
Malam ini Aku tak bisa tidur,memikirkan yang tengah terjadi,rasa bersalah terus-terusan menghantuiku sepanjang hari ini.
Aku tak bisa seperti ini, Aku beranjak dan meraih ponsel yang tergeletak di meja.
Aku berniat menelpon Mansyur untuk meminta maaf, Aku punya nomor telponnya dari meja informasi waktu Aku baru saja masuk kerja, semua nomor telepon teman-teman sengaja Aku catat dan kusimpan diponselku.
Aku menekan tombol panggilan,
Dua kali nada sambung terdengar, jantungku berdegup tak beraturan ketika diseberang sana menerima panggilanku.
"Halo!!..Halo!...Siapa ini?...Halo...Hei..Halo!!!"
Tut...
Lidahku kelu, tubuhku kaku, telapak tanganku basah, jantungku berdebar sangat kencang, Aku nyaris pingsan,sebelum akhirnya Aku memilih mematikan panggilan.
Setelah panggilan mati, Aku membanting pelan ponselku di atas tempat tidur, Mataku mengerjap-ngerjap, sembari mengambil nafas panjang lalu menghembusnya kasar.
"Hah....Kenapa denganku?? perasaan apakah yang barusan ini?"
Tanyaku sendiri sembari memegangi dadaku yang seolah tak berhenti bergetar.
Driiiingg....Driiingggg....!!!
Pandanganku beralih pada ponselku yang tergolek tak berdaya di atas tempat tidur, Aku mendekati dan melirik nama si pemanggil.
Aku terperanjat, mataku membulat lebar ketika tahu, Mansyur menelponku balik.
"Hah.....Dia nelpon balik...Aduhhh...Gimana ya..., kalo gak diangkat,nanti terus- terusan nelpon."
Ujarku cemas.
"Ya..Halo...."
Jawabku dengan suara yang dibuat seaneh mungkin, berharap Dia tak mengenali suaraku.
"Ini siapa ya??"
Tanyanya ketus.
"Iiihhh..ini orang, gak langsung, gak di telepon..Ketus mulu...Udah mendarah daging kayaknya"
gerutuku dalam hati.
"Halooo ..heiii...!!!"
Sapanya lagi,kali ini lebih keras.
"Eh...iya..iya,, maaf tadi salah sambung..."
Ujarku asal.
"Ah...buang-buang waktu!!"
Ocehnya sebelum memutus panggilan.
"Idihh,,belagu banget sih lu...Kutu Kupret!!"
Umpatku kesal.
Keesokan harinya,
"Tumben sekarang berangkatnya pagi terus Din?"
Tanya Mama heran.
"Iya Ma...soalnya kan naik Bus."
"Ehm...oh ya,Mama boleh tanya ya?"
Ucapan Mama rerdengar sangat hati-hati.
"Tanya apa Ma?"
"Semenjak malam tahun baru itu,, kok Dion gak pernah kesini lagi, bahkan....Gak pernah jemput kamu lagi?"
Pertanyaan Mama barusan membuat Aku seperti sedang di introgasi.
"Udah selesai kok Ma"
Jawabku singkat.
"Selesai???maksudnya??"
Mama yang tadinya berdiri, kini mendekatiku sembari menarik kursi dan duduk di sampingku.
Aku mengangguk "Kita udah putus Ma"
"Loh ..kok bisa?? kenapa?? padahal Mama berharap kelak Dia yang menjadi pendamping Kamu"
"Ya..mungkin belum jodoh Ma"
Jawabku tenang.
"Din...emosi boleh,, tapi jangan sampe ngalahin logika,,pikiran harus tetap jernih"
"Ma..intinya,,Dina gak bisa ikut cara hidupnya Dion, dan Dion juga sepertinya susah masuk di cara dan gaya hidup Dina Ma"
"Maksudnya masuk gimana sih??Semua bisa di omongin Din"
__ADS_1
"Pokoknya,kita berdua berbeda ma...gak nyambung,,beda pemikiran,beda jalan,beda pergaulan..ya gitu deh pokoknya. Udah ya Ma..Dina berangkat."
Aku meninggalkan Mama yang sepertinya madih banyak yang ingin dikatakan.
Namun setibanya di depan pintu,
Mataku terpaku pada seseorang yang tengah duduk diatas sepeda motor tua.
"Dion"
Ujarku lirih.
Dengan bersikap biasa, Aku berjalan menghampirinya.
"Ngapain disini?"
Tanyaku ketus.
"Hai...selamat pagi,,,,Ehm...Aku kesini mau jemput, lupain kejadian malam itu ya...!"
"Ehmm...kok bisa ya..Dia sedatar itu?"
Tanyaku dalam hati.
"Iya..Aku memang sudah ngelupain, ya udah permisi Aku mau lewat"
Aku berusaha tetap santai.
"Ya udah,,Aku antar ya!"
Dion menyalakan Motornya.
"Gak usah,Aku naik Bus"
"Ayolah...Jangan seperti ini.."
"Dion !! Kita sudah putus.."
Bentakku.
"Tapi Aku gak mau kita putus !!"
Dion memegang erat lenganku,ketika Aku hendak melangkah meninggalkannya.
"Udahlah Dion, Kita berdua ini gak cocok, gak nyambung, terlalu banyak perbedaan, dan Kamu gak bisa memahami Aku!"
