Ketika Hati Bicara

Ketika Hati Bicara
Bab 38 Pertemuan


__ADS_3

45 menit mengudara,pesawat yang ku tumpangi mendarat,mata ini masih basah ketika sampai di bandara,segera kucari toilet untuk merapikan wajah yang sedikit berantakan.


menghapus sisa air mata dan menyapukan sedikit bedak.merasa kembali sudah fresh, aku mengaktifkan kembali ponsel ku mencoba menelpon Dion.


Mataku menelusuri setiap sudut ruang tunggu bandara,memastikan setiap penjemput,menajamkan penglihatan ku.


Tak kutemui sosok itu.


"Dion mana ya??"


Ujarku gusar.


"Apa mungkin aku lupa wajah nya,,"


sambungku sambil tersenyum tipis.


Aku berjalan pelan,menuju pintu keluar,berniat memesan taxi yang banyak menawarkan jasa,


Tiba-tiba seseorang mengambil alih koper yang sedang ku tarik.


Tersentak kaget,hampir saja tanganku memukul seseorang itu,sebelum akhirnya aku menyadari siapa Dia.


Mataku tak berkedip ketika melihat seseorang didepanku,penampilan sederhana jauh dari kata gaul yang melekat khas dari anak-anak muda masa kini,berbanding jauh terbalik dari penampilan Ari,yang selalu stylish dan fashionable.


"Ya Tuhan...kenapa aku jadi membanding-bandingkan gaya mereka,,jahat nya aku"


batinku.


"Hai..."


Sapanya kaku.


"Ya...ehmm...Dion kan?"


Tanyaku gugup bercampur ragu.


"Bukan..!!"


Jawab nya dengan muka datar.


"Hah...??"


Mulut ku menganga dengan mata menyorot ke arah nya,,


"Aku Adit..hehehe,,Aditya Dion prakarsa"


Tawa kami pecah,suasana sedikit mencair.


Dion tampak kesulitan menaik kan koper besar ku diatas sepeda motor tua milik nya.


Aku yang memperhatikan nya,mendekati.


"Susah ya??,,kalo susah biar aku naik taxi aja ya"


Tawar ku.


"Eh...jangan,,bisa kok bisa...maaf ya,,aku jemput nya pakai motor"


"Eh...gak gitu maksud ku,,aku cuma gak mau nyusahin kamu,,maaf ya kalo kamu tersinggung."


"Gak kok...ayo naik..."


Ajak Dion ketika merasa koper ku sudah aman diatas motor nya.


Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah,kami saling diam,,selain canggung laju motor yang cukup kencang juga tidak memungkinkan kami untuk ngobrol.


Yang ada di pikiran ku cuma satu,,bisakah aku menjalin hubungan dengan nya.


Duduk tepat di belakang punggung Dion membuat hidungku sangat leluasa mencium harum tubuh nya,,yang mungkin hari ini Dia menggunakan satu botol parfum,


Aku tersenyum geli.


Hampir setengah jam lebih,akhirnya kami sampai,kepulangan ku disambut kedua Orang Tuaku,peluk haru Mama menjemputku diambang pintu,begitu pula senyum hangat Papa yang seolah menjadi penawar rindu ku selama ini.


2 tahun berjauhan dengan kedua sayap ku,begitu banyak perubahan yang terjadi dengan mereka,tubuh mereka yang terlihat lebih kurus,kerutan pada wajah yang semakin banyak dan yang nampak jelas adalah perubahan pada rambut mereka yang kini semakin memutih.


Air mata ku jatuh,aku bersyukur tak memperpanjang kontrak ku,,aku merasa langkah yang kuambil adalah hal yang paling benar,tak dapat kubayangkan jika aku menambah kontrak kerjaku lagi,,dan saat pulang melihat mereka akan lebih tua dibanding hari ini.


Aku memeluk erat mereka sekali lagi.


"Ayok masuk...masuk..kita makan,,Mama sudah masak spesial buat kamu,,"


Mama menarik tangan ku.


"Oh ya Ma,,kenalin ini Dion"


Aku mencoba mengenalkan Dion pada orang tua ku.


Mama menatapku dan menatap Dion bergantian,lalu tertawa,hal yang benar- benar sangat membingungkan ku.

__ADS_1


"Kok ketawa Ma....?"


Tanyaku bingung.


"Mama sama Papa udah kenal.."


"Hah....sudah kenal??"


Aku mengernyitkan dahi bertambah bingung.


"Ah..sudah..sudah,,nanti saja dijelaskan..kita makan dulu"


Masih dengan muka bingung,aku mengikuti perintah Mama.


Sepanjang acara makan siang,Dion sama sekali tak ada canggung,seperti sudah biasa dan lama kenal dengan orang tuaku.


Selepas makan,


"Dek,,aku pamit ya..."


"Kok buru-buru Yon?"


"Aku kerja masuk sore"


"Oh..."


Sampai detik ini aku tidak tahu Dion kerja apa,,Nantilah aku tanya-tanya.


"Ma..Pa..Dion mau pulang"


"Oh...ya,,hati-hati ya Nak.."


Mama dan Papa terlihat sudah begitu akrab dengan Dion.


