
Mata ku sudah terbuka sejak satu jam yang lalu,namun rasa malas sedang menjebak ku untuk terus bertahan di tempat tidur bersembunyi di balik selimut hangat,dan meringkuk sembari memeluk erat bantal guling.
Hari libur yang selalu ku tunggu,hanya untuk satu hal,apa lagi kalo bukan ber leyah- leyeh di tempat tidur.
Tapi tunggu dulu,,seperti ada yang terlupa hari ini.
"Astaga....Disnaker... !!"
Teriak ku,lalu beranjak dan segera melompat dari tempat tidur,berlari ke kamar mandi.
Sempat terlihat wajah bingung mama,ketika aku melintas di ruang tengah,namun aku tak menggubris nya,,
Lima belas menit berada di kamar mandi,saat keluar,mama menantikan ku di meja makan.
"Kamu kenapa?,mau kemana??''
Pertanyaan mama memaksaku berhenti melangkah,
mungkin seingat mama,aku selalu mandi siang hari saat libur kerja,
"Mau ke Disnaker Ma,liat lowongan kerja,"
Aku melanjutkan langkah ku ke kamar.
Setengah jam,aku keluar dengan menyandang ransel dan sepatu kets andalan ku.
"Emang nya kamu mau berhenti kerja ditempat sekarang Din?"
Mama melanjutkan pertanyaan nya yang tadi belum terselesaikan.
"Enggak Ma,,cuma cari-cari yang lebih baik,kalau ada ya apa salah nya"
Jawab ku sembari mengikat tali sepatu.
"Kamu gak sarapan dulu?"
"Ntar aja ma,gampang..udah kesiangan soal nya"
Jawab ku sambil melirik jam tangan yang menunjukkan setengah sembilan pagi.
"Kamu pergi sendiri Din??"
''Iya ma,,ya udah..Dina pergi dulu ya"
Ujar ku,yang takut mama memanjangkan lagi pertanyaan nya tentang hubungan ku sama Ari.
Aku berjalan kaki menyusuri jalan rumah ku untuk sampai di jalan raya.
Tak sampai 10 menit berjalan,aku tiba di tepi jalan,menunggu Bus yang akan aku tumpangi untuk sampai di Disnaker.
Aku beruntung tak terlalu lama menunggu,sebuah Bus yang ku tunggu berhenti dan aku segera naik.
Tiba di depan sebuah kantor yang terlihat sangat ramai sekali orang berlalu lalang.
Sempat berfikir,mungkinkah mereka semua adalah pengangguran.
Aku melangkah pelan,ada ragu yang terselip diantara ribuan keberanian pagi ini,namun keyakinan tetap lebih besar dari hal apa pun.
Aku berjalan mendekati Seorang Bapak muda yang terlihat sedang membagikan selebaran.
"Mau ikut Tes??"
Tanya sang Bapak penuh percaya diri.
Aku tak menjawab,hanya menerima selebaran yang dia sodorkan kepadaku.
Setelah kuterima,baru aku tau ternyata itu sebuah form data diri.
Lama aku memandang kertas itu,setelah sekian menit,dengan mengucap bismillah,akhir nya aku mengisi nya.
__ADS_1
Setelah selesai Aku menyerahkan kembali kepada Bapak tersebut,yang belakangan aku tau ternyata panitia seleksi.
Atas arahan nya,aku diminta masuk kesebuah ruangan untuk tes tertulis,dan beberapa rangkaian tes selanjut nya.
Setelah semua selesai,dan aku dinyatakan lolos untuk tes selanjut nya pada keesokan harinya.
Menjelang sore,aku akhirnya pulang..
Sepanjang perjalanan pulang,ada kebimbangan yang cukup besar di hati,bukan saja tentang keputusan ku untuk ikut seleksi kerja diluar kota,tapi juga tentang nasib kelanjutan hubungan ku dengan Ari,yang baru saja membaik.
Mungkinkah dia bisa terima keputusan yang ku ambil,belum lagi besok harus Tes kesehatan itu artinya aku besok harus bolos kerja.
Aku menarik nafas panjang,berusaha tetap tenang.
Setiba dirumah,aku tak menceritakan apa-apa pada orang tua ku tentang langkah yang aku ambil,,lagian ini juga belum tentu aku lulus,fikir ku.
"Gimana Din,ada kerjaan yang kamu inginkan??"
Tanya Mama ketika menemaniku saat makan.
"Ehm...Ada Ma,,tapi gak tau deh diterima atau enggak"
"Berdoa aja Din,kalo rejeki gak akan kemana"
"he ehm.."
