Ketika Hati Bicara

Ketika Hati Bicara
Bab 55 Damai


__ADS_3

Sesuatu yang baru kini tengah Aku rasakan, setidaknya tak ada lagi yang membuatku tak nyaman.


Aku merapikan wilayahku penuh semangat sesekali bibirku mengikuti senandung irama lagu yang tengah di putar dari pengeras suara.


"Happy banget Jon..baru dapet duit ya?"


Candra datang dengan mengetukkan buku tipis pada kepalaku.


"Aw...sakit Tarjok!!"


Ujarku meringis sembari membenarkan poni.


"Lagian girang amat...cerita donk!"


Candra menyenggol bahuku,hingga aku nyaris terhuyung.


"Ehm...hahhha...Adalah....hhahaha"


seruku cengengesan.


"Ah...gak asyik!!"


Candra meninggalkanku kesal.


Dan disudut lain, Mataku menangkap seseorang tengah memandang kearahku. Sejenak bertabrak pandang, yang kemudian dilanjutkan dengan melemparkan senyum.


"Ah...so sweeeettttt"


seruku girang,yang tentu saja kulakukan didalam hati.


Hingga tak terasa break makan siang tiba, Mansyur menemuiku.


"Kamu belum mau break?"


Pertanyaan yang membuat aku tertegun beberapa detik.


"Hah...gak salah nih?? Si Kepala Batu nyamperin cuma mau nanyain break?? atau aku lagi ngigau? Biasanya nyamperin cuma buat ngajak debat"


Batinku.


"Hei...malah bengong!"


"Ah....iya..ehm...itu...belum..belum,kenapa emangnya"


Jawabku gugup.


"Haduh....biasa aja jawabnya..gak usah gugup gitu,, baru pertama kali di sapa orang ganteng ya??"


Tuturnya seraya memainkan Alis mata.


"Hii...Kamutu ya,, selain kepala batu ternyata juga Ge-er"


"Dih..Mukanya merah!!"


Ledek nya lagi.


"Apaan sih,,nyebelin banget deh!"


Balasku sewot.


"Ya udah,,Kamu naik aja dulu Makan,,biar kuat...kuat terima kenyataan kalau aku ngangenin huahahhaha"


Mansyur berbalik meninggalkanku sambil terbahak.


"Astaga....selama Aku disini baru kali ini Aku lihat dia ketawa"


Gumamku.


Segera aku berjalan meninggalkan area kerjaku menuju ke atas untuk Makan siang.


Diatas,ketika baru saja tiba.


"Ehm...em...."


Indra berdehem kencang.


"Uhuk..uhuk.."


Dibalas batuk buatan dari Candra, sementara Rio terlihat hanya mesem-mesem.


"Kalian kenapa??"


Tanyaku ketika sampai ditengah-tengah mereka.


"Uhuy...Ada yang mau traktir nih kayaknya"


Seloroh Indra.


"Maksudnya PJ ya In?"


Sambung Candra.


"PJ apaan sih?"


Tanya Rio yang Aku yakin sedang berpura-pura tidak tahu.


"Pajak jadian Bro!!!"


"Hhahahhahahha"


Tawa ketiga kurcaci itu membuatku ikutan nyengir.


"Pada bahas apaan sih?"


Tanyaku penasaran.


"Hei Jona..beneran ya baru ditembak?? atau udah jadian??"


Indra mendekatkan wajahnya,memainkan Alis tebalnya menyelidik dengan raut kocak.

__ADS_1


"Apaan?? Jadian?? ditembak?? ngaco ah.."


"Ahh..payah nih...gak soulmate lagi sama kita-kita, sekarang sukanya main rahasia-rahasiaan"


Indra memasang tampang kecewa padaku.


"Iiih..beneran...sumpah...Aku gak ngerti kalian ngomongin apa?"


seruku.


"Eluuuuu...Markonah....Eluuuu....!!!!"


Indra menunjuk jidatku geram.


Memancing tawa Candra dan Rio.


"Aku??emang Aku kenapa??"


Aku bertanya sembari mulai menyendok makan siangku.


"Iya!! Kamu udah jadian atau baru di tembak sama Mansyur??!"


Candra mencoba menjelaskan detil padaku.


"Busyettt.....! dapat gosip dari mana??,,enggaklah..gak ada ditembak,,apalagi jadian!"


"Ahhh...yang benerr....?"


Indra sekali lagi mendekatkan wajahnya padaku menyelidik.


"Beneran...sumpah!!"


Ujarku dengan dua jari mengacung.


"Tapi yang kulihat,,kalian berdua adem ayem,terus kayaknya sudah saling senyam senyum"


Ujar candra.


"Oh.... Ini rupanya biang gosipnya"


Aku menarik rambut di dekat telingannya.


"Aw.....Aw....Sakittt...Haduhhh..."


Candra memegang dan mengusap jambangnya.


"Gilak Ah...Bar-bar banget luuu !"


"Lagian siapa suruh buat gosip! Masalah Aku sama Mansyur itu, iya sekarang kita udah damai,,udah gak musuhan lagi,tapi bukan berarti kita pacaran!"


Tuturku menjelaskan.