Setelah Dion Pamit,


Aku tak membuang waktu lagi memburu penjelasan Mama tentang kedekatan mereka dengan Dion.


"Ma...ayo donk Ma...kasih tau Dina,,kok kayaknya Mama sudah akrab sama Dion.rengek ku bergelanyut di bahu Mama.


"Hehhehe...penasaran ya,,Sebenernya Dion sudah sering Main kesini waktu kamu masih disana"


Aku tercengang mendengar penuturan Mama.


"Maksud nya,Dion datang kerumah sini Ma??"


"Iya sayang,,masak kerumah tetangga"


"Dia ngapain aja ma??"


"Ya main aja,,kadang bawa bingkisan..kayak waktu hari raya kemarin,,Dion datang kesini bawa parsel,eh Din,,Dion itu anak baik loh,,Mama sama Papa suka sama Dia..suka sama cara dan sikap nya"


Aku terdiam...berlalu masuk ke kamar.


***


Selepas magrib,aku masuk ke kamar berniat menyusun isi koperku yang belum sempat ku bongkar karena terlalu sibuk bermanja dan kangen-kangenan terhadap Mama.


Banyak cerita yang belum semuanya aku ceritakan.


Satu persatu pakaian dan barang-barang yang berada di koper ku keluarkan dan kususun di kamarku.


Tiba-tiba aku mengingat Dion,laki-laki sederhana yang ternyata telah memenangkan hati kedua orang tuaku.


"Tapi,kenapa Dia tak memberiku kabar hingga malam ini,apa dia menyesal dapat kembali bertemu aku ya?"


Tanyaku dalam hati.


Aku beranjak mencari ponselku untuk mengecek.


"Benar,tak ada pesan atau panggilan"


Ujarku lirih.


Aku berinisiatif menelpon,namun niat itu segera ku urungkan,apalagi kalau bukan karena gengsi.


Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan singkat.


" Hai...lagi apa? "


Tak menunggu waktu lama sebuah balasan kuterima.


" Aku malu,aku pikir kamu tak mau lagi berhubungan dengan ku,setelah bertemu aku"


"Astaga....ternyata itu alasan nya"


Ujarku pelan.


Aku benar-benar tak enak hati,mungkin sikapku tadi sangat membuat Dion tersinggung,sampai- sampai dia berpikir seperti itu.

__ADS_1


" Dion,,maaf ya kalo sikap aku buat kamu tersinggung,kamu jangan mikir macem-macem"


Ponselku berdering,Dion menelponku.


"Halo,,"


"Ya...Halo...tak perlu minta maaf,,aku yang terlalu baper."


"Ehm...Dion kamu lagi apa?"


"Aku lagi jaga"


"Hah...jaga??,,jaga apa??"


"Oh..iya,,aku belum pernah cerita tentang pekerjaanku ya??"


"Ehm...belum,,emang kamu kerja apa yon??"


"Aku cuma seorang keamanan Dek,,kamu gak masalah kan pacaran sama aku?


"Oh....ehm...ya gak masalah sih biasa aja"


"Syukur deh..."


"Oh ya..besok malam,,aku mau ngadain party di rumah,,cuma kecil-kecilan,,kamu bisa kan?"


"Oh..bisa..bisa Dek...besok aku libur"


"Oke,,udah dulu ya..aku lagi beres- beres"


"Oke"


Aku menarik nafas dalam-dalam.


Tok..tok...


"Din...."


Mama membuka pintu kamar ku dengan kepala menyembul dari balik pintu.


"Iya Ma....."


"Ada tamu,,"


"Tamu???siapa Ma??"


"Kamu lihat aja"


Mama tersenyum menggoda ku.


Dengan cepat aku keluar kamar,diburu rasa penasaran.


Sesampainya di depan,aku menghentikan langkahku,jantungku berdetak tak beraturan,darahku mengalir cepat,telapak tanganku basah,


Punggung bidang itu...aku sangat mengenali nya..


Aku berjalan pelan dan saat tepat berada di belakang nya,aku menelan ludah,mencoba bersikap wajar dan seolah tak terjadi apa-apa.


"Hai..."


Sapaku.


Punggung itu berbalik,dengan cepat merangkul ku,erat dan hangat..sama seperti dulu.


Sejenak aku terpaku,hanyut dalam rasa yang aku rindu,menikmati irama detak nadinya yang memacu.


Segera aku tersadar,dan menarik diriku dari pelukan hangat itu.


"Maaf...kita tak seharusnya seperti ini"


"Din,,aku yang seharusnya minta maaf..aku yang ganggu kamu..aku rindu kamu dan aku senang kamu kembali..apa kamu tak merindukan aku?"


"Aku pernah rindu,,tapi itu dulu"


"Lalu kini??"


"Kita bisa berteman Ri...lupakan masa lalu,oh iya...besok malam datang ya ajak pacar kamu,,aku ada party kecil-kecilan"


"Ya..aku pasti datang"


"Maaf Ri,,aku lagi beres- beres"


"Baik...aku pamit,,salam sama mama papa"


Ari mendekat,dan didetik yang sama kurasakan sentuhan tangan nya menggosok kepalaku.


perlakuan manis yang selalu ia lakukan saat dulu masih bersama.


Ya tuhan,,jangan biarkan rasa ini kembali hadir..

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2