Angguk ku.
Selepas magrib,aku segera menuju kamar,meraih ponsel ku dan membuka nya,
satu pesan,
Dina,besok masuk apa sayang,,aku jemput
Aku mengetik cepat untuk membalas.
Tak ada balasan kelanjutan yang ku terima,aku merebahkan diri di tempat tidur,dengan mata menembus langit-langit kamar.
Hatiku terus bertanya,apakah ini keputusan yang tepat,ada banyak sekali keraguan menghantui otak ku.
Salah satunya,Orang tua.
Aku seperti tak yakin dengan pilihan ku,namun aku berusaha meyakin kan.
ku buang semua fikiran ku,ku lapang kan hati ku,menutup mata dan berusaha terlelap dengan damai.
Pagi-pagi sekali dengan mata masih terasa sepat,aku duduk dan kembali menimbang-nimbang keputusan.
"Huuhh...."
Aku bangkit dan menyemangati diriku sendiri.
Bergegas mandi dan bersiap,
"Loh Din,kamu gak kerja?"
Mama heran melihat ku,yang keluar kamar tanpa mengenakan pakaian kerja.
"Ehm...iya Ma..Dina izin gak masuk kerja,Dina mau ke Disnaker lagi"
Masih dengan wajah yang penuh tanya,mama hanya mengangguk.
"Papa mana Ma?"
Tanya ku yang dari kemarin jarang melihat papa.
"Papa lagi ngurusin ikan-ikan nya di belakang rumah"
"Ikan??ikan apa Ma?"
__ADS_1
aku menghentikan suapan ku.
"Iya,dah dua hari ini,Papa mencoba usaha tambak ikan"
Mama menjelaskan.
Aku yang dilanda penasaran memilih untuk melihat sendiri,
"Pa..."
Sapa ku pada papa yang tengah membelakangi ku,memberi makan ikan nya.
Papa menoleh,lalu tersenyum.
Alhamdulillah,,akhirnya senyum itu dapat ku lihat lagi,sejak di phk nya papa,tak pernah lagi ku lihat raut muka seceria pagi ini.
"Mau pergi Din?"
Tanya papa seraya mencuci tangan.
"Iya,,Dina senang lihat papa senyum lagi,,semangat terus ya pa"
Aku memeluk papa dari belakang,tak terasa ada yang mengalir dari sudut mata ku,,haru itu muncul tiba-tiba.
Papa mengusap tangan ku,,
"Iya,papa harus bangkit nak,,tak boleh putus asa"
Aku melepas pelukan ku,lalu mencium punggung tangan papa,
"Papa hebat"
Puji ku.
Papa tersenyum lebar,kami berdua saling merangkul,lalu masuk untuk sarapan bersama sebelum aku pergi.
**
Setelah sampai di Disnaker,satu- persatu dari kami menjalani prosedur tes kesehatan,tes mata dan beberapa rangkaian tes untuk melengkapi berkas.
3 jam menunggu,hasil diumumkan,Kami semua dinyatakan lulus,
semua bersorak gembira,kecuali aku.
Aku terdiam,kegelisahan seketika hadir,,ketakutan muncul disertai keraguan dan bingung bersatu padu,Aku berjalan menjauhi kerumunan,terduduk lemas di pinggir pagar,bersandar dan menghela nafas panjang .
"Kenapa ada perasaan seperti ini Tuhan?"
Gumam ku lirih.
memejamkan mata sesaat kemudian meremas sendiri rambut ku.
Ada rasa ingin kubatalkan saja,namun disisi lain,,aku ingin pekerjaan lebih baik,,
Sebuah perasaan yang tak dapat aku definisikan,,perang bathin yang sedang menghakimi ku,membuat aku menunduk ingin menyerah.
Antara ingin dan tak ingin,Terlebih saat panitia mengumumkan,keberangkatan akan di lakukan besok pagi,dan membagikan tiket keberangkatan kepada kami semua.
Ingin rasanya ku robek tiket kapal laut yang berada di tangan ku saat ini,lalu lari pulang.
Namun,semua niat ku urungkan.
Aku kembali mendekat,dan menandatangani semua kontrak.
Setelah sebuah goresan tercoret di lembaran- lembaran kertas tersebut,itu tandanya selangkah pun aku tak bisa mundur,,jika itu terjadi,,maka sanksi yang akan aku dapati.
Setelah semua selesai,kami semua di pulangkan agar mempersiapkan diri untuk keberangkatan besok pagi.
Bersambung**
__ADS_1