Ketika Hati Bicara

Ketika Hati Bicara
Bab 62 Kehadiran Ari kembali


__ADS_3

Persiapan sudah hampir matang, lebih kurang 80 persen sudah rampung, segala persiapan menuju gerbang pernikahan sudah diatur sedemikian rupa, meski hanyalah pesta resepsi sederhana, namun keluargaku begitu antusias untuk turut campur tangan demi lancarnya acaraku nanti.


Semua urusan mulai dari panggung, tenda, catering, dokumentasi, sovenir hingga gaun pengantin semua sudah selesai di siapkan.


Dan pagi ini, dihari libur kerja yang biasanya kugunakan untuk berleyeh-leyeh namun tidak dengan hari ini.


"Din...Udah siang loh...katanya mau ambil undangan...Dinn....!!"


Seru Mama dari luar kamar.


"Hoaammm....iya..iya Ma...ini juga udah bangun, baru juga jam 6 Ma..."


Jawabku malas karena merasa masih mengantuk, semalaman Aku tak bisa tidur, meski mata telah kupaksa untuk terpejam, alhasil begadang dengerin Mp3 adalah satu-satunya pilihan yang kupunya, dan aku baru terlelap sekita pukul 3 menjelang fajar.


Aku beringsut dari tempat ternyamanku, meraih handuk dan segera keluar kamar,


Terlihat Mama yang sudah sibuk dengan peralatan didapurnya seperti biasa, sementara Papa, tetap dengan hobby ternak tambak ikannya.


Cuaca yang sangat dingin membuat Aku memutuskan untuk mandi kilat, kurang dari 10 menit, Aku sudah kembali berada diluar kamar mandi.


"Ya ampun...Anak gadis,, cepetnya....mandi atau cuma cuci muka?!"


Hardik Mama berkacak pinggang.


"Heheh..Mandi donk Ma...Dingin..bbbrrr"


Aku berlari masuk kamar, dan kembali lagi ke dapur setelah rapi, Aku duduk di ruang makan,


"Ngapain sih mesti sepagi ini, lagian mana ada toko buka jam segini!"


Gerutuku sembari mulai menyantap bubur kacang hijau yang di beli Mama dari gerobak dorong yang biasa lewat didepan rumahku.


"Ya, gak jam segini juga berangkatnya sayang, maksudnya biar gak buru-buru, jadi lebih santai.."


Balas Mama.


"Apa aja Ma yang mau di beli?"


Tanyaku,beranjak mencari kertas dan pulpen.


Mama mulai mengabsen barang-barang yang akan Kami beli untuk dijadikan hantaran.


Ya, ini memang seharusnya pihak laki-laki yang menyiapkan, namun tidak bagi Aku dan Dion, menyadari akan kondisi Dion dan tak ingin menyusahkan orang tuanya, kami berdua berinisiatif untuk sistem gotong royong, lucu memang..tapi ini adalah kesepakatan dan bentuk dari perjuangan bersama.


Yang membuat aku sangat bersyukur, kedua orang tuaku tak keberatan bahkan mendukung serta ikut andil dalam masalah hantaran, semua karena mereka tak ingin memberatkan dan menjadikan ini beban untuk Dion sendiri.


Setelah selesai, total Ada 21 ceklist yang mesti Aku beli dan kini sedang Aku baca teliti.


"Assalamualaikum..."


Suara Dion, memecah kekhusyukanku yang tengah membaca.


"Nah.. itu Dion sudah jemput"


Mama melangkah ke arah pintu.


"Walaikum salam, sarapan dulu yon.."


"Makasih Bu, baru aja tadi sarapan"


Tolak Dion.


Aku menghampirinya.


"Mau jalan sekarang?"


Tanyaku.


"Boleh..lebih pagi lebih enak..takutnya rame."


"Ya udah Ma...kami berangkat ya..."


Pamitku sembari menyambar Tas yang berada di meja sudut didekat pintu.


Sebelum berangkat,


"Dek..kita mau beli hantaran dulu atau ambil undangan dulu?"


Tanya Dion.


"Kayaknya beli hantaran dulu kali ya..biar selesai ngambil undangan langsung pulang"


Jawabku.


Motor melaju cepat dengan kondisi jalan yang masih sepi.


Hampir 2 jam berkeliling Pasar tradisional, memasuki kios-kios butik merakyat yang berada di dalam pasar Akhirnya semua barang yang kami cari sudah lengkap.


Pasar mulai ramai dan lumayan padat,


"Untung saja memilih lebih pagi"

__ADS_1


Pikirku.


Kami memutuskan pulang,vdan tak lupa mengambil pesanan undangan yang telah selesai dicetak.


"Alhamdulillah,,, semua selesai Dek..."


Ucap Dion ketika Dua plastik besar undangan sudah kami terima.


"Kemana lagi kita?"


tanya Dion.


"Udah,, kita pulang...Aku sudah pegal berkeliling,,betisku seperti mau pecah"


gerutuku di atas motor.


Dion melirikku dari spionnya, dan tersenyum.


Sesampainya dirumah,


Mama antusias menyambut kedatangan kami, membantu merapikan barang yang kami beli dan melihat hasil cetak undangan.


"Nah..Dion jangan pulang dulu ya...kita makan siang dulu.."


Tawar Mama pada Dion.


Acara makan siang pun dimulai, obrolan santai mewarnai ruang makan rumahku.


"Aku pamit dulu ya Dek..hari ini aku kerja msuk malam,,mau istirahat sebentar"


Ujar Dion padaku.


