
Hari demi hari, bulan berlalu, Tahunpun berganti.
Masih dengan setengah hati, Aku memilih berdamai dengan keadaan, kegigihan Dion yang membuat Aku akhirnya memilih untuk meneruskan kembali hubungan yang masih terasa samar-samar.
Hingga hari ini, tepat di momen Lebaran, Dion mengajak Aku berkunjung kerumah keluarganya untuk pertama kali sejak Aku mengenalnya.
Perasaan cemas tak terelakan, gugup sudah pasti mendera, tanpa persiapan apa-apa.
"Dion... sampaikan salam Ibu pada orang tuamu ya...ini sekedar buah tangan"
Mama menyerahkan kotak kue pada kami untuk dibawa sebagai buah tangan.
"Iya Bu,,nanti disampaikan makasih harusnya gak perlu repot-repot"
Ujar Dion sebelum akhirnya Kami berangkat.
Sepanjang perjalanan, kami tak banyak bercakap, hanya sesekali obrolan kosong kemudian kembali hening.
Rumah keluarga Dion terletak jauh dari Kota, sebuah pedesaan yang masih sangat Asri.
Selama ini di Kota, Dion tinggal dirumah saudaranya.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya sampailah kami pada sebuah rumah yang Asri, terdapat banyak pohon yang teduh dan yang paling menarik perhatianku adalah pemandangan di belakang rumah keluarga Dion, terbentang sungai yang mengalir deras, terlihat beberapa gerombolan anak kecil yang tengah melompat timbul tenggelam berenang riang, sungguh pemandangan yang tak pernah kudapatkan di Kota.
Kedatanganku disambut hangat kedua orang tuanya,
Aku yang masih dalam keadaan cemas, perlahan mulai bisa beradaptasi,suasana yang awalnya tegang kini mulai mencair.
Hingga sebuah kalimat yang Seperti bom meluncur dari mulut Ibunya Dion.
"Dina..Ibu sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu... Ibu harap sebelumnya Dion telah lebih dulu bicara"
Aku yang terperangah mendengar kalimat tersebut menatap lurus ke arah orang tua Dion,mendengarkan kata demi kata yang terucap.
"Mau menyampaikan Apa ya Bu,,Dion belum ada omongan ke Dina"
"Ya sudah,, gak apa-apa.. Ibu memperhatikan sepertinya hubungan kalian sudah sangat serius.Dion juga sepertinya sudah sangat yakin dengan pilihannya, lagian hubungan kalian juga sudah lumayan lama, ada baiknya kita secepatnya menghalalkan hubungan kalian,tidak baik berlama-lama seperti ini"
Deg!!!...
jantungku seolah berhenti berdetak
Aku mengalihkan pandanganku pada Dion yang terlihat begitu santai, pandanganku tiba-tiba terasa buram, hanya saja telingaku tetap menangkap jelas maksud omonngan yang disampaikan Ibunya Dion. Tanganku gemetar bersamaan dengan telapak tangan yang basah... dalam keadaan bingung harus menjawab apa,Aku hanya Diam menunduk, otakku berhenti fungsi sesaat, pikiranku kosong melompong.
"Bagaimana Dina,, apa kamu siap menerima Dion dengan segala kondisinya, Kamu bisa lihat sendiri...Dion hanya Anak kampung yang tidak memiliki banyak harta"
Ibu Dion kembali menyambung omongannya.
Aku menelan ludah,mencoba berpikir kalimat apa yang pantas Aku utarakan.
"Ehm....sejujurnya Dina bingung Bu ingin menjawab apa, Dion tak memberitahu Dina tentang hari ini, kalau menurut Dina...nanti Dina bicarakan dulu kepada keluarga Dina ya Bu,"
"Oh...ya sudah kalau begitu tapi jangan lama-lama ya... tolong sampaikan juga ke Orangtua Dina, kalau tidak ada halangan awal bulan depan keluarga Dion Akan bertandang ke rumah Dina."
Aku mengangguk.
cuaca yang tadinya terasa sejuk,tiba-tiba saja kurasakan panas yang membuatku gerah dan berkeringat.
Sungguh tak terbayang olehku sebelumnya, Bahwa Orangtua Dion akan menembakku dengan kalimat yang tak bisa kujawab.
Aku merasa Dion terlalu cepat memberiku kejutan seperti ini,dimana Aku sendiri belum siap untuk semua ini.
Hampir 2 jam berada di rumah orangtua Dion cukup membuatku menjadi seperti kapas, terasa ringan dan melayang.
Aku memberi kode pada Dion untuk mengajaknya pulang, Dion mengangguk.
"Ibu,Bapak..Maaf.. sudah terlalu siang..Dina mau pamit pulang.."
Pamitku pada Orangtua Dion.
"Oh..sudah mau pulang.. iya hati-hati kalian ya..jangan lupa pesan Ibu tadi ya Dina..sampaikan pada Orangtuamu, ceritakan kondisi disini seperti apa."
"Iya Bu..."
