
Sesampainya ditempat kerja,
Merapikan penampilan adalah hal pertama yang Aku lakukan, meyakinkan bahwa tak ada lagi sisa air mata, serta menyapukan kembali bedak pada wajah selepas menangis adalah pilihan.
"Widiiihhh... Calon Manten... Jadi makin sering ngaca ya sekarang??"
Ledek Candra menyenggol bahuku.
"Hahha... Apaan sih lu Tarjok!"
Kemudian berjalan berdampingan dengan Candra naik untuk absen.
Di lantai 3.
"Swiiwiiitttt... Hai cewek,,noleh donk.... Ada Abang tampan disini...!"
Seru Indra dari kejauhan.
"Ups.... Sorry lupa..udah soul oud ya..hahaha..."
Sambungnya, diikuti tawa Rio dan Candra.
Membuat Aku mau tak mau ikut tertawa.
Mereka bertiga memang sahabat terbaik, selalu saja ada dan membuat tertawa meski dengan cara yang kadang sedikit gila.
"Hey...sini kalian!!!"
Panggilku dari ujung tangga.
Aku mengeluarkan undangan dan mulai membagikan satu-satu.
"Wahhh....Asliii....positif jadi nich..."
Celetuk Candra.
"Apaan??"
Tanyaku bingung.
"Ada deh...."
Aku mengetuk kepala Candra dengan undangan kemudian berlalu naik ke lantai 4 untuk Absen.
Setelah Absen Aku mulai berkeliling di Lantai empat, mulai dari Office, Data entry, Gudang, hingga kantin untuk menyebar undangan.
Lanjut turun mulai dari lantai tiga, rekan- rekanku di lantai 2, Counter titipan, keamanan hingga Cleaning servis semua Aku undang.
Beragam komentar dan ledekan Aku terima, mulai dari ledekan halus hingga yang absurd, semua Aku tanggapi dengan senyum.
Setelah selesai membagi undangan, Aku kembali ke lantai 2 dan beraktifitas seperti biasa, terselip Doa agar kelak acaraku berlangsung lancar.
"Hey...Makasih undangannya..."
Aku menoleh asal suara,
Mansyur mengulas senyum.
Sungguh hatiku berdebar, dan segera mengalihkan pandanganku kembali fokus pada buku yang sedang kutata.
"Sama-sama... Datang ya.."
Jawabku.
"Iya... Pasti!! Pasti Aku akan datang!"
Balas Mansyur mantap.
"Ehm... Kamu pasti sekarang sedang bahagia banget ya....?"
Aku kembali menoleh, menatapnya bingung, tentang maksud ucapannya barusan, lalu mengangguk tersenyum.
"Sekali lagi selamat ya... Aku ikut bahagia"
"Makasih ya..."
Jawabku.
***
__ADS_1
Hari bahagia itu sebentar lagi tiba, Aku menyilang tanggal pada kalender kecil diatas mejaku,
Ya...Dua hari lagi sebuah janji sakral akan diucap, Dimana Aku akan mengakhiri masa-masa sendiri menutup segala cerita remaja menuju dunia baru.
Entah Aku harus senang, atau sedih karna harus meninggalkan semua cerita-cerita yang membawaku sampai ke titik ini.
Aku ingin sekali menikmati hari-hari terakhirku sebelum Aku menyandang gelar seorang Istri.
Aku bergegas merapikan Diri, dan keluar dari kamar.
Diluar nampak ramai sanak keluarga yang sibuk menyiapkan Acara, mulai dari membuat kue, menyusun barang- barang hingga mendekorasi ruangan.
"Nahhh...ini Dia calon pengantin, udah rapi mau kemana??"
Tanya salah satu kerabat dari keluarga Mama.
"Ehmm... Mau keluar sebentar,, Ehm...Ma...Dina keluar dulu ya"
Jawabku sembari pamit pada Mama.
"Loh..loh... Gak boleh sayang!!... Pamali...calon pengantin itu harus diam-diam dirumah, jangan kemana-mana!"
Jawab Tanteku Adiknya Mama.
