Ketika Hati Bicara

Ketika Hati Bicara
Bab 48 Cincin


__ADS_3

Aku dan Indra menuju lantai atas untuk makan siang.


"Din..kamu udah tau,kenapa Mansyur sering jutek sama kamu?"


Aku menggeleng.


"Entahlah...yang jelas,dari awal masuk Dia udah sinis banget sama Aku"


"Ehmm...Apa jangan-jangan Dia naksir kamu"


Indra mencoba menerka.


Aku terbelalak,


"Ya gak mungkinlah..Joniiii...!!"


Seruku.


"Loh..kenapa?"


"Ahh..Pokoknya gak mungkin??"


Tolakku.


"Ehmm...Kamu udah punya pacar??"


Deg!!


Aku tersentak mendapat pertanyaan seperti itu dari temanku yang selalu tak pernah serius ini.


Seketika Aku bingung untuk menjawab apa,,


"DION"


Tiba- tiba bayangannya melintas,Sampai detik ini,,perasaan cinta itu masih samar- samar, Aku belum yakin untuk mengucap lantang bahwa Aku mencintainya.


Disatu sisi,Aku nyaman berada di dekatnya,dan disisi lain Aku juga masih ingin mencari seseorang yang mampu membuat hatiku yakin,sebab Dion sampai detik ini belum mampu mengambil seluruh isi hatiku.


"Woy..Jonaaa...ya elahhh,,ditanya malah bengong!!"


"Eh..apa..apa...maaf"


Ujarku gugup.


"Pacar......udah punya pacar???"


"Oh...itu..ehmm...anu,,hehhe...udah..udah"


Aku semakin kikuk.


"Woyy....ngomongin apa kalian??"


Suara besar itu mengagetkan kami,


Candra dan Rio datang kemudian duduk di samping kami.


"Ini si Jona di taksir sama Si Anu..wkwkkw"


Indra meledek ku di depan candra dan Rio.


"Si Anu siapa???"


Tanya Rio penasaran.


"Ihh..Apaan sih In,,ngegosip mulu ih..kayak mak-mak!"


Aku mencubit bahu Indra.


"Aw...Aw...Aw....Sakittt Jonaaaa!!!"


Teriaknya kencang.


"Hahhaha...Si Anu...abang Tampan lantai 2 ya??"Kini giliran Candra yang meledek.


"Ohhh...Si Anu....wkkwkw,,..judulnya dari benci jadi cinta ya??"


Rio yang terkenal serius,kini ikut-ikutan meledek"


"Ehh...ini lagi dua bocah....ikut-ikutan!!"


Aku memukul lengan mereka dengan tutup bekal yang ada di depanku.


"Dasarr...Joni,,tarjokk sama paijok!!"


Kami tergelak siang itu.


"Yuk ah..turun...ntar kelamaan makin jutek Dia sama Aku"


Ajakku pada Indra.


"Kami turun duluan ya...."


"Oke...!"


Di tangga turun,


"Din..pacar kamu siapa?kapan-kapan kenalin donk...Siapa tau bisa akrab..."

__ADS_1


Ujar Indra sembari melangkah turun.


"Iya..ntar aku kenalin.."


"Nah...gimana kalau Malam tahun baru kita buat acara,,kamu datang bareng pacar kamu ya..."


"Hadehhh...Joni...Joni....masih lama!!"


"Hahhah...kan wacana,boleh donk"


"Hem...dasar!!"


Indra melangkah meninggalkanku ketika tiba di lantai tiga.


Begitu sampai di lantai 2, terlihat kondisi Toko yang sedang ramai,Haniza dan Atik masing-masing sedang berhadapan dengan customer, meja informasi ramai antrian untuk bertanya,tak hanya itu,antrian di kasirpun terlihat memanjang zigzag.


Segera aku menyatu dengan kerumunan,membantu yang bisa aku bantu.


Namun Aku tersentak begitu berbaur di tengah keramaian,


"Kemana aja sih..??"


Hardik seseorang yang selalu membuatku tak nyaman.


"Ya makan lah...kemana lagi,,masak shoping?!"


Jawabku sewot.


"Makan udah kayak putri solo...Lamaaaa!!!!"


Sambungnya jutek.


Aku yang mulai geram melirik jam tanganku.


"Apa-apaan sih...cuma 30 menit dibilang lama"


gerutuku dalam hati.


"Mana ada lama!! cuma setengah jam!"


Jawabku setengah berbisik namun tetap dengn nada geram.


"Diam !! Jawab aja kalo orang ngomong!"


Balasnya lagi.


"Lah..emang bener kok!"


"Udah...berisik!!"


Mansyur mendekatkan mukanya kemudian berlalu.


Makiku dalam hati.


Aku menoleh nya,Mansyur terlihat Naik ke lantai atas,sepertinya Dia akan istirahat makan.


