
Aku melangkah gontai,dan memilih masuk ke kamar, niatku untuk membantu Papa mengurus undangan kuurungkan.
Aku duduk bersandar pada tempat tidur, sungguh Aku tak pernah menyangka semua ini terjadi.
Ari yang sudah hampir kulupakan dalam hidupku, yang tak pernah lagi kukenang dalam hariku, malam ini..Ari datang melamarku ketika selangkah lagi Aku akan menjadi Istri Dion.
Kenapa Ari justru datang disaat Aku belajar berdamai dengan hati dan keadaan.
"Tuhan...kuatkan Aku, mantapkan hatiku..jangan bimbangkan lagi pilihanku..."
Aku mengusap mukaku perlahan.
****
2 minggu selepas Ari datang kerumahku,
"Dek... Hari ini Aku gak bisa jemput ya...."
Pesan Dion begitu Aku baru saja membuka Mata.
"Iya..gak Apa, Aku naik Bus"
Balasku cepat.
Aku bergegas bersiap untuk berangkat kerja, karena Dion tak bisa mengantarku pergi kerja, itu artinya aku harus berangkat setengah jam lebih cepat.
Selepas sarapan,
"Dina berangkat ya Ma..."
"Loh..Dion aja belum datang Din,"
Ujar Mama heran.
"Naik Bus Ma, Dion gak bisa jemput,,"
"Oh...ya udah, kamu hati-hati..Oh ya jangan lupa pengajuan cuti kamu, dan satu lagi...Undangan jangan lupa ! "
Sambung mama mengingatkanku.
Aku menoleh sekilas dan mengangguk.
10 menit menunggu, Akhirnya Bus jurusan ketempatku bekerja melintas,
Aku segera naik, dan pada saat memilih tempat duduk, seseorang yang wajahnya familiar melambaikan tangan dan menyuruhku duduk di sebelahnya, dengan sedikit bingung Aku mendekatinya.
Kutajamkan ingatanku, dan senyumku terkembang ketika Aku tau ia adalah Linda, teman latihan paskibra waktu SMA dulu, dan dia juga merupakan teman sekaligus terangga dari Ari.
"Hay... Linda kan??"
Aku menunjuknya dengan mengulas senyum.
Ia mengangguk,
"Dina Apakabar??"
__ADS_1
Tanyanya,
"Baik...baik Lin, kamu sendiri gimana?? kemana aja selama ini?"
"Aku kerja di luar Kota Din, baru sebulan ini Aku dan keluarga kembali kesini"
"Oh...gimana kabar Bambang dan wisnu?"
Tanyaku menanyakan sahabat kami yang rumahnya dekat dengan Linda karena mereka tetanggaan.
"Ohh,,kalau Bambang Dia sekarang di Taiwan jadi TKI, kalau Wisnu Dia sekarang di Bogor udah menikah Anaknya 1"
Jelas Linda.
"Kamu sendiri sudah menikah ya Lin??"
Aku alhamdulillah Udah nikah,, Anak ku 2 Din. Oh ya...Aku gak nyangka Kamu sama Ari putus,, Aku sempat berpikir, kalian akan berjodoh.
Linda menatapku lekat.
Aku tersenyum
"Namanya belum jodoh Lin...Mau diapakan lagi,, Sekuat apapun kita menggenggam jika Tuhan mengatakan bukan jodoh, maka pasti akan terlepas juga,iyakan? oh iya...Ini ada undangan buat Kamu dan Suami,, datang ya.. Pertengahan bulan depan Aku akan menikah, Maaf ya... Belum ditulis namanya...gak nyangka soalnya ketemu disini,, diterima ya"
Aku mengeluarkan undangan kosong dari dalam tasku, sengaja Aku membawa lebih, takutnya Ada yang belum kumasukkan nama-nama teman di tempat kerjaku, kebetulan hari ini Aku akan menyebar undangan ditempat kerja.
"Alhamdulillah...selamat ya Din....Aku pasti datang..."
"Oh iya Din.. Aku masih gak nyangka loh dengan kejadian yang menimpa Ari,, sungguh tragis ya...kasian masih muda!"
"Kejadian?? Kejadian Apa Lin?? Kalau masalah Antara kami berdua.. itu semua memang sudah takdirnya"
Jawabku mencoba menebak.
"Bukan...."
"Bukan?? lantas kejadian apa?
Desak ku, seketika perasaanku jadi tidak enak.