"Benar Din, gak usah ya... Mama takut terjadi Apa-apa!"
Mama merangkul pundakku dan menggiringku kembali masuk kamar.
Aku tak bisa berbuat apa-apa.
"Ibu... Kita mau pasang dekor kamar pengantin, yang mana kamarnya?!"
Tanya seorang petugas wedding organizer yang mengurus dekor pernikahanku.
"Oh..Yang ini kamarnya Mbak... Silahkan,, Din..mama keluar dulu ya..."
Mama meninggalkanku dan Mbak WO yang mulai mengeluarkan barang-barang dari dalam box container miliknya.
Akupun kemudian menyusul keluar, memilih duduk di belakang rumah, mencoba mengingat dan menikmati semua kenangan yang pernah Aku alami sampai detik ini. Mulai dari Masa SMP, SMA, melewati fase sulit dan berurai air mata ketika harus jauh dari orang tua menanggung beban rindu ketika menjadi ANAK RANTAU, pedih ketika patah hati dan ditinggal cinta pertama, bertemu kembali dengan Dion, memutuskan untuk berpacaran meski tak punya rasa apa-apa, bertemu sahabat yang kocak mereka Si Trio Abal- abal, setengah mati mencari cara untuk lepas dari Dion, munculnya kembali sang mantan cinta pertama, kehilangan cinta pertama untuk selamanya dan Kini dua hari lagi... Aku akan menikah dengan Takdir yang dipilih Tuhan untukku..dan inilah yang terbaik.
Aku tersenyum sendiri, memandang cincin di jari manisku.
Aku menengadahkan mukaku menatap langit..
Aku tak pernah menyangka kamu akan pergi secepat ini, semua sudah suratan, dan mungkin ini jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk Ku, agar Aku bisa memantapkan hatiku hanya untuk Dion..
Semoga kamu tenang disana, terimakasih pernah hadir dihidupku... Menjadi bagian dalam cerita masa remajaku, menjadi orang yang pertama mengenalkan Aku pada indahnya jatuh cinta, perih nya rindu dan sakitnya patah hati.
Aku takkan melupakanmu, bahkan mungkin akan selalu mengingatmu...walau hanya sebatas kenangan..
Tak terasa airmataku mengalir, perlahan ku usap, kusunggingkan senyum termanis.
Hari bahagia itu tiba.
Selepas subuh, Aku sudah duduk manis di sebuah kursi menghadap cermin.
Perias pengantin mulai menata Alat make up nya mencari warna yang pas untuk kulit dan menyesuaikan dengan gaun pengantin yang akan Aku pakai.
"Dina... Makan dulu ya Nak, mumpung belum di rias, nanti gak sempat makan"
Mama datang membawa sepiring nasi dan mulai menyuapiku.
"Ma... Sini biar Dina makan sendiri ya..."
"Jangan sayang, biar Mama suapin ya... Hari ini kamu bakal jadi seorang Istri, dan Mama ingin menyuapi kamu makan untuk yang terakhir kali sebelum status itu kamu sandang.
Aku terharu mendengar ucapan Mama, segera kupeluk Mama erat dan menangis didalam pelukannya.
Hampir 2 Jam Aku di rias, terdengar suara ramai diluar,
Mama yang sudah lebih dulu siap pergi untuk melihat, dan kembali tak lama setelah itu.
"Din..keluarga Dion sudah tiba Mama tinggal keluar ya...Aww....Aduuhh !!!"
Teriakan Mama membuat Aku terhenyak dan spontan menoleh.
"Kenapa Ma....??!"
Tanyaku cemas.
__ADS_1
"Kaki Mama mendadak ngilu..mungkin Asam urat Mama kambuh"
Jawab Mama yang kembali duduk sembari memijat kakinya sendiri.
Akhirnya dengan dibantu kerabat, Mama bisa keluar menemui pihak Besan.
"Pengantin perempuannya ditunggu diluar, Akad nikah akan segera dimulai. "
Terdengar suara penghulu memanggil,
Fitria sepupuku menjemput, ia menggandeng tanganku, Kami melangkah perlahan menuju ruangan Akad, yang telah ramai tamu yang ingin menyaksikan acara akad nikah.
