Ketika Hati Bicara

Ketika Hati Bicara
Bab 42 Menunggu kabar


__ADS_3

Malam yang sangat dingin,Diluar hujan sangat deras,sepertinya bulan ini memang musim penghujan telah tiba,hal yang paling ribet menurutku ketika musim penghujan telah datang,selain pakaian yang susah kering,aku juga jadi sulit untuk beraktivitas diluar,apalagi masa sekarang,masa dimana aku akan lebih banyak berkeliling diluar untuk melamar pekerjaan,kalu sudah seperti ini aku cuma berharap,hujannya datang hanya saat malam hari dan cerah ketika siang hari,dengan seperti itu,aku tetap bisa beraktivitas.


Aku menoleh Mama yang sedang bersamaku menonton tv,


"Ehmm....Mama kebiasaan"


Ujarku ketika melihat Mama terpejam.


Sekarang,Mama sering sekali ketiduran ketika sedang menonton,mungkin karena usia yang mulai menua membuat mama sekarang lebih sering mengantuk.


Jam dinding masih menunjuk di angka delapan,masih terlalu sore bagiku untuk tidur, Aku mendekati Mama,kusentuh pipi nya yang mulai keriput.


"Ma..."


Aku mengusap pelan wajah lelah itu.


Ada pilu yang tiba-tiba saja menusuk tajam di hatiku,ketakutan itu kembali menghantuiku, sungguh... Aku takut mama meninggalkanku disaat aku belum siap kehilangan nya.


Air mata ku mengalir pelan,dan secepat nya ku seka, Aku takut..Mama terbangun dan melihat air mata itu,,


"Tuhan...jika aku boleh meminta...berikan aku waktu yang sangat lama untuk bersama Mama..aku masih ingin membahagiakan nya"


bathinku.


"Eh...Din,, Mama ketiduran ya.."


Mama membuka Matanya dan membenarkan posisi duduknya.


"Mama capek ya?? Istirahat ya Ma,,sepertinya Papa juga sudah tidur"


Jawabku.


"Ya udah,,Mama masuk kamar ya...kamu masih mau nonton?"


Mama beranjak,dan menyerahkan remot tv.


Aku menerimanya,dan menggeleng.


"Enggak Ma,Dina juga mau masuk kamar"


Ujarku.


Akupun beranjak masuk kamar tak lama setelah Mama meninggalkanku.


Di dalam kamar,


Aku berdiri di samping jendela kamar, memandang jauh ke luar,hujan masih sangat lebat,udara dingin terasa menusuk ke tulang.


Aku menarik kursi dan duduk di samping meja kamarku,tanganku mengetuk meja,mencoba berpikir apa yang akan ku kerjakan.


Mataku berkeliling memandang setiap sudut ruang kamar,dan berhenti tepat di sebuah foto.


Aku beranjak dan meraih bingkai yang berisi foto Ari, entahlah,kenapa Aku masih memajangnya,terlalu berat bagiku untuk membuangnya,dan mengganti nya dengan foto Dion,bukankah sekarang status Dion adalah pacarku,sementara Ari hanyalah bagian dari kenangan masa lalu.


Aku memandang dan meraba gambar yang tengah tersenyum itu.


Tiba-tiba aku mengingat sesuatu,


"Ya...Aku masih menyimpan nya"


Gumamku.


Dengan cepat aku memeriksa laci mejaku.


"Tuh..benarkan..."


Ujarku lagi.


Tanganku meraih kotak kecil,yang kusebut kotak kenanganku bersama Ari.


Surat,gelang putus,struk,kartu ucapan semua masih lengkap tersimpan.


"Apa aku buang saja semua ini??"

__ADS_1


Ujarku lirih,


"Tapiiii....ehmmm...kenapa masih sayang..."


rengekku sendiri.


Dering ponselku membuat aku berhenti menatap benda-benda itu,


Deg!!


Jantungku berdetak ketika melihat nama yang tertera,


"Ehmmm...kayak tau aja nich orang aku lagi mikirin Dia!"


"Halo..."


"Iya halo..kenapa nelpon??"


"Dih...ketusnya,Aku tiba-tiba kepikiran kamu,,kamu lagi apa?"


Penuturan Ari Barusan cukup membuatku berdetak tak percaya.


"Apa mungkin ini yang dibilang kontak batin ya??"


Ujarku dalam hati.


"Hey...kok diem??lagi apa"


"Eh...Ehm...Itu..Anu,,lagi duduk aja"


"Loh..kok gugup gitu? kamu juga lagi mikirin Aku ya??"


