Ketika Hati Bicara

Ketika Hati Bicara
Bab 39 Masih ada rindu


__ADS_3

"Selamat pagi Ma..."


sapaku pagi ini sembari melabuhkan pelukan manja pada wanita paruh baya yang selalu kurindukan ketika berada di tanah perantauan.


"Papa mana Ma??"


Tanyaku seraya menarik kursi lalu duduk memandang sekeliling ruangan.


"Papa lagi di belakang ngasih makan ikan,nih..kamu sarapan dulu..pasti kamu rindu nasi goreng buatan Mama kan??"


Mama menyodorkan semangkuk besar nasi goreng,kemudian menyiapkan piring dan sendok.


"Ehm.......mantappppp"


Aku mengendus uap nasi goreng yang masih mengepul.


Tak lama,Papa muncul dari pintu belakang.


"Nahh..ini Papa,,sarapan dulu Pa"


Ajak mama.


"Iya,,mau cuci tangan dulu"


Jawab papa sambil berlalu masuk kamar mandi.


Dalam hitungan detik,kami telah duduk bersama di meja makan menikmati sarapan sederhana penuh kehangatan,di selingi cerita dan canda,yang menghadirkan tawa renyah di sela-sela suapan.


Pagi yang kurindukan di 2 tahun terakhir,kini aku kembali bisa merasakan hangatnya keluarga.


"Planing kemana hari ini Nak?"


Tanya Papa sembari menyeruput kopi panasnya.


"Gak ada Pa,masih pingin santai dulu..masih kangen rumah.."


Aku meraih gelas di depanku untuk menuang teh yang masih berasap.


"Oh ya Ma...nanti malam Dina ngundang teman-teman buat datang,boleh ya..."


Sambungku.


"Oh..gitu,,artinya...Mama mesti masak donk ya...??"


"Ehm...biar pesan aja kali ya Ma,nanti ngerepotin"


"Ya enggak donk sayang....biar nanti Mama masak ya..."


"Makasih ya Ma...."


***


selepas magrib,


Waktu yang ditunggu-tunggu tiba,Aku yang masih tengah sibuk memilih baju yang akan kupakai,berkali-kali mencoba di depan cermin akhirnya memutuskan untuk menyudahi ritual dandanku ketika Mama mengetuk kamar.


"Din,ada Dion!"


"Iya Ma..."


Aku melangkah keluar kamar,kudapati Dion tengah Duduk di teras rumah ku.


"Udah lama?"


Sapaku membuka percakapan.


"Eh..enggak kok baru aja..belum pada datang ya??"

__ADS_1


"Mungkin bentar lagi"


Jawabku sembari duduk di samping Dion.


"Eh..itu mereka,Dion berdiri ketika melihat beberapa sepeda motor berhenti tepat di depan pagar rumah ku.


"Oh iyaaa...Haiiiii..."


Aku berlari menghampiri teman- teman masa sekolah ku.


"Ehm....apa kabar kalian,,kangennnnnnn"


Sambungku memeluk satu persatu teman-teman yang datang.


"Baik...baik...sama kita juga kangen loh sama kamuuuu Din"


Jawab Mila temanku.


Ditengah-tengah obrolan hangat kami,sebuah sepeda motor berhenti yang membuat semua mata tertuju ke arah nya.


Seseorang yang ku kenali berdiri dengan senyum manis khas yang dimilikinya,,tak pernah berubah,,masih sama.


Mendapati pemandangan itu,tanpa kusadari,Aku berdiri dari dudukku,berjalan pelan beberapa langkah terpaku menatap nya.


Mata kami beradu,seolah saling menyapa.


"Itu Ari ya...Din??"


Ria menyadarkan ku,


"Eh..Ehm...iya"


Jawabku salah tingkah.


"Hai Ari.......kemana aja.....baru kelihatan"


Kedatangan Ari disambut hangat teman-temanku,yang memang saling kenal dan cukup akrab dengan nya sejak masa sekolah.


Gelak tawa,canda hingga saling lempar ledekan mewarnai ruangan sepanjang malam ini.


Ari beberapa kali kudapati memandangku,hingga beberapa kali pula kami saling pandang dan melempar kan senyum.


Aku tak tau,entah mengapa sama sekali tak bisa menguasai hatiku untuk tidak bersikap manis pada nya.


"Ya tuhan....ada apa ini..kenapa getaran ini masih ada.."


