
Motor melaju cepat, ketika di separuh perjalanan baru kusadari bahwa Dion berada di belakang kami membuntuti.
Ada kekhawatiran dihatiku, bagaimana jika Dion tak bisa mengkontrol emosinya, namun entah kenapa Aku yakin Dion tidak sebrutal itu.
Fajri memelankan laju motornya sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumahku, dan hanya berselang beberapa detik saja, Motor Dion berhenti di depan kami.
Jantungku berdegup kencang, sekilas menatap Dion yang turun dari sepeda motornya lalu melepas helmnya. Sementara Fajri yang tak dapat menyembunyikan gelisahnya berulang kali bergelagat aneh membuang gugup.
"Makasih ya..sudah mengantar Dina!"
Dion menepuk punggung Fajri dengan tersenyum miring.
"Aku pulang ya..."
Fajri lebih memilih pamit kepadaku daripada meladeni basa basi Dion.
"Hati-hati ya... Sampe ketemu besok"
Balasku.
Aku berniat masuk kerumah namun segera berbalik arah ketika mendengar Deru motor Dion yang dipacu kencang.
"Tumben banget ngebut. Waduh, jangan-jangan...Astaga!! Anak orang. Ehmm..Fajri,semoga selamat"
Aku menepuk jidat memikirkan Nasib Fajri malam ini.
Aku merogoh tas, mencari ponselku dan melakukan panggilan pada Candra.
"Ayo Cann angkat....!"
ujarku pelan.
"Halo..."
"Ya halo Can,,gawat....gawat"
"Apanya yang gawat?"
"Fajri Can...Fajri"
"Kenapa tu bocah?? babak belur? hahaha"
"Heh... Malah ngedoain gitu,, ketawa lagi!!"
"Terus,, Apanya yang gawat Jona!?"
"Ini.. Dion ngikutin kami tadi,, dan sekarang Dia kayaknya lagi ngejar motor Fajri,, haduh gimana ya...."
"Ya gak gimana-gimana...Tunggu aja kabar besok"
"Ah..Kamu tu ya..!! udah ah... Bye!!"
***
Aku memaksa membuka mata yang masih terasa sepat, akibat semalaman tak bisa tidur memikirkan Fajri, dan baru terlelap menjelang fajar.
Rasa ngantuk yang mendera membuat aku malas beringsut dari balik selimut,namun mengingat kejadian semalam, Mataku terbuka lebar, rasa kantuk tiba-tiba sirna, bergegas Aku bersiap untuk berangkat lebih pagi.
Setelah semua beres, termasuk sarapan dan bekal untuk makan siang yang telah disiapkan Mama Aku segera berangkat,
"Ma Dina berangkat ya..."
Aku keluar rumah terburu-buru, Mama yang menyaksikan hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepala.
Aku terhenyak ketika baru saja tanganku menutup kembali pagar rumah, sebuah sepeda motor berhenti di depanku.
"Ayo naik,Aku antar!"
Ucapan yang kaku dari seorang Dion.
Aku tak menjawab, melainkan melangkah menjauh meninggalkannya.
"Dek..!!"
Hardiknya yang membuat Aku menghentikan langkahku.
"Berhenti berpura-pura!! Aku tau, Kau sengaja memanas-manasiku dengan laki-laki itu!"
Aku berbalik,
__ADS_1
"Apa maksudmu memanas-manasi? Dia memang pacarku!"
"Sekarang mana Dia?? Kenapa tak menjemputmu??"
Sekilas Aku melirik raut wajah Dion tersungging senyum miring yang entah apa maksudnya.
Aku melangkah lebih dekat ke arahnya.
"Sekarang Aku tanya, Kau apakan Fajri semalam? Awas kalau sampai terjadi Apa-apa padanya!!"
Aku mengacungkan jari telunjuk tepat didepan hidung Dion.
Dengan sigap Dion menangkap telunjukku,
"Kenapa? Kamu pikir Aku mencelakainya? Atau kamu berpikir Aku memukulinya?? tenang saja,,pacar kamu ini tak sejahat itu,, pacar kamu ini tak jago berantem.."
Aku terdiam mendengar penuturan Dion barusan.
"Sudahlah, berhenti mencemaskan Temanmu itu, Ayo naik!!"
Dion mencekal lenganku dan menarik kearah motornya.
Masih dalam keadaan terheran-heran Aku menuruti kemauannya.
Sepanjang perjalanan, pikiranku hanya terfokus dengan kalimat Dion, sebenarnya apa yang terjadi semalam, kenapa Dion begitu yakin bahwa Fajri bukan siapa-siapaku.
Sesampainya di tempat kerja, Aku berlalu meninggalkan Dion tanpa sepatah kata, hingga sebuah pesan masuk sebelum Aku sampai di depan pintu karyawan.
