Ketika Cintaku Korban Sahabat Baikku

Ketika Cintaku Korban Sahabat Baikku
Bab 32


__ADS_3

"Kamu ya, selalu saja marah-marah nggak jelas sama aku, memang salah aku apa!" Dika membentak


"Masih tanya salah kamu apa?, siapa wanita yang aku lihat kemarin yang bersamamu di mall itu!" tak kalah bentak


"Wanita? di mall?" mengingat-ingat


"Apa pura-pura tak ingat kamu!"


"Aku benar-benar tidak tahu sayang, aku tidak ada jalan dengan wanita mana pun" Dika mulai melembut


"Tidak usah pura-pura berbohong!" masih tak percaya


"Aku serius, tidak ada sayang" mencoba meraih tangan Chintya


"Tidak usah sentuh aku!" mengibaskan dengan kasar


"Kamu kenapa? kok tiba-tiba berubah dan tidak mempercayai aku lagi?"


"Untuk apa aku percaya dengan lelaki pembohong seperti kamu!" masih dengan nada tinggi


"Sumpah aku tidak tahu, kalau tidak percaya mari ikut aku untuk membuktikan semuanya"


"Huh, untuk apa. sudah pasti kamu sembunyikan wanita itu!" menatap sinis


"Coba aku tanya padamu, sejak kapan aku berani bermain gila dibelakang kamu? kita sudah cukup lama bersama. sudah pasti kamu paham dan pasti tahu tentang sifat aku" Dika mencoba mengalah


"Ah sudahlah! aku tak percaya sama kamu! aku pergi!" meraih tasnya dan pergi entah kemana


Dika merasa pusing dengan sikap Chintya yang akhir-akhir ini tampak berubah, Chintya akan bersikap lembut dan baik jika Chintya ingin memiliki sesuatu, tapi jika tidak ingin hal apapun, ia akan bersikap egois dan tidak mau tahu. tapi entah mengapa Dika masih saja betah bertahan dengan sikapnya.


Dan karena hal itulah, Dika ingin menyegarkan tubuhnya dan pikiran, ia memesan satu kamar hotel, karna dihotel itulah terdapat banyak fasilitas dibandingkan fasilitas hotel lainnya dan hanya satu-satunyalah hotel terbaik di negara itu.


Setelah selesai transaksi Dika masuk ke lift lantai 14, lalu menuju ke kamar miliknya. membuka pintu dan menutup kembali, Dika ingat ia lupa mengunci pintu itu hanya menutupnya rapat saja. Disitulah Dika melepaskan pakaiannya dan meraih handuk lalu masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan pikiran dahulu.


Setelah 10 menit berlalu, Dika mendengar ada suara ribut-ribut diluar. Itulah Dika langsung menyelesaikan mandinya dan memakai handuk sebagai pelindung badannya dulu. Entah dari mana Dika dikejutkan oleh teman-temannya dan teman-teman Chintya dengan wajah yang sangat marah dan menuduhnya bermain wanita di belakang Chintya.

__ADS_1


Dika sudah bersumpah tak melakukan apapun, tapi tetap saja mereka tak percaya, Dika melihat Chintya hanya bisa menangis.


"Lihat itu! siapa wanita yang kau bawa itu! tidak mungkin kau tidak kenal? Hah, jelas saja dia sekarang berada diatas kasurmu!" ucap Dirga sembari menunjuk wanita yang hanya menunduk diatas kasur


"Sumpah Dir, aku tidak mengenal wanita itu sama sekali" Dika kebingungan


"Munafik lo! lihat saja! wanita itu saja tidak menggunakan pakaiannya dan lantas kau?" melihat yang menempel ditubuhnya Dika


"Gak yakin gue lu nggak ngapa-ngapain sama cewek itu! kalau nggak ngapa-ngapain juga ngapain tuh baju Lo dan cewek itu berserak kemana-mana" timpal Bela teman Chintya


"Tapi benaran sumpah, gue gak kenal sekali sama dia dan gue nggak ada berbuat apapun sama dia" suara Dika mulai meninggi


"Alah, hari gini mana ada maling yang mau ngaku! udahlah ayo kita pergi! tinggalkan saja Dika itu, tidak pantas bersanding sama Lo Chintya" ucap Dirga seraya membanting pintu


