Ketika Cintaku Korban Sahabat Baikku

Ketika Cintaku Korban Sahabat Baikku
Bab 30


__ADS_3

PLAKK!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Melina


"Dasar tidak tahu malu kamu ya!!" Emosi Clara mencuat


"Clara sayang, kakak mohon. semua itu tidak benar, tolong percaya kakak" Melina menangis terisak-isak


"Cih.. lepaskan tangan kotor mu itu dari tubuh ku, kau tak lebih dari wanita murahan!!"


"Clara, ku mohon" Melina memelas


"Diam!! aku tak percaya semua ucapan mu!" pekik Clara


"Heh, mau aku beri tahu satu lagi kejutan untuk mu, Melina?" ucap Ryan seraya tersenyum sinis


Melina mengalihkan pandangan. Ryan menepukkan tangannya. seseorang datang dari sudut cafe


"Lepaskan aku! lepaskan!!"


"Lepaskan dia" ucap Sekertaris Zack santai


"Baik Tuan"


"Kakak" Chintya berlari memeluk Melina


"Kau tahu Chintya, apa kesalahan kakakmu?" Ryan menimpali


Chintya diam tak menjawab pertanyaan Ryan, dan melihat Melina seraya berkaca-kaca


Kak, aku kasihan dengan mu, tapi apa yang bisa aku perbuat


"Kau ingin aku bongkar juga semua kejahatan mu?" Ryan berucap


"Apa Chintya juga terlibat kak?" Clara bertanya


"Kamu penasaran, Clara? baiklah akan kakak tunjukkan juga"


Ryan memberi kode


"Gimana? kamu berhasil menjebak Dika, dan wanita bayaran itu?"


"Sudah bos, aman"


"Bagus, ini bayaran untuk kamu"


"Terimakasih bos"

__ADS_1


"Halo.." Clara menghubungi seseorang sembari terisak-isak


"Kalian cepat kesini, aku tadi melihat Dika berada di hotel bersama wanita lain" pura-pura menangis


"Iya aku tunggu"


*Tak berapa lama datanglah teman-teman Chintya dan Dika*


"Aku tadi melihat Dika berada di hotel ini, dan tiba-tiba saja ada wanita masuk dikamarnya"


"Serius?"


"Iya"


"Ya sudah ayo kita labrak saja mereka"


*Suara mendobrak pintu*


"Dika! Sialan kamu ya! tega kamu khianati Chintya dengan wanita murahan ini!"


"Tunggu dulu! wanita? wanita mana?" Dika keluar kamar mandi


"Alah.. nggak usah munafik lo! dia siapa yang di atas kasur Lo itu! kalau bukan selingkuhan Lo!"


"Astaghfirullah, sumpah gue gak kenal sama tuh cewe"


"Udah Chin, nggak usah pertahanin cowok kek gitu! gak pantes sama Lo! Lo tuh baik bakal bisa dapat yang lebih dari Dika"


"Bener! ayolah pergi kita, gerah gue disini liat manusia menjijikan"


*Suara membanting pintu*


Video itu pun berakhir, Ryan menepuk tangan kembali


"Chintya, Chintya.." Ryan berjalan mengelilingi Kakak dan adik itu sembari memeluk tangan


"Benar-benar bagus akting kamu ya, haha.. Gak jauh beda sama kakak mu"


Chintya tak berani menjawab, dan hanya diam membisu.


"Pasti kamu bertanya-tanya kan, kenapa ada video itu?.." Ryan berjongkok didepan Chintya "Lupa? kalau hotel itu milik saya? lupa kalau itu hotel cabang Almanac atau kamu lupa kalau saya adalah pemilik sekaligus CEO di hotel itu?" Ryan berdiri sembari mengelilingi mereka lagi


"Benar-benar menjijikan sekali kalian berdua ya! kakak dan adik sama saja liciknya" ejek Clara sinis


"Sebentar Clara, tahu kenapa kakak simpan dan kakak jadikan video?" tanya Ryan


"Kenapa kak?" Clara penasaran

__ADS_1


"Karena Dika sendiri yang ingin tahu lebih jelasnya atas kejadian di hotel tersebut, ia mendatangi kakak dikantor dan memohon pada kakak untuk membantunya mengupas hal terjadi yang sebenarnya, dan dia sendiri yang berinisiatif minta cek cctv"


"Dasar kau gak tahu malu Chin, gak nyangka aku! kau dan kakak kau benar-benar orang licik!"


