Ketika Hati Bicara

Ketika Hati Bicara
bab 28 Kesempatan ke 2


__ADS_3

Masih dalam hati yang remuk redam,aku memutuskan untuk beristirahat.


Ke esokan hari nya,aku mencoba melupakan masalah yang terjadi.


Berusaha tetap tenang dan ceria,sungguh aku tak ingin kedua orang tua ku mencemaskan ku.


Seperti biasa,bersiap berangkat kerja.


selesai sarapan,aku mendengar suara motor berhenti di depan rumah ku,sedikit melongok keluar,aku begitu mengenal tubuh jangkung itu,meski tengah membelakangi rumah ku.


Papa menghampirinya,terlihat kedua nya bercakap santai sesekali diselingi tawa dari kedua nya.


"Ma..Dina pamit"


Sambil mencium tangan,aku berpamitan.


"Nah..ini Dina sudah siap."


Aku mencium tangan papa,tak ingin papa tau bahwa aku dan Ari tengah dalam kondisi yang tidak baik,aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Kuraih helm yang tergantung dimotor,lalu duduk manis di belakang Ari,kemudian berlalu.


Setengah perjalanan,Ari menghentikan motor nya,


"Kenapa stop??,ayo jalan..aku bisa terlambat..!"


"Aku mau kamu maafin aku..."


"Tak ada waktu untuk drama pagi ini,aku harus sampai tepat waktu!"


"Aku tak akan jalan,sebelum kamu maafin aku!!"


Aku turun dari motor,lalu menyerahkan helm pada Ari,menatap tajam mata nya.


"Harus nya,kamu tak perlu jemput aku pagi ini !"


Aku berjalan cepat meninggal kan nya yang masih Diam di atas motor,


Berharap,masih ada bis yang kosong agar aku tidak terlambat.


"Dina.....Dina....!!"


Ari meneriaki ku..


Dengan rasa tak peduli aku malah mempercepat langkah ku.


"Ayo naik....!"


Ari mengejar ku.


"Ayolah..jangan keras kepala!"


Mendengar ucapan Ari barusan,membuat ku berhenti melangkah,lalu mendekat kan wajah ku pada nya.


"Aku??keras kepala??,kamu ingat...aku pernah menjadi lembut dan penurut,tapi ternyata aku dibohongi."


Sampai di jalan besar,sebuah Bis melintas,dengan cepat aku menyetop nya lalu naik.


Aku duduk bersandar,mengatur nafas yang masih tersengal,menata hati yang berubah kacau setelah bersusah payah aku menenangkan nya semalaman.


Semoga aku tidak terlambat,itulah harapan ku,aku malas harus berurusan dengan Mbak Novi,keamanan paling galak jika aku sampai telat.


kondisi penumpang yang tidak terlalu banyak,membuat bis yang ku tumpangi tak banyak berhenti,kemampuan menyetir tingkat dewa yang di miliki sang supir juga membuat aku lega,dengan begitu,aku bisa sampai tepat waktu.

__ADS_1


Turun dari bis,aku berlari..


Aku bernafas lega begitu sampai di depan mesin absen,


Tittt...


Aku berhasil absen di 2 menit menjelang jam masuk.


Setidak nya,aku lolos dari muka sangar mbak Novi,yang akan menghakimi jika ada karyawan yang terlambat.


Selama di wilayah kerja,aku berusaha profesional,tak membawa masalah pribadi ke dalam urusan kerja,ku lupakan sejenak semerawut nya hubungan ku dengan Ari.


Siang selepas break,segerombolan remaja di ujung toko tengah memilih koleksi kemeja yang tergantung rapi,mata ku tertuju kepada mereka,aku yakin aku mengenali mereka.


kutajamkan penglihatan ku,meyakinkan bahwa yang kulihat benar- benar teman-teman sma ku jarak yang cukup jauh membuat ku harus bersabar menunggu mereka sedikit mendekat,karena aku khawatir jika aku yang menemui mereka,aku akan ditegur sebab meninggalkan area kerja tanpa izin.


Beruntung,salah satu dari mereka melihat ku,dan melambaikan tangan.


Melihat ku,mereka semua akhir nya menghampiri ku.


"Hai Din...kerja disini ternyata,apa kabar??"


sapa Meli teman sma ku.


"Iya,aku kerja disini..kalian dari mana...seneng banget bisa ketemu disini"


"Iya,kita- kita tadi dari Disnaker,daftar kerja buat kerja di PT jepang"


"Wihh..hebat..buat penempatan di kota mana?"