Setelah berpamitan,kami meninggalkan rumah orangtua Dion,
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Aku hanya Diam..kalimat demi kalimat yang disampaikan Ibunya Dion terus terngiang di telingaku. Antara senang, sedih, ragu, bimbang dan bingung semua bercampur aduk jadi satu hingga aku sendiri tak bisa mendefinisikan kondisi hatiku saat ini.
Sesampainya dirumah.
"Mau masuk dulu yon?"
Tawarku.
"Ah,sepertinya Aku mau langsung pulang aja ya..Ehm, Dek kamu kenapa diem dari tadi?"
Tanya Dion sesaat sebelum pulang.
"Aku bingung, Aku pusing, Aku gak tau mesti seperti apa, bagaimana?!"
"Udah, jalanani aja..gak usah pusing-pusing,Aku sayang sama kamu dan ingin cepat segera memperistri kamu"
Dion menjawab santai,kemudian berlalu begitu saja.
Aku terduduk lemas di kursi teras,bagaimana bisa Aku segera menikah, sementara hatiku masih belum ada kemantapan.
"Din sudah pulang? kamu kenapa bengong??mana Dion?
Mama menghampiriku dan mencemaskanku.
"Iya ma..Dion baru aja pulang.."
Jawabku.
"Terus.. gimana tadi disana? cerita donk.."
Dengan antusias mama mengekorku masuk kekamar.
"Ma...tadi di sana, Ibunya Dion ngomongin hal serius.."
Ujarku pelan.
"Serius?? Tentang apa??"
Tanya mama sedikit tegang.
Aku menunduk.
Seketika Mama memelukku erat, sangat erat.
dan tanpa kusadari Papa turut menyaksikan dari ambang pintu.
"Kapan mereka akan datang Nak?"
Tanya Papa yang membuat Aku dan Mama terhenyak dan melepas pelukan erat kami.
"Awal bulan Pa"
Jawabku.
"Din...pernikahan itu tak perlu mewah yang penting sah, kalau mampu...ya tak ada masalah untuk dirayakan semewah mungkin, tapi jika tidak mampu...ya mau apa lagi...yang sederhana aja.."
Aku menunduk.
"Bukan itu yang aku pikirkan saat ini Ma..Aku seperti berada di persimpangan,antara mau dan ragu."
Batinku.
"Mama merestui,, Mama yakin...Dion Takdir terbaik dari Tuhan untuk menjaga kamu."
Air mataku meleleh perlahan,
Selepas Magrib,
Aku dan kedua orang tuaku tengah bersantai, menikmati cemilan kue-kue kering yang berjejer rapi di atas meja.
Seketika kami terdiam dan saling pandang ketika mendengar suara deru Motor ramai berhenti di depan rumah.
"Din..kayaknya ada tamu"
Ujar Mama.
__ADS_1
"Siapa ya Ma...?" Tanyaku kemudian beranjak ke arah pintu.
Sebelum membuka,Aku menyibak tirai jendela untuk melihat siapa yang datang.
Senyumku melebar ketika diluar nampak Trio kurcaci somplak yang datang.
Segera kubuka lebar pintu rumahku.
"Heyyyy...para kurcaci....Joni, Tarjok dan Paijok masuk woyyy..ngapain pada disitu!"
Seruku girang.
"Ahahaha...Jona I miss u..."
Teriak Indra,yang baru Sehari tak bertemu kocaknya semakin parah.
"Iya Din, tunggu ya...Kita lagi nungguin Kak Dika dan yang lain.."
Teriak Candra.
"Hah...masih banyak lagi??"
Tanyaku.
Mereka mengangguk kompak.
Tak lama berselang,yang ditunggu muncul,
nampak Andika, Sherly, Mansyur serta Haniza turun dari motor mereka.
"Yuk..masuk...masuk..wahh..kejutan sekali kalian datang..makasih loh...kenapa gak ngabarin dulu,,biar disiapin"
Aku menjamu para sahabatku dengan servis terbaik.
"Ya..namanya juga kejutan...kalau bilang-bilang namanya lamaran!!!"
Candaan Indra, terasa ngena banget dihati.
Aku menanggapinya dengan tertawa, Aku tak ingin suasana seru ini berubah hanya karena Aku yang terbawa perasaan.
Canda tawa renyah kami terus mengalir,dari masalah pekerjaan,hobby,gosip sampe ke masalah negara semua di bahas.
"Oh iya...kira-kira Diantara kita siapa ya..yang bakalan duluan ke pelaminan??"
celetuk Haniza.
Semua saling tunjuk,
"Sherly....!"
Teriak Andika.
"Dina!!!"
Teriak Trio somplak kompak.
"Eh..nanti ya..kalau Si Dina nikah..Kami ngasih kadonya yang anti maistream ah"
celetuk Indra yang mengundang tawa.
"wakakaka...Apaan??"
"Lihat entar,,emang kapan lu kawin jona??"
Tanya Indra padaku.
"Tunggu ajalah undangannya"
Jawabku terkekeh.
Mataku melirik ke Arah Mansyur yang sedari tadi, hanya diam tak bersuara.
"Ada apa dengan nya?"
Bersambung***
__ADS_1