"Aku akan belajar! please...kasih Aku waktu!"
Aku melepaskan tangan dion dari lenganku, kemudian berjalan cepat meninggalkannya.
Dion mengejarku dengan motornya dan memaksaku naik.
Aku terpaksa menuruti kemauan Dion.
Sesampainya ditempat kerjaku.
Aku turun, tanpa pamit berjalan cepat meninggalkannya.
Tekatku sudah bulat,untuk putus dari Dion.
Setengah berlari Aku segera menuju loker serta Absen, sekilas Aku melihat Mansyur baru saja turun ke bawah.
Aku bergegas menyusul nya.
Tiba di lantai 2, suasana masih sepi belum ada yang datang mengingat ini memang masih terlalu pagi.
Aku tak melihat Mansyur di wilayahnya, hanya seonggok kardus besar disudut beserta kertas dan pulpen yang berserak.
Beberapa menit kemudian, ia menarik barang- barang tersebut ke dalam ruang informasi.
Antara ragu dan mau, Aku akhirnya menyeret langkahku untuk menemuinya diruang info.
Langkah ku terhenti sejenak, menarik nafas dan berusaha setenang mungkin.
Berdiri diambang pintu, Aku menatapnya duduk dilantai dengan kaki bersila dengan setumpuk majalah dan tabloid yang telah habis masa.
Tangannya sibuk menuliskan data pada nota di depannya.
Aku melangkah pelan dan berjongkok di depannya.
Tanpa menatapku.
"Mau apa??"
Tanyanya ketus.
Glek !!
Aku menelan ludah.
bibirku mengatup rapat,udara berubah hangat yang membuatku tiba-tiba merasa gerah.
"Jangan ganggu Aku, Aku sedang sibuk!! "
hardiknya lagi.
"A-Aku....."
Aku tak melanjutkan kalimatku, tangan ku mengulur tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
Mendapati sikap anehku, Dia menghentikan kegiatannya,mengalihkan pandangannya yang sedari tadi terfokus pada barang-barang di depannya ke arahku.
Tatapan heran yang jelas sekali ku tangkap dari mukanya.
Sejenak saling diam.
"Maaf"
Hanya kata itu yang meluncur dari bibirku.
Aku menunduk menunggu respon baik seorang pria jutek didepanku.
"Kenapa?"
Jawabnya singkat bahkan tak menyambut uluran tanganku.
"Ehm...Aku tau Aku salah.. Maafin Aku ya"
Ulangku mengucap Maaf.
"Gak perlu!!"
Lagi-lagi Dia tak mengubris uluran tanganku yang dengan terpaksa Aku tarik lagi perlahan.
"Maaf Kalo Aku mengganggu!"
Aku berdiri,sambil mendengus kesal menghentakkan kakiku dan berbalik meninggalkannya.
Di luar ruang info,
"Dasar kepala batu! Mr.Jutek!! Kutu kupret!! Sombong !!! ihhhh...begok banget sih Aku bisa-bisanya mau minta maaf sama orang kayak Dia!!"
Aku terus mengumpat sendiri.
"Uuhhh...kesalnyaaa!!!!!!"
Aku memukul-mukul buku di depanku geram.
"Woi...ngapain??"
Aku tersentak kaget ketika suara itu tiba-tiba terdengar sangat dekat di belakang telingaku.
Aku menoleh perlahan dan jeng...jeng...!
Dia si Kepala batu yang sudah berada tepat dibelakangku yang entah kapan Dia datang.
"Ohh marahin Buku? Kenapa??"
Sindirnya dengan tawa miring.
Seketika gugup dan salah tingkah menjadikanku laksana orang bodoh yang sedang ditertawakan.
"Aku sibuk! udah sana !!! Jangan ganggu Aku"
Seruku memalingkan tubuhku kembali.
"Yakin??"
Mendengar pertanyaan singkat itu Aku hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh.
Namun suasana berubah ketika,sebuah tangan mencekal bahuku,memaksa Aku berbalik arah.
Aku terperangah, ketika kini wajahnya dan wajahku berhadapan dengan jarak tak kurang dari satu kilan.
"Aku mau Kamu mengulang ucapanmu di dalam tadi"
Sambil menatap lekat mataku meski tetap tak ada senyum ramah.
"Maksudnya??"
Tanyaku bingung.
"Ya...Aku mau kamu mengulanginya"
"Ya tuhan... Rasa apa ini? kenapa jantungku seperti mau lepas"
batinku.
"Aku minta Maaf ya,, Aku tau Aku salah"
Aku kembali mengulang maafku seperti yang Dia minta sembari mengulurkan tangan.
"Ya..Aku maafin,,Aku juga minta maaf tadi cuekin kamu"
Dia menyambut tanganku,hangat dan nyaman.
Tersungging senyum dibibirnya, untuk pertama kali dari sejak pertama bertemu.
"Ahhh..Manisnya...."
Gumamku dalam hati.
"Udah.. Natapnya jangan lama-lama....Ntar jatuh hati,,Aku tau aku tampan"
Mansyur melambaikan tangan di depan mukaku. Ledekannya menyadarkanku dari pesona seorang Kepala batu.
"Iihh.. Apaan sih..ge-er!!!"
Aku mendorong bahunya sembari melangkah menjauh darinya.
__ADS_1
Bersambung**