Dion menoleh kearahku, wajahnya cerah terpancar kebahagiaan nyata, walau tak bisa di pungkiri raut ketegangan terukir jelas.
Aku tersenyum kearahnya memberi semangat, Dion mengangguk.
Lafaz Ijab diucapkan sempurna oleh Dion dengan Papa sebagai wali nikah, ketegangan sangat terasa sampai ketika penghulu mengucap kata SAH dan dijawab serentak oleh seisi ruangan dengan kata yang sama SAH!
"ALHAMDULILLAH....."
Seru siisi ruangan sembari memanjatkan Doa-doa terbaik untuk kami berdua.
Suasana tegang seketika berubah haru, ketika sungkeman dilaksanakan, kalimat dan nasehat yang keluar dari Orang tuaku dan Orang tua Dion terasa sangat menyentuh hati, tangisku pecah, mengharu biru, pelukan hangat Mama menambah suasana haru, air mataku semakin deras, ketika Papa memelukku,
"Tugas Papa selesai Nak... Papa sudah mengantarkan Dina ke gerbang pernikahan, tanggung jawab Papa untuk menjaga Dina, kini Papa serahkan pada Dion.. Jaga Dina baik-baik ya Yon... Bahagiakan Dia...Jangan sakiti hatinya."
Dion mengangguk dan memeluk Papa, setitik air bening menggenang di pelupuk mata Papa.
Acara Akad selesai yang akan dilanjutkan dengan resepsi, Aku kembali masuk ke kamar untuk merapikan dandanan yang sedikit berantakan oleh air mata, disamping itu juga Aku harus berganti pakaian.
Setengah jam berlalu,
Aku dan Dion kembali keluar kali ini untuk duduk bersanding di atas pelaminan, nuansa serba hijau mendominasi acara resepsiku.
Dari atas panggung pelaminan, Aku bisa melihat seluruh tamu yang datang.
Termasuk memandang jelas semua rekan-rekan kerjaku.
Satu persatu Aku kenali wajah mereka mulai dari Andika ,sherly, Rini, haniza, Atik, Erwin, Trio Abal-abal yang tak berhenti cengengesan entah apa yang mereka ceritakan hingga membuat mereka tak henti tertawa geli. Dan Satu lagi mansyur pun turut Hadir namun Ia hanya menunduk saja, entah apa yang sedang ia pikirkan.
Satu persatu susunan acara dilalui dengan lancar.
Sampailah pada acara Makan bersama, seluruh Tamu satu persatu mulai menuju meja makan untuk menyantap jamuan di iringi hiburan.
Aku terhenyak ketika Mansyur berdiri dan berjalan menghampiri panggung,
Tepuk tangan dari arah tempat dimana seluruh rekan kerjaku duduk, mengantarkan Mansyur pada panggung hiburan.
Dengan penuh percaya diri ia berdiri menghadap tamu undangan membawakan sebuah lagu, dan tepuk tangan semakin ramai ketika intro lagu mulai dimainkan.
Sebuah lagu dari Band Kerispatih ia nyanyikan.
Kuakui aku memang cemburu
Setiap kali kudengar namanya kau sebut
Tapi ku tak pernah bisa
Melakukan apa yang seharusnya kulakukan
Karena memang kau bukan milikku
Kuakui aku merindukanmu
Meski ternyata tak pernah kau merindukanku
Tapi ku tak pernah bisa
Melakukan apa yang seharusnya kuinginkan
Karena memang kau bukan milikku
Entah kenapa, mendengar lagu itu, Aku merasa yang dimaksudnya adalah Aku.
Aku tak tahu, apakah ini hanya perasaanku yang terlalu ge-er ataukah memang sebenarnya lagu itu dibawakan untuk mengutarakan kejujuran hatinya yang tak bisa ia ungkapkan.
Yang pasti selama ia menyanyikan lagu itu, terdapat beberapa kali kedapatan Ia menatap kearahku.
Bersambung***
__ADS_1