Aku merogoh ponselku dari dalam saku celanaku.
"Dion"
Ujarku pelan,kemudian menoleh pada Dion yang masih duduk di sepeda motornya yang belum bergerak maju meninggalkanku.
Tangannya melambai dengan senyum khasnya.
Aku menghela nafas,dan membuka isi pesan tersebut.
"I LOVE U"
kembali Aku menoleh kearah Dion yang masih saja berdiam diri,kali ini mulutnya mengisyaratkan ciuman jarak jauh,Aku bergidik dan meninggalkannya tanpa memberi expresi apa-apa.
"In..kamu lihat Candra? Udah datang belum ya??"
Tanyaku pada Indra yang tengah Absen.
"Loh..bukannya Candra hari ini masuk siang ya?"
Indra mengernyitkan dahinya menatapku.
"Ah..masak sih?? Aku segera turun menuju ruang Info untuk melihat jadwal karyawan hari ini.
Dan "Ah...iya bener...!!"
Seruku sembari mununjuk nama Candra.
"Apanya yang bener??"
Suara Mansyur sempat membuat Aku terhenyak.
"Eh..ini..Candra masuk siang,kirain pagi"
"Kamu kehilangan banget ya kalau gak satu shift sama Dia?"
Mansyur menatapku lekat.
"Bukan gitu..cuma ada yang ingin aku bicarakan sama Dia sekarang"
Jawabku.
"Oh..."
Mansyur berlalu setelah meletakkan setumpuk majalah diatas meja.
Aku menyusulnya.
"Pagi ini cuma kita ber 2?"
Tanyaku sembari menoleh kiri kanan.
__ADS_1
"Iya, Sherly izin..yang lain masuk siang."
jawab nya tanpa menolehku.
Aku meninggalkan Mansyur,memulai pekerjaanku menunggu siang.
***
Satu persatu karyawan shift siang mulai datang, mataku terpaku pada tangga naik, tak sabar menanti kedatangan Candra maupun Fajri.
Tak berselang lama, Candra datang. Aku melambaikan tangan cepat memanggilnya.
"Ntar ya...."
Jawabnya tanpa suara namun aku bisa membaca gerak bibirnya.
10 menit berlalu.
"Kenapa lagi?!"
Tanya Candra mendekatiku.
"Gimana Fajri?"
"Kok nanya Aku? Emangnya Aku Emaknya hehe, Nah...panjang umur tu Anaknya.."
Candra berlari kecil mencegat Fajri untuk naik, dan menarik lengannya kearahku.
"Jri..gimana semalem? Kamu gak apa-apakan??"
Tanyaku sembari memeriksa sekitar wajahnya memastikan tidak ada lebam.
"Enggak..Mbak, Aku gak kenapa-napa,cuma ....."
Fajri menghentikan bicaranya, setidaknya ada sedikit lega dihatiku, melihat Fajri baik-baik saja.
"Cuma apa Jri??"
Desakku.
"Cuma...Aku berhenti aja dari permainan ini, jujur sepanjang sandiwara itu, jantungku seperti mau copot,, Aku gak bakat akting... Maaf ya..."
Fajri mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Yahh..Kenapa Jri...?"
Tanyaku sedikit kecewa.
"Mbak, semalam Dia mencegatku, Dia ngajak Aku bicara Dia bilang Dia tau tentang sandiwara ini, dan dia meminta Aku untuk berhenti, Aku takut jika kita meneruskan ini, Dia akan nekat"
Fajri menatapku penuh harap, agar Aku mengiyakan keinginannya untuk berhenti.
"Lalu..kamu jawab apa Jri?"
Tanyaku.
Fajri menggeleng "Aku gak jawab apa-apa, cuma diam"
Aku mengangguk, hal itu membuat Fajri berbalik meninggalkanku.
Aku terdiam, sementara Candra terbahak-bahak meledekku.
Mulutku mendecit, kemudian mengusap wajah Candra yang terlihat sangat puas tertawa.
"Sudahlah Din... baikan aja lagi, trus ajak nikah kan kelar"
Candra kembali terkekeh, menertawakan kegagalanku.
"Kelar..kelar..ni makan buku biar kelar sekalian ketawamu yang kurang lebar itu!"
Aku menempelkan buku ke muka Candra kemudian berlalu meninggalkannya.
Sepanjang hari,Aku kehilangan konsentrasi berkali-kali Aku salah menginput data, Pikiranku tertuju pada omongan Candra untuk baikan, ditambah lagi sikap Dion kepada Fajri semalam.
"Ya tuhan... Apa yang seharusnya Aku lakukan, Jika Dion adalah takdir untuk menjadi bagian dari hidupku, maka yakinkan Aku tuhan...buanglah segala kebimbangan ini"
Ucapku dalam hati.
Bersambung***
__ADS_1