Chintya hanya bisa terdiam begitu sebaliknya dengan Melina


"Oh ya satu lagi.." muncul seseorang dibelakang mereka "Chintya, semua aset yang pernah kau dapatkan dari aku sudah aku ambil alih" Dika berucap


Chintya semakin membisu dan semakin menundukkan kepala sekaligus bingung


"Kenapa? terkejut ada aku disini?" Dika tersenyum sinis "Sekertaris Zack sudah memberitahu ku dan merencanakan semua ini, kamu tahu kenapa? biar kamu dan kakak kamu itu cepat sadar!"


Melina tak menjawab sepatah katapun, ia hanya menangis sementara Chintya menangis terisak-isak sembari memeluk Melina meminta kekuatan


"Kamu ya Chintya, perempuan tidak tahu diuntung! semua apa yang kamu minta aku turutin semua, bahkan kamu ingin punya mobil sendiri aku beri! lantas begitu pembalasanmu? sungguh hebat sekali sandiwara mu" Dika bertepuk tangan


"Aku tidak tahu apa jadinya jikalau kedua orang tua kalian tahu hal ini dan aku buat perusahaan kedua orang tuamu bangkrut seketika, kan aku punya saham besar disana" timpal Ryan sinis


Melina beringsut mendekati Ryan dan memohon


"Ryan aku mohon, jangan beri tahu kedua orang tua aku dan aku mohon jangan lakukan itu pada orang tua ku, mereka tidak tahu apa-apa Ryan" Melina bersujud memegang kaki Ryan sembari menangis, persetan dengan harga diri, tidak melakukan hal itu saja sudah lebih aman pikirnya


Chintya hanya diam dan menangis, mencoba bertahan dan kuat dalam situasi ini, kalau-kalau ia pingsan Chintya yakin tak akan ada yang mau membantunya, apalagi kakaknya Melina


"Tidak semudah itu!" mencengkeram pipi Melina "Kau, adik mu beserta keluarga mu akan merasakan akibatnya dari perbuatan kalian berdua!" melepaskan dengan kasar


Melina terduduk lemas, tak ada lagi kekuatan pada dirinya, kini masa depan dia akan segera hancur, masa depan adiknya juga hancur bahkan kedua orang tuanya harus kehilangan perusahaan demi keserakahan dirinya


"Enyahlah kau dari hadapanku! atau kau akan menderita selamanya!" Ryan membentak keras


Clara tak lagi berbicara, ia tahu kalau berbicara lebih banyak juga yang ada energinya akan terbuang sia-sia, begitupun Ika, ia hanya terdiam menyaksikan semuanya antara kasihan juga kesal dirasakannya. wajahnya tak sebaik hatinya, pikir Ika Melina adalah wanita baik-baik dan sangat sopan, ternyata lebih jahat dari apapun itu


"Enyah kalian dari hadapanku!" bentak Ryan lagi


Melina beringsut mundur dan mencoba berdiri meski sulit, tapi Chintya mencoba menahannya dan memapahnya berjalan


"Dan satu lagi Chintya.." Ryan terdiam


Chintya menoleh kearah Ryan


"Jangan kau kuliah satu universitas dengan Clara, aku tidak mau sedikit pun wajahmu muncul disana, pergi kau dari negara ini juga seperti kakak mu!"


Chintya mengangguk dan kembali memapah kakaknya berjalan keluar cafe, ia tak menyangka semua akan menjadi begini, semua rencana yang ia susun bersama kakaknya telah hancur dan terburai sekarang mereka telah mendapatkan hasilnya, Chintya memapah Melina seraya berlinang air mata, kini ia tak bisa hidup mewah lagi bahkan aset yang ia kumpulkan telah disita oleh Dika semua


Chintya menyesali, tapi mau bagaimana lagi egois dan keserakahannya lah yang menuntunnya sampai ketahap ini


bersambung

__ADS_1


__ADS_2