
Awal tahun lagi...
itu berarti,,2 kali malam pergantian tahun kulalui di kota industri yang super sibuk ini..Sama sekali tak ada yang spesial..tak ada cinta..tak ada kehangatan seperti dulu,,hanya hati yang lembab,,dingin dan hampir membeku,mencoba bertahan dengan menguatkan rasa yang tertinggal.
Memunguti serpihan hati yang terlanjur porak poranda karena dusta.
Aku membuka kelopak mata ku dengan malas,ingin rasanya terpejam lebih lama lagi,namun suara berisik seisi kamar membuatku mau tak mau bangkit dan duduk mematung memandang seisi kamar yang sudah hampir mirip kapal pecah.
Semalam,semua tema-teman merayakan malam pergantian tahun dengan pacarnya masing- masing..dan sepertinya mereka baru saja pulang dan belum sempat membereskan tempat tidur masing- masing.
"Eh..Dina...udah bangun...berisik ya??"
Salah satu teman sekamar ku Indah,menyapa ketika melintas di lorong sekat tempat tidur.
"Ehm...gak kok Ndah,,biasa aja,"
"Semalam,tahun baruan kemana Din??,,sama abang nya ya...??"
"Ah..Indah,,bisa aja,,Abang yang mana??"
"Wkwkwk,,yaaaa kali aja...udah move on dari si ITU..hehehe"
"Hahaha,,"
Aku hanya menanggapi nya dengan tertawa,sesaat setelah kuterima sebuah pesan dari ponselku.
Kuraih dan ku buka.
"Selamat pagi Dek..,udah bangun??libur ya??"
Dion mengirimkan pesan manis,,seperti biasa,,namun kali ini ada yang berbeda,,ia tak menyebut namaku,melainkan mengganti dengan panggilan Dek.
Hal yang cukup membuat ku bingung.
Segera ku ketik balasan.
"Pagi juga,,
Dek???sejak kapan??"
Sebuah panggilan masuk..
"Halo.."
"Iya,halo...sorry....sorry...lancang ya..kalo gak suka bilang ya.."
"Ehmm...gak papa sich,,cuma aneh aja.''
"Ehm..gitu ya..."
Terdiam beberapa saat.
"Halo...Dion...kok diem??"
"Eh...iya...iya..maaf,,aku sebener nya mau bilang sesuatu,,"
"Apa??"
"Dek...Aku tu sebener nya,,suka sama kamu!"
"Hahhhhh???,,kok bisa??,sejak kapan??"
__ADS_1
"Sejak pertama kita ketemu di club"
"Masak sih...bukan nya saat itu kamu sombong banget ya..?"
"Gak...gak gitu,,aku itu sebenernya malu,,malu banget malah ketemu kamu"
"Lalu??"
"Iya,,apalagi ada yang bilang kamu punya pacar.."
"Terus??"
"Tapi sejak kamu pinjem jaket itu,,aku jadi malah kepikiran kamu terus,,tapi setiap kali ketemu dijalan,,kamu selalu dianter jemput sama pacar kamu"
Pikiranku membawa aku kekenangan saat SMA dulu,dimana setiap hari pulang pergi sekolah Ari selalu standby menjadi penjaga ku.
"Ehm..terus..terus??"
Sambungku ingin mendengarkan kelanjutan cerita Dion.
"Terus...terus...nabrak donk..hehehe"
Ledek nya.
"Aku serius!"
"Waduhhh,,penasaran ya Non??,sorry...becanda,,oke lanjut ya...
jadi,,ya udah aku pasrah aja padahal dalam hati aku cemburu..hehehe"
"Masak sih??hehehe"
Jujur,,dalam hatiku benar-benar ge-er,sekuat hati aku menahan diri agar Dion tak mengetahui nya.
Tanya nya.
"Ehm...iya inget,,emang kenapa??"
"Nah,,itu...Aku senang bukan main,,pengen nyapa sih tapi gak bisa..terus pas aku kesana lagi,,kamu nya gak ada,,aku sempat keliling loh,,nyariin kamu,,trus tanya-tanya tentang kamu,tapi kata mereka kamu udah resign"
Lagi-lagi aku terperangah mendengar penuturan nya,,benarkah yang ia ceritakan??,atau ia hanya mengarang bebas untuk menarik simpatiku,,entahlah,,tapi dari nada bicaranya sepertinya Dion tidak sedang berbohong,,bahkan dia masih mengingat semuanya.
