Ketika Hati Bicara

Ketika Hati Bicara
bab 23 kabar mengejut kan


__ADS_3

Sementara menunggu Abang penjual sate sedang membakar kan sate pesanan ku,aku memilih duduk di kursi paling pojok,sambil menikmati lantunan lagu yang sedang nyanyikan oleh pengamen jalanan.


bayangan senyum kedua orang tua ku, membuat ku tak sabar sampai ke rumah.


Hampir lima belas menit aku menunggu,akhir nya pesanan ku selesai.


keadaan sekitar ku masih ramai orang- orang berlalu lalang.


Aku memperhatikan di seberang jalan,Angkot yang biasa ngetem sudah tidak ada lagi,itu artinya,malam ini aku harus pulang naik Bis.


Beruntung Bis yang aku maksud,melintas tak berapa lama dari aku menunggu.


Aku mulai terbiasa pulang malam,tak seperti waktu awal- awal pulang malam yang sempat deg- deg an,sekarang jauh lebih santai.


Aku duduk bersandar,dengan mata menatap ke luar jendela bis,menikmati lampu temaram di kota ku tercinta.


Aku melangkah pelan memasuki pekarangan rumah ku,ketika ku lihat Papa tengah menghisap rokok nya di teras rumah ku.


Dari yang kulihat,sepertinya tengah ada yang di fikirkan papa malam ini.


"Pa..."


Aku menyapa papa,sambil mencium punggung tangan nya.


"Kenapa masih diluar pa,ini sudah malam loch.."


sambung ku.


"Ehm...iya Din,ngademin hati"


Jawaban papa membuat ku sedikit kaget..namun aku melanjut kan untuk masuk ke dalam rumah,ketika hendak menuju kamar ku,Aku melihat pintu kamar mama terbuka,,hal yang jarang sekali terjadi.


Hati ku mulai bertanya- tanya..hal apa yang sebenar nya terjadi.


Aku tak mau berfikir macam- macam.


Aku segera mengganti seragam ku,masih dengan riasan muka tebal,aku mencoba mencari tahu apa yang sebenar nya tengah terjadi.


Tok..tok....


Aku mengetuk pintu kamar mama dua kali dengan sangat pelan,


berharap tak membangun kan mama jika memang mama telah tertidur.


"Iya..."


mama menjawab,lalu beranjak dari tempat tidur nya.


"Ehmm...masuk nak,,baru pulang ya??"


Mama berusaha tersenyum,meski jelas terlihat mata yang sembab dan basah.


Aku duduk di sisi mama,masih di atas tempat tidur.


"Mama kenapa??,abis nangis ya?"

__ADS_1


Mama hanya tersenyum getir,lalu menunduk kan kepala nya mencoba menyembunyikan raut sedih nya.


"Ma...cerita donk"


Aku terus mendesak agar mama menceritakan kesedihan nya.


Mama mengangkat kepalanya,menatap ku,,Air matanya jatuh.


"Papa di PHK Din..tanpa pesangon..hikz..hikz.."


mama kembali terisak di hadapan ku.


Deg...!!


Jantung ku berdegup,,namun aku berusaha tetap tenang di hadapan mama.


"Kok bisa ma?...kenapa?"


"Perusahaan gulung tikar,,semua buruh di berhentikan ter tanggal hari ini,mereka tak sanggup membayar gaji..apa lagi pesangon.huu..huuu.."


Mama menjelaskan sambil menangis,,"


Entah lah,aku tak tau mesti berbuat apa,,kebahagian yang baru saja aku rasakan hari ini tiba- tiba berganti dengan kegalauan lagi.


"Jadi...ma,gaji papa belum dibayar??"


Tanyaku memperjelas.


mama mengangguk sambil terisak.


"Udah ya ma....jangan nangis lagi,jangan sedih..kan Dina sekarang udah kerja..siapa tau,,rezeki kita bukan di tempat itu,,semoga ada jalan untuk rezeki lain menghampiri kita."


Aku mencoba menghibur mama,walau aku sendiri tengah bingung,apa yang bakal terjadi nanti,,yang pastinya mama tenang dulu.


