
Aku memperhatikan seseorang yang ditunjuk Candra sebagai target, mulai dari ujung kepala hingga ujung sepatu.
Merasa tak nyaman dengan kehadiran kami berdua,
"Maaf ada apa ya??"
Ujar Fajri turut memperhatikan dirinya sendiri.
"Eh..sini...sini.."
Candra menarik lengan Fajri sedikit menyudut, begitupun Aku yang mengikuti mereka berdua.
"Jri..Aku mau minta tolong,,ehm tepatnya kami berdua butuh bantuan..bisa?"
Tanya candra dengan muka serius.
"Bantuan?? Apa??"
Tanya Fajri semakin bingung.
"Ehm..gini aja..ceritanya panjang..kita omonginnya nanti pas break aja ya.."
"Oke"
Jawabnya singkat.
Candra meninggalkan Fajri yang masih termangu mematung.
Sementara Aku menjajari langkah Candra.
"Can...Kamu yakin Dia mau??"
Tanyaku ragu.
"Mau...pasti mau....tenang aja...Anaknya polos gitu..hehheh...lihat aja nanti."
Akhirnya waktu istirahat makan siang tiba,tak sabar aku mendengar persetujuan Fajri.
"Can...buruan !!"
Aku menarik lengan Candra yang sedang sibuk dengan komputer di depannya.
"Sebentar....Aku lagi cari pesanan customer"
"Udah.... Suruh Haniza aja...!"
Aku menarik kertas ditangan Candra dan memberikan pada Haniza.
"Han...tolong cari judul ini ya... Pesanan customer!"
Ujarku pada Haniza yang tengah berdiri di depan kami.
"Oke...!!"
Seru Haniza segera menggantikan posisi Candra di depan meja komputer informasi.
Aku dan Candra mempercepat langkah menaiki tangga dan berhenti di lantai 3.
"Jri..break yuk.."
Ajak candra menunjuk lantai atas yang dibalas anggukan oleh Fajri.
Sesampainya di ruang makan.
"Sebenarnya kalian berdua mau apa dari Aku? Apa yang bisa Aku bantu?"
Tanya fajri memulai percakapan.
"Gini Jri...kamu mau gak kami sewa.….."
"Hah....sewa???!"
Fajri memotong cepat pembicaraan,sebelum Candra sempat melanjutkan.
"Ehm...kamu dengar dulu ya... Aku belum selesai bicara, gini Jri.. Dina ini punya pacar... Dia terlalu posesif, namun sikapnya juga terlalu cuek dan Si Dina ini mau minta putus, tapi si pacarnya gak pernah mau mutusin, segala cara udah dicoba termasuk mendiamkan, cuek, galak, bahkan sampe yang lebih Bar-bar tetap aja si Pacarnya santai, seolah tak terjadi apa-apa. Nah...disini peran kamu seolah-olah jadi pacarnya si Dina, biar Dia marah, sakit hati dan mutusin Dina, gimana Jri..bisakan???"
Jelas Candra panjang lebar.
"Kenapa mesti Aku sih... kan banyak yang lain!"
Ujar Fajri menolak halus.
"Masalahnya.... Dia sudah kenal semua yang ada disini selain kamu"
"Aduh... Gimana ya, berat sihh... Aku takut nanti malah Aku kenapa-kenapa!"
"Kamu tenang aja Jri... Si Pacarnya Dina ini, gak suka main kasar.. Dia gak akan ngapa-ngapain kamu kok!"
"Ah... Gak ada yang bisa jaminkan kalau Aku akan aman-aman saja?"
"Aku yang jamin !!"
Sahutku mantap.
"Ehm... Gimana ya, jangan Aku deh... Aku takut.."
"Ayolah Jri... Bantu Aku, ehm.. Aku janji, Aku akan traktir kamu makan siang plus minum selama 3 hari gimana???"
"Berapa lama??"
"3 hari ! tenang aja pokoknya makan gratis deh.."
Seruku.
"Gak..gak... Bukan itu maksudku, Aku nya pura-puranya berapa hari...?"
"Sampe Dia mutusin Aku"
Sahutku mantap.
Terlihat Fajri merenung beberapa saat sebelum akhirnya,
__ADS_1
"Oke deh..Aku setuju!"
Jawabnya sembari mengulurkan tangan mengajak bersalaman tanda sepakat.
"Kapan sandiwara ini akan kita mulai?"
Tanyanya.
"Pulang kerja ini, kamu antar Aku pulang ya..."
Ujarku.
"Oke!"
Selesai makan siang, Kami bergegas turun dan melanjutkan pekerjaan.
"Din...!"
Sapa seseorang mengagetkanku. Mansyur datang mendekatiku.
"Hah...tumben Dia memanggil namaku"
Batinku.
"Ehm...tumben banget nyapa kayak gitu"
Aku melengoskan wajahku kembali.
"Iyakah?? emang biasanya gimana?"
Mansyur balik bertanya.
"Ya...Biasanya, Hei..hei..sekarang manggil nama"
"Ohh..jadi Kamu lebih suka di panggil Hei..."
"Ya gak gitu,,cuma kaget aja"
"Ehm....Aku mau nanya,bolehkan?"
Mendengar seperti itu,Aku menghentikan kegiatanku,berbalik kearahnya.
"Kok kayaknya serius? mau nanya apa?"
"Ehmm...Kamu sama Candra itu pacaran ya?"
Pertanyaan itu benar-benar meluncur bebas tanpa basa basi dari mulut si Kepala batu yang sekarang sudah melunak.
"What...?? ini orang,, kok bisa mikir gitu ya,, padahal hampir tiap hari Aku pulang pergi sama Dion, Dianya gak ngeh atau Dia malah ngira ahh...gak tau deh"
ujarku dalam hati.