"Ehmm...sebener nya,,Aku lagi...Ehmm..Eh,,udah dulu ya Ri,,aku mules...mau kebelakang,bye"


Aku segera mengakhiri telepon,sebelum Ari bicara yang aneh-aneh.


Setelah aku mematikan telepon Ari,aku baru menyadari bahwa tadi Dion mencoba menelponku dan Dion juga mengirimkan pesan.


"Dek,ditelpon kok sibuk,lagi telponan dengan siapa malem gini,istirahat ya ..sudah malam."


Ujarku pelan sembari memutar ponsel di jari.


Aku mulai mengetik karangan bebas.


"Oh ..itu tadi Fitri yang nelpon,iya ini juga mau tidur"


"Haduhh..bohongkan jadinya...maafin Aku ya yon"


Gerutuku sendiri sembari menepuk jidatku sendiri.


Aku mengemas semua barang kenangan Ari,termasuk foto yang bertahun-tahun menghias dinding kamar ku,menjadi teman cerita disaat rindu dan menjadi penjaga ketika malam lelapku.


Dengan berat hati,Aku melepas nya dari bingkai,merobeknya menjadi empat bagian dan membuangnya didalam tempat sampah,begitupun dengan kotak kenangan beserta isinya.


"Selamat tinggal Ari,selamat tinggal kenangan,,maafkan Aku ya..Aku harus membuang semua kenangan kita...Aku gak mau semua ini menjadikan Aku bimbang terhadap Dion"


Ujarku lirih.


Setelah semua Beres,Aku menghela nafas panjang dan berharap,cinta dihatiku untuk Dion akan tumbuh seiring waktu.


***


Satu minggu berlalu dari Lamaran kerja,belum ada panggilan,


Aku yang gusar menunggu,bolak balik melihat dan memeriksa ponselku,kalau-kalau pihak Hrd menelpon.


Mama yang tengah menjahit,memperhatikan gelagatku yang sedari tadi mondar mandir periksa hape.


"Din ...kenapa sih,dari tadi kayak orang bingung gitu"


"Ini ma,,kok udah satu minggu belum ada kabar ya dari Hrd."


Jawabku yang kini memilih duduk di samping Mama.

__ADS_1


"Ya sabar...Nak,,kalo rejeki kamu mau kerja disana,,pasti nanti di telpon,tapi kalau enggak ya gak papa...berarti bukan rejeki"


Jawab Mama menenangkanku.


"Iya sih Ma..tapi tetap aja penasaran"


Mama tersenyum sembari menggelengkan kepalanya,kemudian melanjutkan jahitannya.


"Sekarang kamu ngapain tuh?"


Sambung Mama ketika melihat Aku berjongkok membongkar tumpukan surat kabar Papa.


"Hehehe,,lagi nyari koran baru Ma...,mau lihat lowongan hehehe"


Jawabku cengengesan.


"Koran baru lagi di baca Papa tuh..di depan"


Jawab Mama seraya menunjuk Papa yang tengah berada di teras.


Aku kembali membereskan surat kabar yang berserak di lantai sebelum menemui Papa untuk meminjam surat kabarnya.


"Tunggu Aja dulu Din,,sabar aja,jangan terlalu tergesa-gesa mau cari kerja.."


Bujuk Mama.


"Iya sih Ma,,tapi dari pada menunggunya diam,mending sambil masukin lamaran ke tempat lain"


"Ya terserah kamu ajalah"


Jawab mama pasrah.


"Pa...pinjem bagian lembar lowongan donk Pa.."


Ucapku pada Papa.


"Bentar yaaa,,Nih...."


Papa membuka lembaran surat kabar lalu memberikan nya padaku.


Hampir 10 menit memperhatikan,Aku mengembalikan lembaran surat kabar itu ke Papa dengan muka Masam.


"Loh...kok cepet??trus tuh muka kenapa manyun gitu??"


Tanya Papa heran.


"Ehmm ..gak ada yang sesuai kriterianya Pa..."


"oh yaa??,,kenapa??"


Tanya papa heran.


"Semua lowongan syarat nya minimal D3,"


Aku menunduk lesu.


"Maafin Papa ya Din,,gak mampu kuliahin kamu"


Papa menutup surat kabar nya dan menunduk,


Terlihat sekali penyesalan di raut wajah Papa.


Aduhhh...salah ngomong Aku"


gumamku dalam hati.


"Maafkan Dina Pa,Dina gak maksud buat papa sedih"


"gak Din,ini memang murni kesalahan Papa,yang gak bisa membuat kamu meraih impian kamu"


"Udah Pa....jangan sedih ya.."


Aku memeluk tubuh yang dahulu kekar itu.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2