"Di batam,alhamdulillah kita- kita diterima besok berangkat"


"Ehm...kalau kamu mau daftar,ada gelombang ke dua untuk bulan depan"


Sambung Meli.


"Kamu datang aja ke Disnaker,terus disana nanti tanya aja sama petugas nya,nanti di tunjukin."


"Oke,nanti aku coba...makasih ya info nya mel..kalian hati-hati berangkat nya."


"Iya,sama-sama...kami pulang ya,,mau siap- siap."


Setelah Meli dan teman-teman lain berlalu,aku melanjut kan kembali kerja ku hingga jam pulang.


Sesampai nya dibawah,ternyata Ari sudah menunggu di parkiran.


Aku memutar malas mata ku,lalu menarik nafas panjang.


Ada rasa ingin menyelinap meninggal kan Ari,berpura-pura tidak melihat.


Namun sayang nya Ari lebih dulu melihat ku.


Aku berjalan gontai..


"Din...Dina....!''


panggil nya,


Aku masih terus saja berjalan,sampai akhirnya motor nya menghadang langkah ku.


"Ayo naik...aku ingin bicara!!"


Aku menoleh kiri kanan memperhatikan sekelilingku yang ramai,semua mata menatap ke arah kami.

__ADS_1


Dengan terpaksa,aku menerima helm dari nya,lalu naik di belakang nya.


Motor melaju kencang,bahkan aku tak pernah merasakan Ari membonceng ku dengan kecepatan seperti saat sekarang.


Hampir separuh perjalanan,motor menepi tepat di pinggir taman arah ke rumah ku,


Aku masih membisu,ketika melihat nya turun dari motor dan berdiri di hadapan ku.


"Dina,please...aku mohon,buka hati mu,maaf kan aku.beri aku kesempatan"


Ujar nya sambil mengatupkan ke dua telapak tangan nya di depan muka nya,tanda meminta maaf.


"Ingat lagi janji kita,mimpi kita,cita-cita kita"


sambung nya,kali ini dengan menggenggam dua tangan ku.


"Aku ingat semua itu Ri,tentang janji..tentang mimpi..tentang cita- cita..,tapi aku tak pernah membayangkan akan ada Hany di antara kita!"


"Lupakan Hany,jangan sebut nama itu lagi,Dia hanya sebuah kekhilafan yang sesaat!"


"Mudah sekali kamu menyebut nya sebagai ke khilafan sesaat,semua karena aku lebih dulu mengetahuinya kan?"


"Din...aku...."


"Stop...aku belum selesai!"


Bentak ku,meminta nya diam untuk aku melanjut kan ocehan ku yang tajam.


"Andai sampai detik ini aku tak mengetahui tentang Hany,,mungkin kekhilafan mu masih berlangsung,,dan entah sampai kapan,iya kan???"


"Kamu salah Din...aku,,"


"Sssttttt.....,sudah lah,,aku tak butuh kata-kata lagi,mimpi kita sudah selesai..!"


"Tapi aku menyayangi kamu "


Kedua tangan Ari memegang pundak ku,dan shuuutt...tanpa bisa aku cegah,kedua tangan itu menarik pundak ku mendekat lalu memeluk erat.


"Ariiii...lepasssss!!!"


Aku mencoba berontak,dan mendorong tubuh nya menjauh,


"Kamu sudah gila!!"


Aku mencaci nya dengan telunjuk ku,


"Iya...aku memang sudah gila.!."


Ada air mata yang mengalir dari sudut matanya,yang buru-buru dihapus nya.


Aku yang menyaksikan mendadak tersentuh,,


"Dina...aku tak bisa jauh dari kamu,,aku mohon...beri aku kesempatan,,dan aku janji..ini yang terakhir."


Dengan muka penuh iba,Ari begitu memelas di depan ku.


Ada rasa luluh yang tiba-tiba hadir saat menatap mata nya yang berkaca- kaca.


Setelah menarik nafas panjang,dan berfikir agak lama,


"Oke,,aku maafin kamu..ini semua aku lakukan hanya karna aku merasa,,tak adil jika tak memberi kesempatan,kamu harus faham itu Ri!"


Tangan nya menyambar tangan ku,lalu menggenggam dan mengecup nya.

__ADS_1


"Aku janji...aku janji...aku janji.....sumpah demi apa aja,,aku bahagia....makasih Dina...makasih banyak sayang"


Bersambung**


__ADS_2