Ketika Hati Bicara

Ketika Hati Bicara
Bab 61 Keluarga bertemu


__ADS_3

Waktu yang dinanti akhirnya tiba,


Awal bulan yang paling terberat menurutku, berat karna Aku harus bertarung dengan hatiku sendiri, meyakinkan diri bahwa takdir Tuhan adalah yang terbaik, hampir satu tahun lebih konflik batin menggerogoti ku dalam diam,


dan hari ini...gelisah itu masih ada, rasanya ingin menyerah saja,namun langkah ini sudah terlanjur jauh, rasanya ingin berlari namun separuh hatiku mengatakan harus bertahan..


Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diri menarik nafas dalam-dalam dan duduk di depan cermin,merapikan diri.


"Dina... sepertinya keluarga Dion sudah sampai,,buruan keluar!"


Mama sedikit berteriak dari balik pintu kamar yang kututup rapat.


"Iya Ma..."


Sahutku.


Terdengar suara salam,dan ramai sekali orang berbincang.


Aku melongokkan kepala dari balik pintu yang kubuka sedikit.


"Hufft..."


Kembali kuatur nafas ketika melihat memang benar Orang tua Dion dan beberapa kerabat dekatnya yang datang.


Aku keluar perlahan, satu-satu kusalami,


Tiba di depan Dion Aku menatapnya yang sedang tersenyum menyambutku.


Aku duduk di sebelah kedua orangtuaku.


Obrolan santai mengawali percakapan.


Aku dan Mama menyiapkan jamuan,makanan dan minuman telah tertata di meja.


Sampai akhirnya.


Ayah Dion membuka percakapan serius.


"Begini Bapak...Ibu, kedatangan kami kesini ingin menyampaikan hajat...Mungkin Dina sudah berbicara kepada Bapak dan Ibu tentang maksud kedatangan kami, yang berniat meminta Dina untuk Putra kami"


Mama dan Papa mengangguk sembari terus menatap ke arah Ayah Dion, untuk menanggapinya.


"Nah..kami berharap kedatangan kami untuk melamar ini diterima, Kami tidak membawa apa-apa, karna..malam ini,,kami cuma ingin meminta restu, jika Bapak dan Ibu serta Dina bersedia, baru akan kita rencanakan kembali kapan Acaranya."


Sambung Ayah Dion.


"Terimakasih Bapak Ibu,atas kunjungannya, Insya Allah, ini menjadi awal yang baik untuk kita semua, Kalau kami hanya sekedar merestui,semua kami kembalikan kepada Anak-anak kita, bagaimana Nak... kamu sudah siap, dan menerima?"


Papa bertanya sembari menoleh dan memegang tanganku. Aku menarik nafas panjang, dan memilih menyudahi drama hatiku, kemudian menangguk pelan.


"Alhamdulillah...."


Semua yang ada diruangan berseru lega, termasuk Dion terlihat mengusap wajahnya yang dari awal kedatangan terlihat tegang.


"Kalau sudah seperti ini, kita segera pastikan saja tanggal nya"


Celetuk Ibu Dion. Yang disambut tawa hangat Mama.


"Begini saja Bu, gimana kalau lamaran kita samakan saja dengan resepsi, biar menghemat waktu, selain itu juga bisa hemat biaya.."


Seloroh Papa yang memancing tawa seisi ruangan.

__ADS_1


"Maaf ya..Bapak ibu..kami cuma Mampu ngasih segitu, kita jadi ngerasa gak enak ini"


Sambung Ayah Dion.


"Haduh...Maaf..Maaf, bukan begitu maksud saya..tenang saja Bapak ibu,,kami tidak mempermasalahkan Uang lamaran ini, saya cuma ingin acara Anak kita lancar."


Jawab Papa sembari menerima pemberian Ayah Dion.


"Oh...baiklah kalau begitu,bagaimana jika acaranya bulan depan saja,bukankah lebih cepat lebih baik?"


Masukan dari Ibunya Dion.


Orang tuaku nampak berpikir sejenak kemudian terlihat berkompromi.


"Ehm..Apakah tidak terlalu cepat Bu??Sementara kita masih perlu meyiapkan segalanya."


Jawab Mama.


"Bagaimana kalau minggu kedua di akhir Tahun?berarti kita masih punya waktu lebih-kurang Dua setengah bulan lagi?"


Hening sesaat,sebelum akhirnya..


"Ya sudah,,kami setuju"


Pungkas orang tua Dion.


Seisi ruangan kembali berucap Alhamdulillah.


