
Yang ditunggu akhirnya tiba,tepat jam 9 malam,Dion Sampai kerumahku.
Aku yang tengah berdandan di depan cermin segera beranjak keluar.
Setengah berlari Aku menuju pintu depan.
Ternyata Papa lebih dulu sampai,
"Pak...Dion izin ngajak Dina keluar"
"Iya,tapi inget ya Dion..jangan sampai kenapa- kenapa..kalian hati- hati.."
Pesan Papa.
Mama menyusul keluar,
"Iya..malam pergantian tahun biasanya jalanan padat..kalian hati-hati"
Sambung Mama.
"Iya ma.."
Sahutku segera berpamitan dengan kedua orang tuaku.
Dalam hitungan Detik,motorpun melaju.
Di atas motor,Aku memperhatikan penampilan sosok pria yang tengah berada didepan ku,
Dion dengan segala penampilanya yang menurutku jauh lebih tua dari usianya,sikapnya yang terlalu santai,cuek serta tidak fashion sama sekali,,apakah mungkin bisa nyambung jika bertemu dengan teman- temanku yang gaul.
"Ah..sudahlah..untuk apa aku pikirin"
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan memejamkan mata beberapa saat.
"Dek..ini jalannya kemana?"
Dion menyadarkanku dengan pertanyaannya.
"Oh..nanti di depan ada persimpangan kita belok kanan,katanya rumahnya cat oren,kalo dari depan rumah ke 5."
Aku memberitahu arah jalan menuju rumah Candra.
Setelah sampai di depan sebuah perumahan lumayan elit,Aku segera terfokus pada satu rumah mewah berwarna oren.
"Wahh..gilakk..Candra ternyata anak orang kaya" Batinku.
Aku benar- benar gak nyangka,dibalik sikap biasa-biasa aja dari Candra ternyata Dia orang berada, tapi..kenapa Dia tak memilih untuk kuliah.
"Ehmm..entahlah,"
Gumamku dalam hati.
"Dek...bener ya itu rumahnya??"
Lagi-lagi Aku melamun,dan pertanyaan Dion menyadarkanku.
"Kayaknya sih bener...Nah..itu mbak sherly"
Aku menunjuk seorang gadis cantik dan dan bohay yang sedang berselfie manja.
"Mbak sher..."
Panggilanku,membuat sherly melambaikan tangan nya dengan tersenyum ramah.
"Yuk...kesana.."
Ajakku pada Dion.
"Kamu duluan deh,nanti Aku nyusul"
Tolak Dion,yang tengah mengotak atik ponselnya.
"Loh...kok gitu,,ayolah...gak enak sama yang lain"
Pintaku,kali ini sembari menarik lengan Dion.
Perlahan Dion melepaskan cengkraman ku,
"Iya...nanti...kamu duluan aja..nanti aku nyusul"
Tak ingin ribut,akhirnya Aku melangkah sendiri.
Ternyata di teras samping rumah Candra ramai teman-teman berkumpul, dari sekian ramai orang disana,mataku terfokus pada salah satu dari mereka yang tengah mengipas jagung bakar.
"Mansyur??kok bisa Dia ada disini,padahal Dia sendiri yang bilang Malas"
gumamku dalam hati..dan sepertinya Dia belum menyadari kedatanganku.
"Hai Din....".
__ADS_1
Suara nyaring Haniza,membuat semua mata tertuju padaku termasuk Mansyur.
"Loh...mana pacarmu Din"
Indra menyambar pertanyaan cepat kepadaku.
"Ehm...itu..Disana"
Jawabku sembari menunjuk.
"Kok Disana,,Ajak sini donk"
Candra beranjak berjalan keluar pagar.
"Brooo....Sini gabung..."
Terdengar suara candra menyapa dan mengajak Dion untuk turut serta.
"Oke..oke,,nanti ya..ni lagi mau telpon dulu"
Dion tetap menolak,entah apa yang menjadi alasannya tidak mau bergabung.
Rio dan Indra tengah sibuk menusuk daging ayam ke tusuk sate,Andika dan sherly sibuk berduet karoke,Mansyur mengipas jagung bakar,Haniza tengah duduk menjadi asisten Rio dan indra,Atik menjadi juru kamera,semua terlihat happy,sesekali tawa renyah memecah dinginnya malam.
Aku yang berdiri diantara rasa tak enak hati akibat Dion yang tak ingin bergabung merasa kikuk.
"Din..Bujuklah pacarmu masuk,,"
Candra kembali menyuruhku.
Aku yang dari kemarin-kemarin paling antusias menantikan acara ini,mengharap semua dapat dilewati dengan happy ternyata harus kecewa dengan sikap kekanak-kanakan Dion, selain kesal, rasa malupun tak bisa kupungkiri.
