sebabnya. jadi kakak pikir untuk memberitahu mu nanti saja dengan bukti-bukti yang sudah kakak kumpulkan" ucapnya
"Lagipula, kakak lakukan itu untuk kebaikan kamu juga" lanjutnya
Clara terdiam dan sejenak otaknya mulai berfikir tentang semua ucapan dan nasehat kedua orang yang disayanginya itu. memang benar akan sulit bagi Clara mempercayai mereka tanpa bukti yang nyata, dan mereka sudah memikirkan rencana yang baik untuk membuat Clara mempercayai sepenuhnya apa yang telah terjadi
Clara juga merasa tidak terlalu kecewa setelah mengetahui bahwa dia orang terakhir yang mengetahui permasalahan yang sebenarnya. ya ya itu semua karena selama ini Clara tidak tinggal ditanah air, dan Clara memaklumi semuanya
Kamu marah dengan Papa?" tanya Papa
"Enggak Pa, mana mungkin Clara marah dengan Papa, Clara kan sayang Papa" manjanya seraya memeluk Pak Surya
"Lantas, bagaimana dengan kakak?" pancing Ryan
"Huh" dengusnya
"Aku juga tidak marah pada Kakak" tawanya menyeringai lebar
Ryan tersenyum senang menatap Clara, Papa pun tak kalah tersenyum mendengar ucapan Clara.
Sementara Ika yang berada diantara mereka hanya bisa tersenyum dan tak berkata apapun, karena Ika tahu posisi dia disitu
"Oh iya selama Clara disana, Kak Ika selalu memperhatikan Clara dan memberikan nasihat pada Clara Pa, dan Clara sangat menyukai hal itu"
"Benarkah? benar begitu Ika?" tanya Pak Surya
Ika hanya tersenyum seraya mengangguk dan tak berani mengangkat wajahnya untuk melihat raut wajah orang-orang disitu, Ika terlalu takut dan malu
"Oh iya, Kakak menginap sajalah disini" ucap Clara
Ika spontan terkejut dengan apa yang barusan diucap Clara
__ADS_1
"Eh tidak nona, biarlah saya pulang saja" Ika menolak harus
"Besok sajalah kakak pulang, lagian ini sudah hampir larut malam, nggak baik loh malam-malam begini perempuan pulang sendiri"
"Tapi nona, besok saya akan masuk kerja kembali..."
"Besok kamu saya beri libur satu hari, untuk beristirahat dengan baik" potong Pak Surya
"Menginap saja, besok akan diantar Tuan Ryan dan Sekertaris Zack"
Ika terbelalak mendengar penuturan itu.
Apa? Tuan muda dan Sekertaris Zack yang akan mengantarkan aku? ah tidak mungkin, mati aku. bisa-bisa aku diturunkan dijalanan dengan dua manusia dingin ini, habislah riwayat ku
gerutu Ika dalam hati
"Menginap lah, besok Clara akan ikut mengantar kakak" sambung Clara
Clara sebenarnya tahu apa yang dipikirkan oleh Ika, yah. Kak Ryan dan Sekertaris Zack kan tidak terlalu menyukai Ika, bisa-bisa nanti Ika diapa-apain mereka, wah gawat kalau itu sampai terjadi
Ika sedikit bernafas dengan lega dengan yang dikatakan Clara. sementara Tuan Ryan mendesis dengar ucapan Clara barusan
Benar-benar menyebalkan Clara ini, biarkan saja Ika pulang denganku, kenapa kau harus ikut. aku kan ingin lebih leluasa berbicara pada Ika, memang mengganggu saja. gerutu Tuan Ryan
Sekertaris Zack menggelengkan kepala melihat tingkah kesal Tuan Ryan
Jatuh cinta sih jatuh cinta, tapi ya jangan sampai selebay itu ekspresi Tuan, bagaimana kalau Clara tahu Tuan menyukai Nona Ika diam-diam, bisa-bisa Tuan akan malu dan dianggap berlebihan. Zack
Malam pun semakin larut waktunya tidur, Clara masuk ke dalam kamar miliknya, begitupun Pak Surya dan Tuan Muda, sementara Ika di dampingi pelayan berjalan ke kamar tamu untuknya
"Nona ini kamar nona" ucap pelayan
"Terimakasih, selamat malam" sapa Ika dengan ramahnya
Pelayan tersebut terkejut, baru kali ini ada yang mengucapkan Terimakasih dan selamat malam untuknya karena selama ia bekerja dirumah itu, tidak satu pun ada yang mengatakan itu
__ADS_1
"Selamat malam kembali" ucap pelayan itu tersenyum sebelum menutup pintu