Acara dilanjutkan dengan mencicipi jamuan yang kami hidangkan, setelah hampir satu jam dengan obrolan serius, kini obrolan-obrolan santai pendekatan dua keluarga berlangsung.


Sebelum akhirnya,


Pamit Orang tua Dion.


"Oh...iya..iya..Bapak Ibu,ini mau langsung pulang atau kemana?"


Tanya Mama.


"Ini sudah malam,kami pulang kerumah saudara,besok pagi baru pulang ke Desa."


"Oh..begitu..hati-hati ya Bapak ibu...salam untuk keluarga disana"


"Iya makasih Bu.."


Setelah kedua Orangtua Dion mulai melangkah meninggalkan pintu rumahku, disusul keluarga yang lainnya,


Dion mendekatiku, meraih kedua tanganku,


"Dek... Makasih ya..kamu sudah yakin menerimaku,,"


Aku mengangguk pelan mengantar Dion dan keluarganya keluar pagar, hingga menghilang dari pandanganku.


Semalaman hatiku berkecamuk, mataku enggan terpejam, entah apa yang akan terjadi kedepan, semua sudah terlanjur jauh...tak mungkin Aku mundur lagi, yang bisa aku lakukan saat ini hanya mencoba pelan- pelan memahami,berdamai dengan takdir dan yakin bahwa takdir tuhan itu yang terbaik.


Libur Lebaran berakhir sudah,


Hari ini kembali sibuk dengan rutinitas harian,dan kembali masuk kerja. Gosip tentang pernikahanku ternyata tersebar di tempatku bekerja, entah siapa yang memulai, namun aku yakin semua ini ulah sahabatku Trio somplak.


Satu persatu teman mulai menanyakan tanggal tepatnya resepsiku, yang hanya kujawab dengan kalimat yang sama setiap kali ada yang bertanya, "Tunggu saja undangan nya,semua pasti akan Aku undang "


Pulang kerja,Aku dan Dion berencana pergi ke tempat cetak undangan,

__ADS_1


Kulirik jam tanganku, 5 menit lagi waktu pulang, Aku memilih naik absen lebih dulu. Sesampai diatas, segera kucari ponselku, kemudian mengetik kan pesan.


"Dion, Aku sudah pulang,Kamu dimana?"


Tak sampai 1menit balasan kuterima,


"Aku udah didepan Dek..."


Aku tersenyum dan segera berlari turun,


ketika sedang menuruni tangga Aku berpapasan dengan Mansyur,


"Tumben TENGGO??,"


Tanyanya.


"Hah...TENGGO??"


Tanyaku bingung menghentikan langkahku menghadapnya.


"Iya..TENGGO,,, TENG LANGSUNG GO!! hehheh"


Jawabnya mengulas senyum.


"Owhh....Kamu bisa aja, iya aku mau pergi soalnya..ya udah duluan ya...."


Aku melambai tangan, tersenyum dan kembali melangkah turun.


Keluar dari pintu karyawan, Mataku bekeliling mencari Dion.


Dari arah parkir, terlihat Dion melambai dengan senyum khasnya.


Aku membalas lambaian dan segera menghampirinya.


"Langsung??"


Tanya Dion memberiku Helm.


Aku mengangguk dan kamipun melaju.


Hampir 30 menit memilih desain undangan pilihan kami jatuh pada sebuah undangan berwarna krem, berhias bunga edelwais yang dipadu dengan tinta emas, serta ukiran daun hijau muda, warna soft dan teduh lebih mendominan undangan tersebut,sehingga tampak manis dengan pita coklat muda.


Setelah urusan undangan selesai, rasa lelah membuat kami memutuskan untuk berhenti mampir sebentar di warung bakso, memesan 2 mangkok bakso dan 2 gelas es jeruk cukup mengobati rasa penat dan mengusir rasa kering pada kerongkongan kami berdua.


"Dek, ehm..undangan sudah selesai... Akhir bulan kita cari barang buat hantaran ya, sama sekalian souvenir.."


Aku mengangguk.


"Dek..Makasih ya untuk semua nya..Aku gak pernah nyangka kita akan sampai pada tahap ini, tinggal sedikit lagi..kita akan jadi sepasang suami istri, makasih"


" Ya..Aku juga makasih untuk semua proses yang kamu lewati, atas semua kegigihan kamu terus berjuang meyakinkan Aku sampai di detik ini meski kamu tau... bahwa Aku masih belum yakin atas hatiku."


Dion memegang tanganku,bibirnya mengulas senyum hangat...


"Udah yuk...kita pulang sekarang,"


Ajak Dion.


Kami beranjak dan melaju untuk pulang.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2