"Kalian berdua ini...selalu saja berdebat,,ribut cekcok..gak capek ya?padahal udah dibikin barengan terus,,ehmmm bukannya akur malah makin jadi"


Erwin mengomel di belakangku,entah kapan ia mendekatiku,tiba- tiba sudah berdiri di belakang.


"Ehm.....entahlah"


Jawabku.


***


waktu yang selalu kurindukan akhirnya tiba,tepat jam 4 sore,adalah jam pulang,,dengan semangat aku mempercepat kerjaku,setelah semua beres,aku bergegas naik untuk mengambil Tasku di loker dan tak lupa absen pulang.


Begitu menuruni 2 Anak tangga,tiba- tiba aku mengingat sesuatu, langkahku terhenti dan berbalik naik ke atas,menuju ke toilet,Aku berniat merapikan penampilanku,men touch up kembali mukaku dengan sapuan bedak,menyisir rambut yang terlihat berantakan,serta menyemprotkan kembali parfum ke seluruh bagian tubuhku.


Aku tau,Dion menungguku Di parkiran,hari ini Aku dan Dion janji untuk menghabiskan waktu bersama.


Aku menatap cermin wastafel,memastikan penampilanku.


Tiba di parkiran,


Aku menghampiri Dion yang ternyata memang sudah menungguku.


"Sudah lama?"


Tanyaku sembari mendekat.


"Gak kok,baru"


Jawab Dion.


"Kita mau kemana?"


Tanyaku ketika menerima helm dari tangan Dion.


"Aku mau ajak kamu nonton,mau?"


Dion bertanya balik.


"Terserah"


Singkatku.

__ADS_1


Motor melaju,tak ada percakapan apa-apa lagi setelah itu,selain kondisi jalan yang ramai,aku juga sedang malas untuk berteriak- teriak.


Setibanya di depan bioskop,


"Mau nonton apa Dek?"


Tanya Dion sembari melihat gambar-gambar judul film yang kan di putar.


"Terserah kamu aja,aku ngikut"


Jawabanku,menghentikan langkah Dion dan berbalik menatapku.


"Dari tadi terserah mulu deh jawabannya??"


"Trus...aku mesti jawab apa?"


Aku balik bertanya.


"Yaaa..jawab apa kek,,yang penting jangan terserah,,gak enak dengernya"


Dion terlihat kesal.


Sementara aku hanya Diam.


"Ya udah,,kalau kamu gak suka kita pulang!"


Dion mengajak ku pulang.


"Oke!"


Batal menonton tak membuatku kecewa.


sepanjang perjalanan kami tak saling bicara, diam dan membisu, hingga di tengah perjalanan Dion menghentikan motornya.


"Kamu kenapa Dek?"


tanya nya.


"Entahlah..Aku sendiri tak paham"


Jawabku pelan.


"Kamu masih memikirkan Dia?"


Pertanyaan Dion mengagetkanku.


"Dia??..Dia siapa?"


Tanyaku.


"Dia yang hadir sebelum Aku?"


Aku tak menyangka,Dion akan berpikir ke sana.


Aku menatap Dion lekat- lekat.


Dion,aku akui Dia orang yang baik,lembut dan pengalah..tetapi entah mengapa Aku merasa hambar,bosan,tak berwarna.


Tak ada greget, tak ada tantangan, tak ada kejutan,tak ada keromantisan sama sekali,beda seperti ketika Aku saat masih bersama Ari dulu,meski Aku cuek..Ari selalu bersikap romantis,kejutan-kejutan kecil,rindu,amarah semua itu membuat hubungan menjadi berwarna,tidak seperti sekarang,kaku dan monoton.


Belum lagi penampilan nya yang jauh dari kata modern,sungguh berbanding terbalik dengan Ari dan teman-teman laki-lakiku yang lain.


"Dek...Kamu kenapa?"


Sapaan Dion memecah lamunanku.


Aku menggeleng.


Dion mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


"Dek...ini buat kamu,,Aku baru ada segitu..kamu pakai ya..mudah-mudahan secepatnya Aku bisa lamar kamu"


Penuturan yang sempat membuatku terbelalak.


"Apa ini??"


Tanyaku membuka bungkusan kertas dari tangan Dion.


"Buka aja"


"Cincin??"


Ujarku kaget.


"Ya...secepatnya aku akan lamar kamu"


"Maaf,,Aku gak bisa terima"


Aku menolak dan memberikan kembali pada Dion.


"Ayolah Dek,,kamu terima ya,,aku tulus,,aku faham untuk saat ini,kamu belum bisa terima aku sepenuh hati,,tapi aku yakin..kamu adalah jodoh Aku"


Entah kenapa ada iba dihatiku melihat ketulusan Dion.


Dengan berat hati aku menerima cincin tersebut.


Dion memakaikan nya di jari ku.

__ADS_1


Bersambung**


__ADS_2