"Halo...Dek...kok diem?"
"Iya halo,,aku lagi dengerin kamu cerita,,lanjut''
"Aku terus mencari info tentang kamu,,tapi nihil,,kamu seperti ditelan bumi!!
Namun kini Takdir kembali menemukan kita dengan cara nya,,cara yang tak pernah kita duga,,skenario yang indah,,dan aku bersyukur bisa kembali menemukan mu meski hanya lewat suara"
Aku benar- benar tak tau harus berbicara apa,,kata-kata Dion benar- benar seperti jawaban dari harapan ku pada bintang jatuh hari itu.
"Dion...."
"Ya.."
"Kamu sedang tidak membual kan??"
"Dek,,untuk apa aku membual??,,aku bercerita yang sebenar nya terjadi...Aku jatuh cinta,,dulu...saat ini dan nanti..
kamu mau jadi perempuan ku??"
__ADS_1
Aku menghela nafas,dan memejamkan mata beberapa detik,,
"Dion..kita jauh.."
"Lalu...apa hubungan nya jauh dengan mencintai?,,aku yakin kamu kembali..dan aku akan tunggu hari itu."
"Dion,kita jauh..dan aku tak bisa menjanjikan hari itu,,bahkan sampai batas waktu nya aku kembali pun aku tak pernah tau kapan,,entah setahun,,2 tahun atau lebih"
"Lalu??,apa masalah nya??"
"Aku tak yakin kamu bisa menunggu,,bahkan yang benar-benar menjalin saja gak kuat dan melepaskan,,apalagi yang baru mulai mencoba"
"Mungkin itu DIA,tapi bukan Aku.."
Glek!!
Aku menelan ludah mendengar ucapan nya barusan.
"Dek,,entah kenapa Aku yakin kita akan kembali dipertemukan takdir,,bukan cuma lewat suara tapi tatap mata dan itu akan segera"
"Terserah kamu saja!"
"Jadi...kamu mau??"
"Entahlah..."
"Ya udah,,tak perlu jawab sekarang,,aku faham keraguan mu"
"Oke,,makasih pengertiannya..,,aku mau mandi dulu ya..nanti kita sambung lagi"
"Oke..bye.."
Panggilan ku matikan,
Aku kembali merebahkan diri diatas tempat tidur.
Kali ini otak ku benar-benar berfokus pada kata demi kata yang di ucap Dion,ketika menelpon tadi.
"Apa benar Dion sebegitu cinta nya hingga rela menghabiskan waktunya hanya untuk menungguku,??atau jangan-jangan disana dia juga punya pacar,,
batinku terus bertanya.
Aku mengusap kasar wajahku,bayangan demi bayangan segala kenangan tentang Dion satu persatu kembali memutar di kepala ku.
"Apakah aku mencintainya??Apakah ia adalah takdir ku??"
Entahlah,,aku terus berujar dalam hati.
Aku beranjak,,lalu bergegas mandi.
Sejak hari itu,Dion kerap menelpon ku bahkan seperti minum obat,yang terjadwal pagi,siang malam ia selalu menelpon,mengirimi ku puluhan pesan setiap hari.
Menanyakan kabar ku,membangukanku tidur pengganti alarm,mengingatkanku dalam segala hal,hingga hal-hal kecil yang tak kuanggap penting pun Dion lakukan.
Jujur,ada rasa senang,bangga dan bahagia atas perhatian nya,namun adakalanya ketika diri ini tengah lelah,penat dan butuh sendiri,telpon dan pesan dari Dion kuanggap sebagai pengganggu.
Namun,Dion tetaplah Dion,ia selalu saja sabar menunggu ku,,tak pernah bosan mengirim pesan meski tak ada satupun yang ku balas,tak henti menelpon sampai aku mengangkat telpon dan meminta nya untuk tidak dulu menelpon ku.
Dion tak pernah Marah,Dion tak pernah berkecil hati ketika aku tak memperdulikan nya saat aku lelah,Dion selalu mensuportku,Dion bahkan selalu ada meski raga nya tak disampingku.
Hal itu membuatku luluh,dan menjawab permintaan nya,meski didalam hati ini belum ada keyakinan,,apakah aku mencintainya.
__ADS_1
Bersambung**