
Dengan perasaan kesal,geram dan penuh amarah,aku berlari ke kamar,tertelungkup dengan mata basah, tak lagi kupedulikan panggilan tak terjawab yang berkali- kali masuk ke ponselku, Dion terus menghubungiku, kuraih ponsel dan Aku memilih mematikannya.
Malam pergantian tahun yang kuharap menciptakan kenangan yang tak terlupakan ternyata hanya menyisakan sesak dan kekesalan.
Keesokan harinya,
Aku Pamit berangkat kerja dengan buru-buru, semua karena aku kesiangan.
Aku tak menjumpai Dion di halaman rumahku yang biasanya selalu standby menjemputku jika sedang tidak benturan dengan jadwal kerja malamnya, yang aku tau hari ini Dion masuk siang.
"Ah..baguslah Dia tak usah menjemputku..itu artinya Dia menerima keputusanku semalam untuk putus darinya"
Aku bergumam sendiri kemudian berjalan cepat menuju jalan besar untuk menunggu Bus. Beruntung tak perlu waktu lama Bus yang aku tunggu melintas, segera Aku naik, dan yang lebih menyenangkan hati, Bus tidak padat,masih banyak kursi kosong.
Hampir 30 menit di perjalanan,Aku sampai di tempat kerjaku, lagi-lagi aku berlari, sebab 10 menit lagi batas absen karyawan.
Tiitttt...
Alhamdulillah...Aku berhasil absen di 2 menit terakhir.
"Fiuuhh"
Aku menghela nafas dan menyeka keringat di dahiku. Segera Aku turun,,
Di lantai 2 kulihat Mansyur tengah merapikan Majalahnya.
"Mana yang lain?" Tanyaku ketika berada di belakangnya.
Tanpa menoleh Mansyur hanya mengangkat bahu,
Entahlah,sepertinya Anti sekali bagi Mansyur untuk menjawab sapa basa basi dariku.
Sungguh,Aku ingin sekali berdamai,Aku sudah lelah,dan ingin segera menyudahi permusuhan Aku dan Dia,Tapi sayangnya Mansyur sepertinya masih nyaman dengan keadaan seperti sekarang.
Aku mendekatinya berusaha mengambil hatinya,Tanganku meraih tumpukan majalah dan berusaha membantu untuk menyusunnya.
"Hey....taruh!!" Bentaknya menggelegar.
"Ehm...Maaf,,Aku cuma mau bantuin"
Balasku pelan.
"Gak usah...lagian tumben sok- sokan mau bantuin!"
Serunya.
"Loh...emang salah ya kalau aku mau bantu?"
Tanyaku.
"Salah besar!!!! Udah sana gak usah ganggu Aku"
jawabnya kasar.
Prakk!!!
Aku menaruh kembali Majalah ditanganku dengan kasar,sembari mendengus kesal.
"Heh....Apa-apan,main banting banting kayak gitu?"
Mansyur membalikan tubuh nya menghadapku yang kini sedang deg-degan.
"Hehe...Maaf,,lepas..gak sengaja"
Jawabku yang cengengesan menimbulkan kekesalan diwajah Mansyur.
"Gak sengaja....gak sengaja...sana...jauh- jauh dari Aku!"
Hardiknya mengusirku dengan telunjuk.
"Dasar kepala batu!!"
Gumamku lirih sembari berlalu.
"Hey...Aku mendengarnya!!"
__ADS_1
Teriak nya mengiringi langkahku.
Aku hanya memutar bola mataku malas.
Setengah hari berlalu,
Aku ingin segera beristirahat untuk makan, perutku yang keroncongan sudah tak sabar ingin diisi,semua karena Aku yang tak sempat sarapan pagi tadi.
Begitu sampai di ruang makan,tanpa basa basi Aku segera membuka makan siangku yang kubeli melalui jastip pada office boy kantor.
Aku segera melahapnya sampai- sampai tak menghiraukan lagi orang yang sedang berada di ruangan ini.
Hingga sebuah tangan jahil menarik poniku.
"Woy...awas ketelen sendok..wkwkkwk"
Indra menggodaku.
"Aw...kurang ajar ah..ganggu banget sih"
balasku sewot sembari merapikan poniku.
"Lagian....Makan kayak kesetanan!!
Sahutnya.
"Lapar Jon..gak sempat sarapan!"
Jawabku sambil menyendok kembali makan siangku.
Indra yang memperhatikan hanya tersenyum geli.
Selesai acara makan siang, Aku dan Indra berniat segera kembali kearea kerja, ketika melintas di depan gudang, langkah ku terhenti.