"Oh ya ma,,Dina beli sate ayam,,kita makan yuk,"


Aku menarik tangan mama berdiri lalu memapah nya keluar,menuju meja makan.


Lalu aku berjalan keluar menemui papa,


nampak papa sedang ingin menyalakan kembali rokok nya,kulihat di asbak rokok telah ada beberapa puntung rokok,,itu artinya dari tadi papa terus- terusan menghisap rokok.


Dengan cepat aku merebut rokok yang hampir saja terbakar korek yang telah di nyalakan ke arah nya.


"Udah pa...udah cukup ya...udah berapa banyak batang rokok yang papa hisap.."


Papa menatap ku,,ada sendu di tatapan itu,,terlihat sekali papa menahan sedih nya.


"Pa,kita makan yuk,,itu dina beliin papa sate...papa suka kan?"


Bujuk ku pada papa,yang kemudian berdiri,lalu ku gandeng tangan kekar nya masuk dan duduk bersebrangan dengan mama yang terdiam lesu.


"Udah dong sedih nya,,yuk makan..hehehhe"


Sebisa mungkin aku menampakkan muka ceria di depan kedua orang tua ku,

__ADS_1


Setelah makan sate selesai..aku beranjak dari tempat duduk,,lalu berlari masuk kamar,


kuraih amplop coklat yang tadinya kusimpan dibawah bantal.


segera aku keluar menemui kedua orang tua ku.


"Ma....Pa...,hari ini Dina gajian...Nich..semuanya buat Mama.."


Aku menyerah kan amplop gaji ku pada mama,terlihat mama dan papa kaget.


"Jangan Din,,ini uang kamu...kamu kerja capek..kamu berhak menikmati hasil jerih payah mu,"


Mama menyodorkan kembali kepadaku.


"Gak pa- pa ma...pegang mama aja"


"Din,,kamu juga butuh uang itu...kamu perlu beli perlengkapan bedak dan lain- lain"


Ujar mama yang akhir nya membuat ku membuka amplop coklat itu,dan membagi dua uang di dalam nya.


"Nich..."


Aku menyodorkan lagi pada mama,kali ini disambut mama dengan mata yang masih basah.


"Ya udah ma..pa..Dina mau istirahat,,besok masuk pagi,pamit ku lalu berjalan masuk ke kamar.


Malam ini,,mataku sulit sekali terpejam..otak ku terus memutar semua yang ada di fikiran ku.


Tak terasa,bulir bening itu merayap pelan dari sudut kelopak mata turun perlahan di pipi,aku mengusap nya.


Sepertinya impian ku untuk bisa melanjut kan pendidikan akan tertunda lagi,,entah lah..apakah dapat lanjut,atau malah..ya sudah lah..mau bagai mana lagi.


Papa di PHK,itu artinya papa tidak kerja lagi,,dan aku akan menjadi tulang punggung keluarga ku.


Lagian papa sudah tua,tak mungkin ada perusahaan yang mau menerima jika papa mencari dan melamar pekerjaan baru.


Aku tidak boleh egois..,aku harus berlapang dada menyimpan dulu cita- cita ku menjadi mahasiswi..


Semoga kelak,,ada jalan nya.


Aku menghapus air mata yang mengalir di pipi.


Aku meraih ponsel ku,,memeriksa nya,


zonk...tak terdapat satu pesan pun disana.


"Ehm...Ari benar- benar sibuk mungkin,sampai - sampai tak menghubungi ku.


Ingin sekali rasanya bercerita tentang hari ini,,kepadanya.


Diam- diam ada rindu yang begitu sesak maksa masuk di hati ku..


Ya..aku rindu masa- masa dimana Ari bagaikan malaikat pelindung ku,Yang selalu siap kapan pun dan dimana pun,Ari yang selalu ada,,Ari yang selalu memperlakukan ku dengan manis,


namun sekarang...Dunia nya,seolah merampas Ari dari hidup ku.

__ADS_1


Bersambung**


__ADS_2