"Iya,Hati-hati ya..."


Sepulangnya Dion dari rumahku, Akupun memutuskan untuk memejamkan mataku sebentar, rasa kantuk yang tertahan sejak di pasar tadi membuatku ingin segera merebahkan diri.


Aku terjaga ketika kudengar suara mama mengetuk pintu kamarku,


Tok... Tok...


"Din,bentar lagi magrib loh...."


Aku memicingkan mata melihat Jam Di ponselku,


"Mama kebiasaan, suka melebih- lebihkan, baru juga setengah lima"


Ujarku pelan.


"Apa itu Pa??"


Tanyaku mendekat.


Nama-nama buat Undangan.


Ujar papa.


Aku memutuskan mandi terlebih dahulu baru kemudian membantu papa menulis undangan.


Selepas magrib,


Suara deru motor berhenti tepat di depan pagar rumahku, hatiku berdetak seketika mengingat suara deru yang sangat aku hafal.


Tinn...tinnn...!!


Lagi- lagi aku terhenyak, mendengar klakson yang menjadi ciri khas seseorang yang selalu dilakukannya ketika datang kerumah.


"Ari"


Batinku.


"Ada tamu Din?"


Tanya papa menatapku.


Aku mengangguk, nafasku seolah menjadi pendek, dengan langkah pelan kucoba mengumpulkan keberanian membuka pintu.


Punggung itu...ya...punggung bidang itu..


"Ari..."


Sapaku.


Ari berbalik menatapku dengan mengulas senyum manis, tatapan nya masih sama..sendu seperti dulu.


"Apa kabar?"


Ari mengulurkan tangan padaku.


Aku menyambutnya.


"Aku baik...ehm...eh...kamu..Apa kabar?

__ADS_1


Tanyaku gugup.


"Sama...Aku juga baik.."


"Ehm...eh...Silahkan duduk ! atau mau masuk aja?"


"Makasih..Disini aja..."


Ari menunjuk kursi teras,dan menghampirinya untuk duduk.


Aku yang kikuk,menyusulnya untuk menemaninya duduk.


"Kamu dari mana? kok tiba-tiba ada disini?"


Tanyaku mencairkan suasana yang benar-benar kaku.


"Aku sengaja dari rumah, mau kesini dan nemuin kamu"


Mataku membulat,


"Sengaja menemuiku?? Untuk???"


"Din...Aku mau tanya..kira-kira, masihkah Aku ada dihati kamu??"


Ari menatapku lekat.


"Maksud kamu??"


"Din dalam beberapa bulan terakhir ini, Aku tak berhenti memikirkan kamu ! Aku rindu kamu, Aku sadar...ternyata cuma kamu yang selama ini cinta sejati aku"


Aku membuang muka menghindari tatapan Ari.


"Din...please....kita lanjutkan lagi kisah kita yang sempat tertunda... Aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi dalam hidup Aku jika kita tak bisa sama-sama,,, Aku tau kamu masih ragu,, tapi izinkan Aku membuktikan ucapanku"


Ari duduk dilantai, menghadapku dengan tangan menggenggam jemariku.


"Ari...Aku......"


"Ssstttt,,jangan dijawab dulu Dina..."


Ari memotong cepat ucapanku, kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.


"Din...kamu mau menjadi Istriku??"


sebuah kotak love merah kecil berisi cincin disodorkannya didepan mukaku.


Aku menerimanya, menatapnya dalam-dalam, hatiku terasa ngilu, air mata menetes tanpa rencana.


"Aku janji...Aku janji akan bahagiakan kamu lahir dan batin Din..."


Aku menarik nafas panjang, membuang perlahan, lalu mengusap pipiku dan menutup kembali kotak merah di tanganku.


Ari yang melihat Aku menutup kotak cincin tersebut, beranjak dengan wajah bingung, ia kembali duduk dikursi.


Sementara Aku meraih tangannya dan mengembalikan kotak cincin itu ditelapak tangannya.


"Maafkan Aku Ri...Maaf.."


Ari menunduk lesu,


"Kenapa Din... Kamu tidak percaya kalau Aku serius??"


"Bukan...bukan itu,, tapi maaf... Kamu terlambat.."


Aku masuk meninggalkan Ari yang termangu bingung dengan ucapanku yang menggantung.


Hanya berselang beberapa detik, Aku kembali keluar menemui Ari.


"Ini...Aku harap kamu datang..."


Aku memberikan selembar kartu undangan pada nya.


Ari menerimanya dengan mulut ternganga, beberapa kali terlihat ia menelan ludah dan Akhirnya sebuah tetesan jatuh dari sudut matanya, Ari memalingkan wajahnya mencoba menyembunyikan air matanya.


Sebuah senyum terpaksa mengukir di bibirnya.


"Selamat Din.... Maafkan Aku yang dulu yang tak bisa menghargai keberadaan Kamu hingga akhirnya Kamu pergi menjauh, dan kini... Aku kehilangan kamu..."


Ari menunduk.


Aku terdiam, tak tahu harus berkata apa,, hanya nafas yang memburu, hangat nya rindu berubah lembab dan mungkin beku.


"Aku pamit ya....,mungkin tak hanya dari rumah kamu.. tapi pamit dari hati dan rindu.."


Ari melangkah meninggalkanku.


Aku tak menjawab, hanya tatapanku yang terus terpaku mengantarnya berlalu hingga hilang dari pandanganku.


Maafkan Aku Ari....


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2