Mataku menangkap seseorang di dalam sana yang tengah tertunduk lesu.
Aku mencoba sedikit mendekati ambang pintu gudang,
"Din..ngapain??"
"Sstttt..."
Aku mengisyaratkan jari telunjukku di depan bibir,kemudian menunjuk kedalam.
Mata Indra mengikuti arah telunjukku.
Di dalam,nampak Mansyur tengah berdiri sedikit menunduk,terlihat di depannya Mas Jek, petugas gudang sedang berbicara dengan mimik wajah kesal,terlihat juga beberapa kali tangan nya menunjuk-nunjuk tumpukan barang di depannya.
"Udah Ah...yuk turun!"
Indra menarik lenganku.
Aku menurut.
"In..kenapa ya Si Kutu kupret??,kayaknya ada masalah deh!"
"Mana aku tau Din...tapi sumpah ini kocak tau gak,,"
Indra tersenyum lebar yang membuat tanganku sontak mengusap muka manisnya.
"woyyy,,apanya yang kocak..orang Dia diem gitu"
"Nahhh...itu dia Din kocak kan?? biasanya sok galak,sok jago,sok hebat,,lahhh tadi..cuma tertunduk pucat..wkwkwk"
Indra kembali tertawa.
Aku menarik nafas dan mulut berdecit,
Sementara Indra meninggalkanku yang mematung sesaat di ujung Tangga lantai tiga.
Aku masih termangu ketika seseorang menabrakku keras,
"Aw......"
Pekikku sembari terhuyung kedepan
__ADS_1
Segera Aku menyadari seseorang itu adalah Dia.
Dengan muka merah menyala penuh amarah,berjalan cepat menolehku sesaat dengan sorot mata tajam ganas seolah ingin memangsaku.
Didetik itu pula tubuhku bergidik ngeri,
Karena mendapatkan perlakuan yang tidak ramah darinya adalah hal biasa namun kali ini,tatapan itu sungguh sepuluh kali lebih mengerikan dari biasanya.
Aku menatap Indra dari sudut lantai tiga,yang ternyata menyaksikan yang barusan terjadi.
Bahunya mengangkat bersama kedua telapak tangannya,Aku menggeleng.
Segera aku turun dengan firasat yang tidak baik.
Setelah sampai di lantai dua,mataku berkeliling mencari keberadaan Mansyur,tak kujumpai di setiap sudut ruang.
"Cari siapa Din??"
Atik yang heran melihat tingkahku mendekatiku.
"Ehm..Mansyur kemana ya?"
Tanyaku yang masih celingak celingukan.
"Duh...kayaknya udah kebangun chemistry ya,,makanya gak terlihat sebentar kangen...hehheh"
Atik tersenyum simpul sembari melirikku nakal.
"Gak..bukan gitu..."
balasku cuek.
"Itu,,Dia di ruang info,hati-hati loh...mukanya lagi gak bersahabat"
Atik mengingatkanku dengan muka sok serius.
Aku berjalan pelan mendekati ruang info.
"Aarrgghhh !!!!"
Dari jarak satu meter,Aku mendengar suaranya berteriak kesal,beberapa kali pula terdengar suara benda-benda di banting paksa,setahuku,di dalam ruang info hanya ada tumpukan- tumpukan majalah dan tabloid yang biasanya ditumpuk untuk menunggu proses retur.
"Ada apa dengan nya,kenapa dia sampai membanting majalah?"
Pertanyaan itu kini bersarang di otakku.
Aku yang heran dan penasaran,perlahan mendekat,baru saja aku mendorong pintu,Dia menyadari kedatanganku.
"Ngapain kesini?!!
Bentaknya padaku.
"A...Ak..Akuu..."
"Pergiiii !!!!"
Hardiknya lagi.
Untuk pertama kalinya Aku melihat wajahnya merah padam,berkeringat dan penuh amarah dan kebencian.
Aku mundur dan berlalu.
Tapi anehnya,Aku tak kesal sedikitpun,malah merasakan rasa penasaran,dan ingin sekali rasanya aku mendekati dan bertanya tentang masalah yang terjadi padanya.
Sampai jam pulang,Aku tak melihat Mansyur keluar,Dia terlihat sibuk dengan setumpuk file yang dia baca berulang,entah apa yang ia cari.
"Can...Han...Aku pulang ya...."
Pamitku pada Candra dan Haniza.
"Iya hati-hati ya..."
Ujar mereka kompak.
Sebelum pulang,Aku menoleh ke Ruang Info,Dia belum keluar,mungkinkah Dia lembur?
__ADS_1
Bersambung**