Dika hanya terdiam dan tidak tahu harus bagaimana lagi berkata dengan sejujurnya. Dika memandang wanita itu yang masih saja menunduk ketakutan, sontak saja ia menghampiri wanita itu dengan perasaan kesal dan amarah yang memuncak


"Kau tunggu disitu, dan pakai pakaian mu" Dika berkata seraya mengambil baju dan masuk ke dalam kamar mandi lagi untuk memakai baju. setelahnya keluar lagi dan langsung menghampiri wanita itu, Dika duduk diatas kursi dekat dengan kasur dimana wanita itu duduk dan sudah menggunakan pakaiannya.


"Kau! siapa kau sebenarnya! berani sekali kau bermain dengan ku!" Dika sudah bercampur emosi


Wanita itu hanya diam saja dan tak menjawab


Wanita itu tak menjawab lagi dan membuat Dika tersulut emosi


"Hah, kau tidak mau menjawab juga? atau kau akan aku penjarakan!"


Wanita itu menoleh dengan pandangan iba dan terdapat air bening di pelupuk matanya


"Kau tidak mau juga berbicara? atau gini aja, kau aku masukkan ke dalam penjara dan menyuruh mereka menghabisi nyawa kau bukan kah itu setimpal?" ucap Dika sinis


Wanita itu menangis


"Heh, kenapa kau menangis! kau hanya perlu jujur padaku. siapa kau dan apa motif mu melakukan ini semua?"


"Maafkan saya Tuan, maafkan saya" ucap wanita itu seraya terisak-isak

__ADS_1


"Aku tidak butuh tangisan mu, yang aku butuhkan kejujuranmu saja!"


"Apa setelah saya mengatakan sejujurnya, Tuan akan membebaskan saya dari penjara?" ucap wanita itu lagi


"Kalau kau mengatakan yang sejujurnya, aku akan kasih keringanan"


"Saya mohon Tuan, jangan penjarakan saya. saya melakukan ini demi uang untuk pengobatan ibu saya Tuan" ucap wanita itu menangis


Dika mulai iba dan tak tega memperlakukannya kasar


"Sudah, sekarang kau jawab jujur saja siapa kau, siapa yang menyuruhmu dan apa motifnya"


"Baik, Baik Tuan saya akan berkata jujur" ucapnya seraya menyeka air mata "Saya disuruh anak buah Nona Chintya untuk menjebak Tuan" ucap wanita itu


Dika tak percaya dengan ucapan wanita itu


"Apa disuruh Chintya? tidak mungkin, tidak mungkin!" ucap Dika meninggi


"Sumpah Tuan, saya berkata jujur. sebelum kejadian ini saya sudah bertemu sekali dengan Nona Chintya, saya ambil resiko besar ini karena saya butuh uang untuk pengobatan ibu saya Tuan" ucap wanita itu menunduk


"Itu tidak mungkin, kau berbohong kan?!" Dika menggeleng kan kepala meminta kalau itu semua hanya bohong


"Tidak Tuan, saya berbicara jujur, Dan saat saya bertemu Nona Chintya, ia membawa seorang lelaki dan Nona Chintya menggenggam erat tangan lelaki itu Tuan"


"Tidak!" Dika membanting vas bunga dan tak mempercayai semuanya "Siapa lelaki itu, apa kau tahu siapa namanya?" tanya Dika membelakangi wanita itu


"Namanya kalau tidak salah Tuan Wira, Tuan"


"Apa? lelaki ****** itu!" Dika kecewa dan sekaligus marah


Tidak aku sangka, wanita yang aku sayangi dan teman terbaikku justru adalah musuh terbesar ku. dan berselingkuh dibelakangku. berani sekali kalian bermain-main denganku!


"Kau pergilah dari sini, jangan pernah aku melihat wajahmu lagi" ucap Dika membalikkan badan


"Baik, Baik Tuan"

__ADS_1


Wanita itu beringsut dan berjalan keluar pintu dan menutupnya dengan menunduk dan ketakutan. Dika sudah kecewa berat dengan semua kenyataan yang ia tahu sekarang


Aaaaaaaaaa. lihat saja Chintya, aku akan membalas semua kejahatan mu dan kau Wira, akan dapat balasan yang setimpal


__ADS_2