"Loh, emang kamu gak tau ya Din tentang kecelakaan Ari 2 minggu yang lalu?"
Linda menatapku serius.
"Hah?? kecelakaan...Kamu serius Lin?!"
Tanyaku tak percaya.
Linda mengangguk.
"Terus..gimana kabarnya sekarang Lin??"
Aku memegang tangan Linda dan menggoyang-goyangkannya, berharap aku mendapat kabar baik.
"Ari meninggal Din..."
__ADS_1
Ujarnya pelan.
"Meninggal??"
Seketika Tubuhku terasa lemas, keringat tiba-tiba mengucur, mataku terbelalak lebar, telapak tanganku membekap mulutku yang hampir berteriak tak percaya.
Mataku memanas dan dalam hitungan detik bulir bening itu meluncur bebas, bersama rasa nyeri yang tiba-tiba terasa berdenyut-denyut dihatiku.
"Kamu serius kan Lin??"
Ulangku lagi untuk meyakinkan ucapan Linda barusan.
Linda mengangguk.
"Kapan kejadiannya Lin....Dimana??! dan bagaimana itu bisa terjadi?
Dengan berurai Air mata Aku sedikit membalik tubuhku menghadap lurus ke arah Linda.
Dan Lindapun mulai bercerita.
"Waktu itu beberapa hari sebelum kejadian, Kami sempat mengobrol... Waktu itu, Dia menayakan beberapa model cincin kepadaku,"
Deg...!!!!
Jantungku berdetak mendengar kalimat awal dari Linda,
"Mungkinkah cincin itu yang dimaksud Linda?"
Batinku mengingat malam dimana Ari datang melamarku dengan sebuah cincin di dalam kotak merah berbentuk love.
"Saat Aku bertanya cincin itu untuk siapa,Dia hanya tersenyum dan bilang doakan saja agar Dia diterima. Setelah hari itu, Aku tak pernah ngobrol lagi dengannya, hingga kejadian malam itu, selepas magrib, ketika Aku dan suami mau keluar ngajak Anak-anak, kami berjumpa dengannnya di di depan rumah, Dia terlihat rapi, wangi dan semangat sekali, saat kami tanya..Dia jawab Dia ingin mengakhiri petualangan, sambil tersenyum Dia pamit. Tak lama Dia pergi kami pun pergi, dan Aku tak menyangka, ternyata Dia benar-benar mangakhiri petualangan hidupnya, dan pamit selamanya, sekitar Jam 9 malam ketika kami pulang, rumahnya ramai sekali orang, dengan penasaran kami datang dan ternyata Ari sudah terbujur kaku dengan luka dibagian kepala..Hiks...hiks..."
Linda tak kuasa menahan tangisnya, mengingat malam itu.
Sementara Aku sendiri sudah lebih dulu berurai air mata, dadaku sesak tenggorokanku seolah tercekik,
Aku tak dapat berkata apa-apa lagi, bayangan demi bayangan kejadian malam itu berputar- putar di kepalaku,, benarkah Ari kecelakaan setelah pulang dari rumahku,dan Dia juga pamit kepadaku..
Masih terekam jelas di otak ku betapa manis senyum terakhir yang ia berikan padaku ketika berpamitan, mata sendunya seolah mengisyaratkan bahwa esok tak kan bisa lagi kutatap, hangat jemarinya ketika menggenggam tanganku menjadi sentuhan terakhir, bahkan masih terngiang ditelingaku kata-kata terakhir yang ia ucapkan sebagai salam perpisahan untukku.
"Aku pamit ya....,mungkin tak hanya dari rumah kamu.. tapi pamit dari hati dan rindu.."
"Ya allah Ari.... Ternyata Kamu tak hanya pamit dari rumahku, dari hati dan rinduku, bahkan kamu pamit dari dunia ini untuk selamanya.."
Ujarku lirih, dengan Air mata yang mengucur semakin deras.
Aku dan Linda tergugu sembari berpegang tangan saling menguatkan.
Ingin sekali Aku bercerita tentang malam itu pada Linda, namun lidahku terasa berat, hingga aku memilih bungkam.. Biarkan ini hanya menjadi ceritaku dan Ari yang akan menjadi kenangan terakhirku dengannya.
Selamat jalan Ari...semoga kamu tenang dalam pangkuan ilahi..
Sebait Doaku untuk kamu yang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku, menjadi cinta pertama yang mungkin akan selalu ku ingat dan kukenang...
Bersambung***
__ADS_1