"Din...kok diem? melamun ya??"
"Ehmm...Kok Kamu bisa nanya kayak gitu kenapa?"
concongku.
"Gak,maksud Aku.. Kok bisa muncul pikiran itu karena Apa?"
"Ya...tiba-tiba Aku mikir gitu, sebab kalian deket, selalu berdua,, terus kalau ngobrol kayaknya akrab..banget"
Tuturnya.
"Astaga...jadi selama ini Dia merhatiin Aku??"
Batinku lagi,Ada riak-riak kecil yang mengguncang hatiku.
"Eh...jangan ngira yang macem-macem ya..."
Mukanya bersemu merah jambu.
"Hahhah... Emang kamu pikir Aku akan ngira gimana sampe segitu malunya hahhaha.."
Ledekku.
"Ya siapa tau Kamu mikir Aku cemburu!?"
ujarnya pelan dan menunduk.
"Loh....bukan Aku yang ngomong loh ya...."
elakku.
"Ah..Kamu..."
Mansyur mendengus kesal, lalu membelakangiku dengan menyelipkan tangan disaku.
"Aku sama candra cuma teman"
Aku berbicara tepat di belakang telinganya.
Dan didetik yang sama Mansyur menolehku tersenyum lalu berlalu meninggalkanku.
"Iihh..tuh Anak kenapa ya??"
Ujarku bertanya sendiri.
Berkali-kali aku melirik jam tanganku, berharap waktu cepat berputar,
perasaanku bercampur aduk antara takut, tak sabar serta deg-degan.
Apa yang akan terjadi di beberapa jam kedepan,hanya pertanyaan itu yang kini memenuhi isi kepalaku.
Waktu yang Aku tunggu tiba, sesaat sebelum candra datang,
"Din..Pulang sama siapa?
Mansyur menghampiriku.
"Ehm..Aku..."
__ADS_1
Belum sempat Aku menyudahi kalimatku, Candra lebih dulu menarik lenganku naik ke atas.
Aku yang tak dapat menolak hanya menyaksikan wajah kecewa yang jelas tergambar dari raut muka Mansyur.
Sesampainya diatas, kulihat Fajri telah menungguku.
Aku segera mengecek ponselku, tak kudapati pesan ataupun panggilan dari Dion,
sejemput kekhawatiran tiba-tiba hadir,
Bagaimana jika hari ini Dion tidak menjemputku, itu artinya semua sia-sia.
"Kenapa?"
Candra mendekatiku sembari melongok ke layar ponselku.
"Eh..gak pa pa"
Bergegas kami bertiga turun untuk segera pulang.
Di tangga, Kami berpapasan dengan Mansyur, wajahnya dingin, wajah yang sudah lama tak pernah lagi kulihat dan nyaris terlupa dari ingatanku.
"Dia kenapa??"
Candra bertanya padaku.
"Aku hanya mengangkat bahu.
Keluar dari pintu karyawan, mataku berkeliling, mencari sosok Dion di pelataran parkir, namun aku gagal menemukannya.
Candra dan Fajri menyusul langkahku.
"Mbak...jujur ya...Aku takut"
Ujar Fajri setengah berbisik.
"Santai ya...."
Balasku menenangkan. sementara Candra mengacungkan kedua jempolnya kearah kami.
Fajri menghidupkan Motornya, dan Aku naik dibelakangnya dengan mata terus mencari keberadaan Dion.
Hingga motor melaju,Dion tak nampak di parkiran.
Namun baru saja Motor bergerak 20 meter meninggalkan parkiran, sebuah sepeda motor tua menyalip dari arah kanan dan mencegat laju motor kami.
"Mbak...ini pacarnya ya??"
Bisik Fajri menolehku.
"Iya...balasku tak kalah pelan.
"Ayo pulang Dek..!"
Dion memberiku isyarat agar pindah duduk di motornya.
"Aku mau pulang sama Dia"
Jawabku ketus sembari menunjuk Fajri,yang kini wajahnya tegang dan 3 tingkat lebih putih.
"Dia siapa??!"
Dion bertanya seraya turun dari motornya.
"Dia pacarku!"
Ucapku lantang.
"Udahlah...Dek, Dia masih terlalu kecil untuk jadi pacar kamu! dan Kamu tolong !! jangan dekati tunangan Saya!!"
Glek!!
Aku menelan ludah mendengar ucapan Dion barusan, kulirik Fajri yang semakin memucat.
"Ayo ikut Aku!!"
Seru Dion dengan nada tinggi, seraya mencekal lenganku.
"Kita sudah selesai,, tolong jangan ganggu Aku lagi!!"
Sreettt..
Dion dengan cepat menarik kontak motor Fajri.
"Turun....!!"
Bentak Dion padaku.
"DION !!! Tolong berhenti bersikap seperti ini, Aku capek, Aku ingin bahagia dengan pilihanku, kembalikan kontaknya !!"
Aku merebut kontak dari tangan Dion.
"Kamu !! Siapapun Kamu, tolong pergi dan jangan ganggu hubungan Kami!!"
Dion mengusir Fajri dari hadapannya.
"Gak bisa gitu Bro.. Sekarang kamu tanya Dina, Dia mau ikut siapa?"
Fajri akhirnya buka suara.
"Maaf Dion, Aku gak bisa sama kamu!"
Aku kembali duduk di belakang Fajri.
"Ayo kita pulang !!"
Ajakku pada Fajri.
"Oke..kalau kamu mau Dia yang mengantar pulang, silahkan!! Dan untuk Kamu, tolong hati-hati,jangan sampai terjadi apa-apa,, Dia calon Istri Saya!!"
Dion menepuk-nepuk pundak Fajri yang kini terlihat berkeringat.
__ADS_1
Bersambung**