Aku beranjak dengan muka memanas.
"Yon..Ayo donk,jangan kayak gini...Aku gak enak sama mereka,,"
Pintaku memelas,berharap Dion turun dari sepeda motornya melangkah bersamaku kedalam.
Ternyata dugaanku salah.
"Aku ke depan dulu ya..nanti aku kesini lagi"
Ujarnya datar seolah tak paham perasaanku.
"Loh...kamu mau kemana??"
Tanyaku heran.
Jawabnya santai.
"Aku jemput???,itu artinya kamu bakalan sampai pulang??gak mau gabung??"
Tanyaku kesal.
"Udah..kamu masuk aja..gak enak sama yang lain!"
Ujar Dion.
"Lebih gak enak lagi kalo aku masuk tapi kamu malah pergi!"
Aku memasang tampang masam.
"Ya udah,terus kamu mau gimana??Mau ikut atau tinggal disini"
Tawar Dion dengan nada santai.
"Astaga...Dion...kenapa sih kamu gak bisa ngertiin aku di masalah sepele kayak gini!"
Geramku dalam hati.
"Kita pulang!!!"
jawabku ketus.
Aku meninggalkan Dion berbalik masuk ke halaman Candra.
"Ehm...semuanya Aku pamit dulu ya...."
Penuturanku barusan membuat semua terfokus pada ku,termasuk Mansyur.
"Loh...mau kemana Din..belum juga mulai...."
Tanya Candra menghampiriku.
"Maaf ya...Ehmm...itu..Aku ada urusan...Maaf banget..."
Dengan perasaan tidak enak hati aku merapatkan kedua belah telapak tanganku di depan dada.
"Ya...gak Asyik Deh...."
__ADS_1
Sherly cemberut menatapku.
"Biarin aja !! ada atau gak ada tetap gak ngaruh juga kan!"
Celetuk pedas dari Mansyur yang membuat ku terdiam.
"Apaan sih syur...kok gitu...gak boleh tauuu!!"
Sherly melempar Mansyur dengan Sandal di depan nya.
"Apa sih sher....sakit!!"
Sungut Mansyur membersihkan punggung nya yang baru saja terkena sandal.
"Emang enak Hhaahahhh..."
Sherly tertawa menang.
"Ya udah...selamat tahun baru ya semua...selamat happy- happy"
Aku melambaikan tangan mencoba tersenyum meski sesungguhnya hatiku sedang menyimpan kekesalan yang luar biasa.
Aku menghampiri Dion,
"kita jalan kemana Dek?"
Tanyanya seperti tak ada masalah.
"Pulang!!"
Balasku cepat.
"Kok pulang??"
"Aku bilang pulang ya pulang..."
Seruku.
Dion segera menyalakan motornya dan menuju jalan pulang.
Sesampainya di rumah,
"Dek...kamu kenapa..Dek..Dek..."
Dion berusaha mengejarku yang berjalan cepat didepannya.
Aku menggeleng. Dion mencegatku,memegang lenganku dan menatapku lekat.
"Dek...Kamu marah??"
Dion bertanya masih dengan perasaan yang tak bersalah.
"Kamu masih tanya Aku marah?? Kamu gak sadar atau apa??,,Kamu udah buat Aku kesal,Kamu gak ngerti atau gimana sih yon??"
"Oh...masalah itu?? maaf ya..."
"Hah.....?? Cuma gitu doank?? Kamu keterlaluan Yon.."
"Keterlaluan gimana Dek??"
"Kamu mikir aja sendiri...lama- lama aku ngerasa kalo kita gak cocok. Kamu gak bisa masuk di Dunia aku,dan aku juga gak bisa nurutin dunia kamu!"
"Maksud kamu??"
"Aku capek gini terus...sekarang kita udahan aja..Aku gak bisa ngimbangin kamu yang terlalu monoton!"
Aku melepas cincin yang pernah disematkan Dion di jariku,meletakkan di telapak tangan Dion.
"Dek..jangan gini donk...Kamu emosi,,Kamu lagi marah..."
Aku meninggalkan Dion masuk dan menutup pintu.
Mama yang kaget mendengar pintu ditutup sedikit keras terbangun dan keluar kamar.
"Dina...kok sudah pulang,,loh..kok Kamu nangis?"
Mama yang kaget melihat aku menangis mendekatiku.
"Gak jadi ma..acaranya batal!"
"Dion mana??"
Mama menyibak gorden menatap kedepan rumah,melihat Dion yang masih berdiri di samping Motornya.
"Kalian ribut??"
"Udah selesai ma!"
Jawabku pelan.
__ADS_1
Mama menggeleng - geleng dan kembali berbalik masuk ke kamar.
Bersambung***