Jeritku dalam hati.


Jam dinding menunjukkan pukul 23.00,seiring teman- teman yang sudah mulai capek tertawa dan bercerita,akhirnya mereka pamit pulang,tertinggal sahabatku Ria yang masih menunggu pacarnya menjemput,dan Mila yang juga masih menunggu jemputan Adiknya.


Sepanjang acara malam ini Dion hanya diam,aku tak tau apakah teman-temanku tak satu aliran dengan nya atau malah Dion memang orang yang tidak asyik.


Bukankah dari jaman masih di club dulu,Dia terkesan Aneh,menjauh dan tidak bergaul dengan keramaian,aku tidak heran lagi dengan sikap nya yang sibuk dengan dunianya sendiri,memainkan ponsel disudut rumah ku.


Berbeda dengan Ari yang nyambung dengan semua teman-temanku.


"Ya tuhan...bagaimana bisa aku menjalani hubungan dengan seseorang yang kaku dan pendiam sepertinya,,sementara aku orang yang ramai,entahlah...bagaimana kedepan nya"


Keluhku dalam hati.


"Din,,aku pamit ya...mana mama papa"


Ari mendekatiku.


"Oh..iya,bentar aku lihat dulu ya"


Aku berlalu masuk dan melihat ke kamar orang tuaku dan sepertinya mereka sudah tertidur,karena memang ini sudah malam untuk usia mereka.

__ADS_1


Aku kembali kedepan,


"Ehm...Ri,kayak nya mereka udah tidur,,"


"Oh,,ya udah...sampein salam ku aja ya.."


Aku mengangguk,kemudian mengantar nya sampai ke depan pagar.


Begitu tiba di depan sepeda motornya,langkah Ari terhenti,ia berbalik menghadapku,menatapku lekat.


Jantungku memacu cepat,nafasku terasa tersengal.


"Sayang...aku pulang ya..."


Glek!


Aku menelan ludah,mata ku terbelalak lebar mendengar kata sayang itu.


Tak ada jawaban apa-apa yang keluar dari mulut ku,hanya anggukan kecil yang kulanjutkan dengan tetap menatapnya.


Tanpa aba-aba,tangan Ari meraih kedua tangan ku,menggenggam nya hangat.


"Aku tau...kamu masih sayang...dan kita masih saling mencintai Din,,mata mu tidak bisa berbohong"


"Kamu tidak perlu menjawab...karena jawaban bisa saja berbohong"


sambungnya kemudian Ari mengecup punggung tanganku.


Dan itu sungguh membuatku hanyut dalam buai cintanya.


"Ya udah,,aku pulang ya..."


Ari mengusap lembut kepalaku,dan mendaratkan kecupan mesra di keningku.


"Ya tuhan...perasaan apa ini. .kenapa aku merasa begitu nyaman"


batinku.


"Love yu...."


Sambung Ari sebelum memacu sepeda motornya berlalu meninggalkanku yang masih berdiri terpaku.


Setelah bayangnya tak lagi terlihat,aku membalik badan untuk kembali kedalam menemui sahabatku yang masih belum pulang.


Aku begitu tersentak ketika melihat Dion berdiri di ambang pintu dengan tatapan lurus kearahku.


Rasa kikuk dan salah tingkah kini menghinggapi diriku,


mungkinkah Dion melihat semua yang terjadi antara Aku dan Ari barusan.


Bagaimana perasaan nya? cemburukah? panas hatikah? yang jelas wajah nya Datar tidak terlihat sedikitpun amarah yang tergambar.


Aku tak paham,apa yang ia rasakan,benarkah dia sama sekali tak cemburu,atau Dia hanya mencoba menyembunyikan sakit hatinya.


Baru saja aku ingin menyapa nya,namun urung kulakukan ketika suara deru motor berhenti di depan rumah,jemputan Mila dan Ria sudah datang,mereka pamit pulang,dan kini tinggal Dion dan aku.


Hatiku deg-degan menunggu apa yang akan terjadi..akankah ada kata-kata Dion yang mengungkapkan kemarahan nya.


Ternyata sampai ia pamit pulang tak ada sepatah kata yang menyatakan ia cemburu.


Hal ini tentu saja membuatku bingung.


"Dek..aku pulang ya...kamu langsung tidur ya...jangan begadang"


Aku hanya mengangguk.


Dalam hitungan detik,Dion berlalu meninggalkanku dalam kebingungan.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2