"Ohh....seperti itu, lagian kamu juga udah punya pacar iyakan? siapa namanya lupa Aku??"


Rio bertanya.


Aku menghela nafas,


Jawabku.


"Nah...iya...Dion hehhe"


"Ya udah yuk turun yuk..."


Ajak ku pada mereka menyudahi obrolan kami.


Setelah Turun dan tiba di lantai 2,


Aku dan candra kembali ke area kerja masing-masing.


"Hei...sudah makannya?"


Suara itu mengagetkanku.


"Eh..ehm..Iya..sudah selesai.."


Jawabku.


Meski bendera damai telah dikibarkan,tetap saja jika berhadapan dengan nya masih menyisakan kaku dan rasa canggung yang tak bisa kuhindari.


"Kamu belum mau istirahat?"


Tanyaku.


"Oh..ini baru mau naik..ya udah,Aku ke atas dulu ya"


Sebuah sentuhan lembut mendarat dibahuku sebelum akhirnya Dia berlalu meninggalkanku.


Tak lama dari berlalunya si Kepala batu yang kini berubah menjelma bak pangeran berkuda putih.


Candra dan Indra berlarian kearahku,


"Nah...nah...nah...ketahuan kan lagi mepet mepet"


seloroh mereka kompak.


"Hei..kembar siam,,ngomong apa??"


Jawabku dengan tak menatap sembari tangan sibuk menyusun buku yang berserak.


"Itu tadi barusan,,kami lihat dengan mata kepala kami sendiri,,pake acara elus-elus lagi"


seru Candra.


"Ini lagi!! Elus-elus!! Apaan??"


Aku mentoyor kepala Candra.


"Lalu tadi??"

__ADS_1


Tanya Indra.


"Ahh..udahlah....Aku lagi sibuk,,ngapain kalian ganggu, udah sana!"


Hardikku sembari mendorong mereka berdua.


Dengan mendengus kesal,Candra dan Indra Meninggalkanku.


Sepeninggalnya mereka,Aku malah justru kepikiran ucapan mereka tentang Si Kepala batu, kalau dipikir-pikir agak aneh memang,seperti tak bisa dipercaya,Dia yang awalnya benci banget sama Aku kok bisa-bisanya sekarang sok perhatian.


Apa mungkin Dia sekarang sedang naksir Aku? atau aku yang sekarang suka Dia.


"Aahh..."


Aku menggeleng, Mana mungkin Aku naksir, ya...Aku cuma mengagumi.


Aku tersadar ketika Erwin melambai-lambai kepadaku.


Aku bergegas mendatanginya.


"Ada apa Mas?"


Tanyaku ketika tiba didepan mejanya.


"Ada buku..ditunggu di Gudang, Mansyur sedang makan, Candra sedang ngambilin pesanan customer."


Aku mengangguk,kemudian bergegas naik ke gudang.


Ditangga Aku berpapasan dengan Mansyur.


Dengan canggung, melempar senyum.


"Mau kemana?"


Tanyanya.


"Gudang,ada buku"


Jawabku kemudian melanjutkan naik.


Hampir setengah jam pengecekan, buku yang akan turun siap, Baru saja Aku keluar gudang untuk mencari troly barang, didetik yang sama Mansyur datang mendorong troly.


Sontak hal itu membuatku terperangah,


"Loh kok...bisa pas gitu ya."


Ujarku basa basi.


"Bisalah,,Aku tau kamu pasti butuh!"


Jawaban yang membuat hatiku campur aduk.


"Yang mana barangnya?"


Tanyanya.


"Eh...itu disana,,aku berjalan cepat menunjuk kan 3 kardus besar buku yang baru saja selesai di cek.


Dengan sigap, Mansyur memindahkannya ke atas troly dan mendorongnya keluar.


"Sini..biar aku saja! "


Aku meraih troly dari tangannya,namun dengan cepat Dia menepisnya.


"Udah, gak pa-pa ini berat loh..emang kuat?biar Aku ya!"


Mansyur menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan seraya tetap mendorong troly hingga ke lift barang.


Aku yang bingung tetap mengikutinya berjalan menjajari langkahnya.


Di depan lift barang,


"Kamu gak usah canggung gitu..biasa aja"


"Ehm...siapa yang canggung?"


Elakku.


"Loh..pipinya kok merah gitu hahaha"


Ledeknya.


Aku menunduk,kemudian berbalik meninggalkan nya segera bergegas menuruni tangga.


Hal yang tak kuduga lagi-lagi terjadi.


"Hei...hei..tunggu!!'


Mansyur mencegah langkahku dengan meraih lenganku cepat.


Aku berhenti dan memperhatikan tangannya.


"Maaf..Maaf ya...Aku gak maksud ngeledek kamu,,jangan marah ya!"


ujarnya masih dengan tangan mencekal lenganku.


Masih dengan raut malu,


Aku mengangguk.


"Makasih...ya..."


Ujarnya.


"Ehm...sama-sama..ehm...bisa tolong di lepas?? Sakit"


Aku menunjuk tangan nya.


"Oh...Aduh...maaf..maaf..lupa..hhehe"

__ADS_1


Mansyur melepaskan tangan nya dengan cepat.


Bersambung***


__ADS_2